Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 45 Perkelahian di Klub


__ADS_3

“Ngapain aku juga ikutan masuk?”, tanya Kirana.


Gadis itu bertanya ketika dirinya sudah masuk dan duduk manis di mobil Rian. Sementara pria itu sedang mengemudikan mobilnya. Bahkan sekarang sudah setengah jalan. Di belakang mereka, pada kursi tengah sudah duduk manis pria bernama Raka.


“Bukannya itu pacar kamu? Terus kamu mau saya bawa dia ke apartemennya sendirian? Kamu ga khawatir saya akan apa - apain dia?”, tanya Rian sambil terus mengemudi dengan tenang.


Kirana menoleh ke belakang sebentar. Wajahnya datar. Tidak ada rasa cemas sedikitpun seolah yang di belakang itu memang bukan siapa - siapa. Ya, kenyataannya memang begitu. Raka bukan siapa - siapa. Mereka hanya pura - pura pacaran.


Selain ingin mengelabui Radit agar pria itu tidak lagi mendekatinya, Kirana sebenarnya juga ingin mengelabui Rian. Tapi, entah kenapa Kirana mengurungkan  niatnya.


Rian mengernyitkan dahinya pada sikap Kirana barusan. Kilas balik pertemuannya dengan Kirana tadi di Mall kembali terngiang di kepalanya.


‘Dia tidak ada khawatir - khawatirnya sama Raka sama sekali.’, pikir Rian.


Pria itu sudah terlalu dewasa untuk paham apa artinya itu.


“Pacar kamu mabuk kaya gitu, kamu gak khawatir sama sekali? Kamu tahu gak sih dia seperti itu?”, tanya Rian.


Kirana hanya diam. Dia melihat ke arah jendela dan tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali dengan pertanyaan Rian. Sebaliknya, Rian hanya menghela nafas. Bukan sekali dua kali Kirana tak mengindahkannya.


“Kok kak Rian tahu Raka tinggal dimana? Kalian saling kenal?”, tanya Kirana begitu mobil Rian parkir di salah satu unit apartemen yang jaraknya lumayan dekat dengan mall yang tadi mereka kunjungi.


“Kenal. Dia mahasiswa saya. Kenapa gak sekalian aja kamu tanya kenapa saya bisa kenal sama kamu.”, ucap Rian mencoba untuk melucu.


“Huh.. gak lucu. Jokes om - om banget.”, ledek Kirana.


“Kamu gak turun?”, tanya Rian.


“Rumah saya gak disini. Ngapain saya turun.”, karena Rian memilih untuk menggunakan bahasa formal yang biasa mereka gunakan di kantor, Kirana juga menunjukkan protesnya dengan menggunakan bahasa yang sama.


Entah kenapa dia protes, Kirana pun tidak tahu. Tapi pertemuannya secara tiba - tiba dengan Rian. Keputusannya untuk mengikuti pria itu, berada di dekatnya mendadak membuat Kirana seperti ingin mencari perhatian pria itu.


Kirana sadar akan hal itu dan merasa malu pada dirinya sendiri padahal dia sudah beratus bahkan beribu kali mengatakan tak akan kembali pada pria ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Hatinya tak bisa dia kendalikan sesukanya.


Rian mengernyitkan dahinya. Bingung pada sikap Kirana yang kadang seperti anak - anak, kadang mendadak dewasa, kadang bisa melow.

__ADS_1


“Ya udah. Terserah kamu. Ini parkiran. Kalau mau tetap di mobil. Kunci pintunya. Jangan drama kalau misalnya lihat bayangan atau semacamnya.”, terang Rian memperingatkan.


Kirana langsung bangun dari duduk santainya dan melihat ke kiri dan ke kanan. Alangkah bodohnya dia yang tidak sadar kalau mereka sedang berada di parkir apartemen. Bukan lagi B1, tapi B3 karena parkiran sudah penuh.


Sepanjang melihat, Kirana hanya menemukan beberapa buah mobil saja. Parkiran atas sudah penuh dan hanya tersisa ini. Lama - kelamaan suasana menjadi lebih creepy karena efek perkataan Rian barusan.


Perlahan dia membuka pintu mobil dan berjalan menuju pintu masuk lift seolah tahu kemana itu akan membawanya.


“Bukan yang itu, tapi yang ini.”, kata Rian memberikan pengarahan.


Sementara Raka saat ini kondisinya sudah tidak sadarkan diri. Rian sesekali meringis saat membawa Raka dalam papahannya.


“Lebay deh, Raka tuh gak seberat itu.”, komentar Kirana karena dia mengira Rian hanya hiperbola saja.


“Lantai 15, tolong.”, ucap Rian yang sudah mengambil tempat di sisi tengah belakang lift.


