Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 99 Makan Malam di Apartemen Raka


__ADS_3

“Santai aja, Ran. Gue cuma mau ngajak lo makan.”, ucap Raka yang sudah keluar dari kamar dan mengganti bajunya.


Dia melihat Kirana risih berada di dalam apartemen itu. Dia sudah sejak lama tahu kalau Raka tinggal sendiri. Raka sendiri yang mengatakannya. Dia tidak tahu persis sebelumnya apakah itu di apartemen atau sebuah rumah.


“Kecuali kalo lo anggep gue pacar beneran.”, ucap Raka tersenyum sambil berjalan menuju dapur.


Kirana menelan ludahnya. Dia tidak boleh membiarkan Raka terus menguasai percakapan mereka. Kirana juga pernah belajar bela diri, walaupun tipis - tipis. Raka juga sepertinya tidak berbohong dengan kata - katanya.


Kirana meletakkan tasnya di sofa dan berjalan mengikuti Raka menuju area dapur. Apartemen Raka lumayan mewah. Setidaknya dibandingkan dengan apartemen - apartemen teman kampusnya yang berdomisili di luar kota.


“Kenapa ga di luar aja sih. Repot - repot banget.”, kali ini Kirana bisa mengatakannya dengan lebih tenang.


“Gak banyak tempat makan enak.”, balas Raka sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kulkasnya.


“Lo aja yang belum tahu daerah sini.”, ucap Kirana mengamati semua bahan - bahan makanan yang di keluarkan oleh Raka dari dalam kulkasnya.


Daging yang menyerupai bistik di dalam sebuah plastik. Kemudian sebuah lobster. Kirana hanya bisa ber-oh - oh ria melihat bahan - bahan itu keluar dari freezer pria itu.


“Fay sudah sering ngajak gue makan. Sejauh ini belum ada yang enak. Daripada tidak puas dengan makanan yang dibiayai dari kantong gue, mending gue ajak lo ke apartemen gue.”, ucap Raka.


“Heh.. katanya mau traktir makanan mahal.”, balas Kirana dengan nada sinis dan bercanda.


“Lo ga bakal dapat makan seperti ini di luar sana. Mahal.”, ucap Raka.


Kirana tahu yang dia maksud bukanlah jenis makanan yang akan dihidangkan. Tapi, lebih kepada siapa yang memasaknya.


“Apartemen lo luas. Kenapa ga join bareng orang?”, tanya Kirana mulai berkeliling di sekitaran sana.


Papan panahan yang dulu terdapat foto Kirana di sana sudah bersih. Tak ada foto apapun disana kecuali hanya beberapa panah yang menancap. Kirana juga melihat beberapa koleksi bola basket, bola tenis, dan gundam yang tertata rapi di lemari.


Raka mendadak hening dan suara proses memasaknya mulai terdengar dan mendominasi.


“Whoahh… “, Kirana terkejut ketika Raka seperti sedang melakukan atraksi dengan daging bistik yang tadi ada di frying pannya.


Hanya butuh waktu 30 menit bagi pria itu untuk bisa menghidangkan bistik daging di sebuah piring berwarna putih. Disaat itu selesai, lobster yang tadi dia keluarkan juga sudah matang dalam panci rebusan.


Raka mengeluarkannya dan memberikan sedikit efek panas pada permukaan lobster yang sudah ditaburi keju dan mozarella. Warnanya terlihat sangat menggugah selera. Setelah kedua makanan itu selesai, Raka terlihat mengeluarkan beberapa bahan makanan lagi dan melakukan cincangan halus.


Ternyata dia sedang membuat sup miso. Kirana mendekat melihatnya. Dia sesekali melirik ke wajah Raka yang terlihat jauh berbeda saat dirinya di kampus.


“Kenapa? Lo tiba - tiba jatuh cinta sama gue?”, tanya Raka sambil terus mengaduk supnya.


“Heh..”, balas Kirana ringan.

__ADS_1


Kring kring kring


Tiba - tiba ponsel Kirana berbunyi. Raka bisa melihat nama ‘Fay’ tertulis diatasnya. Kirana sempat menaruh ponselnya di atas meja bar dekat dengan tempat memasak. Tadi, dia sedang sibuk mengambil beberapa foto makanan di dapur Raka.


“Kasih ke gue.”, ucap Raka segera sebelum Kirana sempat mengangkatnya.


“Buat apa?”, tanya Kirana heran.


“Kasih ke gue.”, ucap Raka lagi.


Kirana memberikan ponsel itu pada Raka.


“Kirana lagi sama gue. Kalo lo nelpon cuma buat nanyain gue, gue harap lo udah dapat jawabannya.”, balas Raka dan menutup ponselnya segera.


