Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 63 Ujian Tengah Semester ‘Fisika Dasar’


__ADS_3

“Hah… Na, kenapa gue berasa amnesia, ya.”, Ghea yang sudah datang pagi - pagi sekali menghampiri Kirana.


Tidak seperti malam sebelumnya, mereka tidur sangat terlambat hari ini. Keduanya menghabiskan waktu untuk menyelesaikan contoh - contoh soal yang bisa mereka temukan di Internet tentang semua topik bahasan Fisika Dasar yang sudah diajarkan oleh Rian hingga dua minggu kemarin.


“Udah ah… jangan deket - deket gue. Nanti menular.”, kata Kirana mendorong Ghea yang ingin memeluknya begitu melihat sahabatnya itu sudah duduk di meja ruangan.


“Eh.. sapa bilang amnesia menular. Asli ya Na, gue ga ingat sama sekali semua yang kita pelajarin kemarin. Gimana ini. Masa gue ngulang lagi.”, kata Ghea yang sudah pesimis duluan.


“Huuu gaya lo.. Biasanya kalo lo bertingkah kaya gitu, artinya lo dah siap dapat nilai bagus.”, ucap Kirana yang mengerti dengan sifat temannya.


“Idih.. gue beneran lagi. Sampai tadi pagi mau sarapan, gue tuh masih menyelesaikan soal - soal Fisika saking gue ga mau ngulang. Papa sih, pake nyuruh pulang segala. Kalo gue nerusin nginep di rumah lo kan gue masih bisa ada teman buat ngerjain bareng.”, komplain Ghea pada papanya.


Ya, Ghea sudah 4 hari tidak pulang - pulang ke rumah sejak Sabtu sore kemarin dia datang ke rumah Kirana untuk belajar bareng. Menurutnya, waktu terlalu berharga untuk dia buang begitu saja PP dari rumah Kirana.


Menurut Ghea, belajar sendiri tidak efektif karena dia pasti akan lebih banyak ngemil dan bermain. Sayangnya, papanya yang baru saja pulang dari urusan bisnis ingin sekali bertemu dengan Ghea. Mereka sudah 4 bulanan tidak bertemu karena papanya harus bekerja di site proyek.


“Eh.. orang - orang pada bilang gue ambis. Tapi sebenarnya yang ambis itu elo tahu. Yang ada kalo lo terus nginep di rumah gue, gue gak bakal bisa tidur - tidur. Gila ya.. Ampe segitunya banget.”, protes Kirana.


Dia tidak pernah melihat Ghea se-rajin dan se-ambis ini dalam belajar. Perasaan semester 1 dan 2 dia biasa saja. Kenapa sekarang dia malah jadi takut banget ga dapet IP bagus semester ini.


“Oke… gue bongkar rahasia gue.”, kata Ghea dengan ekspresi wajahnya yang dibuat lebay.


“Ga tertarik.”, Kirana langsung memadamkan semangat membara Ghea.


“Jadi, bokap gue mau sponsorin gue nonton konser band kesayangan gue di luar negeri kalau IP gue diatas 3.5 semester ini.”, ucap Ghea setengah berteriak namun sambil memegang mulutnya.


Karena beberapa saat kemudian beberapa teman yang lain berdecak kesal karena Ghea terlampau ribut.


“Yakin lo bisa dapet 3.5?”, ucap Kirana lagi - lagi menurunkan semangat Ghea.


Sebenarnya dia hanya bercanda.


“Iya deh iya deh yang IPK nya sampe sekarang masih aman diatas 3.5. Ran, apa gue pinjem akun lo aja. Eh kasih screenshot IPK nya dong, tar gue edit pake foto gue. Terus gue kasih bokap. Doi ga akan ngecek lah sampe portal kampus. Yang penting gue kasih screenshot.”, ucap Ghea yang sudah memasang rencana kalau - kalau usahanya kali ini untuk mendapatkan IPK 3.5 gagal.


“Boong namanya, gak berkah. Tar lo ilang di luar negeri.”, ucap Kirana dengan wajah datarnya.


“Ya ampun Ran. Ga ada lagi apa kalimat yang bagusan dikit.”, protes Ghea.


“Hai, pagi Ran.”, sapa Radit yang tiba - tiba sudah berada di jarak dua meja darinya.

__ADS_1


“Oh, pagi.”, balas Kirana kaku.


Beberapa waktu ini, dia sedikit tidak nyaman setiap kali bertemu dengan Radit. Hal ini dipicu dengan sikapnya yang selalu menghindari Radit. Bodohnya, satu dua kali Radit sadar kalo Kirana sedang menghindar darinya.


Kirana makin tidak enak hati karena rupanya rumor tentang Radit yang mundur dari Ketua BEM benar adanya. Bukan diturunkan tetapi Radit sendiri yang meminta mundur. Alasannya? Tidak ada yang tahu. Pria itu tiba - tiba berbicara pada bagian Kemahasiswaan dan mengungkapkan ingin mengundurkan diri.


Alhasil sekarang wakil BEM yang menjalankan dual fungsi sampai pemilihan Ketua BEM selanjutnya. Kirana juga sedikit menyesali keputusan yang diambil Radit. Karena keputusan itu, dia jadi semakin sulit untuk melanjutkan rencana pentas seni kampus yang sebelumnya di dukung penuh oleh Radit selaku Ketua BEM Kampus.


