
“Susah buat ngejelasinnya, Ghe. Yang jelas, Pak Rian bukan kakak gue kok.”, jawab Kirana jujur.
“Bohong banget. Kalau bukan kakak, siapa lo? Ama Raka aja lo bisa pura - pura pacaran. Pasti perkara mudah buat lo nyembunyiin identitas kayak lo.”, ujar Ghea.
Rian langsung mengernyitkan dahinya.
‘Ternyata Kirana pura - pura pacaran dengan Raka?’, ucap Rian dalam hati.
Dia menyunggingkan senyumnya sedikit. Antara senang dan cemburu.
‘Kenapa harus pura - pura pacaran segala? Liat aja, Ran. Kamu gak bakal bisa lepas dari yang satu ini.’, Rian sudah mengancang - ancang langkah selanjutnya sambil terus mendengarkan percakapan Kirana dan Ghea.
“Hush… kamu ngomong apa sih. Udah ih diem.”, kata Kirana yang kelewat greget dengan temannya yang satu ini.
‘Apa lagi yang akan dibocorkan oleh Ghea. Dasar mulut ember banget. Semoga aja Kak Rian ga dengar.’, tutur Kirana.
“Ehem-ehem.”, Rian membersihkan tenggorokannya sambil berusaha untuk menarik perhatian yang lain.
__ADS_1
“Ran, terus kenapa Pak Rian bisa ada di kamar rawat inap kamu kalau dia bukan kakak kamu?”, Ghea mulai melancarkan serangannya. Dia bersikap seperti anak balita yang ingin meminta mainan.
Kirana langsung mengernyitkan dahinya.
“Ehem - ehem.”, Rian kembali mencoba menarik perhatian keduanya setelah gagal di percobaan pertama.
Rian akhirnya berdiri setelah keduanya masih terus saja berbicara tanpa mempedulikannya. Pria itu menggeser gorden yang menutupi tempat tidur Kirana.
“Kamu, udah waktunya pulang. Jam besuk sudah habis.”, ucap Rian to the point.
“Ah… hehe… iya Pak. Sa-saya pulang sekarang.”, ujar Ghea berjalan perlahan mengambil tasnya sambil terus memberikan kode pada Kirana untuk segera bercerita padanya. Ghea beberapa kali mengirimkan kode agar Kirana meneleponnya nanti malam.
“Hah…. susah banget, ya menyuruh teman kamu itu untuk segera pulang.”, ujar Rian bersikap normal seolah tidak terjadi apa - apa. Dia bahkan masih bisa kembali duduk di kursi dan menyilangkan kakinya.
Kirana memberikan sorotan tajam pada Rian.
“Kenapa bisa ketahuan? Kan udah aku suruh sembunyi di dalam sana.”, kata Kirana.
__ADS_1
“Ya.. aku kira semua sudah pulang. Asal kamu tahu. Aku bahkan menunggu sampai beberapa belas menit sampai memutuskan untuk membuka pintu setelah tak terdengar suara apapun lagi dari luar. Siapa yang bisa menduga kalau teman kamu yang ceriwis itu balik lagi. Padahal sudah berhasil sembunyi dari Radit itu. Malah ketahuan oleh Ghea.”, ujar Rian menjelaskan situasi yang dia alami tadi.
“Ya, berarti Kak Rian seharusnya lebih lama lagi nunggunya.”, ujar Kirana masih melayangkan protes.
“Sampai kapan? Sampai aku kehabisan oksigen di dalam situ? Lagian kenapa harus ketahuan oleh teman kamu yang itu sih? Kamu yakin dia tidak akan buka mulut. FYI, besok masih ada jadwal kuliah dan kelas Fisika ada di urutan pertama.”, balas Rian.
Kirana tidak menjawab dan hanya menatap kesal.
“Aku hanya berharap tiba - tiba dia jatuh dari tempat tidur dan lupa ingatan.”, ujar Rian.
“Eh? Temen aku loh itu, Kak. Mending kalau dia cuma lupa ingatan. Kalau dia tiba - tiba jadi bego, gimana? Dan asal Kak Riana tahu, Ghea ga akan ngelepasin aku begitu aja. Dia pasti bakal nanya terus.”, ucap Kirana.
“Nih lihat.”, Kirana memperlihatkan layar ponselnya. Ghea benar - benar sudah meneleponnya padahal baru saja beberapa menit sejak tadi dia keluar dari ruang rawat inap.
“Halo..”, Kirana terpaksa harus menjawabnya.
“Ran, jadi Pak Rian itu siapa lo.”, tanya Ghea dengan gaya lesu, lemah, dan lunglai.
__ADS_1
“Mantan suami gue.”, jawab Kirana sebelum menutup teleponnya.
“Hm? Hah.. masih bohong aja nih orang.”, celetuk Ghea.