Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 79 Sesuatu yang Mengejutkan


__ADS_3

‘Padahal besok masih minggu. Buru - buru banget checkout. Kalo aja gue ga lagi nabung jajan buat nonton konser. Pasti gue dah extend waktu stay disini.’, Kirana melirik ke sekitar pintu - pintu kamar hotel.


Dirinya masih belum puas untuk bermalam disini. Sebenarnya kemarin Kirana bisa saja pulang ke rumah. Toh, mamanya pasti tidak akan tanya apa - apa karena beliau berekspektasi kalau Kirana akan menginap di rumah Ghea kemarin.


Kirana sengaja minta menginap di hotel karena Rian pasti mengabulkannya. Eits, awalnya Kirana berpikir Rian hanya akan mengantarkannya ke hotel dan kembali pulang loh. Ternyata Rian malah minta 2 kamar.


Ya, jangan salah paham dulu. Mereka stay di kamar yang berbeda. Rian tidak se-brengsek itu, kok. Rian adalah pria baik - baik. Meski sudah lama tinggal di luar negeri, Rian masih stay humble dan tidak terpengaruh dengan pergaulan orang luar.


Rian memperhatikan Kirana dari belakang. Gadis itu melihat ke kiri dan ke kanan di sepanjang lorong kamar lalu melihat ke bawah. Rian tahu apa yang ada dipikiran gadis itu. Dia mau - mau saja extend staycation ini ke hari Minggu. Namun, dia tidak yakin pada dirinya. Berada di sekitar Kirana hanya membuatnya melupakan status mereka yang sudah berbeda.


“Makanya, lain kali ATM nya di bawa. Kamu bisa extend satu hari lagi.”, ucap Rian dari belakang.


Kirana hanya memajukan bibirnya kesal tanpa menoleh ke belakang. Dia terus saja menarik nafas dalam dan mengeluarkannya dengan sengaja memberikan suara disana. Tentu saja agar Rian mendengarnya.


Rian tersenyum melihat reaksi Kirana yang seperti bisa dia bayangkan di kepalanya. Rian berjalan cepat agar bisa berada di depan Kirana karena ingin mengerjainya.


“Yang cepat jalannya. Kalau lewat dari jam 11 dan dihitung extend, kamu yang bayar, ya.”, ucap Rian sambil menyinggung sedikit bahu Kirana dengan bahunya.


Pria itu sengaja ingin membuat Kirana bertambah kesal.


“Dasar, dosen pelit.”, ucap Kirana.

__ADS_1


“Eh.. jangan panggil saya dosen. Nanti kalau orang dengar, saya disangka dosen yang tidur sama mahasiswanya loh. Padahal kita juga beda kamar.”, ucap Rian meminta Kirana tak berbicara sembarangan.


“Lagian, Pak Rian sendiri kan yang memilih untuk ikut sewa kamar. Padahal aku juga ngarepinnya Pak Rian pulang aja ke rumah. Jadi duitnya kan bisa buat aku extend kamar.”, balas Kirana dengan sengaja memanggil Rian dengan formal seperti saat sedang di kampus.


Rian hanya menggeleng - gelengkan kepalanya. Dia memang tidak akan pernah bisa menang melawan perempuan satu ini.


Sekarang pria itu berjalan beberapa langkah di depan Kirana. Tanpa sengaja, Rian melihat lurus ke depan. Dia melihat dua orang tengah keluar dari pintu kamar hotel. Saat itu baik Rian dan Kirana sudah dekat dengan perempatan koridor hotel.


Belok ke kiri adalah lift, belok kanan menuju pool dan gym, sedangkan lurus di depan adalah koridor - koridor kamar lagi. Rian hanya melihat orang yang baru keluar dari kamar hotel itu dari samping. Tapi, pria itu sudah bisa mengetahui siapa pria itu.


Rian langsung menghentikan langkahnya karena terkejut. Pria itu adalah Pak Yoseph. Pria paling baik yang dikenal oleh rekan sejawatnya. Pria paling setia karena sering pulang cepat dan jarang sekali nampak di kampus di luar jam belajar mengajar. Pria yang selalu membuat iri karena setiap hari pasti dibuatkan bekal makanan yang enak dan bervariasi.


Tapi, Pak Yoseph tidak sedang ditemani istrinya sekarang. Wanita yang Rian lihat sedang bersama Pak Yoseph adalah wanita yang lebih muda dan berambut panjang. Ya, meski Rian tak melihat wajah wanita itu, tapi perawakannya jelas.


Kirana yang sedari tadi berjalan sambil menunduk mengusap - usap dahinya yang tidak sengaja membentuk punggung Rian.


Beberapa detik kemudian, Kirana dibuat kaget karena Rian berbalik ke belakang dan menarik Kirana ke koridor samping. Tubuh Kirana menempel di dinding koridor sedangkan Rian nampak seperti menutupi Kirana karena tubuh pria itu memang jauh lebih tinggi dan lebih besar dari Kirana.


Alhasil keduanya sangat dekat sekali. Rian juga menundukkan pandangannya dan langsung bertatapan dengan wajah Kirana.


“Kenapa?”, tanya Kirana refleks.

__ADS_1


“Diam aja dulu. Lima menit.”, balas Rian.


“Kenapa? Mau ngapain?”, ucap Kirana sambil memegang bibirnya.


Imaginasinya sudah melayang entah kemana. Dia memikirkan hal yang tentunya tidak sedang ada di pikiran Rian sekarang.


Rian hanya menghela nafas.


“Diam dan tenang.”, ucap Rian dan berhasil membuat kening Kirana mengkerut bingung.


“Yang jelas bukan seperti yang kamu bayangkan.”, balas Rian sambil berbisik.


Rian bisa mendengar suara Pak Yoseph dan wanita itu semakin mendekat.


Kirana baru tersadar kalau mereka berada di posisi yang sangat dekat sekarang. Kirana menelan ludahnya. Jantungnya berdetak dengan kencang. Deru nafas Rian dan dirinya terdengar jelas saling bersambut di keheningan koridor. Hanya terdengar samar - samar bisikan dua orang yang Kirana belum lihat karena Rian sudah keburu menariknya.


“Udah gak sabaran kayanya padahal masih di koridor.”, celetuk wanita yang tadi Rian lihat.


Rian semakin mendekatkan dirinya pada Kirana. Rian hanya bisa berharap Pak Yoseph tak menyadari perawakannya. Semoga saja. Biasanya orang yang sudah sering berinteraksi dengan kita akan mudah mengenali kita hanya dengan melihat dari belakang saja.


Beruntung, Pak Yoseph hanya terdengar seperti tertawa kecil dan mereka terus berjalan menjauhi mereka menuju pintu lift. Kirana mencoba mengintip dari sela - sela ruang yang masih bisa ditinggalkan Rian di bawah lengan kekarnya.

__ADS_1


‘Siapa sih? Apa jangan - jangan wanita itu mantannya Kak Rian?. Makanya dia tiba - tiba sembunyi begini. ’, celetuk Kirana dalam hati.


__ADS_2