
Jam terus berdetak dan melewati angka 12. Sudah pagi dini hari dan Rian masih berada di dalam ruangannya. Pria itu sudah mengoreksi hampir setengah dari tumpukan lembar jawaban yang dikeluarkan tadi.
Tidak seperti lembar jawaban pertanyaan dengan pilihan jawaban, Rian harus memberikan waktu ekstra untuk bisa memeriksa lembar jawaban essay. Alasannya, setiap langkah menuju jawaban perlu diberikan skor.
Meski pada akhirnya mungkin jawabannya berbeda, tetapi ada logika berpikir disana. Ditambah lagi, Fisika bukan seperti mata kuliah lainnya dimana rumus dan formulasi jelas. Terdapat banyak kondisi di dalam pengerjaan soal Fisika.
Oleh karena itu, memberikan Ujian Tengah Semester dengan jenis soal essay akan memberikan kemudahan bagi dosen mengetahui kemampuan mahasiswa ketimbang memberikan soal dengan pilihan jawaban. Sebagai konsekuensinya, waktu yang harus dikeluarkan harus lebih banyak karena harus bisa mengerti jalan pikiran mahasiswa saat mengerjakan soal.
Mereka bisa saja benar hingga langkah ketiga, namun mengambil langkah yang salah pada tahap berikutnya.
Rian, pria itu tanpa sengaja melihat jam di hadapannya. Sebuah jam digital pemberian salah satu mahasiswa tingkat akhir yang dibimbingnya semester lalu.
‘Oh.. aku sampai tidak sadar sudah lewat jam 12. Bahkan sudah mau dini hari. Besok masih hari minggu. Sebaiknya aku pulang sekarang.’, ujar Rian merapikan kembali semua lembar jawaban dan memasukkannya ke dalam laci.
Rian segera mengambil tas dan ponselnya. Baru saja dia akan berdiri dari kursinya, ponsel miliknya berbunyi.
‘Kirana?’
Nama yang seharian ini terus muncul di kepalanya sekarang muncul di layar ponselnya. Jam segini, untuk apa gadis itu menghubunginya? Begitulah kira - kira yang ada di benak Rian. Namun, pria itu tak membutuhkan waktu lama untuk memutuskan mengangkat panggilan telepon di ponsel nya.
“Halo, kak Rian.. Kak Rian dimana? Kak tolongin.”, suara tangis sudah pecah di seberang sana.
Tentu saja Rian terkejut, panik, dan khawatir. Ada apa? Dia tidak berekspektasi suara pertama yang keluar dari Kirana yang menghubunginya di jam segini adalah suara tangis gadis itu.
Pikirannya langsung melayang kemana - mana dan itu tentu saja membuatnya bertambah khawatir. Tapi Rian berusaha untuk tetap tenang.
“Kak, aku kekunci di toilet kampus. Kak….”, setidaknya itu suara terakhir yang Rian dengar dari Kirana.
Tut tut tut tut
Sambungan ponsel mereka terputus.
“Ah… tidak.. Kenapa mati.. Kenapa disaat seperti ini ponselnya malah mati.”, ucap Kirana disela - sela tangisnya.
Tubuhnya sudah menempel pada pintu toilet sekarang. Dia benar - benar tidak bisa menghindarkan pandangannya dari bilik - bilik toilet yang semakin lama semakin terlihat menyeramkan seiring dengan semakin liarnya imaginasi Kirana.
Entah sudah berapa bayang - bayang film horor yang dia tonton muncul di kepalanya.
‘Tenang Ran, tenang… Gimana bisa tenang kalo misalnya lo parno.. Mana bisa disini sampai pagi… untuk 10 menit kedepan aja rasanya gue ga sanggup.’, kata Kirana dalam hatinya.
Sementara itu di seberang saja.
“Halo… haloo Ran? Toilet kampus? Ngapain dia.”, kata Rian langsung mengambil tasnya secepat mungkin dan berlari ke bawah. Hah.. kenapa pake putus lagi.”, ucap Rian kembali mencoba menghubungi Kirana.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.”
Setidaknya respon itu yang dia terima bahkan sampai lebih 5 kali dirinya menghubungi Kirana.
“Hah… setidaknya bilang di gedung yang mana, Ran…”, ucap Rian frustasi.
Rian memulai pencariannya ke semua toilet yang ada di gedung tempat dia sekarang berada. Semuanya terbuka dan tidak ada Kirana di dalamnya.
“Hah… apa boleh buat.”, ucap Rian langsung berlari ke arah satpam di masing - masing gedung.
Dia tak punya pilihan selain meminta bantuan para satpam yang stand by di masing - masing gedung. Berhubung ini adalah hari Sabtu dan sudah malam. Untuk dua gedung, hanya ada satu satpam saja yang berjaga.
Mereka juga hanya berjaga di depan. Untuk mempermudah proses penjagaan, biasanya mereka akan mengunci penuh satu gedung dan mayoritas ruangan di gedung lainnya, lalu hanya membuka akses bagian pintu depan untuk mereka berjaga.
Bahkan untuk satpam yang mungkin sudah selesai dengan patrolinya, dia juga kadang mengunci seluruhnya dan berkumpul dengan satpam lainnya untuk mengusir kantuk mereka.
