
“Antrian nomor 95 atas nama Kirana?”, panggil seseorang dari bagian administrasi rumah sakit.
Seorang wanita paruh baya mendekat dan menyerahkan dan menandatangani beberapa dokumen yang diserahkan padanya.
“Terima kasih.”, ucap wanita itu setelah semua proses nampaknya sudah selesai.
Hari itu rumah sakit sangat ramai dari biasanya. Banyak yang lalu lalang dan jumlah antrian pun lumayan panjang. Bahkan untuk menyelesaikan proses administrasi saja sampai harus menunggu 30 menit. Padahal biasanya tidak antri sama sekali.
‘Hah..’, wanita itu duduk di samping tempat tidur putrinya. Kirana.
Kirana masuk rumah sakit pagi ini setelah mengeluh sakit pada bagian perutnya. Mama Kirana panik harus bagaimana karena Kirana terus berteriak. Badannya juga sangat panas. Beruntung putrinya tidak mengunci pintu sehingga mamanya dengan mudah untuk masuk.
Mama Kirana langsung meminta bantuan tetangga mereka yang untungnya belum berangkat. Biasanya kalau sudah jam 9 pagi, suasana perumahan sangat sepi. Terutama hari biasa. Mereka juga berbaik hati untuk segera mengantarkan Kirana ke rumah sakit sementara anak mereka yang masih SMA memilih untuk naik ojek online hari itu.
Mama Kirana meletakkan tas miliknya di atas lemari yang juga berfungsi sebagai meja di samping tempat tidur putrinya. Kirana mengisi satu kamar rawat inap.
Telapak tangan mamanya mendarat di kening Kirana untuk memeriksa apakah panasnya sudah turun. Sudah, tapi sayangnya masih panas. Putrinya sedang tidur setelah kelelahan menahan sakit di bagian perutnya. Diagnosa dokter adalah Maag. Kirana sudah memiliki riwayat penyakit ini karena sering kali meninggalkan sarapannya.
Kemarin, dia berbohong mengatakan dia sudah makan siang padahal belum. Malamnya Kirana menolak untuk makan malam karena merasa masih kenyang. Alhasil ba’da subuh, perih di perutnya mulai terasa namun Kirana menahannya.
Pukul 6 pagi, dia tak sanggup lagi menahan dan merintih. Mamanya yang ingin membangunkan Kirana untuk berangkat kuliah menemukannya sudah di lantai sambil memegang perutnya dan menangis.
Mama Kirana menghela nafasnya. Kejadian tadi pagi berhasil memberikan dia rasa panik dan shock yang begitu besar. Sejak bercerai dengan papa Kirana beberapa tahun yang lalu, mamanya tidak pernah menghadapi situasi seperti ini. Kondisi di rumah mereka baik - baik saja meski terkadang ada kesulitan finansial. Tetapi tidak begitu parah.
Biasanya di saat - saat seperti ini, sosok seorang papa dan suami di rumah menjadi tempat bergantung dan orang yang paling diandalkan. Kekosongan itu sangat terasa bagi mama Kirana saat ini.
**********
“Pagi semuanya.”, sapa Rian mengawali kelas pagi ini.
Pria itu masuk 5 menit terlambat dari biasanya. Sebelumnya dia selalu hadir 10 menit sebelum kelas dimulai. Para mahasiswa yang mengambil kelasnya sampai bertanya - tanya apakah kelasnya masih berlangsung karena pria itu tak muncul.
Awalnya mereka sudah senang sampai seseorang menghancurkan kesenangan mereka dengan memberikan kabar bahwa Pak Rian terlihat berjalan dari lorong menuju ruang kelas.
__ADS_1
“Ghe, Kirana mana?”, tanya Radit menyenggol Ghea.
Radit yang tadinya mengambil tempat di barian paling depan sengaja berpindah ke belakang karena ingin menanyakan itu. Biasanya Kirana dan Ghea itu satu paket untuk mata kuliah yang sama - sama mereka ambil. Tapi, sampai mepet waktu mulai kelas, Kirana tak terlihat juga.
