DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Surprise Dari Daren


__ADS_3

Baru kali ini Aku terbangun tanpa bantuan bunyi alarm, dan Daren sudah keluar dari kamar mandi dan kemudian siap-siap untuk pergi kerja. jam alarm yang ada diatas mejaKu menunjukkan angka pukul 6 lewat 32 menit.


Biasanya Daren berangkat kerja sekitar jam 8 pagi, tapi kenapa hari ini dia begitu cepat mau berangkat.


Setelah siap-siap Daren keluar kamar dan aku susul dari belakang. Mpok Sri sudah menunggu di ujung bawah anak tangga.


"nak dokter, neng. yuk sarapan, setelah sarapan terserah mau kemana." ujar Mpok Sri sambil tersenyum.


"maaf Mpok, lagi buru-buru." jawab Daren tanpa menolehku.


Padahal dia tahu kalau aku berada di belakangnya, seperti tidak dianggap. aku mematung diatas sini dan kemudian perlahan Aku turun hingga akhirnya sampai di meja makan.


"Mpok dah siapkan makanan kesukaan neng, neng Tyas kemana ya? apa belum bangun?" tanya Mpok Sri sambil berlalu.


Mpok Sri sebenarnya tahu kalau Tyas selalu jam 7 lewat baru ke meja makan ini, Mpok Sri berlalu hanya karena segan melihat wajahku yang suntuk ini.


Tiba-tiba saja Tyas sudah datang ke meja makan ini dan sudah rapi, matanya heran melihat kursi Daren yang masih kosong.


"kak, bang Daren pergi tanpa sarapan ya?" tanya Tyas dan aku hanya bisa mengganguk


"Tyas, tadi malam sudah kakak coba untuk memberiNya makan tapi ditolaknya."


"kakak yang membawa sendiri makannya?" tanya Tyas.


"ngak, Mpok Sri yang ngasih."


"uhmmm.... pantas di tolaknya, yang melarang bang Daren makan yaitu kakak bukan Mpok Sri. seharusnya kakak sendiri yang membawanya makanan. aaah... tapi sudah lah, Tyas mau makan dulu. lapar kak, tadi malam Tyas ngak makan." ujarnya dan kemudian makan dengan lahap di hadapan Ku.


"jadi, seandainya kakak yang bawa makanan itu, menurut Mu Daren mau memakannya?"


"tergantung kak, kalau ikhlas memberi Nya, Tyas yakin bang Daren mau memakannya." jawab Tyas dengan santai.


"apa Daren mau memaafkan kakak?"


Seketika Tyas terdiam dan berhenti mengunyah, lalu minum air dari gelasnya seraya menatap ku.


"kak, Tyas belum bersuami. tapi ya, dulu Mama pernah marah besar ke Papa, tidak tahu karena apa. tapi besok pagi saat Tyas bersama Papa di taman itu kak, mama datang membawa makan dan kopi kesukaan Papa, dan Mama mintak maaf dengan tulus sambil menyajikan makanan dan Kopi.

__ADS_1


Papa langsung luluh dong hatinya karena istrinya perhatian sama Papa." jelas Tyas dan kembali makan.


"haloo.... selamat pagi, selamat pagi teh Tyas." tiba-tiba saja si Bocah tengik itu datang dengan senyuman.


Terlihat Tyas begitu semangat karena kedatangan Remon, bocah itu langsung duduk saja di dekat Tyas tanpa ku persilahkan.


Dan anehnya Tyas mengambil piring dan kemudian menyendok nasi ke Piring beserta dengan lautnya ke piring tersebut. dan kemudian menyajikan kopi kepadanya. dan Remon tanpa beban langsung melahap makanannya, kemudian Tyas mengambil air minum satu gelas dengan tersenyum dia memberikan kepada Remon.


"kak, begitu cara melayani suami. Mama selalu melakukannya kepada Papa." ungkapnya.


Dan baru sadar maksud Tyas tersebut yang memperlakukan Remon demikian.


"Tyas sengaja mengundang Remon kesini, agar Tyas bisa mengajari kakak cara melayani suami." ujar Tyas lagi


"uhmm benar, emak di rumah kalau mau mintak tambahan uang belanja ke Bapak. begini caranya, so sweet banget." timpal Remon menyambung omongan Tyas.


