DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Daren Suamiku Kritis.


__ADS_3

Pertemuan kami dengan Gopas tidak jauh dari rumah sakit, itu adalah kafe milik Cantika Group. tapi sebelum bertemu dengan Gopas, aku ingin melihat keadaan ibu mertua dan Daren Suamiku.


Berjalan menelusuri lorong rumah sakit dan akhirnya kami sampai di departemen Daren, dan terlihat Daren Suamiku berada di depan administrasi departemennya.


"kak, Tyas ke toilet ya. mau ganti pembalut." ujarnya kepadaKu sambil berlalu menuju toilet.


Karena suara Tyas, akhirnya Daren melihat Ku yang berdiri tidak jauh dari hadapannya. Daren tersenyum dengan begitu manis, aura nya yang memukau terpancar dari wajahnya yang tampan nya.


Sambil tersenyum Daren mendatangiku, senyuman berubah menjadi tegang dan kemudian dia berlari ke arahku.


"sayang... awas.... " teriak Daren dan memelukku.


ut...... a..... " ujarnya yang masih memelukku dengan erat.


Seseorang pria yang memakai pakaian Dokter, dengan Memakai topi dan masker menusuk Daren dari belakangnya dengan menggunakan pisau yang ditangannya. dan pisau tertancap di badannya.


Pengawal langsung sigap mengamankan si pelaku dan membawanya ke ruangan sebelah ruangan Ku di gedung yang tidak jauh dari rumah sakit ini.


"Daren.... Daren.... bangun Daren.... "


"sayang... kamu tidak ap..a apa kan?" Daren masih sempat bertanya kepada Ku dikala dirinya tertusuk benda tajam.


Dokter dan petugas medis langsung bergerak cepat, tapi Daren masih memelukku. perlahan ku lepas pelukannya untuk bisa ditangani oleh Medis.


Daren langsung dilarikan ke ruang operasi dengan pisau yang tertancap di badannya, dan Aku mengikuti Dokter dan Tim nya yang membawa Daren ke ruangan operasi.


Lampu pertanda operasi menyala dengan warna merah, pertanda operasi sudah di mulai dan Tyas dengan tergesa-gesa datang menghampiri Ku.


"kak, apa yang terjadi?" tanya Tyas yang sudah menangis karena melihatKu menangis.

__ADS_1


"kejadian itu terlalu cepat Tyas, dan Daren di tusuk oleh pria itu yang menyamar jadi Dokter."


Mendengar jawaban dariKu, Tyas langsung menghubungi Gopas. setelah selesai menelpon, Tyas menyuruh untuk duduk dan Tyas membersihkan darah dari Daren yang menempel di tanganKu menggunakan tissue basah yang diambil dari tasnya.


Tidak berapa lama Gopas sudah tiba di depan pintu operasi ini, dia terlihat begitu terkejut dengan peristiwa yang menimpaku dan Daren.


"dimana pelakunya sekarang Bu?" tanya Gopas dengan raut wajah yang emosi.


"di ruangan sebelah, pak Gopas. tuntaskan semuanya tanpa sisa." ujar ku kepadanya.


Gopas sudah berlalu, bersama Tyas dan pengawal kami di sini menunggu kabar dari ruang operasi.


Rasanya sangat lama kami menunggu disini, salah satu dari pengawal yang memberikan minuman untuk kami berdua sudah habis ku teguk.


Kami sampai di rumah sakit ini sudah jam 10 siang, dan sekarang sudah jam 4 sore. tapi lampu itu masih berwarna merah, sudah setengah enam lampu itu masih berwarna merah dan akhirnya berubah warna menjadi biru.


Empat Dokter sudah keluar dan mereka berhenti yang melihat kami cemas menunggu disini dan Dokter itu menyalami Ku.


Operasi berjalan lancar dan tinggal menunggu masa kritisnya yang harus dilalui Nya, Dokter Daren akan dipindah ke ruang rawat intensif dan akan diperiksa secara berkala untuk melihat perkembangan."


Mendengar penjelasan Dokter, sedikit terasa Lega. karena operasi nya berjalan lancar. segala puji syukur kehadirat Tuhanku atas keberhasilan operasi Daren.


