
“Katanya kamu cuma pacaran pura - pura? Masih jalan?”, tanya Rian tiba - tiba begitu mereka sedang menaiki tangga.
Kebetulan ini adalah jam makan siang. Sehingga tidak banyak orang yang lalu lalang di tangga menuju lantai dua. Mayoritas lantai 2 gedung ini diisi oleh dosen dan mereka biasanya sudah pergi ke kantin atau memilih untuk makan di meja mereka.
“Terserah aku dong. Kenapa tiba - tiba kepo?”, jawab Kirana penuh percaya diri.
Dalam hati dia berkata, ‘apakah akhirnya rencanaku berhasil. Kalo iya, lumayan juga trik Raka. Akhirnya lama - lama bisa menarik pria lemot seperti ini. Apa itu artinya Kak Rian memang suka padaku?’
Kirana terus tenggelam dalam pikirannya sampai - sampai tidak menyadari langkah kakinya sudah tidak sesuai dengan anak tangga. Kaki Kirana tak mencapai anak tangga berikutnya. Sikap lengahnya membuat dirinya harus tersandung anak tangga dan oleh hingga tanpa sengaja menjatuhkan semua kertas - kertas jawaban itu.
Semua kertas yang sekarang ada di tangannya mendarat sebagian di tangga dan juga di lantai bawah.
“Kamu gapapa?”, tanya Rian langsung memastikan keadaan Kirana sambil memegang lengannya.
“Gapapa.”, jawab Kirana.
Awalnya Kirana menjawab sewajarnya. Namun, begitu sadar kalau tangannya ternyata dipegang oleh Rian, Kirana jadi gugup dan salting sendiri.
“Oh.. tapi kertasnya…”, ucap Kirana yang menyadari kertas - kertas itu tak ada di tangannya.
“Baguslah kalau kamu gapapa. Kumpulkan kertasnya dan segera bawa ke ruangan saya.”, ucap Rian melepaskan tangan Kirana dan lanjut melangkah ke lantai atas.
“Ha??”, Kirana langsung mengalami mental breakdown karena respon Rian yang dinilai seperti roller coaster.
Tiba - tiba baik kemudian berubah drastis menjadi dingin begitu saja.
‘Apa - apaan dia?’, ucap Kirana yang emosinya langsung naik sampai ke ubun - ubun karena kesal.
Sedangkan pria itu, dia sudah terlihat mendarat di lantai dua dengan selamat.
‘Hah…’, sebaliknya, Kirana harus mengutip satu per satu lembar jawaban yang berjatuhan.
“Ini, Pak. Kalau tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya permisi.”, ucap Kirana menggunakan bahasa formal layaknya antara dosen dan mahasiswa pada Rian.
“Thanks.”, jawab Rian dengan santai.
Kirana berbalik dengan ekspresi kesal. Baru beberapa langkah, dia kembali menghadap ke arah Rian.
“Kenapa?”, tanya Rian pada Kirana.
Kirana sudah siap membuka mulutnya untuk memanas - manasi Rian tentang Raka. Namun, dia mengurungkan niatnya. Alhasil Kirana hanya menghela nafas.
“Sepertinya saya sudah berhasil move on dari Kak Rian. Saya kira Kak Rian perlu tahu.”, kata Kirana kemudian berlalu dari ruangan itu dengan langkah penuh percaya diri.
************
__ADS_1
“Tumben lo yang ngajak duluan? Kemaren - kemaren gue ajak lo bilangnya gue kena durian jatoh lah, anehlah, kenapa? Things doesn’t work with Rian?”, tanya Raka sambil memainkan bola bilyardnya.
“Syutt.. Udah. Fokus aja ngajarin gue. Abis ini gue traktir makan.”, balas Kirana meletakkan tongkat bilyar dengan posisi berdiri atas meja.
Pose yang dia buat sekarang persis seperti pemain yang sudah professional. Sayangnya, begitu Kirana mulai memukulkan tongkat itu pada bola, tak ada satupun bidikannya yang kena. Padahal di depan, banyak sekali bola lawan yang bisa menjadi sasaran empuknya.
