Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 86 Situasi Genting


__ADS_3

“Mama ngomong apa aja ke Kak Rian?”, tanya Kirana.


“Gak banyak. Gak perlu kamu pikirkan. Habiskan makanannya. Setelah itu, kamu istirahat.”, jawab Rian singkat.


“Ngapain kesini kalo endingnya aku disuruh istirahat.”, ucap Kirana sekenanya sambil memasukkan satu sendok nasi dengan sup ke dalam mulutnya.


Rian hanya tersenyum simpul mendengar komentar Kirana. Perlahan, gadis itu sudah kembali menjadi Kirana yang dia kenal. Blak - blak-an.


“Lain kali kesini bawa makanan. Ghea yang mahasiswa aja bawa buah yang banyak dan cokelat. Kenapa dosen Fisika yang proyeknya banyak ga bawa apa - apa.”, komentar Kirana.


“Hm? Apa hubungannya buah tangan dengan profesi?”, ucap Rian.


“Ghea kan mahasiswa. Uang jajannya juga masih sedikit dan minta orang tua. Kak Rian kan sudah dewasa. Sudah punya uang sendiri. Kenapa gak bawa apa - apa.”, jelas Kirana.


“Ya.. ya.. Lain kali aku akan bawa makanan yang banyak. Lagi pula, kamu itu bermasalah dengan lambung. Aku juga gak berani bawa makanan sembarangan.”, tutur Rian.


“Alesan. Bilang aja pelit.”, balas Kirana.


Rian hanya bisa menghela nafasnya.


“Ya sudah. Makanannya sudah habis, kan? Ini dibereskan dulu, kamu minum air putihnya dulu.”, jawab Rian yang mendekat ke arah Kirana untuk membantunya membereskan makanan yang ada di mejanya.


Jarak mereka sangat dekat dan keduanya tidak menyadarinya karena mereka menganggap itu adalah interaksi yang wajar. Sampai suatu ketika, wajah mereka saling berhadapan. Awalnya Kirana yang terkejut. Kemudian, Rian menyadari apa yang membuat Kirana terkejut. Posisi mereka terlalu dekat saat itu.


Apalagi, Rian mencoba menjangkau teko air mineral yang ada di arah yang berlawanan. Bukannya berjalan mengitari tempat tidur Kirana, Rian mengambil jalan pintas dengan menjulurkan tangannya.


Kirana bisa mencium aroma pria itu dengan jelas. Aromanya masih sama.


Deg. Jantung Kirana seketika langsung berdegup kencang. Semua bergerak pelan seperti sedang slow motion. Begitu juga dengan Rian. Pria itu menelan air ludahnya karena tak kalah deg - deg-an nya. Mereka pernah pernah sedekat ini sebelumnya. Namun, saat itu, Rian langsung bisa mengendalikan dirinya.


Sekarang, Rian tidak tahu apa yang merasuki dirinya sampai tidak bisa bergeming dari posisi itu. Wajahnya menatap wajah Kirana. Gadis itu sedang memikirkan berbagai jenis adegan film remaja yang sering dia tonton. Banyak sekali reka adegan yang sekarang muncul di pikirannya.


Rian, seharusnya dia bisa bangun dari posisinya dan bersikap biasa saja. Tetapi, sepertinya dia tak ingin melakukan itu sekarang. Ada sesuatu yang merasukinya. Lama kelamaan wajah mereka semakin dekat dan semakin dekat.


Kirana mulai memejamkan matanya perlahan karena bibir pria itu mulai terasa dekat. Bahkan dia sudah tak bisa melihatnya lagi karena jaraknya sudah sangat dekat.


Deg deg deg deg


Jantung keduanya berderu sangat kencang. Masing - masing dari mereka bisa merasakan hembusan nafas. Perlahan - perlahan. Kirana sudah menutup matanya sempurna. Rian dengan mantap semakin mempersempit jarak diantara mereka.


Terdengar suara berisik dari luar.


“Lo bener - bener harus jaga sikap ya Radit. Awas aja kalo lo aneh - aneh nanti.”, ujar Ghea dengan suara lantangnya.

__ADS_1


“Tentu aja gue akan jaga sikap. Kecuali cowok yang entah kenapa bisa disini ini gak jaga sikap.”, balas Radit.


Telunjuknya mengarah pada Raka. Mereka tanpa sengaja bertemu di depan rumah sakit.


“Eh?”, Kirana langsung membuka matanya.


Rian juga langsung berdiri dari posisinya.


“Ghea… Radit.. Raka?”, ucap Kirana langsung terkejut bukan main.


“Mereka jenguk kamu jam segini? Kenapa gak bilang?”, balas Rian yang tak kalah panik.


“Mana aku tahu. Ghea random. Dia gak bilang mau kesini. Radit? Aku juga..”, Kirana berusaha menjelaskan tapi sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk memberikan penjelasan.


Yang jelas, beberapa menit lagi, mereka akan mendarat segera di depan pintu kamar inap Kirana.


“Sembunyi. Kak Rian harus sembunyi.”, ujar Kirana.


“Aku keluar aja..”, ucap Rian.


“Eh… mereka udah di depan. Mana bisaaa.”, balas Kirana.


Beberapa menit kemudian.


Dilihatnya Ghea tersenyum cerah. Kemudian perlahan Ghea melangkahkan kakinya masuk dan muncul Radit di belakangnya. Tak hanya Radit, ada Raka juga di belakang dengan wajah datarnya.


