
Semua mahasiswa di dalam kelas masih terkesima dengan soal UTS yang sekarang terpampang di depan layar proyektor. Beberapa mahasiswa sesekali melihat ke arah Rian yang duduk tenang di kursinya. Mereka masih tidak percaya seorang Rian yang sudah mengajar mereka kurang lebih selama dua bulan ini memberikan soal dengan angka.
Padahal, setiap kali mereka kuis, mereka tidak pernah mendapatkan soal yang ada angkanya sama sekali. Mereka juga sudah mendengar dari para mahasiswa tingkat atas yang biasa diajar oleh Rian untuk mata kuliah Fisika tingkat selanjutnya, Rian tidak pernah memberikan soal - soal UTS maupun UAS yang melibatkan angka.
Pria itu pasti akan selalu bermain dengan logika. Sehingga soal - soalnya lebih kurang akan menghasilkan rumus - rumus lagi. Memang masih lebih umum dibandingkan dengan mereka yang kuliah di Jurusan Fisika, tapi tetap saja. Angka lebih mudah untuk dibayangkan dibandingkan dengan hanya sekedar huruf saja.
Para mahasiswa mengerjakannya dengan sangat telaten meski waktu yang diberikan sangat sedikit. Rian juga hanya memberikan satu soal. Namun, satu soal itu bisa bercabang hingga menghasilkan beberapa poin.
Mahasiswa lainnya yang sudah menyerah lebih dulu dan memilih tidak belajar sekarang merasa menyesal. Mereka tidak menyangka Rian akan memberikan soal dengan angka. Mereka sekarang sedang meraba - raba rumus yang seharusnya bisa mereka turunkan. Akhirnya, tak sedikit yang mengarang indah.
Ghea, gadis itu yang belajar sungguh - sungguh demi sebuah tiket konser tengah tersenyum sekarang sambil mengerjakan soal. Raka, soal seperti ini bagai remah - remah roti untuknya.
Kirana, mirip dengan mahasiswa lainnya yang masih kaget dengan soal yang ada di depan juga mengerjakannya dengan bahagia. Dia merasa bisa mengerjakan soal ini. Masalahnya hanyalah satu. Waktunya tidak cukup.
‘Kenapa dia memberikan waktu yang banyak untuk soal yang sulit dan tidak bisa dipecahkan sama sekali dan malah memberi waktu sedikit untuk soal seperti ini?’, keluh Kirana dalam hati.
Sambil mengerjakan soal, Kirana tanpa sengaja melihat Rian dan memandangnya. Pria itu sedang melihat keluar jendela. Kelas ini berada di lantai 2. Jika melihat keluar jendela, mereka bisa melihat bagian atas pepohonan - pepohonan yang rindang di sekitar kampus.
Berhubung hari ini masih pagi, jika beruntung, mereka mungkin bisa melihat burung - burung berterbangan. Sayangnya, suara mereka sesekali terdengar saling menyahut satu sama lain.
‘Eh?’, Kirana tak sadar jika dia menatap Rian terlalu lama.
Pria itu menyadarinya dan menoleh. Biasanya orang yang ditatap lama entah mengapa bisa menyadari kalau mereka sedang ditatap meski tak tahu siapa. Lalu gerak refleks mereka akan menatap balik ke arah yang sama seperti ada insting yang muncul disana.
Saat itulah mata Rian dan Kirana bersitatap. Setidaknya untuk beberapa detik sebelum Kirana menyadari dan merasa salah tingkah lalu kembali fokus pada lembar ujiannya.
“Konsentrasi. Waktu tinggal 10 menit lagi.”, ucap Rian sebagai balasan dari tatap Kirana barusan. Namun dia membuatnya terdengar seolah - olah ucapan itu untuk semua mahasiswa yang ada disana.
Raka, pria itu sudah menyelesaikan ujiannya. Dia menyadari interaksi Rian dan Kirana. Wajahnya menatap Rian sebentar mencari tahu di balik ekspresi wajah itu.
*************
“Gimana, Ran? Kamu bisa jawab semua?”, tanya Radit menghampiri Kirana dan Ghea begitu mereka bisa keluar ruangan.
Mayoritas mahasiswa disana hanya memiliki satu tujuan, Kantin. Mereka sudah lelah berhitung, lelah menulis, dan lelah berpikir. Satu - satunya yang bisa mengobati rasa lelah itu adalah makanan - makanan yang baru saja masak di kantin kampus.
“Tentu aja. Gila, ada apa tuh dosen? Kenapa tumben kasih soal begitu? Gue aja ampe merinding.”, bukannya Kirana, malah Ghea yang menjawab pertanyaan itu.
Radit tak masalah. Dia akhirnya menimpali omongan Ghea dengan senyuman.
__ADS_1
“Hm.. gue ampe kaget. Mungkin karena kita masih semester bawah. Doi kan ga pernah ngajar mahasiswa tingkat pertama atau kedua. Dia selalu ngajar mata kuliah tingkat akhir. Lagi pula, mungkin aja rumor yang kita dengar belakangan memang dari Fakultas Fisika.”, timpal Radit.
