
Suasana kampus semakin malam semakin sepi. Proses closing acara, dismantle panggung dan properti, hingga pembubaran panitia sudah dilakukan sekitar 15 menit yang lalu. Mayoritas panitia sudah kembali ke aula kecil dan membereskan barang - barang mereka.
Sebagian lagi terlihat sudah berkumpul dan tampak berbincang sebentar di parkiran. Tak sedikit yang sudah berada di dalam mobil dan menghidupkan mesin mobil mereka bersiap untuk meninggalkan kampus.
Sebagian lagi tampak baru memasukkan barang - barang mereka ke dalam mobil dan tampak saling menyapa mereka yang juga menggunakan motor pribadi. Mayoritas sudah mendapatkan tumpangan atau sudah memiliki kendaraan untuk pulang.
Malam sudah sangat larut dan bahkan sudah masuk dini hari. Satpam kampus mengingatkan untuk berhati - hati dan segera pulang ke rumah. Ketua BEM Fakultas juga sudah menekankan beberapa kali saat rapat closing agar semua panitia tidak boleh singgah kemana - mana selain rumah.
Mereka akan mengirimkan informasi di grup jika mereka sudah sampai di rumah dan wajib mengirimkan foto selfie mereka.
“Eh.. Raka, mana Kirana?”, tanya Radit yang berlari menghampiri mobil Raka.
“Udah balik.”, jawab Raka singkat.
“Bukannya Kirana balik sama lo.”, tanya Radit memasukkan kepalanya ke dalam jendela mobil Raka yang terbuka dan memastikan apakah Kirana ada disana atau tidak.
“Enggak. Dia gak sama gue.”, jawab Raka.
“Terus dia sama siapa?”, tanya Radit.
“Yang jelas dia udah balik. Gue udah mastiin kok tadi. Lagian ya, dia itu cewek gue. Aneh ga sih lo nanyain cewek orang. Mana seharian ngintilin dia mulu.”, protes Raka.
“Gue cuma mau mastiin semua udah punya tumpangan dan pulang dengan aman. Jangan berlebihan.”, ucap Radit dengan gaya sok cool-nya.
“Halah…”, tentu saja Raka tidak semudah itu untuk percaya.
__ADS_1
Raka menekan tombol untuk bersiap menutup jendela mobilnya sementara kepala Radit masih berada disana. Radit langsung buru - buru menarik kepalanya dan memukul jendela mobil Raka.
Pria itu tidak bergeming dan langsung melajukan mobilnya tanpa memikirkan Radit sama sekali.
“Gila tu ya cowo. Bingung gue, kemana Kirana mau aja jalan sama tu cowok. Pinter sih pinter, tapi Gila.”, kata Radit dengan nada kesal.
Satu per satu mobil dan motor mulai meninggalkan kampus. Radit mencoba menghubungi Kirana sekali lagi tetapi tetap tidak diangkat. Dia memutuskan untuk mempercayai kata - kata Raka dan berjalan menuju tempat mobilnya parkir. Tak berapa lama kemudian, Radit sudah melaju menjadi armada paling terakhir yang pulang.
*********
“Hah… akhirnya bisa kabur juga dari Radit. Hah.. dia itu cool iya, ganteng juga. Coba aja gak mepet terus, pasti gue juga tertarik sama dia. Tapi dianya deketin terus.”, ucap Kirana yang sedang duduk di dalam salah satu toilet dekat lantai 1 gedung yang terdekat dengan pintu utama dan parkiran.
Sudah 30 menit Kirana berada di toilet itu untuk beristirahat. Toilet ini jarang digunakan oleh mahasiswa karena sejatinya ini adalah toilet dosen. Tadinya, Kirana ingin mengintip apakah Rian masih ada di ruangannya. Meski dia tahu hal itu tidak mungkin.
Tapi, ucapan beberapa mahasiswa yang ia dengar kalau Rian masih ada di kampus membuat Kirana ingin mencoba memastikan. Kirana memang sengaja menghindari Rian beberapa hari ini untuk melihat reaksinya. Tapi malah hal itu membuat Kirana jadi kepikiran.
“Eh… Eh… kok dikunci? Lah.. bukannya toilet ini gak pernah di kunci, ya? Aduh.. gimana gue keluarnya dong.”, kata Kirana dari dalam toilet.
Sepengetahuan Kirana, tidak ada toilet yang dikunci. Biasanya yang dikunci saat malam hanyalah gedung saja. Itu juga hanya beberapa gedung untuk proses belajar mengajar mahasiswa termasuk lab dan juga perpustakaan. Tapi toilet di gedung dosen tidak pernah dikunci. Hal ini karena tidak sedikit dosen yang datang ke kampus dan menginap untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
“Mampus gue… gimana nih? Kenapa di kunci sih? Si Radit masih di sekitar sini ga ya? Tar kalo gue teriak dia tahu lagi gue disini. Ah… gue tunggu 15 menit lagi deh kalo gitu.”, pikir Kirana sambil merapikan kembali tasnya.