Menjadi PO acara sebesar itu menjadi impian Kirana. Sekarang, Kirana harus puas diri karena event itu hanya akan diadakan di lingkungan Fakultas saja. Tidak jadi lintas fakultas bahkan rencana untuk mengundang penyanyi papan atas pun terancam gagal.


Kirana tahu benar sumbernya adalah dana. Beberapa tawaran sponsorship yang sebelumnya sempat diterima tapi masih dalam tahap diskusi tiba - tiba tak dilanjutkan lagi. Hampir semuanya adalah anak perusahaan milik papanya Fas. Tentu saja sudah jelas sebabnya. Mungkin itu yang membuat Radit tiba - tiba mundur dari jabatannya.


Keduanya juga jarang terlihat bersama lagi.


“Udah siap buat UTS kali ini?”, tanya Radit berbasa - basi.


Anehnya, meskipun Kirana bersikap seperti itu, Radit masih terus mendekatinya. Dia tak bisa terus menerus melarikan diri dengan berpura - pura pacaran dengan Raka. Kirana juga punya rencana untuk menyudahi semua sandiwaranya dalam waktu dengan dengan Raka.


Tak berapa lama setelah itu, Raka muncul. Seperti biasa dengan kaos dan hoodie serta celana jeans miliknya. Dia hanya membawa satu tas kecil unik yang muncul di bagian depan. Kirana yakin lak- laki itu hanya membawa peralatan tulis dan ponsel.


Belakangan ini, Radit tidak lagi terganggu dengan keberadaan Raka. Hal ini kadang membuat Kirana bingung.


“Ran.. “, sapa Raka dari samping sambil tersenyum.


Kirana melihatnya sebagai senyuman licik sementara Ghea melihatnya sebagai senyuman manis.


‘Mungkin keputusan buat mengiyakan ajakan Raka adalah kesalahan paling besar. Pluis cowok ini tuh ‘Red Flag’ banget. Masih aja. Siapa coba orang gila yang berani cium orang sembarangan? Tunggu, apa jangan - jangan karena itu Kak Rian selalu jutek sama aku?’, pikir Kirana.


Tepat saat Kirana memikirkan sekelebat tentang Rian, pria itu langsung muncul dari pintu. Dia mengenakan kemeja broken white dengan celana bahan stylish. Tak lupa dengan sepatu sport dan juga ponsel di tangannya.


Rian langsung masuk tanpa mengucapkan apa - apa. Seperti biasa, dia menghidupkan proyektor dan langsung menyambungkan dengan ponselnya.


“Ini peraturan UTS kali ini. Saya kasih waktu 15 menit untuk memahaminya.”, ucap Rian.


Singkat, padat, dan jelas.


Seketika semua perhatian langsung tertuju pada rules yang Rian tampilkan di layar proyektor. Peraturan yang sederhana. Hanya ada 3.


‘Hanya ada 3 peraturan dan dia nyuruh kita baca ampe 15 menit?’, Kirana sudah berteriak di dalam hatinya.

__ADS_1


‘What the hell? Dia suruh kita baca satu peraturan 5 menit. Apa maksudnya?’


‘Kalo ga absurb kaya gini, emang bukan Pak Rian.’


‘Gila nih orang.’


‘Eh?’


‘Emangnya mau tanding bola pake peraturan segala. Dia serius?’


‘Hah.. bener keputusan gue tadi malam, ga usah belajar. Belajar juga ga bakal bisa jawab.’


Berbagai teriakan dan suara - suara mahasiswa yang hanya bisa mereka dengar sendiri karena tidak ada yang berani berceletuk. Di peraturan jelas tertulis. Berbicara yang tidak perlu artinya ‘Silahkan keluar dari ruangan.’


Semua hanya bisa menelan ludah sambil menaruh pandangan fokus ke depan.


‘Apa ini survival game?’


‘Aku berasa masuk ke sarang iblis. Tampan sih tampan, tapi mematikan.’


‘Hah.. setidaknya bisa adem lihat wajahnya. Meski otak teriris karena UTS nya.’


‘Pak.. pak.. Ganteng - ganteng kok galak.’


‘Dia punya pacar ga sih?’


Jeritan para mahasiswi juga terwakilkan setidaknya dengan kalimat - kalimat itu. Tak sedikit dari mereka yang sudah yakin kalau mereka akan mengulang mata kuliah Fisika semester ini.


“Oke.. 15 menit sudah lewat. Ini soalnya. Kerjakan dalam waktu 30 menit.”, ucap Rian.


‘Ehhhhh?’, hampir semua mahasiswa yang hadir di kelas itu memberikan respon yang sama.


Mereka menutup mulut mereka agar tak ada sedikitpun suara yang keluar.


Helloooo… waktu UTS disiapkan oleh fakultas sebanyak 2 jam. Dia menggunakan 15 menit untuk meminta mahasiswa membaca aturan dan hanya 30 menit untuk menjawab? Apa - apaan?


Tak lama setelah mereka protes dan mencoba membaca soal yang terlampir di papan, mereka sangat terkejut.


‘Angka? Pak Rian ngasih soal Fisika buat UTS ada angkanya???’, ucap Kirana dalam hati.

__ADS_1


Tidak hanya Kirana, mahasiswa yang lain juga sedang mengeluarkan pendapat yang sama.


__ADS_2