Raka yang duduk di barisan nomor dua dari depan juga menoleh ke belakang melihat Ghea. Tumben tak ada Kirana disana, pikirnya.
“Gak tahu. Tadi gue wassap belum di balas.”, jawab Ghea.
Kirana tak mengatakan apa - apa padanya. Kemarin pagi mereka masih berbalas pesan. Tapi setelahnya, Ghea terlalu sibuk dengan ponselnya. Dia sibuk checkout barang yang ingin dia beli di promo online bulan ini.
Tak lama setelah itu, Raka juga melontarkan pertanyaan yang sama. Bedanya, pria itu tidak mengeluarkan suara dan hanya menggunakan kode - kode saja.
‘Kirana mana?’, begitu seolah - olah pertanyaan darinya.
Ghea hanya mengangkat bahunya.
“Ehem - ehem.. Sorry saya telat. Kita mulai kelasnya sekarang.”, Rian berhasil membuat semua mahasiswa yang tadi masih sibuk dengan urusan mereka masing - masing kembali fokus padanya.
Pria itu juga ikut melakukan screening ke seluruh bangku di kelasnya. Dia juga menyadari tak ada Kirana di kelasnya. Tapi, dia masih bersikap sewajarnya meski dalam hati dia sedang bertanya - tanya. Kirana kemana?
Pria itu memang terlihat membawa sebuah map saat masuk ke ruangan kelas. Padahal biasanya dia hanya membawa ponselnya saja. Ternyata dia membawa hasil kertas UTS mahasiswa.
“Sonia.”
“Tri Darmawan”
“Hendra”
“Rey”
“Mulan”
“Wulan”
__ADS_1
“Gilbert”
“Radit.”
“Kirana.”
Semua nama yang dia panggil sebelum Kirana berjalan ke depan untuk mengambil kertas UTS mereka. Saat nama Kirana dipanggil, tak ada yang maju. Meskipun Rian sudah menyadari sebelumnya, tetapi dia sengaja memanggil kembali seolah - olah dia tidak menyadari kalau Kirana tidak ada di ruangan kelas.
“Kirana?”
“Gak ada Kirana?”, tanya Rian.
“Lagi gak masuk, Pak.”, jawab Ghea kemudian.
“Kemana?”, tanya Rian lagi.
“Gak tahu, Pak.”, jawab Ghea.
“Ada yang tahu Kirana kemana?”, tanya Rian lagi yang dia arahkan pada semua mahasiswa di kelasnya.
Ya, Rian sengaja memanggil nama Kirana seolah - olah dia tak menyadari keberadaannya agar dirinya bisa bertanya.
Tidak ada yang menjawab. Sebagian menggeleng.
“Kalau ada yang ketemu. Tolong suruh datang ke ruangan saya untuk mengambil lembar jawabannya.”, ucap Rian kemudian.
***********
“Halo Tante.. Maaf ya Tante. Kirana gak balas - balas. Jadi Ghea telpon tante. Kirana ga masuk kampus, kenapa ya tan?”, tanya Ghea yang memutuskan untuk menghubungi ponsel mama Kirana setelah kelas selesai.
“Oh.. sakit.. Hah? Sampai masuk rumah sakit, tan? Di rumah sakit apa tan? Biar Ghea kesana. Oh.. Rumah Sakit Cempaka yang paling deket dengan perumahan ya Tan? Oke - oke tan. Nanti kalo boleh setelah kelas Ghea selesai, Ghea kesana ya Tan?”, ucap Ghea.
“Oh.. gitu tan.. Oke kalo gitu besok aja Ghea kesana. Parah ga tan? Maaf ya Tan, Ghea banyak tanya. Oh oke.. Makasih tante.. Semoga cepet sembuh ya Tan, Kirana.”, balas Ghea mengakhiri sambungan telepon.
__ADS_1
Mama Kirana menyarankan untuk tidak menjenguknya hari ini karena dia masih full istirahat. Tanpa dia sadari seseorang menguping pembicaraan Ghea di telepon.