Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 69 Wanita di Hidup Rian


__ADS_3

Claudia kembali ke pelataran rumah sakit. Ia berjalan menuju kamar tempat papanya dirawat. Sera yang baru saja menyeruput es tehnya bingung melihat Claudia yang kembali dengan raut wajah datar.


“Mba… dokter ada kasih info lagi tentang keadaan papa?”, tanya Claudia begitu dia tiba di depan ruang rawat papanya.


“Hn. Barusan ada dokter yang periksa kondisi papa. Katanya oke. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Papa masih tidur efek obat yang diberikan oleh dokter. Supaya bisa lebih banyak istirahat karena belakangan papa sepertinya terlampau memforsir jam kerjanya.”, jawab Sera yang menjawab pertanyaan Claudia dengan runut.


“Oiya, mas Ken juga tadi udah kesini buat ngecek. Dia baru selesai operasi makanya lama. Terus katanya doi besok gantian yang jaga.”, kata Sera menjelaskan.


“Hm.. cuma sebentar doang? Kok ga papasan di depan, ya.”, tanya Claudia.


Akses masuk rumah sakit hanya ada satu dari luar. Mobil, motor, dan pejalan kaki menggunakan akses masuk yang berada di area yang sama.


“Mungkin dia udah di parkiran waktu kamu keluar. Jadi gak sempat papasan.”, jelas Sera memberikan menerka kemungkinan yang lain.


“Ahhh..”, ucap Claudia.


Sedari tadi, Sera sudah beberapa kali mau membuka mulutnya menanyakan perihal Rian. Pria yang tadi ingin disusul oleh Claudia. Tapi, sepertinya dari raut wajah Claudia, semua tidak berjalan dengan lancar.


Sera sudah cukup tahu bagaimana membaca ekspresi orang lain apalagi ini adalah keluarganya sendiri. Dan dia juga sudah memiliki lebih banyak pengalaman mengenai hubungan pria dan wanita.


Daripada dia membuat mood adiknya bertambah buruk, Sera memutuskan untuk menelan kembali pertanyaan apapun itu yang tadi ingin dia tanyakan.


“Kak, aku balik duluan, ya. Aku udah lebih lega karena papa akhirnya gapapa dan hanya butuh istirahat. Besok aku ada kelas ngajar pagi. Siangnya aku akan kesini lagi, ya untuk jenguk papa.”, ucap Claudia.


“Okee.. supir papa udah di depan?”, tanya Sera memastikan.


Claudia mengangguk.


“Di rumah ada orang?”, tanya Sera baru sadar kalau papa ada di rumah sakit, kemungkinan di rumah bisa saja sepi.


“Ada kok, mba. Mas Bam kan katanya ga kesini. Dia baru besok kesini. Yang penting papa udah gapapa katanya.”, jelas Claudia yang sudah tak banyak bicara.


“Iya bener juga. Kalau dia kesini, nanti kamu malah bisa sendirian di rumah. Yaudah biarin mba sama suami mba aja yang disini. Nanti juga ada Mba Tuti dan mama yang lagi on the way.”, kata Sera.


“Suami mba mana?”, tanya Claudia baru tersadar kalau mbanya hanya sendirian.


“Oh.. tadi nganterin si abang pulang dulu. Kasian besok masih harus sekolah. Suami mba di rumah. Nanti kan ada yang lain. Ganti - gantian kesininya. Mereka masih kejebak macet.”, kata Sera.


“Hm.. apa perlu aku temanin…”


“Engga usah. Udah kamu balik aja. Mba udah gede. Kasian besok kamu masih harus ngajar pagi, kan?”, kata Sera.


Claudia akhirnya mengangguk.

__ADS_1


***Flashback ***


Claudia datang hendak menyusul Rian untuk sekali lagi mengucapkan terima kasih dan meminta maaf atas ketidaksopanannya beberapa hari lalu di mobil. Setelah berpikir selama beberapa hari, dia akhirnya sadar kalau dia salah. 


Baru saja Claudia ingin mencari Rian, sosok Rian muncul bersama dengan seorang perempuan. Claudia tidak bisa melihatnya dengan jelas karena cahaya tidak begitu terang. Selain itu, sosok wanita itu juga tertutup tubuh Rian. 


Claudia hanya bisa melihatnya sesekali saat langkah Rian dan Kirana mungkin tak sejalan. Tapi, tentu saja itu hanya beberapa detik saja. 


‘Apakah itu wanita yang sama dengan yang difoto? Mahasiswi yang tanpa sengaja berpapasan dengannya hari ini? Apa mereka ada hubungan khusus? Kalau tidak, bagaimana mungkin Rian bisa semarah itu padaku hanya karena aku menjatuhkan fotonya.’, Claudia tenggelam dalam pinggirannya sendiri menyusul dengan interaksi manis yang dia lihat dari sudut pandangnya. 


Ya, dari jarak yang relatif jauh, Claudia tentu saja tidak bisa mendengar apa yang mereka cakap. Claudia bisa memiliki interpretasi sendiri. 


Jika pada faktanya Rian dan Kirana sedang beradu argumen, tapi tidak terlihat seperti itu dimata Claudia. Di kepalanya terdapat banyak kemungkinan skenario percakapan antara Rian dan Kirana. 