Kirana hanya diam saja. Di satu sisi dia malas berurusan dengan Fay. Tapi di sisi lain, dia merasa sudah menang. Wanita satu itu benar - benar tidak bisa membuatnya tenang. Saat dia akrab dengan Radit, dia snewen. Kemarin dia juga sempat - sempatnya menarik rambut Kirana.


Anggap saja barusan adalah pembalasannya.


Kirana sebenarnya tak ingin punya masalah seperti ini di kampus. Tapi, berkaca dari pengalamannya saat SMA, Kirana tak mau lagi selalu menjadi bulan - bulanan orang yang tidak mengenalnya.


*************


"Ehhh...", teriak Kirana saat Raka sengaja mengambil foto selfi tanpa memberikan aba - aba terlebih dahulu.


Raka dengan tenang kembali duduk dan masih memainkan ponselnya.


"Wah.. Lo belajar masak darimana? Gue yang perempuan aja ga bisa loh masak makanan kaya gini.", komentar Kirana menikmati setiap gigitan bistik di dalam mulutnya.


Raka hanya tersenyum sambil masih memainkan ponselnya.


"Lo beli saos nya dimana? Kok bisa enak gini ya. Beda sama yang di kantin.", ucap Kirana.


"Heh.. Lo bandingin masakan gue sama di kantin? Hah...", Raka menghela nafas dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


Pria itupun mulai mengambil daging bistik pertamanya dan memasukkanya ke dalam mulut.


Ting Tong


Notifikasi ponsel Kirana berbunyi. Namun dia tidak mengindahkannya. Kirana masih terhipnotis dengan rasa lezat dari makanan yang ada di hadapannya saat ini.


Raka berdiri dari duduknya setelah menyelesaikan beberapa gigitan. Dia terluhat mengambil sesuatu dari lemari penyimpanan yang sepertinya juga lemari pendingin.


Raka meletakkan dua gelas wine di atas meja berikut dengan botol winenya.

__ADS_1


"Eh lo mau minum ini? Enggak enggak.", ucap Kirana mendorong kembali dia gelas wine itu jauh darinya.


"Gue ga pernah ngeluarin botol ini ke orang lain loh. Lo yang pertama.", ungkap Raka.


Kirana menggeleng.


"Ga peduli yang pertama atau yang ke berapa. Yang jelas gue ga mau minum ini. Dan yang terpenting gue juga ga mau lo minum.", jelas Kirana.


Raka menatap Kirana heran.


"Udah.. Simpen buat lo sama siapa. Gue enggak.", ucap Kirana tegas.


Kirana bahkan mengambil dua gelas berikut botolnya dan mengembalikannya ke tempat semula.


Lima menit lagi gue selesai makan. Gw udah pesen ojek online.


"Buru - buru banget. Masih jam 9 malam.", ucap Raka berusaha menahan Kirana.


"Besok gue ada rapat evaluasi acara bareng anak BEM. Lo juga bukannya ada pertemuan dengan tim research Fisika?", Kirana mempercepat makannya dan merapikan barang - barangnya.


Dia tidak mengeluarkan apapun kecuali ponsel. Tapi, sudah kebiasaan bagi Kirana mengecek segala perlengkapan saat bertamu. Dia tidak mau kembali hanya untuk mengambil barang yang ketinggalan.


"Gue kira lo mau cuci piring dulu baru pulang.", ucap Raka tersenyum.


Pria itu berjalan lebih dulu dari Kirana yang sudah mencapai pintu apartemen seolah menghambat langkahnya. Kirana sempat terkejut namun dengan cepat mengendalikan dirinya agar tetap tenang.


"Lo yang ngajak gue makan di apartemen lo. Ekspektasi gue makan di luar dan ga perlu cuci piring. Jadi, itu otomatis udah jadi tugas lo.", kata Kirana menepuk bahu Raka dan membuka pintu apartemen.


"Kok ga bisa?", tanya Kirana sedikit panik saat pintu itu tidak bisa ditarik.


Raka tersenyum tipis. Entah kenapa Kirana merasa risih berlama - lama disini. Feeling yang aneh menurutnya. Padahal kan Raka hanya teman kampusnya. Untuk apa sampai se takut ini.


Kirana beberapa kali bisa tenang tapi kalau Raka sudah memberikan respon seperti ini, dia tak bisa menyembunyikan ketakutannya.


"Lo tekan dulu, baru setelah itu bisa dibuka.", ucap Raka setelah beberapa menit hening.


"Ah.. ", respon Kirana singkat.


Tanpa menbuang waktu lagi, dia langsung keluar dari apartemen itu.


"Gue anter sampe depan.", ucap Raka menawarkan.


"Oh, gapapa.. Ga perlu kok. Gue apal.", ucap Kirana langsung berjalan cepat sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


Beruntung lift langsung terbuka saat dia menekan tombol ke bawah. Raka tak mengikutinya. Tak lama setelah dia keluar, dia juga bisa mendengar suara pintu apartemen itu tertutup.


__ADS_2