DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Sangat Miris Tapi itulah Kenyataannya.


__ADS_3

Dadang sudah duduk dihadapan Ku sambil membaca beberapa dokumen berbahasa Korea. dan Gopas bersama Remon sudah tiba di ruangan.


"kak, file yang tadi sedang di print sama teh Tyas ya, bentar lagi datang kemari."


Saya menggalakkan kepala kepadanya untuk menyahut omongannya. dan mereka berdua duduk sejajar dengan Dadang.


Tiba-tiba saja Dadang berdiri kemudian mengangkat tangan kanannya yang di kepalnya.


"saya Dadang, bersumpah akan mengatakan yang sebenarnya sesuai dengan yang tertulis. saya berhasil diterima kerja disini dengan gaji yang sangat fantastis, murni berdasarkan ujian kompetensi dan kekayaan kemampuan. saya murni masuk tanpa sogokan." ungkapnya dengan begitu serius dan tegang.


Remon tersenyum dan menatap wajah Dadang yang tegang itu, tapi Remon menanggapinya dengan ekspresi datar.


"dah kyak bang dokter waktu wisuda sarjana Nya." ledek Remon.


"Dadang duduk."


"siap Bu." ujarnya dengan wajah tegangannya.


"Dadang santai saja, saya tidak akan menghakimi kamu."


Barulah dia bersikap seperti biasa, wajahnya tidak tegang lagi. dan lagi-lagi Remon tertawa melihat perubahan sikap Dadang. tidak berapa lama Tyas masuk dan berdiri disamping Ku kemudian membagikan file yang telah di print Nya.


"Dadang. kamu baca dulu map yang pertama, langsung terjemahan ke bahasa Indonesia saja." Dadang hanya mengangguk.


"Jakarta 16 Februari 2017.


Pertanyaan dan persetujuan.


yang bertanda tangan dibawah ini.



Tuan Imran....


"stop. Dadang. kamu simpulkan saja, ntar kelamaan dan itu buat pusing."


__ADS_1


Dadang hanya mengangguk dan kemudian sesaat membaca dokumen tersebut. setelah beberapa saat kemudian Dadang menoleh ke arahku.


"Bu, pernyataan dan persetujuan ini. berupa kesepakatan antara rumah sakit Cantika dan rumah sakit swasta inchan di Korea akan suplai organ tubuh.


rumah sakit Cantika di wakilkan oleh Dokter Indra Dermawan, selaku direktur rumah sakit Cantika, Imran dan Riko selaku pemilik mayoritas rumah sakit Cantika. dengan Tuan Tie Park Kashan. selaku direktur dan pemagang saham mayoritas dari rumah sakit inchan Korea Selatan.


berdasarkan kesepakatan di klausa berikutnya, harga dari organ tubuh bervariasi sesuai dengan kesepakatan bersama. harga bisa berubah sewaktu-waktu dan berdasarkan kesepakatan.


harga dari organ tubuh, tergantung dari kesehatan pendonor dan kebutuhan yang mendesak.


pengiriman di kawal ketat oleh pihak rumah sakit Cantika dan pihak rumah sakit inchan.


Bu.... ini kesimpulan dari dokumen ini, tapi aku yakin pasti ada pihak lain yang terlibat. misalnya polisi, dari kementerian kesehatan, pihak imigrasi dan bea cukai." penjelasan dari Dadang membuka borok rumah sakit.


"itu sudah sangat jelas mas Dadang." sambung Remon mengambil sesuatu dari tasnya.


Foto orang-orang yang terlibat dalam hal pengiriman organ tubuh tersebut. benar saja kata Dadang. semua pihak yang disebutkannya ada dalam dokumentasi foto tersebut.


Remon juga menunjukkan beberapa video terkait pengiriman itu, dan memberikan Flashdisk kepada Tyas.


"teh Tyas itu copy dari video ini, serta file fotonya." jelasnya sambil duduk kembali ke kursinya.


"Remon mendapatkan file ini dari bang Dokter, yang diperoleh nya dari sistem database rumah sakit Cantika. karena folder tersebut terkunci jadi diserahkan bang Dokter kepada ahlinya, ya Remon tentunya." demikian Ujarnya dengan sikap sok sombong.


Berkas kedua yang diberikan Tyas,kembali dibacanya. setelah beberapa saat kemudian menolehku lagi.


"Bu... dokumen adalah bukti pembayaran atas transaksi organ tubuh tersebut, mereka menggunakan sistem bitcoin dan produk start up keuangan yang belum mendapatkan ijin dari pemerintah Indonesia." kata Dadang dengan jelas.


"tentu dong, karena jika menggunakan akun bank konvensional. maka transaksi akan mudah di lacak. bitcoin hanya bisa dicairkan di Negera tertentu." Remon menyambung Perkataan Dadang.


