Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 90 Dosen Killer tetep aja Killer


__ADS_3

“What????”, Ghea berteriak sampai - sampai suaranya mungkin bisa lebih tinggi dibandingkan dengan toak Ketua BEM.


“Shutt… Bisa lebih kenceng lagi ga teriaknya?”, balas Kirana dengan komentar sarkasnya.


“Mantan suami?????”, Ghea benar - benar meneriakkan kata - kata itu.


Kirana mau tidak mau harus menutup mulut sahabatnya ini dan menyeretnya segera masuk kembali ke mobilnya.


“Ghe, sebelum lo bisa mengontrol diri lo. Gue ga bakal mengizinkan lo untuk keluar dari sini.”, ucap Kirana dengan tatapan lurus dan tajam ke arah Ghea.


“Ran, gue ga pingsan aja tuh suatu keajaiban. Lo ga tahu seberapa besar gue mengendalikan diri sekarang. Oh my god! Apa yang baru aja gue denger. Tunggu, gue ga lagi mimpi, kan? Ran, lo asli kan? Atau sekarang ada kamera prank? Lo bersekongkol satu kampus untuk nge-prank gue?”, tanya Ghea.


“Heh… lo pikir satu kampus kurang kerjaan mau nge-prank lo. Ada juga ga mungkin se gede itu skalanya, Ghea.”, komentar Kirana.


Plak….


“Aaak.”, Ghea merintih sakit karena telah menampar pipinya sendiri.


“Sakit. Berarti bener dong.”, lanjut Ghea kembali.


“Ya iya, masa gue boong. Lo sendiri kan yang meminta gue untuk jujur. Lebih tepatnya memaksa. Gue udah bilang lupain aja. Eh lo malah maksaaaa terus untuk gue jujur. Tahu ga, nelpon orang 100 sehari itu udah bisa gue laporin polisi. Mengganggu ketenangan banget.”, ujar Kirana melipat kedua tangannya di pinggang.


Hari ini adalah hari pertamanya masuk ke kampus. Ghea berbaik hati untuk menjemput dan berangkat ke kampus bersama dengan alasan Kirana baru saja keluar dari rumah sakit. Tapi, siapapun bisa tahu kalau Ghea ada maunya.


“Heh… siapa coba yang ga penasaran ngeliat Pak Rian ada di kamar rawat inap lo, Ran. Bukan cuma di dalam kamar rawat inap lagi. Perlu di garis bawahi. Gue itu ngeliat Pak Rian ngumpet - ngumpet keluar dari kamar mandi. Yang berarti selama kita jenguk lo, doi rela ngumpet di sana. Terus kenapa? Kenapa doi harus ngumpet?”, Ghea mengulang kembali kronologi kejadian kemarin yang tentu saja membuat Kirana langsung berasa kepanasan karena malu.


“Seandainya dia memang jenguk lo, gak mungkin banget dia ngumpet pas kita datang. Buat apa? Berarti ada sesuatu. Lo tahu? Gue udah kaya penulis skenario film semalaman mikirin skenario apa yang cocok untuk menjelaskan kalian berdua. Semakin gue pikirin, hubungan kakak adik jauh lebih cocok. Bodoh amat kandung apa tiri. Dan sekarang lo bilang ‘MANTAN SUAMI?’”, Ghea beberapa kali menghela nafas karena mau berapa kali berpikirpun, dia masih belum bisa mempercayainya.


“Kapan lo nikah? Kapan lo cere? Kenapa lo bisa cere? Pak Rian gitu lo, Ran. Cowo tertampan di kampus. Yaa walaupun udah standar om - om. Engga - engga, masih ‘Mas - Mas’ sih. Kenapa? Lo selingkuh?”, Ghea melanjutkan ke skenario berikutnya.

__ADS_1


“Udah ah.. Bisa berjilid - jilid kalo gue jelasin. Sebentar lagi kita mau masuk kelas.”, ujar Kirana hendak membuka pintu mobil.


“Eh… mau kemana? Cerita dulu yang lengkap. Baru lo, gue lepasin.”, ucap Ghea menarik lengan Kirana yang sudah membuka pintu setengah.


Kirana menoleh.


“Ghe, lo tahu kelas siapa ini? Pak Rian. Lo mau doi ngeblock lo dari daftar peserta ujian karena absen tanpa keterangan dari kelas dia?”, tanya Kirana.


“Oh iya. Gue lupa. Oke. Mendadak gue lupa kalo MANTAN SUAMI lo adalah dosen paling killer, paling kejam, paling perfeksionis soal jumlah kehadiran, dan paling. Heh… gue masih gak habis pikir dia mau jadiin lo istri. Gue kira dia bakal nikah sama cewek sekelas Bu Claudia yang jago Fisika juga.”, ucap Ghea datar sambil keluar dari mobilnya.


