
“Raka, lo beneran sama Kirana?”, inilah kalimat pertama yang dilontarkan oleh Fay ketika bertemu dengan sahabat masa kecilnya itu.
Raka masih terus asyik memainkan ponselnya. Mereka sedang berada di sebuah cafe tiga lantai yang tak jauh dari kediaman Fay. Gadis itu pulang bersama Raka hari ini. Fay meminta Raka untuk berhenti di Cafe ini karena dia ada hal penting yang ingin dibicarakan.
“Raka, dengerin aku. Kamu beneran sama Kirana? Kamu tuh ya..”, ucap Fay menarik ponsel Raka dari tangannya dan menaruhnya di meja.
Raka mau tidak mau harus menatap Fay dan melayangkan tatapan penuh tanya pada gadis itu.
“Kenapa kamu mau tahu banget tentang itu? Jangan bilang hal penting yang ingin kamu bicarakan itu adalah tentang ini?”, tanya Raka berusaha mengambil ponselnya lagi, tetapi Fay menutupnya dengan tangannya.
“Kalau iya, kenapa? Gue tuh kecewa banget dengan jawaban lo waktu itu. Apa - apaan kamu angkat telpon Kirana? Terus, aku aja belom pernah masuk ke apartemen kamu.”, kata Fay dengan penuh emosi.
“Kamu mau pakai lo atau kamu? Konsisten dong.”, ucap Raka.
“Itu ga penting.”, balas Fay.
“Hm.. penting. Kamu harus konsisten antara mengejar Radit atau melepaskannya. Kamu tidak suka Kirana karena dia dekat dengan Radit, kan? Sekarang dia bersamaku, bukankah seharusnya semua masalah kamu selesai?”, kali ini Raka bertanya serius pada Fay.
Hal ini terlihat dari tatapan bola matanya yang tertuju pada mata Fay. Gadis itu sempat terdiam.
“Kenapa kamu malah berputar - putar dan bawa - bawa Radit?”, tanya Fay.
“Aku hanya bingung. Kamu suka pada Radit atau aku sebenarnya?”, ucap Raka membuat Fay terkejut.
“Radit adalah pria yang aku suka. Kamu adalah sahabatku.”, balas Fay.
“Berarti tidak masalah dong kalau aku dekat dengan Kirana. Toh, pria yang kamu kejar adalah Radit.”, jawab Raka.
“Tapi aku tetap tidak suka kalau kamu dekat dengan Kirana.”, Fay berucap dengan keras.
“Kenapa? Bukankah itu berarti karena kamu suka padaku? Apa kamu akan menyukai semua pria yang dekat dengan Kirana? Karena kamu membencinya. Hm.. bagaimana kalau pria itu adalah Pak Rian, ya.”, ucap Raka dengan santai dan nada bergurau.
Kemudian, pria itu berdiri dari tempat duduknya menuju tempat pemesanan karena dia ingin memesan satu menu lagi.
__ADS_1
“Raka, apa maksud kamu? Apa hubungannya dengan Pak Rian?”, tanya Fay bingung.
Namun, Raka sudah terlanjur melangkah jauh darinya. Pria itu memberikan kode pada Fay seolah bertanya apakah dia ingin memesan makanan atau minuman tambahan. Fay menggeleng. Setelah berinteraksi sebentar dengan kasir, Raka kembali ke kursinya.
“Hei, apa maksud kamu membawa - bawa nama Pak Rian?”, tanya Fay langsung penasaran.
“Apa Kirana punya hubungan spesial dengan Pak Rian?”, tanya Fay menggebu - gebu.
“Hm.. aku hanya membuat perumpamaan. Kamu tidak suka Kirana karena Radit kerap dekat dengannya. Oke, sekarang aku sudah memacari Kirana dan kamu bisa bebas bersama Radit. Kenapa lantas kamu tidak suka aku bersamanya? Apa kalau Kirana berhubungan dengan Pak Rian, kamu juga tidak suka?”, tanya Raka segera menyeruput minuman tambahan yang tadi baru dia pesan.
“Yang benar kalau kasih perumpamaan. Mana mau cowok model Pak Rian sama tipikal cewek tebar pesona seperti Kirana. A-ah.. apa Kirana suka dengan Pak Rian? Heh.. besar juga nyali perempuan itu.”, kata Fay langsung menarik kesimpulan sesuai dengan pikirannya sendiri.
Raka yang sudah menyerah hanya bisa menggeleng - geleng kepala. Dia sudah tahu seperti apa Fay. Raka hanya tersenyum tipis seperti sedang menyusun rencana baru di kepalanya.