“Kok bisa komplit, ya.”, ujar Kirana kehilangan kata - kata.


Kalau hanya Ghea yang datang, mungkin dia berencana untuk memberitahukan saja tentang Rian. Tapi ini ada Radit dan Raka juga. Beruntung, saat ini Rian sudah menemukan tempat persembunyian yang pas. Apalagi kalau bukan kamar mandi.


Kirana hanya perlu berbincang - bincang sebentar dengan teman - temannya dan berdalih kalau waktu berkunjung sudah mau habis. Selain itu, Kirana memang juga harus istirahat.


Rian sedang menghela nafasnya sekarang di dalam kamar mandi. Lega sekaligus masih deg - deg-an memikirkan apa yang sudah ingin dia lakukan pada Kirana tadi beberapa menit yang lalu sebelum ketika mahasiswanya itu datang.


‘Rian…. Kamu itu benar - benar sudah kehilangan akal. Bagaimana bisa kamu kepikiran untuk mencium Kirana disaat seperti ini. Kalian itu sudah bercerai. Apa yang aku lakukan tadi. Sebagai seorang dosen, aku malu pada diriku sendiri.’, gerutu Rian dalam hati.


Dia benar - benar terbawa suasana.


‘Bukan hal yang tepat juga untuk dikatakan. Tapi, kalau saja tiga mahasiswa itu tidak datang, mungkin aku sudah melakukan kesalahan. Apa - apaan.’, Rian memberikan protes terhadap dirinya sendiri


Sementara itu Kirana.


‘Kenapa datang disaat yang tidak tepat sih. Padahal tadi suasana dan situasinya sudah mendukung untuk romantis malah mereka datang. Ghea doang sih gapapa. Kenapa Radit dan Raka juga? Bikin sakit kepala aja. Awas ya Ghea.. bagaimana bisa kamu membawa dua orang ini bersamaan.’, kata Kirana dalam hati sambil memberikan tatapan tajam pada Ghea.

__ADS_1


Ghea juga sudah memahami tatapan Kirana dan memberikan kode ‘maaf’ menggunakan tangannya.


“Ran, kamu gapapa? Kenapa ga bilang - bilang sih kalau kamu sakit?”, tanya Radit.


Ghea yang mendengarnya langsung bergidik.


‘Bukannya tadi udah gue peringatkan jangan aneh - aneh ya.’, ucap Ghea sambil melihat ke arah Radit.


“Oiya, tadi gak sengaja ketemu Raka di depan. Kok lo tahu sih Rana di rawat disini? Lo yang ngasih tahu Ran?”, tanya Ghea.


“Oh?”, Rana bingung mau menjawab apa.


Sejujurnya, Kirana tidak memberitahu siapapun tentang dirinya masuk rumah sakit. Ghea kebetulan tahu karena menghubungi mama Kirana. Rian juga tak sengaja tahu karena mendengarkan percakapan Ghea di telepon. Jadi, tak ada yang memberitahu Raka sama sekali.


Tapi, Kirana berpikir akan terdengar aneh kalau dia mengatakan tidak.


“Ah.. iya.”, jawab Kirana akhirnya berbohong.


Raka melirik ke arah Kirana sebentar karena kaget dengan jawaban gadis itu. Sebaliknya, Rian yang mendengarnya dari dalam kamar mandi merasa risih mendengar jawaban Kirana.


“Hah? Mereka benar - benar pacaran? Kenapa Raka diberitahu sementara aku tidak. Padahal kan aku dosennya.”, protes Rian.


‘Tapi, kalau keduanya pacaran, kenapa Kirana tadi tidak menolaknya. Hah.. sudah - sudah. Aku jadi malu sendiri memikirkan yang tadi.’, ucap Rian dalam hati.


“Ohiya, Ran, gue numpang ke toilet sebentar, ya. Tadi gue dicegat Radit, sampe lupa mau ke toilet dulu.”, ujar Ghea meletakkan tasnya.


“Eh… Ghe..”, panggil Kirana dengan cepat.


“Hm?”, tanya Ghea.


“Di luar aja.”, ucap Kirana.


“Hm? Disini aja. Kamu kan dapat kamar yang single. Kalo di luarkan kamar mandinya bareng - bareng. Pasti ngantri. Kenapa sih? Aku gak bakal ngotorin kamar mandinya kok.”, ucap Ghea langsung cemberut.


“Oh bukan - bukan. Kamar mandinya lagi diperbaiki. Jadi sedang gak bisa dipake.”, jawab Kirana. Meski ruangan itu ada AC nya, peluh Kirana mengucur dari dahinya.


“Hm? Aneh banget. Kamar kelas 1 kok kamar mandinya bisa rusak. Kamu harus protes ke pihak rumah sakitnya. Bilang tagihannya didiskon, karena kamar mandinya rusak.”, ucap Ghea.


Sementara itu, Rian langsung siap siaga dari dalam.


‘Oh tidak!.’, ucap Rian.


Pria itu baru menyadari kalau dia lupa mengunci pintu kamar mandi. Dia akhirnya pelan - pelan maju ke depan pintu kamar mandi dan menahannya dengan tahan. Dia khawatir menguncinya sekarang hanya akan menimbulkan suara dan rasa curiga dari yang lain.

__ADS_1


Dia hanya bisa berdoa agar tidak ada yang random membuka pintu itu.


__ADS_2