“Kamu terlalu terburu - buru. Ingat, bidik dulu. Tarik nafas sebelum memukul. Jangan tremor. Tatapan kamu harus lurus dan tajam. Satu tarikan nafas, baru coba pukul.”, Raka mendekati Kirana dan kembali mengajarkannya untuk memukul bola.
Raka sengaja berdiri di belakang Kirana untuk memperagakan bagaimana seharusnya gadis itu memukul bola.
“Ini. Gue taruh disini lagi bolanya. Coba…”, Raka mengambil bola milik Kirana yang tadinya sudah jatuh ke dalam lubang.
Pria itu membantu Kirana untuk memukul sesuai dengan instruksi yang tadi dia berikan.
“Ehem…”, Kirana berusaha menyegarkan tenggorokannya.
Kirana sedikit risih dengan sikap Raka yang mendekat padanya. Raka tersenyum tipis di belakang Kirana tanpa sepengetahuannya. Plak. Bola yang tadi diletakkan kembali berhasil mengenai beberapa bola di depannya dengan sempurna.
Kirana berbalik melihat ke arah Raka.
“Jago juga lo.”, puji Kirana.
“Baru tahu?”, tanya nya.
Tanpa mereka sadari, terdapat beberapa orang mahasiswa dari fakultas lain sedang mengambil foto mereka diam - diam. Foto tersebut kemudian langsung dikirimkan ke nomor seseorang.
************
Kirana sedang menemui kakak kelas, salah seorang anggota BEM universitas yang dikenalnya disana.
Fay. Ternyata gadis yang melabrak Kirana barusan adalah Fay, sahabat Raka sejak kecil sekaligus mantan pacar Radit. Fay menerima kiriman foto - foto kemarin dari teman satu fakultasnya.
Mereka mengira Fay sekarang sedang berpacaran dengan Raka dari Fakultas Teknik karena mereka sering terlihat berdua beberapa pekan belakangan. Terlebih, Raka juga sering menghampiri Fay di fakultasnya untuk menuju klub. Raka sering menumpangi mobil perempuan itu dan minta diturunkan di beberapa kub langganannya.
“Sorry? Lo gak tahu gue pacarnya Raka?”, Kirana merasa kesal dengan sikap semena - mena Fay yang merasa semuanya bisa dia kontrol dan miliki.
Mungkin ini pertama kali Kirana mengatakan bahwa dia adalah pacarnya Raka selain pada Rian. Dia ingin perempuan yang sedang melabraknya ini semakin panas.
“Hah? Ke-PD-an banget lo.”, ucap Fay.
“Kalo ga percaya, lo telepon aja Raka. Ato mau gue telponin? Justru yang kegatelan itu elo. Udah ga bisa memperbaiki hubungan dengan Radit, sekarang mau halu sama Raka?”, tanya Kirana dengan nada menyindir.
“Hai Ran, kenapa nih?”, tanya senior yang Kirana tunggu sedari tadi.
Melihat ada interaksi kurang bersahabat antara keduanya, membuat senior itu penasaran.
__ADS_1
“Ga tahu Kak. Salah alamat kayanya.”, jawab Kirana kemudian hendak pergi dari sana.
“Apa lo bilang?”, Fay tidak tahan lagi dengan sikap Kirana yang seolah menantangnya.
Hampir tidak ada mahasiswa sepantaran yang berani dengan Fay. Kirana sudah membuatnya kesal tetapi juga tidak terlihat merasa bersalah sama sekali.
“Aw…”, Kirana meringis karena rambut yang dia kuncir kuda ditarik oleh Fay begitu saja.
“Eh, eh, eh, apa - apaan nih?”, ucap senior yang tadi sudah berjalan beriringan dengan Kirana.
Karena dia adalah senior, Fay tidak enak dan akhirnya melepaskan tarikannya pada Kirana. Lagipula, meski hanya sebentar, Fay sudah merasa puas telah menarik rambut Kirana.
