
Resepsi pernikahan Tyas dan Remon begitu khidmat dan meriah. para tamu undangan begitu bersuka cita, terutama rombongan keluarga Remon dan rombongan ruang Sermon departemen kerja Remon dan Dadang.
Para tamu undangan sudah pulang semua, Remon bersama istrinya langsung berangkat ke Lombok yang diantarkan oleh pengawal.
Setelah semua rumah rapi, aku dan Daren kembali ke kamar. dan langsung melangkah ke kamar mandi. setelah aku keluar dari kamar mandi Daren kemudian masuk ke kamar mandi dengan membawa handuk dan pakaian ganti.
Setelah rambut ku kering, Daren baru keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ranjang lalu tertidur.
Mungkin karena kelelahan makanan Daren langsung tertidur, mata ini rasanya sangat berat dan langsung rebahan di ranjang ku ini.***
Pagi-pagi sekali sudah tercium aroma parfum Daren seperti biasanya. dan aroma itu yang membangunkan tidurku.
Daren menyusun beberapa pakaian ke dalam koper dan menyusun beberapa dokumen ke dalam tasnya. saya hanya melihat kesibukannya dari atas ranjang ini.
Selesai beres-beres, Daren akhirnya menolehku dan kemudian tersenyum. Daren mendekati ku lalu duduk di kursi meja rias ku. di tangannya ada dokumen. kemudian meletakkannya di atas meja rias ku.
"Bu bos, hari Jumat kemarin surat pengunduran diri sudah ku berikan kepada HRD kantor pusat Cantika grup. dan juga surat pengunduran diri sebagai Dokter ke HRD rumah sakit.
Dokumen berupa foto copy KTP dan surat Nikah berada map yang ada diatas meja Bu bos.
Bu bos, terimakasih untuk semuanya, Terimakasih karena sudah menjadi bagian hidupku yang terindah. terimakasih untuk semua kesempatan yang telah ibu bos berikan kepada Ku.
Saya minta maaf atas semua kesalahan yang ku perbuat dan atas segala kekuranganku. Bu bos saya ijin mau pamit. selamat tinggal dan semoga Bu bos bisa menemukan pendamping yang jauh lebih sempurna dariKu."
Setelah berpamitan kepadaKu, Daren langsung pergi tanpa menolehku. bahkan aku tidak sanggup untuk menjawabnya, semua berlalu begitu saja. tinggal aku sendirian di dalam kamar ini.
Setelah Daren pergi, kulangkah kakiku ke kamar mandi dan berendam di bathtub. air Mataku akhirnya tertumpah di Pipiku. dada ini rasanya sesak tapi sulit untuk mengekspresikan Nya.
Tidak ada gunanya untuk bersedih terlalu lama. yang lalu biarlah berlalu, saya yang memulai dan saya tahu kalau itu akan berakhir.***
Sudah dua hari setelah Daren Pergi meninggal ku, akan tetapi Belum bisa ku putuskan untuk menggugat cerai.
__ADS_1
Seperti biasa berangkat ke kantor, sesampainya di Kantor sudah di hadapkan dokumen untuk ku periksa.
"selamat pagi ibu Pimpinan yang cantik.." ujar Profesor Azma yang datang bersama Bu Tiodor, kepala keuangan. dan ibu lasma, kepala HRD.
Ibu Tiodor dan ibu lasma, adalah pegawai terbaik yang berhasil disingkirkan dari Cantika Group karena membangkang terhadap rencana jahatnya almarhum Imran dan sekutunya. tapi saya tarik kembali, karena mereka adalah pegawai yang terbaik yang dimiliki oleh Cantika group.
"selamat pagi Juga, ada apa ini kok main keroyok aja pagi-pagi begini." ucapku kepada tiga wanita hebat itu.
"Neng Tyas. ibu merasa keberatan jika masih menggantikan posisi nak Daren. sampai saat ini ibu belum approve surat pengunduran dirinya. selain menjadi tim yang hebat, Dokter Daren juga pemimpin yang hebat." kata Profesor dengan raut wajahnya yang lesu.
"sama Prof, saya juga belum approve tuh pengunduran diri Dokter Daren. karena susah mencari Dokter terbaik seperti Dokter Daren." ucap Bu lasma kepala HRD.
"sama, saya ingin Dokter Daren kembali lagi. tidak masalah jika tidak menjadi suami ibu pimpin lagi. yang penting tetap jadi Dokter rumah sakit Cantika." tambah ibu Tiodor.
