
‘Hah…aku tidak ingin terlalu dalam lagi masuk ke dalam kehidupan Kirana. Lebih baik tidak sama sekali daripada menambah lebih banyak luka lagi dalam hidupnya. Aku yang salah. Aku mencoba membuka ruang itu lagi. Tapi, tidak mau bertanggung jawab.’, gumam Rian di dalam kamarnya.
Pandangannya menghadap pada beberapa potret dalam frame yang berdiri rapi di atas mejanya. Potret pernikahan dirinya dan Kirana terpampang rapi kembali di atas meja itu. Rian bangun dari tidurnya dan melihat ke atas meja.
‘Pasti Kirana.’, ucap Rian dalam hati.
Foto itu selalu dia sembunyikan dengan menidurkan frame - frame itu disana.
‘Riaaan.’, kata Rian frustasi.
Dia tahu Kirana menyukainya. Dulu dan sekarang dia tahu kalau Kirana lebih blak - blak-an dibandingkan dirinya. Meski dia yakin kalau dirinya yang menyukai Kirana lebih dulu. Tapi selalu gadis itu yang menyadari dan mengatakannya.
Entah apa yang dibayangkan dan diharapkan Kirana saat dia mengembalikan foto - foto ini seperti semula. Kembali bersama? Tidak mungkin. Sesuatu yang tidak mungkin Rian lakukan.
‘Kenapa tidak? Toh perceraian kami bukan karena kami tidak saling menyukai. Tapi karena kesalahpahaman. Tapi, aku terlalu berkabung karena papa. Sampai aku tak menghiraukan perasaan Kirana sama sekali.’
‘Aaah..”, Rian mengaduh karena luka lebam itu kembali membuatnya kesakitan.
Kenapa dia lantas menerima pukulan orang - orang tadi begitu saja? Apa karena ingin melindungi Raka? Atau karena sesekali ingin menyadarkan diri dengan pukulan itu?
Rian masuk ke dalam kamar mandi dan menatap pantulan wajahnya di cermin. Luka yang diakibatkan oleh Raka belum lagi hilang di bibirnya. Kini, muncul lagi luka baru disana.
Rian, pria itu bersikap tenang seperti air danau selama hampir satu tahunan ini sejak mereka bertemu kembali. Namun, terima kasih untuk Raka yang berhasil membuat dirinya kehilangan kendali.
Terima kasih untuk Bu Rika dan Pak Dekan yang mendelegasikan sebagian kelas mahasiswa tahun kedua padanya. Terima kasih untuk Yana yang sudah membuat dirinya dan Kirana semakin sering bersama belakangan ini.
Beberapa kesempatan, Rian sudah berusaha tidak menyinggung gadis itu. Dia bahkan menyibukkan dirinya dengan mengambil beberapa kesempatan menjadi Dosen Pembimbing dan juga mengepalai riset mahasiswa.
Ternyata semua runtuh seketika hanya karena kabar bahwa Raka memacari Kirana. Belum lagi, terakhir kali Rian datang menemui Raka tempo hari, pria itu jelas - jelas ingin memanfaatkan informasi bahwa dirinya dan Kirana pernah bersama. Untuk alasan apa, Rian tidak bodoh untuk langsung mengetahuinya.
***********
“Berbeda dengan kuis di kelas minggu lalu, kali ini saya memberikan tiga soal. Waktu 10 menit untuk mengerjakan 1 soal. Soal kedua akan saya tunjukkan setelah 10 menit pertama berlalu. Soal ketiga akan saya keluarkan setelah 10 menit kedua berlalu.
Kalian bisa membuka sumber apapun yang kalian mau termasuk bertanya pada teman kalian. Tapi saya ragu teman kalian akan punya cukup banyak waktu untuk itu. Kalian bisa mencari jawabannya di internet terserah kalian.
Satu clue sebelum saya mulai membuka soal pertama. Jawaban yang benar tidak akan melebihi satu barus. Tidak, jawabannya bahkan tidak membutuhkan satu baris. Dimulai dari sekarang.”, ucap Rian memberikan penjelasan pada soal Quiz yang dia berikan hari ini.
Semua wajah - wajah mahasiswa langsung menunduk. Sebagian bahkan langsung menyerah sebelum mengerjakannya. Sebagian mengarahkan seluruh fokusnya pada pertanyaan meskipun tak mengerti bahkan setelah melihatnya sampai mata mereka merah.