Kirana langsung mengernyitkan dahinya, menatap tajam ke arah Ghea dan menghela nafas.


“Harus gue apain nih orang. Fuh…. untung gue baru keluar dari rumah sakit. Berani - beraninya mention - mention Claudia segala. Memangnya gue kurang cerdas. Lagian kalo dua - duanya cerdas, apa gak kena mental nanti anaknya. Arghhhhh… kenapa jadi kesel denger nama Claudia lagi.”, ujar Kirana ikut turun dari mobil.


“Spill sedikit secara singkat. Bagaimana ceritanya kalian bisa nikah? Kapan? Dimana? Bagaimana?”, Ghea terus mencecar Kirana dengan berbagai pertanyaan.


“Yakin itu cuma spill sedikit? Pertanyaan lo udah kaya rumusan masalah mau bikin skripsi, tahu ga sih?”, balas Kirana.


“Hello… lo lagi kuliah di Ilmu Sosial Politik ato Sipil?”, ujar Kirana.


“Radit dari arah jam 12. Tutup mulut. Awas aja lo keceplosan. Gue pecat lo jadi temen gue.”, ucap Kirana tegas.


“Pecat aja langsung. Gue juga ga bayar membership buat temenan sama lo.”, balas Ghea sambil meledek temannya itu.


“Ghea…….”, ujar Kirana mengejar Ghea yang berlari menjauhinya.


“Hai Ran..”, sapa Radit segera di depan pintu kelas.


“Hai.”, balas Kirana.

__ADS_1


“Sudah sembuh?”, tanya Radit.


“Seperti yang lo liat.”, ucapnya.


“Baguslah. Ntar siang mau makan dimana?”, tanya Radit.


Ghea melirik - lirik ke arah Kirana seolah sedang memberikan kode padanya. Kirana mengernyitkan dahi. Bingung dengan kode dari Ghea.


“Mantan lo udah ada di arah jam 1. Tatapannya udah kaya sinar laser kesini.”, bisik Ghea ke telinga Kirana sebelum akhirnya melesat masuk ke dalam kelas.


Kirana langsung menggigit bibir bawahnya setelah mengintip sedikit ke arah belakang Radit. Raditpun jadi ikut menoleh ke belakang untuk memeriksa arah pandang mereka. Dia juga terkejut karena Pak Rian sudah tinggal beberapa puluh meter saja dari tempat dia berdiri.


“Oh.. sudah ada…”, begitu Radit menoleh kembali ke depan, Kirana dan Ghea sudah tidak ada disana.


Radit langsung berlari ikut masuk karena menurut jam tangannya, ini sudah waktu kelas Rian. Pria itu tinggal beberapa langkah lagi di belakangnya. Entah bagaimana pria itu bisa berjalan dengan cepat.


“Pagi….”, sapa Rian dengan suara bariton yang tegas, perawakan yang tegap, dan gestur yang memberikan aura gelap dari arah pintu masuk. Pria itu juga menepuk telapak tangannya ke pintu untuk membangunkan mereka - mereka yang tertidur. Beberapa mahasiswa juga nampak terkejut begitu pria itu datang.


Tanpa basa - basi, Rian segera mengambil spidol dan menuliskan beberapa rumus di depan papan tulis. Suara gesekan yang berbunyi akibat pertemuan antara ujung spidol dan papan tulis memberikan suasana tegang tersendiri bagi mahasiswa.


“Kuis hari ini. Silahkan untuk menyelesaikan soal di papan tulis. Seperti biasa, gunakan kertas HVS yang sudah kalian siapkan. Waktunya 20 menit.”, ujar Rian.


Suara helaan nafas dan pergerakan para mahasiswa langsung membuat sedikit keributan di dalam kelas. Mayoritas mereka sudah langsung pesimis bisa menjawab pertanyaan di papan tulis.


“Gimana bisa jawab? Lagi - lagi, soalnya aja gue gak ngerti.”, ujar salah seorang mahasiswa.


“Mau nanya takut. Ga nanya gue ga ngerti. Satu HVS? Dikasih kertas ukuran 10 cm aja, gue belum tentu bisa nulis sesuatu.”


“Pak Rian… di satu sisi gue kayanya ngulang. Di sisi lain, gue ga mau ngulang ama dia lagi.”

__ADS_1


“Kalo lagi ga ngasih pertanyaan, Pak Rian tuh gantengnya ngalahin aktor papan atas. Tapi begitu udah kasih soal, berasa sedang sidang. Anxiety disorder nih gue.”


“Gak jawab sama sekali, ke ruangan saya. Ngulang soal, ke ruangan saya. Pikirkan jawabannya. Jangan cuma ngeluh.”, ujar Rian langsung membuat semua yang ada di kelas terdiam.


__ADS_2