Kirana memang sudah bersiap untuk pulang. Dalam rencananya, dia hanya ingin memastikan apakah Rian masih ada di ruangannya dan mencoba menjalankan skenario supaya Rian mau mengantarnya pulang.
Sekaligus, Kirana mau mencoba menanyakan tentang gosip yang beredar. Tentu, Kirana tidak akan membiarkan dirinya terlihat seperti mengharapkan pria itu. Makanya Kirana berpikir untuk menjalankan skenario dan bukan menghubunginya langsung. Siapa sangka, skenario malah berubah menjadi dirinya yang terkunci di dalam toilet seperti ini.
__ADS_1
“Udah 15 menit nih. Harusny sih si Radit udah balik.”, ucap Kirana.
Kirana mencoba untuk mengirimkan pesan pada teman - teman panitianya untuk menanyakan nomor Pak Satpam.
“Ih.. kenapa ga diangkat sih? Bukannya ini nomor yang benar, ya?”, tanya Kirana dalam hati.
“Halo Pak.. Pak saya Kirana, Mahasiswa jurusan teknik sipil. Bapak yang tugas shift malam ini, ya? Pak saya.. Kekunc…. Eh? Bapak di rumah? Terus yang tugas jaga siapa, Pak? Bukannya tadi Bapak, ya? Ahhh…Oke.. Haha iya gapapa Pak.. enggak.. Semoga cepat sembuh anaknya ya, Pak.”, ucap Kirana menutup ponselnya.
Satpam yang berjaga tadi siang ternyata sudah digantikan dengan satpam yang lain. Padahal shiftnya seharusnya berakhir besok pagi. Tapi, satpam itu harus buru - buru pulang karena anaknya sakit.
“Eh???”, Kirana terkejut saat melihat jam di ponselnya dan langsung menutup mulutnya.
‘What the…. Jam 12 lewat? Gilaaaa gue kira masih jam 11.. Masa sih? Perasaan tadi kelar closingan jam 11an terus gue disini udah 30 menit.. Make sense sih… Aduhhh bodoh banget lo Kirana… Fokus banget sembunyi dari Radit ampe ga nyadar sekarang udah jam 12 lewat. Mana mo jam 1 lagi…’, Kirana menutup mulutnya dengan tangan.
Suasana toilet yang tadinya biasa saja mendadak jadi menyeramkan hanya karena dirinya menyadari sekarang sudah jam 12. 55. Padahal, beberapa detik yang lalu juga sudah lewat jam 12, tapi dia berasa sedang di toilet rumahnya karena nyaman.
‘Tahan nafas, Ran. Berpikir jernih. Sekarang lo di toilet kampus. Anggap aja kaya ditoilet rumah. Sekarang jam 12.55 siang bukan dini hari kok. Tenang…’, ucap Kirana mencoba mengatur nafasnya.
‘Mampus gueee… satpam yang jaga kan ga pernah jaga di gedung. Pasti jaganya di depan pintu dimana pasti jauh dari sini. Belum lagi yang jaga juga pasti cuma 2 satpam per gedung. Itu juga kalo lagi ga ada kasus kaya Pak Satpam yang tadi anaknya sakit dan harus pulang.’
‘Gimana dong… gue mau ga panik tapi udah panik duluan. Gimana kalo semua orang udah pada pulang. Ini kan malam minggu ya.. Mana ada juga yang di kampus. Paling apes lagi.. Kalo ternyata Kak Rian beneran udah pulang dan jalan ama si Claudia itu. Terus gue kekunci disini buat apaaaa cobaaa….’, Kirana benar - benar panik sampai - sampai keringatnya jatuh.
Suasana kampus sangat hening. Sampai - sampai tetes air di dalam toilet dari keran yang tak sempurna dikuncipun terdengar sangat jelas. Kirana mau menangis karena takut. Tiba - tiba semua bayangan karakter - karakter film horor di kepalanya mulai keluar.
‘Bodo ah.. Telpon Kak Rian aja.. Bodo amat kalau dikira masih ngarepin. Gue takut banget…..’, ucap Kirana.
__ADS_1
“Aduhhh kenapa batre gue tinggal segini lagi.. Mamaaaaa….”, kata Kirana bergetar mencari nomor telepon Rian.
Bilik - bilik toilet terlihat sangat menyeramkan sekarang padahal tadi biasa saja.