
Dan disinilah Rian sekarang. Di dalam mobil mengikuti arah transportasi umum yang digunakan oleh Kirana untuk pulang ke rumahnya. Kirana sama sekali tidak menyadari kalau Rian dengan setia mengikutinya dari belakang. Sampai di depan halte pemberhentian bus terakhir, Kirana mengeluarkan ponselnya untuk memesan ojek online.
Kirana bisa saja memesan ojek online dari apartemen Raka. Tetapi jaraknya terlalu jauh dan sudah pasti harganya akan sangat mahal.
‘Oke, dapet!.’, bathin Kirana girang setelah mendapatkan ojek onlinenya.
Dia memilih menunggu dengan duduk di halte sambil melihat sekeliling yang dipenuhi oleh kendaraan. Kirana tidak juga menyadari jika mobil putih yang ada di seberang ada mobil Rian yang masih memperhatikannya.
Kirana menguap. Hari ini dia benar - benar lelah. Dimulai dengan shoot video sampai harus ke beberapa tempat yang jauh, sampai harus beradu argumen dengan Rian di lobby apartemen.
‘Lagian tu orang kenapa sih? Kemaren - kemaren kemana aja? Giliran sekarang gue mulai akrab sama Raka, dia muncul sok paling dewasa. Pake ngelarang - larang aku main di apartemen Raka segala. Memangnya dia siapa? Kan udah bukan suami aku lagi. Huh!’, Kirana masih memikirkan kejadian tadi.
__ADS_1
“Atas nama Kirana?”, seorang abang ojek datang menghampiri di depan halte.
“Eh iya.. Saya Pak.”, ucap Kirana langsung mendekat. Dia memastikan plat motornya sama terlebih dahulu sebelum akhirnya menerima helm dan berangkat.
Begitu motor yang memboncengi Kirana melaju, Rian juga melajukan mobilnya. Seharusnya jaraknya sudah tidak terlalu jauh dari halte ini menuju perumahan tempat Kirana tinggal. Rian tetap menjaga jaraknya agar Kirana tidak menyadarinya.
Suasana malam itu sepi. Tidak banyak kendaraan lain yang lewat. Tak cukup 15 menit, Kirana sudah sampai di depan rumahnya. Rian berhenti tepat di dekat pos satpam. Dia tidak melajukan mobilnya menuju rumah Kirana. Hanya dari kejauhan saja.
‘Hah.. apa yang sedang kamu lakukan Rian?’, sebelum melajukan mobilnya kembali, Rian mempertanyakan arti dari tindakan - tindakannya ini.
“Lagian tuh anak antara polos atau kenapa sih? Gimana bisa main di apartemen cowok yang notabene ga ada hubungan apa - apa sama dia? Untung saja ada Ghea, jika tidak, aku tidak akan tahu kalau gadis itu sedang ada disana. Sebenarnya apa mau Raka? Apa benar dia murni hanya berteman dengan Kirana tanpa maksud apapun?”, Rian memikirkan pertanyaan itu berkali - kali saat perjalanannya pulang.
__ADS_1
**************
“Tahun ini kita berhasil ikut salah satu pagelaran science paling bergengsi di London. Saya harap kesempatan ini bisa datang lagi tahun depan. Karena itu, mulai sekarang, kalian sudah harus merencanakan proyek dan mengerjakannya. Submission untuk tahun depan akan dibuka kembali sekitar dua bulan lagi. Tidak masalah jika itu masih ide, pihak penyelenggara akan tetap menerimanya. Nanti akan ada beberapa tahap penilaian sampai ide kalian terpilih untuk di daftarkan dalam exhibitionnya.”, Rian menerangkan kembali pagelaran science yang kemarin sempat dirinya dan rekan - rekan mahasiswa lain ikuti.
“Kakak kelas kalian yang ikut kemarin juga telah mempersiapkan penelitian satu tahun. Bahkan ada yang dua tahun sejak masih mahasiswa baru. Jadi, kalian juga jangan segan - segan.”, lanjut Rian kembali.
“Raka, kamu sudah punya kelompok?”, tanya Rian menghampiri Raka yang masih duduk santai di salah satu meja.
“Belum Pak.”, jawab Raka singkat.
“Oke, ada yang mau merekrut Raka? Dia termasuk yang paling cerdas untuk mata kuliah Fisika Dasar. Dia juga pernah ikut kejuaraan Fisika saat SMP dan SMA di luar negeri. Memiliki dia dalam tim adalah keuntungan besar.”, ucap Rian.
__ADS_1
Raka mendadak merasa risik dengan ucapan Rian.
“Oke. Raka, kamu masuk kelompok itu. Mereka sedang meneliti formula yang berhubungan dengan roket. Saya yakin itu adalah topik yang menarik juga untuk kamu.”, ucap Rian menepuk bahu Raka.