“Setelah ini, aku antar kamu pulang.”, ucap Raka.
“Kamu mau kemana memangnya?”, tanya Fay.
“Biasa.”, ucap Raka.
Dia sudah pernah beberapa kali mengabaikan aturan itu dan sekarang dia sudah seperti kehabisan kuota. Jika dia tidak mendengarkan papanya kali ini, mungkin dia akan segera dipecat jadi anak.
“Heh… pikirkan sesukamu.”, ucap Raka.
“Kenapa kamu terlihat tidak senang?”, tanya Fay.
“Aku tidak ingin pulang karena tidak ada siapa - siapa di rumah. Aku pergi ke tempat ramai tapi rasanya seperti sendiri.”, balas Raka.
Fay hanya menatapnya seolah paham.
‘Setiap kali aku melihat perempuan itu, aku selalu teringat pada kakakku.’, bathin Raka dalam hati.
************
__ADS_1
“Kesitu ajaaaa… gue dah bosen banget makan ayam bakar muluuuu… Yang itu baru, Ghee..”, Kirana sedang merengek pada Ghea di parkiran.
Ghea adalah tipikal yang kalau sudah senang dengan satu hal, dia akan terus mengulang hal tersebut sampai bosan termasuk makanan. Jika dia suka dengan ayam bakar, dia bisa menghabiskan waktu makan siangnya setiap hari dengan menu yang sama.
Ini sudah hari ketujuh dan Kirana sudah kehabisan menu di warung itu.
“Yang punya mobil siapa? Gue kan? Jadi lo harus ikut kata gue dong.”, balas Ghea.
“Gak terima? Ya.. lo belajar bawa mobil. Nanti gue akan ikut kemana lo mau.”, lanjut Ghea.
“Sore Pak.”, sapa Ghea segera saat melihat Pak Rian sudah berdiri di belakang Kirana.
Kirana ikut kaget tetapi dia berusaha untuk mengatur ekspresi wajahnya. Seharusnya sekarang dia sedang mode perang dingin dengan Rian. Pria itu sudah seperti ombak. Bahkan ombak saja lebih baik karena suatu waktu dia akan membawa air ketepian, tapi Rian tidak. Dia terus saja mengombang ambing perasaan Kirana tanpa belas kasihan.
Akhirnya, Kirana tidak berbalik meski dari gestur Ghea, dia tahu Rian pasti tidak jauh dari belakangnya. Hari itu adalah akhir pekan. Tidak banyak mahasiswa yang datang ke kampus dan juga sudah sore. Parkiran sepi.
“Ran, bisa kita bicara sebentar?”, tanya Rian meski Kirana tak menghadap ke belakang.
“Maaf Pak, sudah bukan jam kuliah. Tugas sudah saya antar. Saya sudah mau pulang.”, ucap Kirana dingin.
“Ran, saya bukan mau bicara tentang kuliah.”, ucap Rian.
“Kalau begitu, sepertinya bapak salah orang. Ayo, Ghe. Kita pergi sekarang.”, ucap Kirana.
Padahal tadi dia merengek tidak ingin menuruti keinginan Ghea untuk makan di tempat itu lagi. Tapi sekarang dia tidak punya pilihan. Ghea kebingungan antara menuruti permintaan Kirana atau menunggu agar Pak Rian bisa berbicara dengan temannya itu. Sepertinya ada pembicaraan serius yang harus mereka diskusikan.
“Ghe, Kirana pulang bareng saya.”, ucap Rian.
“Memangnya bapak siapa? Maaf ya Pak, saya tidak mau ada kesalahpahaman di kampus antara saya dengan Bapak. Udah yuk, Ghe.”, ucap Kirana tegas.
“Ran..”, panggil Rian dengan suara yang tak kalah tegas.
Rian bahkan menarik lengan Kirana dan memegangnya. Kirana tersentak. Dia hampir saja luluh. Kalau saja beberapa orang mahasiswa tidak tiba - tiba lewat disana. Kalau saya setelahnya Rian tidak langsung melepas tangannya, mungkin Kirana akan luluh.
__ADS_1
Kirana tertawa sendu dan segera berjalan ke dalam mobil meninggalkan Rian. Ghea juga nampaknya tidak punya pilihan selain permisi pada Rian dan menaiki mobilnya. Deru mobil Ghea beberapa saat setelahnya meninggalkan kesunyian dan kesepian di wajah Kirana dan Rian.