“Pak, kita cuma mau kuliah. Bukan mau dapat Nobel, Pak.”, ucap seorang mahasiswa menyampaikan aspirasinya.
“Kamu tidak mau mengerjakan soal? Kamu bisa keluar dan kembali lagi 30 menit dari sekarang setelah kuis ditanyakan selesai.”, ucap Rian dengan nada dingin.
“Maaf Pak.”, ucap mahasiswa itu menundukkan kepalanya dan mencoba menuliskan rumus apapun yang bisa dia ingat.
Tidak ada angka, tidak ada nominal, pertanyaan singkat tetapi sulit untuk dimengerti.
“Mau 1000 tahun pun lihat soal itu, kayanya gue ga bakal bisa jawab, Ran.”, celetuk Ghea yang masih menulis titik di lembar jawabannya.
__ADS_1
‘Dia kenapa sih? Lagi PMS, ya? Harusnya tuh yang kesel kan gue. Kan gue yang dia tinggal setelah capek - capek beli obat. Dasar cowok rese. Nyusahin mahasiswa aja. Huh.’, Kirana sudah berkali - kali memberikan sumpah serapahnya pada Rian.
Berhubung sks untuk mata kuliah ini adalah 4 sks, maka nilainya bisa memberikan pengaruh yang signifikan untuk IPK nya.
“Okay.. 10 menit sudah berlalu. Silahkan dikumpulkan lembar jawabannya dan kita akan masuk ke soal Quiz nomor 2.”, ucap Rian dengan santai sambil memegang ponsel miliknya.
“Hah? Dikumpulin sekarang, pak?”, tanya seorang mahasiswa.
“Mau taun depan dikumpulin? Terserah kamu.”, balas Rian.
‘Lihat aja tuh. Udah kaya singa kutub. Dingin. Heran, cewe mana sih yang mau ama dia. Bisa kering yang ada ngadepin orang sok jenius.’, Kirana sudah memainkan pulpennya dengan keras diatas meja seolah melampiaskan kekesalannya pada dosen aneh satu ini.
“Oke, soal nomor 2.”, ucap Rian mengganti ke slide selanjutnya.
Pria itu kemudian kembali mengambil novel dan membacanya. Gayanya santai, seolah tanpa beban. Tentu saja, sekarang mahasiswanya yang menanggung beban.
“Soal nomor 1 aja gue gak ngerti. Gimana soal nomor dua. Pak Rian tuh ada phobia, ya sama angka. Kenapa ga ada angkanya sama sekali, sih?”, celetuk salah seorang mahasiswa.
“Ehem - ehem.”, balas Rian.
Kedua mahasiswa yang saling mengobrol tadi langsung terdiam.
‘Wah… gue kan pernah baca soal ini. Aduh dimana ya? Kayanya pernah lihat jawabannya. Aduuuuh kenapa bisa lupa, sih. Lihat dimana ya. Kirana ayo ingat, ayo. Kamu pernah lihat soal ini dimana?’, ucap Kirana dalam hati.
Ia berusaha fokus dan serius karena merasa pernah melihat ini disuatu tempat.
“Oh… gue lihat disana.”, ucap Kirana langsung sambil berdiri.
“Uh?”, Kirana langsung bingung seketika. Dia tidak sadar kalau dirinya sudah berdiri karena saking senangnya mengingat dimana pernah melihat soal tersebut.
“Sudah menyerah? Mau keluar?”, tanya Rian dengan nada datar.
“Enggak Pak. Saya cuma kesemutan.”, balas Kirana.
‘Wah.. dia menaruh soal Quiznya di sembarang tempat begitu saja?’, ujar Kirana tersenyum.
Semalam, saat Rian melemparkan jaket milik Raka padanya, dia melihat ada sebuah sticky notes. Tulisan di sticky notes itu sama persis dengan soal yang ada di papan tulis.
“Wah.. ada minus nya ga ya? Perasaan ada. Tapi apa gak ada ya? Huhu.. aku lupa.”, Kirana berbicara pelan pada dirinya sendiri.
