DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Bukti Tambahan dari Remon.


__ADS_3

"bang Gopas, ingat ngak ketika Abang ngomong akan membantu Remon untuk mencari keadilan untuk bapakku?" tanya Remon kepada Gopas.


"ingat, dan melalui ini kasus ini kita bersama-sama mencari keadilan untuk Papa mu dan Papa Ku." jelas Gopas.


"Abang tahu kan, kalau rumah yang tempati sekarang adalah rumah kami yang dulu. dan kamar yang Remon tempati adalah bekas kamar kedua orangtuaku. di belakang photo pernikahan bapak dan Mama ada flashdisk bang, Abang tahu isinya apa? silahkan di baca." ujar Remon sambil memberikan beberapa dokumen kepada kami.


Remon menangis ketika menyerahkan dokumen itu, dan aku serta Gopas hanya membaca dokumen itu.


"Remon. kamu tahu ini apa?" seketika itu Remon langsung menyeka air matanya.


"tahu kak, Cantika farmasi. membuat pabrik farmasi lagi atas nama Cantika farmasi. dan di pabrik farmasi itu ilegal itu mengelola bahan kimia berbahaya yang dikirim ke negara yang ada di timur tengah. setiap kejahatan pasti meninggalkan jejak." ungkapnya dengan bijaksana.


"apa hubungannya dengan kedua orang tua mu?" terlihat Remon mengangkat wajahnya untuk menahan tangisnya. dan Gopas langsung memeluk Remon.


Kemudian Remon memberikan secarik kertas kepadaku, tulisan tangan tangan itu sangat rapi tapi sudah usang.


"bang.... "Remon memanggil Gopas yang masih dalam pelukannya.


"iya, sudah-sudah. kebenaran akan terungkap, bersama-sama kita hadapi ya" Gopas mencoba menenangkan Remon yang masih menangis dalam pelukannya.


"bang, boleh Remon pergi? karena bang dokter sudah janji mau traktir Remon makan siang di restoran Padang yang depan rumah sakit ini." suasana haru berubah menjadi stand up komedi.


"kampret.... ya sudah sana, maaf Abang ngak bisa temani. karena ada jadwal untuk memberikan keterangan di kantor Polisi." ujar Gopas kepada Remon.


Terlihat Gopas tersenyum, dari wajah sedih seketika langsung tersenyum. setelah Remon pergi, Gopas menatapku.


"Bu... nanti kita lanjutkan lagi, karena waktunya sudah tiba untuk ke kantor Polisi, sebenarnya ada hal lain yang ku tanyakan." ungkapnya.


"ngak apa-apa pak Gopas, masih ada waktu lainnya kok."


Gopas pun pamit, dan berlalu meninggalkan ruangan ini, jadi penasaran. kenapa Suamiku itu hanya mengajak Remon untuk makan siang ya?


"kak.... boleh masuk" tanya Tyas yang sudah masuk walaupun bertanya.

__ADS_1


"Tyas, kenapa Daren hanya mengajak Remon makan siang ya?"


"Remon hari ini ulang tahun kak, makanya stelan pakaian itu Tyas berikan kepadanya. dan Tyas menyampaikan kalau itu kado dari kakak." jawabnya dengan malu-malu.


"suka sama Remon?"


"apa sih kak, cowok tengik kyak gitu."


"tapi ganteng dan lucu kan."


"tau ah.... " hanya itu jawaban dan langsung pergi dari ruangan ini, apa iya adikku ini menyukai Remon? ngak kebanting itu dengan umurnya?.


Tapi masih penasaran, dan harus ku temui. dengan setengah buru-buru ku temui mereka yang sedang makan siang di restoran Padang itu dan segala gengsi aku hilangkan supaya bisa makan dengan kedua pria yang lucu dan tampan ini.


"boleh saya ikut makan?" pertanyaan itu tidak langsung di jawab mereka berdua. tapi Remon dengan senyum menarik kursi untukku.


"terimakasih ya kak atas pakaian mahal ini, Remon suka. dan ini pertama kalinya Remon memakai baju semahal ini." ungkapnya dengan tersenyum.