Kirana masih tak bersuara. Tetapi, dia mengamati interaksi kedua temannya.
“Ran, tumben Raka gak nyamperin lo. Kalian baik - baik aja?”, tanya Ghea tanpa merasa bersalah.
Kirana langsung menatap Ghea dengan tatapan tajam. Ada Radit disana, bagaimana dia bisa bertanya seolah - olah tak ada apa - apa.
‘Ngapain lo nanya itu?’, tatapan Kirana seolah melayangkan pertanyaan tersebut.
‘Ya.. kan gue gak bilang Raka bukan pacar pura - pura lo. Udah putus?’, keduanya saling bersitatap namun sebenarnya seperti sedang bercakap - cakap rahasia.
Terlihat sedikit perubahan di ekspresi Radit, tapi dia terus berjalan mengiringi mereka.
“Gak tahu. Udah ah, yuk makan.”, jawab Kirana.
“Hai Radit, lo…”, seseorang dari arah berlawanan menghentikan langkah Radit. Kirana dan Ghea tidak begitu mengenalnya. Mereka tahu, tapi tidak terlalu dekat saja karena beda jurusan.
Sementara Radit, berhubung dia Ketua BEM alias mantan Ketua BEM, tak diragukan lagi kalau dia mengetahui hampir semua orang.
“Hei.. apa kabar lo. Ran, duluan aja. Tapi take-in buat gue ya.”, ucap Radit kemudian.
“Lo kaya gak tahu dia aja.”, balas Kirana.
“Jadi, lo putus sama Raka dan mau lanjut sama Radit nih ceritanya?”, tanya Ghea dengan nada antusias.
Mereka sudah melangkah jauh dari tempat Radit. Ghea seperti sudah merasa aman dan bebas mengatakan apapun. Kirana hanya bisa menatap tajam ke arah temannya.
“Ah maaf - maaf.”, jawab Ghea yang tanpa sengaja menabrak seseorang di lorong. Gadis itu sangat bersemangat sambil berjalan mundur dan akhirnya menabrak seorang wanita.
“Iya.. gapapa. Lain kali jalannya jangan seperti itu.”, ucap wanita itu dengan nada dingin.
“Iya..”, Ghea bingung ingin memanggilnya apa.
Dari perawakannya, sudah pasti wanita itu bukan mahasiswa. Tapi, dia juga terlalu muda untuk dikatakan sebagai dosen. Kirana dan Ghea juga tidak pernah merasa melihat wanita itu.
Yang lebih aneh adalah, wanita itu menatap Kirana jauh lebih lama padahal seharusnya wanita itu menatap Ghea. Yang menabrak dirinya adalah Ghea bukan Kirana. Dia seperti sedang melakukan scanning pada Kirana sampai - sampai Kirana merasa risih.
‘Ngapain tu orang liatin gue?’, tanya Kirana dalam hati.
__ADS_1
‘Perasaan gak kenal.’, lanjut Kirana.
Tak hanya Kirana, Ghea juga merasa aneh karena dia hanya menanggapi Ghea sekenanya.
Tak lama, wanita itu pergi dan melanjutkan langkahnya.
“Lo kenal?”, tanya Ghea segera setelah wanita itu tak lagi berada di sekitar mereka.
Kirana menggeleng.
Ponsel Kirana berbunyi tanda pesan masuk.
-Bisa bicara sebentar?- Raka
‘?’, Kirana hanya bisa bingung membaca pesan dari Raka.
“Siapa?”, tanya Ghea.
“Raka.”, jawab Kirana.
“Oh? Ngapain dia?”, tanya Ghea lebih antusias lagi dibandingkan saat membicarakan Radit.
“Gak tahu. Udah ah makan. Gue laper. Gue sampe takut sarapan karena khawatir mules di kelas. Lo tahu kan perut gue pencernaannya kelewat bagus. Lo pesen apa?”, tanya Kirana.
“Eh.. ambil kursi yang itu aja. Bukannya Radit juga mau join?”, ucap Ghea memilih tempat yang lebih luas.
“Ah iya.. Gue lupa. Agak aneh gak sih, Radit tiba - tiba akrab begitu?”, tanya Kirana.
“Aneh gimana? Emang dia orangnya begitu, kan. Lo takut banget dia suka sama lo. Idih pede banget.”, kata Ghea berniat menjahili Kirana.
“Engga.. Cuma kan, biasanya dia gak sampe yang ngehampirin untuk ngajak makan bareng.”, kata Kirana.
“Mungkin karena kita keluarnya bareng. Radit kan emang supel sama siapa aja.”, kata Ghea masih akting.
“Hm.. iya.. Apa gue aja yang kepedean, ya.”, pikir Kirana.
Sontak Ghea langsung tertawa lepas karena Kirana masuk dalam perangkapnya.
“Napa lo? Sakit?”, ucap Kirana kesal.
__ADS_1
“Ternyata lo tu gampang banget di jahilin, ya. Yaa.. kali aja si Radit masih usaha. Mau pesan apa?”, tanya Ghea.