“Kok bisa ada yang kekunci, Pak? Pak Rian yakin? Bukannya tadi sudah pada pulang semua. Pengunjung acara sudah pada bubar dari jam setengah 11, Pak. Lalu, panitia juga sudah meninggalkan parkiran jam setengah 12-an. Sudah tidak ada orang lagi di kampus.”, ujar salah seorang satpam yang membantu memeriksa semua toilet yang ada di gedung.
Dalam pencarian, mereka mengeliminasi toilet - toilet di lantai atas dan hanya memeriksa di lantai paling bawah saja. Tidak mungkin Kirana bisa masuk ke toilet atas.
Bahkan Rian masih tidak habis pikir kenapa gadis itu bisa terkunci di dalam toilet di jam seperti ini. Kenapa dia belum pulang. Kalau dari suaranya, sepertinya dia hanya sendirian.
Mereka semua sudah melakukan pencarian ke semua kemungkinan toilet, tapi tidak menemukannya.
__ADS_1
“Gak ada toilet lagi selain yang ini, Pak?”, tanya Rian memastikan.
“Wah… ga ada Pak. Cuma yang sudah diperiksa saja kalau di lantai satu. Toilet aula tidak pernah saya kunci. Paling hanya ruang serbagunanya saja. Bapak sudah lihat tadi tidak ada orang sama sekali.”, ucap salah seorang satpam menjelaskan.
Sementara satpam yang lain turun mengiyakan tanda setuju.
“Bapak yakin itu telepon asli, Pak. Karena…”, salah seorang satpam yang tergolong baru mulai mengait - ngaitkan dengan hal mistis. Dia bahkan mulai melihat kiri dan kanan karena selain mereka, tidak ada orang lain lagi di kampus.
Rian bahkan tak ingin menjawab atau membalas pernyataan satpam tersebut.
“Memangnya siapa Pak mahasiswa yang terkunci? Saya benar - benar sudah cek loh, Pak.”, ucap satpam - satpam itu.
“Kirana, mahasiswa tingkat dua.”, balas Rian.
“Oh.. Mba Kirana? Yang jadi ketua acara tadi ya Pak?”, dua orang satpam yang sepertinya mengenal Kirana berbicara.
“Soalnya yang bertugas tadi itu Pak Agus, Satpam kampus. Saya baru datang itu sore menjelang malam Pak untuk menggantikan karena Pak Agus, anaknya sakit dan harus segera pulang.”, jelas salah seorang satpam yang bertugas saat ini di gedung yang mayoritas diisi oleh dosen.
“Sudah terlalu malam untuk menelepon. Anaknya juga sakit.”, kata Rian mempertimbangkan.
“Gapapa Pak, saya telepon aja. Belum lama ini saya juga telponan. Katanya anaknya tidak apa - apa. Baru saja kami teleponan bahas game. Sebentar saya telepon dulu ya Pak.”, ujar satpam itu.
“Haloo.. Pak Agus… Iya Pak.. ini saya. ..”, setelah menyapa sebentar, satpam itu menyetel ponselnya dalam mode loudspeaker.
“Wah.. saya hanya kunci gedung yang dekat parkiran, Pak. Saya tidak kunci toilet mahasiswa. Tapi hanya toilet dosen saja karena kan atas permintaan dosen juga.”, jelas Pak Satpam.
“Ada berapa Pak toilet dosen yang di lantai 1?”, tanya Rian segera mencurigai toilet dosen di lantai 1.
Jika Kirana ada di lantai 2, dia sudah pasti menyadarinya karena sedari tadi dia di dalam ruangan dan tidak ada siapa - siapa. Bahkan suara air di lantai 2 pun pasti bisa dengan mudah terdengar karena sangat hening di malam hari.
“Ada dua Pak. Satu toilet sekitar area lab dan satu lagi di area terbuka. Toilet pria dan wanita disana.”
Mendengar jawaban tersebut, Rian langsung bergegas. Satpam yang lain mengikuti.
“Kuncinya?”, tanya Rian.
“Ada Pak. Saya bawa.”, ujar satpam itu memperlihatkan sebonggolan kunci yang dia pegang di dalam kantongnya.
“Kak Rian……”, terdengar suara tangisan Kirana dari dalam.
“Kamu di depan pintu? Minggir dulu, pintunya mau dibuka.”, ucap Rian menjelaskan.
Model pintu toilet adalah terbuka dengan ditarik ke dalam. Berhubung kampus ini sudah lumayan lama berdiri, tak satu dua toilet yang memerlukan teknik khusus saat dibuka karena sudah ada yang rusak.
Termasuk toilet yang satu ini. Satpam harus menggeser pintu sedikit ke dalam dulu, baru kunci pintu bisa terbuka. Saat ini, karena takut, Kirana bersandar di pintu toilet dan menekannya sehingga pintu menempel rapat ke bagian engsel.
“Ran.. geser sedikit dulu.. Biar pintunya bisa dibuka.”, kata Rian mencoba menjelaskan.
“Ga mau… “, antara takut dan panik, Kirana benar - benar gemetaran dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Dia hanya ingin segera keluar dari dalam toilet ini. