
drrrt.... drrt.. drrt....
Bunyi alarm berbunyi bersamaan dengan Handphone ku bergetar, ada apa? kenapa pagi-pagi begini Gopas menelpon Ku?
"haloo pak Gopas? ada apa pagi-pagi begini sudah menelpon?"
"kasus rumah sudah dilimpahkan kepada Kejaksaan, karena menyangkut masalah masalah besar ini. Dokter Indra Dermawan bersama Tim-nya sudah menjadi tahanan kejaksaan. Polisi sedang memburu para penerima bitcoin dari rumah sakit inchan, dan Carol sudah sudah ditangkap dan langsung dijadikan tersangka Bu." jelas dari ujung sana.
"sebentar pak Gopas, bukannya kita baru membahasNya?"
"benar Bu, ada sekolompok orang yang melaporkan tentang para pelaku. dan saat ini polisi belum membeberkan siapa pelapor Nya. demi keamanan pelapor." ungkap Gopas di sambungan telepon tersebut.
"ya sudah, nanti kita ketemu di Kantor."
"saya dan Tim mau ke kejaksaan dulu Bu, untuk menyambungkan kasus Imran dan Riko dengan masalah ini." ujar Gopas.
"baik pak Gopas, karena sudah terlanjur basah dan harus segera di bersihkan."
Kami mengakhiri Sambungan telepon seluler, dan ternyata Daren sudah pergi. semua ini pasti Daren yang melakukannya. Kenapa sih dia selalu membuat kekacauan?*
"kak, ngak sarapan? kok buru-buru amat?" tanya Tyas yang melihat Ku mau berangkat kerja.
"nanti kakak cerita, Tyas kamu harus tetap bersama pengawal. kakak duluan ke kantor ya."
Tyas masih bengong di meja makan, dan bersama pengawal yang ku bagi dua tim. dan salah pengawal sudah mempersiapkan mobil.
"Remon, ngapain kemari?" Remon bersama tiga pengawal Daren berhenti, mereka menatapku dengan serius.
"iya kak, tadi di telpon bang Dokter dan bang Gopas. untuk mengawal kakak dan teh Tyas." jelas Remon.
__ADS_1
"ya sudah, Remon kawal Tyas saja." dua pengawal Remon berangkat bersamaKu sementara Tyas nantinya akan berangkat bersama Remon.
Begitu sampai di Kantor, Bang jago dan 20 anggotaNya sudah berjaga-jaga di pintu masuk dan sekeliling Kantor.
"bang jago apa yang terjadi?"
"antisipasi Bu, karena keadaan semakin gawat." jawabnya sambil melihat sekeliling.
"bang Irfan dan...
"mereka tetap jaga tahanan Bu, silahkan masuk Bu." jawabnya sembari membuka pintu mobilku.
"bang Jago nanti tolong ke ruangan ku ya."
Bang Jago hanya mengangguk, dan di depan pintu menuju ruangan Dadang menyambut Ku. dan terlihat beberapa Tim pa Dimas sudah berada di depan meja Remon lengkap dengan peralatan komputer masing-masing.
"pak Dimas kenapa seperti ini semua." tapi pak Dimas masih terlihat sibuk.
"Bu bos, sebelumnya Dadang mintak Maaf karena telah lancang memegang tangan Bu bos. sebelumnya ibu lihat dulu video ini."
Video yang di tunjukkan Dadang sangat mengagetkan. Video tersebut membahas perjanjian kerja sama untuk membuat cairan kimia yang berbahaya sebagai bahan utama untuk senjata kimia. dan bahan tersebut akan dikirim ke negara timur tengah.
"Bu bos, bahan kimia yang mereka bahas adalah untuk bahan baku senjata bio kimia. dan semuanya di buat di pabrik Cantika farmasi. dan keuntungan yang di Raup tentunya milyaran dolar Amerika. masalahnya disini bukan cuman dalam rumah sakit dan farmasi Bu, tapi sudah menyangkut masalah diplomasi negara kita ini Bu." jelasnya dengan suara pelan.