“Tuhkan, kenapa bisa tahu sih, ini cowok tinggal dimana? Kak Rian saling kenal?”, tanya Kirana lagi.


‘Kalau aku katakan siapa Raka, gadis ini pasti akan segera pergi dari sini dan tidak mau diantar pulang. Jarak apartemen sangat jauh dengan rumahnya.’, ucap Rian dalam hati memandangi Kirana.


Rian menggigit bibirnya sebentar sebelum pintu lift berbunyi pertanda mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju.


“Idih.. ngapain coba pake gigit bibir segala.”, protes Kirana di bibirnya.


‘Tapi kenapa dia bisa se-seksi itu sih. Kirana sadarrrrrrr…”, Kirana mencoba menampar pelan pipinya sebelum akhirnya mengekor di belakang Rian.


“Coba cari kartu akses ato kunci di tasnya.”, perintah Rian.


“Kakak aja.”, balasnya.


“Aku lagi mapah dia, Kirana. Bisa bantuin gak sih. Bukannya dia pacar kamu? Kenapa jadi aku yang susah sih.”, ucap Rian.


“Iyaa… iyaa… “, Rian seperti akan melepaskan Raka dari papahannya.


Bukan karena Kirana mengatakan kalimat barusan. Tapi dia sudah tidak sanggup lagi memapah Raka.

__ADS_1


Kilas balik di Club sebelum pertemuan dengan Kirana. 


“Apa - apaan sih lo? Gak usah sok peduli. Mending lo pergi.”, kata Raka berteriak. 


Hal tersebut lantas menarik perhatian beberapa orang. Awalnya mereka hanya diam saja karena hal seperti itu biasa terjadi di club. Namun tindakan Raka selanjutnya tidak hanya menarik perhatian tetapi juga menimbulkan kekacauan. 


“Lo bisa balikin kakak gue? Lo bisa? Hah? Udah sana!”, ujar Raka sambil melemparkan tangannya yang masih memegang segelas minuman ke arah Rian. 


Sayangnya, sebelum mendarat ke kepala Rian, gelas itu sudah mendarat ke badan seseorang yang sedang lewat di area itu. Sontak hal itu membuat pria itu marah dan langsung mengkonfrontasi Raka. 


Melihat itu, Rian tak bisa diam saja. Terlebih sepertinya lelaki itu sudah siap untuk menghajar Raka. Rian mencoba untuk menengahkan dengan mempertimbangkan Raka yang sudah mabuk. 


“Eh… lo kira mabuk bisa jadi alasan lo sembarangan lempar gelas ke baju orang? Plus ini kalo kena cewek gue gimana?”, teriak pria itu. 


“Woy… itu aja lebay. Lo…”, Raka yang masih meracau justru malah tambah menggubris pria tadi. 


Rian mencoba untuk menenangkan agar perkelahian tidak terjadi. Namun dia terlambat. Pria itu sudah menargetkan layangan bogemnya pada Raka. Rian yang hendak menengahi justru harus memblokadi dengan lengannya. 


Rian meringis. Rasanya seperti terlempar ke dinding dengan lengan yang mendarat lebih dulu. 


“Lo mau jadi tamengnya? Ayoook… gue gak takut sama lo. Sini kalau berani.”, ujar pria itu malah menantang. 


Padahal wanita yang bersamanya sudah mencoba melerai dan menghentikannya namun entah mengapa pria itu malah semakin bersemangat. 


“Kenapa lo?” 


Belum lagi Rian selesai  dengan masalah pria ini. Muncul satu orang lagi. Rian kira, pria itu ingin menengahi. Sayangnya, pria itu malah satu grup dengan pria yang sedang berseteru dengannya. 


Rian menghampiri Raka dalam kondisi semua rekan - rekannya sudah pergi. Mereka kurang puas dengan Club ini dan hendak mencari yang lain. Rian tak mengiyakan dan memilih untuk kembali dengan alasan besok harus mengajar kelas. 


Alhasil, sekarang Rian benar - benar sendiri di klub ini. Pihak bartender nampak sedang memanggil petugas keamanan yang kala itu sedang tidak ada di spotnya. 


Brak.. sebuah perkelahian tidak bisa Rian elakkan. Pria itu harus menerima beberapa pukulan dan dorongan dari kedua pria yang ada di depannya sebagai tameng Raka. Meski sudah mencoba beberapa kali melawan. Rian hanya mampu bertahan karena dia juga tidak ingin terlibat perkelahian yang akan membuat dirinya bermasalah. 


Sayangnya, bertahan bukan pilihan yang tepat karena kedua pria ini memiliki tubuh lebih atletis dan bukan orang biasa. Menjelang petugas keamanan datang, setidaknya Rian harus rela mendapatkan beberapa memar di tubuhnya. 

__ADS_1


__ADS_2