“Eh.. mau kemana lo?”, teriak Kirana saat Fay meninggalkannya begitu saja setelah menarik rambutnya.
“Lo gapapa, Ran?”, tanya senior itu.
“Orang gila. Bisa - bisanya narik rambut orang sembarangan.”, celetuk Kirana kesal.
*************
“Hahahahahaha…”, tawa Raka menggema di parkiran.
“Idih.. kok ketawa? Heh.. temen lo yang stress itu udah narik rambut gue. Seharusnya dia ganti rugi setiap helai rambut gue yang rontok. Malah kabur gitu aja.”, ucap Kirana marah - marah.
Bukannya menenangkan, Raka malah tergelak puas di samping motor miliknya. Ya, ini pertama kalinya Raka membawa motornya ke kampus. Biasanya dia nebeng, naik taksi, atau menggunakan transportasi umum.
Kirana memukul bahu Raka karena kesal. Meskipun pembicaraan yang mereka lakukan serius dan Kirana terdengar marah, tetapi interaksi keduanya terlihat akrab. Terutama untuk mereka yang melihatnya dari kejauhan.
Seperti yang dilakukan Rian saat ini. Dirinya sedang berdiri di depan jendela ruangan Dekan. Rian sedang menunggu sang Dekan kembali untuk menandatangani beberapa surat persetujuan terkait kegiatan dan pengeluaran yang akan dia lakukan bersama dengan para anggota klub penelitian Fisika.
Bosan menunggu, Rian iseng mencoba melihat suasana di luar melalui jendela. Dari area jendela Dekan, Rian bisa melihat area parkiran mahasiswa terutama parkiran motor. Disitulah dia melihat Kirana dan Raka.
Dari posisinya, Rian tentu saja tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh keduanya. Dia hanya bisa melihat interaksi mereka. Tak terlihat rasa cemburu dari tatapan Rian, namun matanya penuh selidik pada keduanya.
Kirana secara random tiba - tiba melihat ke arah kaca jendela ruangan Dekan. Biasanya orang yang sedang dilihat secara intens oleh orang lain entah kenapa memiliki feeling dan menoleh ke arah orang tersebut. Hal itulah yang sedang dilakukan Kirana saat ini. Entah kenapa dia ingin menolehkan kepalanya ke arah jendela ruangan Dekan yang ada di lantai dua gedung di belakang mereka.
Melihat Kirana tiba - tiba menoleh, Rian kaget dan langsung menunduk menyembunyikan diri. Padahal, jendela itu berwarna hitam dan tidak akan terlihat dari luar.
“Aish… untuk apa aku bersembunyi. Jendela ini kan ga keliatan dari luar. Bodoh sekali. Lagipula kalopun terlihat, ngapain aku sembunyi?”, Rian merutuki dirinya sendiri.
“Rian? Sedang apa kamu disitu? Ada yang jatuh?”, seolah timing yang pas atau memang sedang tidak bersahabat dengan Rian, Dekan tiba - tiba datang.
Tidak sendiri, sang Dekan datang bersama dengan dua orang dosen lainnya. Mungkin mereka juga ada keperluan yang harus didiskusikan. Kedua dosen itu adalah dosen kondang yang juga dihormati oleh Rian. Dengan rasa malu, Rian segera berdiri.
“Hahaha.. Enggak Pak. Tadi seperti lihat ada kecoa disana.”, ucap Rian yang lagi - lagi mengutuk dirinya karena tidak bisa mengambil alasan yang pas.
__ADS_1
“Kecoa? Ngaco kamu. Gak mungkin ada kecoa di ruangan saya.”, ucap sang Dekan yang sudah menaruh tatapan penuh selidik dan khawatir kalau - kalau memang ada kecoa di ruangannya.
“Haha.. i-iya Pak. Mungkin saya salah lihat. Makanya tadi saya mau memastikan. Ternyata memang gak ada, Pak.”, jawab Rian.