"terimakasih Dokter." ucapku kepadanya.


Dokter itu hanya menepuk-nepuk lengan kananku dan memberi semangat dan tetap berdoa demi Daren Suamiku. ke empat Dokter itu sudah berlaku.


Daren bersama Dokter lainnya dan petugas medis mendorong ranjang Daren untuk menuju ruang rawat intensif.


Pengawasan rumah sakit sudah di perketat, agar tidak ada yang bisa bisa masuk dengan sembarang. pintu masuk rumah sakit hanya tiga yang terbuka.

__ADS_1


Satu pintu utama untuk masuk dan keluar para pengunjung rumah sakit, dengan tiga jalur masuk. jalur pertama untuk mobil, jalur kedua untuk sepeda motor dan jalur ketiga khusus pejalan kaki.


Jalur-jalur tersebut akan terhubung dengan pintu keluar, dan pintu masuk serta pintu keluar akan diawasi dengan ketat.


Pintu kedua adalah jalur masuk Pasien darurat dan pintu tersebut juga sebagai pintu keluar, pintu ketika adalah jalur untuk pintu masuk truk pengangkut obat-obatan dan kebutuhan medis lainnya serta tempat keluarnya sampah medis yang sudah dikelolah terlebih dahulu.


"Bu Cantika, saya turut berduka atas yang menimpa Dokter Daren Suami ibu. saya setuju atas apa yang ibu Cantika lakukan saat ini, memperketat pengawasan penjagaan rumah sakit. demi kemananan para pasien kita serta untuk menunjang kembali citra rumah sakit." ucap Profesor Azma yang datang menghampiri kami berdua.


"terimakasih Profesor atas segala bantuan Nya, untuk sementara Profesor Azma yang menjalan misi ya." pintu kepadanya.


Profesor Azma langsung memelukku dan memberi Ku semangat, tetap berdoa dan tidak putus asa.


"Bu Cantika, saya sudah memintak pihak rumah sakit untuk menangani Dokter Daren dengan semaksimal mungkin. dan untuk misi ini biar saya tim yang akan menangani sebelum Dokter Daren siuman." ucapnya dengan penuh semangat.


"saya sebagai istri Daren, berterima kasih kepada Profesor. dan saya sebagai pimpinan Cantika group, mempercayakan misi kepada Profesor dan tim. sebagaimana dulu Almarhum kedua orang tua Ku mempercayai tim Profesor."


Profesor Azma memelukku sekali lagi, setelah memberikan penyemangat untukku. beliau langsung berlalu bersama Tim-nya untuk memulai misi membangkitkan citra rumah sakit yang terpuruk.


Remon dan Dadang terlihat tergesa-gesa dengan raut wajah sedih menghampiri kami di depan ruang ICU ini.


"kak, tadi kami berdua membantu bang Gopas terlebih dahulu. setelah itu kami datang kemari, oh ya kak gimana Abang?" tanya Daren sambil melihat Daren dari kaca pintu ICU (Intensive Care Unit).


"operasi Abang mu berjalan dengan lancar, sekarang tinggal menunggu masa kritisnya berakhir."


Ucapku kepada Remon, dan kemudian dia sudah mendekati Ku dan menatapku.


"kakak dan teh Tyas pulang ya, Remon dan mas Dadang yang akan menjaganya. nanti kami akan bergantian dengan bang Lindung dan yang lainnya. kakak dan teh Tyas harus istirahat." pinta Remon dengan raut wajah yang sedih.


"iya Bu Cantika, ibu harus istrihat. nanti tim kami yang akan bergantian menjaga Dokter Daren. pak Gopas tolong antar ibu Cantika dan adiknya pulang, biar yang gantian menjaga pak Dokter disini." ucap pak Dimas yang tiba bersama rombongan berjumlah 5 orang. serta Gopas dan Lindung.

__ADS_1


Atas desakan mereka semua, terutama Remon. akhirnya Aku dan Tyas pulang diantar oleh Gopas.


Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam hingga akhirnya kami tiba di rumah dan langsung masuk ke ruang kerja untuk berbicara dengan pak Gopas.


__ADS_2