"kak, bang Daren memberiku laptop baru sebagai hadiah ulang tahun. kakak dan bang Daren memang is the best lah, semoga kakak dan Abang langgeng sampai kakek dan nenek." ocehan Remon membuat Daren berhenti mengunyah.


'amin' gumam Ku dalam hati.


Kuperhatikan Daren kembali mengunyah makanan. setelah itu Remon baru menyantap makanannya, porsi makanan anak memang beda. nasi di piringnya sangat banyak. wajar sih kan lagi masa pertumbuhan.


Sampai Acara makan siang kami selesai Daren masih terdiam, ocehan dari Remon hanya membuatnya tersenyum. hingga akhirnya kami selesai makan, Daren kembali ke aktivitasnya.***


Hari sudah sore, Aku dan Tyas bersiap untuk pulang. Remon sudah pamit untuk pulang katanya mau menjenguk ibu mertuaku dan Nindy adik Iparku.


Langkah Remon ku ikuti sampai ke ruang rawat, setelah Remon masuk ke ruangan itu dan ku intip ternyata Daren tidak ada di sana. kulangkah kakiku menuju ruangannya Daren juga tidak berada di sana.


Akhirnya Aku putuskan untuk pulang, sesampainya di rumah. Daren bersama Mpok Sri sudah duduk di dapur sambil menonton televisi. terlihat acara televisi tersebut seperti acara kemarin Malam.


"selamat malam Bu bos." sapa Daren dengan ekspresi datar. sementara Mpok Sri langsung mematikan televisi.

__ADS_1


Saya langsung berlalu menuju kamar karena ekspresi datar dari Daren. kali ini merasa Kecewa karena tidak mendapat senyuman manis dari Daren.


"keluar kalian cepat....hei .... keluar..... " terdengar suara yang berteriak memanggil kami.


Pengawal langsung sigap menghalangi pemilik suara itu, dan ternyata itu adalah Tante Dewi dan Nisa. terlihat wajah mereka penuh dengan Amarah.


"mana suami kamu yang lancang itu? cepat suruh dia keluar?" perintah Tante Dewi setengah berteriak.


Daren kemudian datang ke ruang tamu untuk menghadapi perempuan sinting ini, ekspresi wajah Suami ku ini begitu datar.


"ada keperluan apa datang kemari?" tanyanya dengan nada yang datar.


"kamu apaiin handphoneKu saat di hotel itu?" tanya Tante Dewi dengan bertolak pinggang.


Terlihat wajahnya lebam, dan hidungnya juga merah seperti habis dipukuli seseorang. demikian juga dengan Nisa.


"saya tidak tahu, handphone tidak ku sentuh bahkan saya tidak tahu handphone berada dimana?" jawab Daren dengan tenang.


"bohong kamu." dengan menunjuk-nunjuk Daren.


"Cantika asal kamu tahu, Tante sudah tidur dengan suami Mu." ujarnya dengan bangga.


"pelakor kok bangga, terus aku bilang waouu gitu?" oh.... saya tahu, Tante babak belur karena ketahuan selingkuh dengan suamiku ya? wajar sih suami Tante bertindak beringas dengan istrinya yang tidur dengan suami keponakan Nya." terlihat wajahnya semakin beringas.


"Cantika, Tante belum sempat di tiduri suami Mu ini, karena kami langsung tidak sadarkan diri." jawab nya, mungkin karena malu.


Sementara Daren terlihat Santai dan tenang menanggapi hal itu, tapi terlihat Nisa sangat menyukai Daren Suamiku.


"Daren, daripada sama wanita kejam ini. lebih baik kamu sama kami berdua saja, hidupmu pasti lebih terjamin baiknya." ungkap Nisa dengan begitu percaya diri.


Dan lagi-lagi Daren menanggapi hal itu dengan sangat tenang tanpa bergeming, seketika itu juga Nisa dan Mamanya mendekati Daren dan berusaha memeluk suami Ku di hadapan.


Syukurlah Daren menghindar, memang Mama anak ini sudah benar-benar ngak waras lagi. kenapa ya manusia seperti ini ada di dunia yang Pana ini?

__ADS_1


__ADS_2