
“Permainan lo keren juga. Udah lama belajar tenis?”, tanpa Rehan pada Claudia.
“Waktu masih kuliah, gue coba ikutan klub tenis. Awalnya cuma buat iseng doang. Eh.. ga tahunya keterusan dan seru.”, jawab Claudia tersenyum santai.
Sementara yang lain terus mengajak Claudia untuk mengobrol, Rian sibuk membereskan barang - barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia terlihat sedang melepaskan sepatu olahraganya dan mengenakan sepatu casual miliknya.
Kemudian, tak lama setelah itu, Rian mengambil tas dan menyandangnya seperti orang yang sudah bersiap untuk pulang.
“Guys, thanks buat hari ini. Gue duluan, ya.”, ucap Rian tanpa basa - basi.
Claudia terkejut dan langsung menoleh ke arah Rian. Pertanyaan - pertanyaan dari teman - teman Rian membuat dirinya kehilangan fokus dan tak melihat pergerakan Rian yang sudah mau pulang.
“Eh.. kapan - kapan kita ngobrol lagi, ya. Thanks banget buat hari ini.”, kata Claudia langsung bergegas mengambil tas olahraganya dan berlari mengejar Rian.
Wanita itu bahkan belum mengganti pakaian tenisnya dan masih memegang raket. Cladia sudah terburu - buru sehingga tidak ada lagi waktu untuk hanya sekedar memasukkan raket ke dalam tas.
“Riannnn… Riannnn.”, Claudia nampak berlari tergopoh - gopoh memanggil Rian yang sudah hilang dibalik pembelokan menuju parkiran.
__ADS_1
“Riannnn…”, Claudia kembali memanggil namanya, begitu dirinya melihat sosok Rian lagi.
Beruntung. Kali ini Rian mendengarnya dan berbalik. Wajahnya datar tetapi sebenarnya menunjukkan banyak penilaian di dalam pikirannya. Di balik wajah Rian yang datar itu, dia sedang mengevaluasi setiap tindakan dan sikap Claudia hari ini.
“Tungguin, dong. Lo jalannya cepet banget. Mau kemana sih? Gak buru - buru, kan? Bukannya lo bilang tadi lagi gak ada kegiatan apapun? Lantas kenapa harus buru - buru?”, tanya Claudia yang menghampiri Rian.
Gadis itu bahkan memegang salah satu lengan Rian untuk bertumpu karena dia sudah kelelahan berlari. Dia sudah berlari mengejar bola tenis dan sekarang harus buru - buru berlari mengejar Rian.
“Tungguin..”, ucap Claudia.
Hembusan nafasnya yang terengah - engah dan ekspresinya yang terlihat sedang mengatur pergerakan oksigen di saluran pernafasannya membuat Claudia harus bertumpu pada Rian.
“Kenapa? Kalo ada perlu, lo kan bisa telpon.”, ucap Rian.
“Lo buru - buru amat, mau kenapa?”, Claudia kembali mengulangi pertanyaannya.
“Kalau lo hanya menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, maka kita tidak akan pernah selesai disini.”, ucap Rian.
__ADS_1
“Eh.. tunggu.”, Claudia kembali menarik lengan Rian karena pria itu hendak pergi lagi.
“Lo bawa mobil, kan? Bisa tebengin gue pulang, ga?”, tanya Claudia.
“Hm? Lo kesini naik apa?”, tanya Rian kebingungan.
“Taksi. Mobil gue lagi dibenerin. Jadi baru bisa digunakan minggu depan. Boleh ya.. Lagipula, arah rumah lo dan rumah gue kan ga beda jauh.”, kata Claudia.
“Lo kesini naik taksi. Kenapa pulangnya ga naik taksi juga.”, kata Rian melontarkan kalimat setengah bercanda.
“Eh? Pelit banget. Nganterin pulang doang.”, Claudia langsung mengambil kunci mobil di tangan Rian dan menyalakannya. Sebuah mobil berwarna putih langsung mengeluarkan cahaya dan suara.
“Nah, itu dia mobilnya. Hayuk.”, kata Claudia langsung menghampiri mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Claudia menarik Rian yang kemudian hanya mengikuti dengan malas. Begitu sampai di depan mobil, Claudia langsung membuka pintu tengah dan memasukkan tas beserta raket tenisnya ke dalam.
Selanjutnya, Claudia mengembalikan kunci mobil Rian dan naik ke dalam mobil. Aksi ini membuat Rian hanya bisa menunjukkan ekspresi datar.
__ADS_1