
Selepas mengantar Kirana pulang, Rian melajukan mobilnya ke sebuah tempat bermain tenis. Dulu, sewaktu masih di Perancis, Rian seringkali menyempatkan diri untuk bermain tenis rutin. Jika sedang sibuk, dia mengusahakan agar setidaknya 2x dalam seminggu dia bermain tenis.
Semenjak pulang ke Indonesia, dia sudah tidak pernah lagi bermain tenis. Bahkan mungkin rekan - rekan di kantornya tidak ada yang mengetahui kalau Rian hobi dan bisa bermain tenis. Sebelum menepikan mobilnya ke tempat bermain tenis, Rian mampir terlebih dahulu di sebuah toko olahraga hanya untuk membeli raket tenis.
Dia sudah tidak lagi menyimpan raket itu karena semua barang - barang yang ada di Perancis mayoritas sudah dia jual. Tujuannya, agar dia kembali ke Indonesia tidak seperti orang yang sedang pindahan.
“Hai Rian. Dateng juga, lo. Gue kira lo ga bakal mau dateng.”
“Iya, udah capek - capek nginvite dari jaman kapan, dan lo ga pernah ikutan.”
“Ada apa nih gerangan. Biasanya kalo cowok melakukan aktivitas yang tidak biasa dia lakukan secara tiba - tiba, artinya doi sedang bermasalah dengan cewek.”
“Hah.. ngarang.”, jawab Rian singkat meletakkan tasnya.
Ternyata tidak hanya raket tenis, dia juga lengkap membawa tas menyerupai tas gym sekaligus satu set outfit tenis serba putih. Untuk sepatu, dia memang sudah biasa meninggalkan tiga alas kaki untuk berjaga - jaga. Sendal jepit, Sepatu formal, dan sepatu olahraga.
__ADS_1
Sendal jepit dia gunakan untuk Shalat Jum’at, sepatu formal dia gunakan untuk meeting dadakan, dan sepatu olahraga akhirnya berguna untuk dia gunakan sekarang bermain tenis.
“Benarkah? Atau lo mau gue kenalin ke temen kantor gue, gak? Cantik orangnya.”, ujar teman Rian.
Setidaknya ada kurang lebih 8 orang yang ada disana. Mereka semua adalah teman - teman SMA Rian dulu. Kebanyakan dari mereka memang mantan atlet sekolah atau atlet kampus. Rian dulu sempat ikut untuk olahraga basket. Tetapi dia akhirnya keluar karena harus fokus persiapan kuliah ke luar negeri di tahun ketiga.
“Jadi, gimana urusan percintaan lo? Masih single? Kalau iya, beneran nih, gue akan kenalin lo ke temen gue. Gue yakin, sekali lihat, udah pasti bakalan suka sama lo.”
“Urus diri lo aja. Masih single, jangan sok - sok-an cariin pasangan buat Rian. Dia diem aja udah ada 10 yang ngantri di luar.”, sanggah teman yang lain.
“Sudah. Sudah. Cukup intronya. Jadi main gak? Biasanya sparringnya gimana?”, tanya Rian.
“Baik.. ada yang mau sparring 1 vs 1 sama gue?”, tanya Rian to the point.
“Gilaa…. Santai dulu bro. Udah main sparring 1 vs 1 aja. Eh, tapi boleh deh gue.”, ucap temannya.
__ADS_1
Kring kring kring
Baru saja Rian akan mulai melangkah ke lapangan sparring yang dimaksud, seseorang menghubunginya di telepon.
Claudia
‘Lagi - lagi dia yang telpon.’, pikir Rian.
“Hm.. Halo.”, balas Rian sambil memberikan tanda pada rekannya untuk jalan lebih dulu menuju lapangan.
“Lagi dimana? Gue lagi bosen nih. Ketemuan?”, tanya Claudia.
Wanita itu memang terkenal dengan sikapnya yang tidak neko - neko dan penuh percaya diri. Dia tidak masalah jika harus mengajak pria bertemu terlebih dahulu. Termasuk saat ini.
Rian nampak berpikir sebentar.
__ADS_1
“Aku sedang di lapangan tenis X, kamu bisa kesini kalau kamu tertarik.”, ucap Rian tenang.
Sementara di sisi yang lain, Claudia sudah melonjak kegirangan karena akhirnya di persilahkan oleh Rian. Tadinya, dia sudah bersiap - siap dengan skenario kalau - kalau Rian justru menolaknya.