Benar kata Gopas tas miliknya seperti kantong ajaib Doraemon. dari dalam tas itu Remon memberikan dokumen lagi, serta flashdisk, dokumen dibagikan kepada kami sementara Flashdisk diserahkannya kepada Tyas.


"itu bukti pencairan bitcoin yang di konvensi ke dolar Singapura. dan dana yang dari star up. di konvensi ke dalam bitcoin dan dicairkan di counter tertentu, di berkas tertera Namanya dan dicairkan di negara Thailand." kata Remon dengan penuh semangat.


"oh ya Bu, nama pegawai yang duduk di sampingku itu Febrian. Aku masuk kerja disini 1 tahun lalu, dan pak Febrian adalah senior Ku. bapak itu selalu bertingkah aneh.


dan Karena penasaran akhirnya Ku selidiki dan ternyata dia sering menerima email dari Korea. isi email tersebut menyatakan bahwa akunnya sudah ditransfer bitcoin." ujar Dadang sambil memperlihatkan screen di handphone Nya.

__ADS_1


"benar kak, karena mas Dadang sudah pernah meretas email pria tadi, Remon berhasil mengakses email yang selalu mengirim pesan itu. berikut ini daftar para penerima yang ada di Indonesia." Kata Remon sambil memberikan dokumen dan flashdisk lagi.


"oh ya kak, ini adalah para kaki tangan yang mencairkan bitcoin tersebut." lagi dan lagi berkas itu keluar dari tasnya.


Gopas terlihat kagum melihatnya, jujur demikian juga denganku. rasa kagum kepada-nya begitu besar.


"Remon. kenapa kamu ngak jadi polisi Intel saja." tanya Gopas kepadanya.


"malas mencoba Nya bang, pasti bapak ngak punya uang nantinya, berbeda dengan melamar kerja disini ngak pake uang sogokan."


"iya benar, dulu setelah tamat SMA, Dadang pernah ikut tes Akpol. lulus ujian, dan lulus tes fisik, bahkan rangking 3 lagi. tapi apa? pengumuman terakhir namaku hilang dari kertas pengumuman itu. dan masih bersyukur karena mendapatkan beasiswa ke Korea. lulus dan diterima kerja disini tanpa uang sogokan." Dadang menyambut omongan Remon.


Dadang menceritakan ketidakadilan yang diterima saat mengikuti tes Akpol. ya itulah negeri Plus 62 ini. dengan uang semuanya bisa terlaksana.


Bahkan hati nurani manusia sekarang seolah-olah sudah mati, organ tubuh manusia menjadi bisnis yang menggiurkan.


"oh ya kak, dari tiga pegawai yang kemarin itu dan satu pegawai dari ruang Sermon, Remon akhirnya bisa melacak ruang bedah rahasia. yang ada di rumah sakit ini." kata Remon sambil memberikan sebuah peta.


"kak, jalan menuju ruang bedah rahasia ini, itu dari ruangan Dokter Dermawan. tapi Remon belum berhasil membobol sistem keamanan ruangan itu."


"bisa ku bantu?" Dadang menawarkan bantuan.


Remon hanya mengganguk dan kemudian memberikan laptop lamanya kepada Dadang. Aku dan pak Gopas hanya bengong melihat aksi kedua Ahli program komputer itu sedang bekerja.


Mereka berdua terlihat begitu fokus, dan sesekali saling bertatapan untuk memberi kode. obrolan kedua manusia komputer tidak Aku mengerti. tapi Gopas masih sibuk dengan berkasnya. Beberapa saat kemudian, mereka berdua terlihat tos tangan, dan tersenyum.


"saya sungguh salut dan kagum melihat Mu, Aku belajar dengan Profesor hebat tidak mampu mengimbangi Mu." ungkapnya kepada Remon.


"panggil Remon aja mas, umur ku baru saja 17 tahun, kalau ngak percaya tanya saja bang Gopas." ujar Remon kepadanya.


"he..ee...eee ... malah ngobrol, hasilnya mana?" tanya Gopas dengan penasaran.


Remon menunjukkan laptopnya ke arahku, sementara Dadang menunjukkan laptopnya ke arah Gopas.


Sisi TV di ruangan itu, bisa diakses oleh mereka berdua. dan terlihat masih ada beberapa orang tubuh yang terbungkus di tempat khusus dan beberapa bagian tubuh yang disalah ranjang.


Tyas menangis melihat video itu, dan kemudian muntah. sungguh miris dan sangat pilu rasanya. kok ada ya manusia yang kejam seperti itu.

__ADS_1


Manusia memang kejam, dan mereka semua salah memberi predikat ratu Kejam. tapi atasan mereka yang sebenarnya lebih pantas menyandang predikat itu.


Papa dan Mama bekerja keras untuk membangun rumah sakit ini, tapi akhirnya di rusak oleh iblis yang menyerupai manusia ini. lihat saja nanti, tunggu giliran kalian.


__ADS_2