Ketika wanita hebat itu protes kepadaKu di pagi hari ini, seakan-akan aku mendapatkan serangan Pajar.
"jadi maunya apa ibu-ibu cantik? apa yang harus ku perbuat?" Karena pertanyaan dariKu wajah Ketiga ibu-ibu yang cantik sangat serius.
"kembalikan Dokter Daren." jawab mereka serantak.
"ibu-ibu yang cantik, aku ngak tahu dimana Dokter Daren sekarang?" sanggahan dari membuat mereka bertiga langsung tersenyum.
"Ibu tahu kok Neng, Dokter Daren sekarang berada di kampung halaman Mamanya. memang jauh dan sinyal komunikasi susah." ujar Profesor Azma.
Profesor Azma memberikan kepadaKu secarik kertas, dan setalah ku baca ternyata itu adalah alamat kampung halaman Mamanya Daren.
Segera ku foto, karena takut kertas tersebut akan hilang. setelah selesai ku foto, ketiga wanita hebat yang di depanku ini langsung tersenyum.
"cie...... yang di foto alamat Nya." Profesor Azma meledekku.
"ibu inilah, kan neng jadi malu." karena ucapan ku, raut wajah Profesor Azma langsung terlihat serius.
__ADS_1
"neng Cantika, neng harus tahu. bahwa kami bertiga ini adalah sahabat Almarhumah Mama kamu sayang. dan kami bertiga bersama Almarhumah Mama mu Sudah bersahabat sejak SMP, jadi luar dalam Almarhumah Mama kamu, kami mengetahui Nya. seperti kata pepatah lama, buah tidak jauh jatuh dari pohonnya.
Ibu tidak tahu persis nya permasalahan dalam keluarga neng Cantika, dan Nak Daren tidak pernah cerita ke ibu. demikian juga dengan neng Cantika.
Tapi yang jelas ibu tahu, bahwa nak Daren sangat mencintaimu Neng. dan dari sorot mata Neng Cantika juga demikian.
Kamu Persis Seperti Almarhumah Mama mu Neng, Egois dan keras kepala. cobalah tanya hatimu yang paling dalam, apakah benar masih nak Daren di dalam."
Benar kata Profesor Azma, saya egois dan keras kepala. bahkan Tyas juga mengatakan demikian.
"tapi Bu, seharusnya Daren tidak pergi dari rumah. dia meninggal Cantika Bu." ucapku kepada Profesor Azma.
"Cantika yang Cantik.... ibu ceritakan sedikit tentang pengalaman hidupKu. ibu sebagai perempuan suku Batak yang berkarir Bagus dengan penghasilan yang fantastis.
Dan diantara kami berempat hanya ibu yang paling lama menikah, sebabnya karena para pria minder mendekati ibu. suamiku yang sekarang adalah pria yang ibu Lamar. walaupun pada akhirnya Suamiku dan keluarganya datang melamar.
Yang mau ibu sampai adalah, bahwa laki-laki menjunjung tinggi kehormatan nya sebagai laki-laki yang akan kelak menjadi kepala rumah tangga.
Ibu yang hanya kepala keuangan di Cantika Group, dan Suami ibu masih sering minder terhadap ibu, apalagi nak Cantika. sang pimpinan Cantika group.
Jadi maksud ibu adalah kita sebagai sesama wanita karir, yang terlebih dahulu yang harus maju dan bukan berarti merendahkan Suami, tapi ada kalanya laki-laki itu ingin disayang dari istrinya yang hebat. betul kan kawan-kawan?"
"betul...... "
Profesor Azma dan Bu lasma serantak menjawab pertanyaan ibu Tiodor. dan kami berempat akhirnya tertawa bersama.
"benar sekali kata Tiodor, suami ibu adalah pegawai pemerintah. dan bukan mau sombong ya, pendapat ibu berkali-kali lipat dari Suami. dan itu sering membuat nya minder, dan ibu selalu sigap memberi nya pengertian." ungkap Bu lasma.
"sama mbak bro.... " ujar Profesor Azma.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
__ADS_1
Kami berempat hanya tertawa, pengalaman kehidupan dari tiga sahabat Almarhumah Mama ku ini sangat membuatku tegar dan terinspirasi.
Mama... terimakasih ya karena punya sahabat yang baik, hebat dan sumber inspirasi.