"maksudnya gimana? trus informasi ini berasal dari mana?"
Seketika Dadang langsung terdiam, dirinya yang sedari tadi berdiri akhirnya duduk disamping Ku tanpa merasa segan dan yang terlihat raut wajahnya penuh dengan kekwatiran.
"Bu, ini semua dari pak Dokter, suami ibu. pak Dokter sudah lama meneliti obat dari Cantika farmasi yang masuk ke rumah sakit. selama ini obat dari Cantika farmasi hanya masuk ke rumah sakit Cantika saja.
__ADS_1
Sebenarnya Cantika farmasi tidak memproduksi obat atau apapun itu yang berkaitan dengan medis. obat yang dikirim ke rumah sakit adalah obat dari pabrik lain yang tidak mempunyai izin tapi dibawah otoritas Cantika Farmasi.
Pabrik itu dikelolah oleh Farel, Riko dan Mira. atas persetujuan dari Imran. sementara Cantika farmasi bekerja untuk membuat senyawa kimia untuk bahan baku senjata kimia." penjelasan Dadang begitu luwes.
Mendengar penjelasan dari Dadang, pikiran ku langsung melayang dan lemas Rasanya. dulu almarhumah Mama mendirikan dengan Visi dan Misi yang sangat mulia. tapi kenapa sekarang berubah menjadi neraka bagi banyak orang.
"Dadang, kenapa pak Dimas membawa tim di depan itu?" Dadang kemudian membuka laptop Remon.
Laptop Remon yang lama di kotak Katik Nya, hingga akhirnya muncul layar hitam dengan tulisan yang naik ke atas. tulisan itu sama sekali tidak Aku ngerti.
"pak Dadang dan Tim, masih melacak peredaran informasi mengenai Negera yang memesan produk senyawa kimia itu. dan operatornya berasal dari gedung. tim di bagi dua untuk mengacaukan sistem, dan Remon yang memulai."
Penjelasan Dadang membuat Bingung, apa karena dia seorang programmer? sehingga bahasa program di jelaskan nya kepadaku.
"jadi begini Bu, tadi malam. Dadang nginap di rumah Remon dan kami berdua begadang untuk membobol sistem. Remon yang memasukkan kodenya dan Aku bantu. kemudian di teruskan ke Tim kami di Sermon dan secara bersama-sama kami memindai program tersebut. tapi sampai sekarang belum dapat semua." ungkap Dadang.
tok..tok...tok...
Pintu di ketok dan dibuka oleh Dadang, pak Dimas masuk dengan membawa notepad nya seraya mendekati ke arahku.
"Remon dan Dadang, saya suruh istirahat sejenak. dan kebetulan Remon di mintak Gopas dan suami ibu untuk menjemput ibu dan Neng Tyas. dan aku biarkan, biasanya bocah tengik kalau sudah jalan menjauh dari laptop Nya sejenak dia langsung punya ide.
Sama Bu dengan Dadang ini, sama gilanya dengan Remon anggota ibu." ucapnya sambil tersenyum.
"oh ya pak Dimas apa ada hal baru?"
"belum ada Bu, program nya di kunci sedemikian baiknya. tapi saya dan tim sudah berhasil memecahkan kode algoritma nya, nanti kami hanya tinggal menyambung nya setelah tim Sermon sudah siap. kalau begitu saya pamit dulu ke ruang Sermon ya Bu."
Penjelasan pak Dimas dan kemudian berlalu, sementara Dadang terduduk di sofa sambil mengamati tulisan yang muncul di layar laptop. dan menuliskan Nya di buku catatannya.
__ADS_1
Di kursi kerja ini, pikiranKu melayang tanpa arah yang menentu. kenapa semua seperti ini? apa yang telah mereka perbuat? kenapa ada orang yang begitu tamaknya? dimana empati mereka sesama manusia?
Tidak habis pikir kedua orang tua membangun semuanya untuk tujuan yang baik. banyak orang yang bergantung untuk mencari nafkah di Cantika Group.