Waktu berjalan dengan sangat lambat untuk mayoritas mahasiswa yang masuk ke kelas Rian pagi itu. Waktu akan terasa cepat jika saja mereka mengerti pertanyaan dan bisa menjawabnya. Tetapi, detik jarum jam seperti ada yang menahan sampai - sampai waktu 10 menit terasa lebih lama dari biasanya.
Waktu yang tersisa untuk mereka di kelas tersebut tinggal 10 menit lagi. Waktu ini digunakan oleh Rian untuk menulis jawaban dari pertanyaan kuis. Rian tidak mengatakan apapun dan hanya menulis jawabannya saja di depan papan tulis.
“Kalau ada yang tertarik dengan penjelasannya, bisa datang ke ruangan saya.”, ucapnya dan langsung pergi tanpa membawa lembar jawaban yang tadi sudah dikumpulkan.
Kenapa?
Rian sudah memotret semua lembar jawaban di ponselnya. Tentu saja, untuk mereka yang tidak memberikan jawaban sedikitpun, Rian tidak akan memotretnya. Automatically zero, jika Rian tak menemukan potret kertas jawaban di ponselnya.
__ADS_1
“Lo tahu? Cuma satu doa gue menjelang gue naik semester 7 ato 8. “, ucap Ghea.
“Apa Ghe?”, tanya Kirana sambil memasukkan beberapa peralatan tulisnya ke dalam tas.
“Semoga aja itu dosen ga jadi dosen pembimbing skripsi gue.”, ucap Ghea dengan tatapan nanar dan datar.
“Heh…”, Kirana cuma bisa tersenyum tipis.
“Lo liat aja. Cakep sih cakep. Tapi Ran, semenit bareng dia aja gue ga kuat. Gimana harus seumur hidup gue.”, kata Ghea mulai mendramatisir sesuatu.
“Huh.. memang lo ada rencana mau nikah ama doi?”, tanya Kirana.
“Wuah.. ibarat kata, lo kasih gue emas berlian juga gue kaga mau.”, ucap Ghea dengan gaya sok jual mahalnya.
“Yakin, lo?”, ujar mahasiswa perempuan lain yang juga duduk di sekitar situ.
“Yaa.. kalo Pak Rian naksir sama gue sih, gue mungkin mempertimbangkan dulu.”, kata Ghea segera memperbaiki statementnya.
“Idih, cepet banget berubah.”
“Ya.. lo pikir dong, kan ga mungkin kalo udah kawin dia kasih kita soal Fisika. Bener ga?”, tanya Ghea pada mahasiswa perempuan yang berkumpul di sekitar sana.
“Siapa yang tahu. Mungkin aja mau rebus telor, tu dosen itung dulu gaya apung ke atas suatu benda berdasarkan rumus Archimedes berapa newton.”
“Ato nih ya.. Bisa aja kalo misalkan mau ciuman, dia hitung dulu tuh gaya geseknya berapa newton supaya bisa..”
“Hush…mulai yang enggak - enggak deh bahasannya. Jorok banget. Kalau doi denger gimana?.”, ucap Ghea yang sudah trauma.
Dia sudah pernah sekali hampir pipis di celana gegara saat membicarakan tentang Rian, orangnya langsung datang depan muka nanyain Kirana.
“Napa lo Ghe?”
“Ga tahu sih lo rasanya dipanggil tu dosen tiba - tiba. Bikin mo semaput, tahu gak lo. Jantung gue tuh detaknya udah ga bisa diitung pake mesin saking cepetnya.”, Ghea mulai mendramatisir.
“Eh.. tapi doi tu ada cewenya ga sih?”
”Ehem..”, Kirana tiba - tiba berdehem membersihkan tenggorokannya.
“Dulu gue kira Pak Rian itu pacaran sama Bu Rika. Tapi ternyata Bu Rika udah punya suami.”
“Researcher yang di ruangan dia itu siapa sih? Yang cewe. Dia kan sering banget makan bareng Pak Rian.”
“Lihat dimana?”, tanya Kirana.
“Tumben Ran, tertarik sama pembicaraan kaya gini?”
“Hm?", protes Kirana.
"Tumben, ikutan gosip. Biasanya langsung masuk ruangan BEM."
__ADS_1
"Ini, mau jalan.", kata Kirana langsung meninggalkan yang lain.
Padahal, dia masih penasaran dengan jawabannya.