
“Sebulan lagi, jadwal UAS kalian sudah keluar. Fisika Dasar akan menjadi ujian di hari ketiga. Dua minggu lagi, ASDOS saya akan memberikan kalian kelas tambahan. Silahkan untuk memeriksa portal secara rutin. Saya juga memposting nama - nama yang tugasnya belum lengkap. Saya berikan kesempatan hingga minggu depan untuk mengumpulkan dengan nilai maksimal 80.”, jelas Rian di depan kelas.
Sebelum masuk ke dalam materi pelajarannya, Rian menggunakan waktu ini untuk memberikan trailer UAS para mahasiswa. Lagipula, materi yang akan dia sampaikan tinggal 2 bab lagi dimana minggu ini dan minggu depan akan selesai.
Berbeda dari biasanya, Rian tidak hanya duduk atau berdiri di depan kelas. Tetapi dia juga mengambil langkah mengitari bangku - bangku para mahasiswa. Matanya beredar ke segala arah dan membuat mahasiswa tidak tenang.
“Meskipun saya tidak keberatan untuk bertemu kalian lagi di semester depan, tapi saya berharap bertemu kalian lagi di tugas akhir. Mulai tahun depan saya tidak hanya memegang tesis mahasiswa S2 tetapi juga memperbanyak slot untuk skripsi mahasiswa S1. Jadi, dibandingkan bertemu di kelas yang sama, saya berharap bisa bertemu kalian di chapter yang baru.”, terang Rian.
‘Makasih deh, Pak. Meskipun bisa lihat dan berinteraksi intens dengan Bapak, tapi saya lebih milih skripsi saya kelar.’, beberapa benak mahasiswa perempuan kira - kira mengatakan seperti itu.
‘Ah.. gimana kalo pembimbing skripsi gue malah dia. Bisa - bisa setahun lebih baru kelar. Nightmare banget.’, sementara di benak mahasiswa laki - laki mengatakan hal yang berbeda.
__ADS_1
“Ngapain kamu?”, tanya Rian di belakang bangku Kirana.
“Gak ada, pak.”, jawab Kirana meletakkan tangannya di atas meja.
“Saya sudah tegaskan tidak ada yang memikirkan hal lain di kelas saya. Sementara kamu sibuk melihat sesuatu di laci kamu. Ada apa?”, tanya Rian lagi.
‘Kenapa sih nih orang. Biasanya juga ga jalan - jalan ke belakang. Terus malah memperkarakan masalah aku gak merhatiin. Sengaja apa, ya?”, Kirana melirik ke belakang ke arah Rian.
“Kamu bisa keluar atau berikan ke saya apa yang membuat kamu tidak fokus pada kata - kata saya.”, ucap Rian tegas.
Rian menaikkan alisnya sambil menyodorkan tangannya meminta Kirana memberikan apa yang dia lihat dan simpan di balik buku catatannya.
__ADS_1
Sebenarnya Kirana tidak masalah kalau dia harus keluar dari kelas. Tapi, dia juga tidak ingin dianggap tidak sopan. Akhirnya Kirana memberikan kertas itu perlahan pada Rian. Belum lagi kertas itu dekat dengan tangannya, Rian langsung menarik kertas yang seperti surat itu.
‘Showtime!’, hanya kata - kata itu yang tertulis disana.
Sebuah kata dengan gabungan huruf - huruf yang digunting dan membentuk ‘Showtime!’. Rian melirik pada Kirana untuk mencari tahu apa itu. Tapi dia sadar semua mata sedang menuju ke arah mereka sekarang.
Pria itu meletakkan kembali kertas itu di atas meja.
“Simpan itu dan fokus ke depan. Ini ada kursi kosong. Pindah sekarang.”, perintah Rian mengetuk sebuah kursi kosong yang terletak tepat di depan mejanya.
Ya, hampir tidak pernah ada mahasiswa yang duduk di kursi yang tepat berada di depannya. Tentu saja alasannya adalah mereka ingin fokus belajar di kelas, bukan untuk uji nyali. Kalau mereka duduk di depan meja Rian, itu sama saja seperti mereka masuk wahana horror.
__ADS_1
Kirana dengan lesu mengangkat tasnya dan maju ke depan. Nampak tatapan para mahasiswa menuju ke arahnya, sampai Rian mengetuk papan tulis dengan menggunakan penghapus papan.
Pria itu menulis satu rumus dan menjabarkannya seperti akar atau kerangka berpikir. Semua isi buku seperti tercetak kembali di papan tulis dari kepalanya. Para mahasiswa memperhatikan dengan saksama.