"kak, Tyas bukan mau ngajarin kakak. bagaimana Tyas memberikan nasihat kepada kakak, sementara Tyas juga belum menikah. Tyas hanya mencoba sikap baik dari Mama untuk Kakak" tuturnya lagi.


"iya Tyas, kakak paham maksud Mu. jadi hanya untuk ini kamu memanggil Remon kemari?"


"Gopas yang nyuruh kamu?"


"ngak, bang Gopas kan bukan suami kakak. yang menyuruh Remon itu, suami kakak." ungkapnya dengan cuek.


Mpok Sri yang membawa tambahan makanan ke meja makan tertawa melihat tingkah Remon dan jawaban darinya.


"loh, bukannya jam 11 ya, kenapa harus sepagi ini kita perginya?"


Remon menelan makananNya dan berhenti mengunyah, kemudian menatapku.


"kakak lupa kalau Dokter Indra Dermawan ditangkap Polisi?, jadi kakak dan teh Tyas di harapkan hadir untuk memberi keterangan."


Jelas Remon, dan itu membuatku sadar betul akan banyakNya barang bawaan Remon datang kemari.


Setelah selesai sarapan, pengawal membantu Remon membawa berkasnya. dan kami langsung menuju kantor polisi. sesampai di kantor Polisi, Daren dan Gopas sudah menunggu di ruang tunggu. setelah melihat kedatangan kami barulah kami semua masuk kedalam suatu ruangan yang di pandu oleh seorang polwan.


Daren duduk disebelah kananku, dan Tyas duduk disebelah kiri ku, sementara Remon dan Gopas duduk dibelakang kami. sementara petugas investasi nya belum datang, raut wajah Daren begitu datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


Akhirnya yang kami tunggu datang, seorang laki-laki yang berpakaian biasa bersama dua orang Polisi yang berseragam dan membawa berkas yang sangat tebal.


"perkenalkan saya Said, ketua tim investigasi yang menangani kasus ini. saya harap kerja sama yang baik demi kelancaran kasus ini." ujarnya dengan tegas.


Daren mengeluarkan map berwarna biru Tua dari tasnya kemudian memberikan map itu kepada Gopas.


"saya tidak mau jika bapak yang mengintrogasi kami, dan kami punya hak menolak."


"apa? jangan mempersulit proses ini, mohon kerjasamanya." ujarnya dengan sedikit kesal.


"saya Suami sekaligus wali Cantika yang membuat laporan dengan ini menolak untuk bapak Interogasi." kekeh Daren menolak untuk di Interogasi


"apa alasan anda menolaknya?" tanya Beliau.


"bapak kerja sama dengan Om Imran, dan anda adalah kaki tangannya. oknum pemerintah yang dibawah kendali oleh orang yang punya banyak uang." ungkap Daren dengan tegas.


"jangan asal bicara.


prakkk...... " Daren membanting berkas di atas meja dan hal itu yang memotong omongan nya.


"itu adalah Bukti kalau anda salah satu penghianat di negeri ini." jelas Daren kepadaNya.


Krek....prak....." suara pintu yang seperti dipaksa oleh orang untuk masuk.


"pak Said, anda kami tangkap atas penghapusan bukti dan telah bekerjasama untuk menutupi kejahatan seseorang, serta menerima suap. Anda berhak mendapatkan bantuan pengacara." jelas Polisi yang baru datang itu.


Setelah gerombolan polisi itu membawa Said yang hendak mengintrogasi kami, kini yang datang orang yang baru.


"pak Gopas, laksanakan tugas Mu sebagai penasihat hukum kami." perintah Daren kepada Gopas.


Gopas langsung berdiri dan menarik kursinya kemudian duduk disamping Daren. dan mulai membuka berkasnya.


"mohon maaf pak, clien saya menugaskan kepada saya untuk menjawab semua pertanyaan Bapak." ujar Gopas dengan sangat tegas.


Selama Interogasi untuk BAP, Gopas menjawab pertanyaan dengan diplomatis. saya masih bingung akan keadaan ini.


Sebenarnya apa yang terjadi?

__ADS_1


__ADS_2