‘Dosen dan mahasiswi? Apa Rian seterbuka itu dengan hubungannya? Aku tidak mendengar Rian memiliki kekasih.’, pikir Claudia dalam hati. 


***********


“Ran, kamu bawa dompet ga?”, tanya Rian sambil berbisik - bisik.


“Eh?”, tentu saja Kirana langsung memberikan sorot mata tajam.


Dimana - mana biasanya cowok yang bayar taksi kalau mereka menaikinya berdua. Kenapa Rian malah bertanya padanya? Atau jangankan ini antara hubungan pria dan wanita. Kalau ini tentang dosen dan mahasiswa, harusnya dosen yang bayar. Tidak, kalau ini hubungan antara manusia, harusnya yang lebih dewasa yang bayar.


“Kak, nanti kan bisa naik sebentar ke atas buat ngambil dompet.”, kata Kirana.


“Ah.. iya.. Oke.. lupa.”, respon Rian yang membuat Kirana langsung seketika lupa kalau dia ini dosen Fisika yang sudah memegang gelar Ph.D. Ketua Riset Mahasiswa Bidang Fisika Murni.


Kirana hanya bisa geleng - geleng kepala.


Tanpa terasa keduanya sudah tiba di pelataran parkir kampus. Suasana masih sangat ramai dan ini mengejutkan keduanya. Mereka lupa kalau ini adalah masa - masa UTS dimana banyak mahasiswa yang tetap di kampus meski mata kuliah sudah selesai.


Mereka belajar bersama mulai dari membahas soal atau bahkan ikut sesi belajar khusus bersama dengan asisten dosen.


“Kak Rian, bentar. Pak, boleh mundur lagi ga?”, tanya Kirana pada supir taksi sambil memegang lengan Rian untuk mencegahnya turun.


“Eh? Mundur lagi? Maksudnya mba? Bukannya tadi minta diturunkan di Fakultas Teknik?”, tanya supir itu bingung.


“Sebentar Pak.”, ucap Kirana.


“Kak, aku lupa kalo kampus masih rame banget jam segini. Semua orang belajar buat UTS. Apa kata mereka kalau kita turun dari taksi yang sama?”, tanya Kirana panik.


“Apa kata mereka? Ya, mereka gak ngomong apa - apa. Normal - normal aja, kan kalau kamu naik taksi bareng aku. Aku dosen, kamu mahasiswa.”, ucap Rian kembali dengan nada datar.

__ADS_1


“Hello… ga mungkin banget mereka cuma bilang.. Oh.. ada Pak Rian bareng sama mahasiswi. Terus, mereka lanjut belajar lagi. Yang ada mereka bakal kebingungan. Eh… ngapain tuh cewe naik taksi bareng Pak Rian? Eh Pak Rian lagi sama siapa tuh? Eh Kirana? Bareng Pak Rian? Ngapain? Udah.. Pak… mundur aja taksinya. Di depan kan sepi. Aku tunggu disana sambil Pak Rian ambil dompet.”, kata Kirana memberikan aba - aba.


Rian hanya menghela nafas dan mengikuti kata - kata Kirana.


“Oke… oke…”, jawab Rian.


“Eh… tunggu. Kenapa gak turun?”, tanya Kirana.


Rian langsung menaikkan alisnya. Lah.. bukannya kamu bilang mundur. Nanti baru turun.”, balas Rian.


“Ya Kak Rian turun disini aja.. Ngapain ngikutin aku mundur ke belakang?”, ucap Kirana.


Bapak taksi nampak kebingungan. Namun dia tidak masalah selagi argo tetap jalan.


Rian melirik ke Bapak Taksi sebentar. Bukan masalah dia tidak mengerti maksud Kirana. Tapi dia juga merasa khawatir karena dia akan meninggalkan Kirana sendirian kalau dia turun disini sekarang.


“Pak, mundur ke halte yang sebelah sana, ya. Fakultas sebelah. Yang rada terangan.”, perintah Rian pada supir taksi.


Karena Rian jauh lebih dewasa dari Kirana, supir tidak ragu mengikuti perintahnya dan memundurkan mobilnya kemudian melaju ke arah Fakultas sebelah.


“Napa jauh banget?”, protes Kirana pada Rian.


“Udah diem. Biarin orang gede yang nge-lead.”, ucap Rian.


Tak berapa lama, mereka sudah sampai di titik yang diberitahu Rian.


“Turun.”, kata Rian pada Kirana.


Kirana mengernyitkan dahi kebingungan.


“Ini Fakultas sebelah. Gak akan ada yang kenal kamu dan aku.”, kata Rian.


Kirana nampak berpikir sebentar dan setuju kalau apa yang dikatakan RIan barusan masuk akal. Mereka sekarang berada di depan fakultas seni dan bahasa. Sudah barang pasti tidak ada yang mengenali Rian dan juga Kirana. Mereka bebas untuk turun disini.


“Duduk disana. Tunggu. Jangan kemana - mana. Kalau ada yang gangguin kamu, teriak.”, ucap Rian.


“Iya.. lagian siapa yang mau gangguin di lingkungan kampus.”, sahut Kirana.


Rian tidak menanggapi gadis itu. Dia menghampiri Supir taksi sebentar.


“Pak, boleh ditunggu sebentar, ya. Saya ambil dompet dulu.”, kata Rian.


Sang supir mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2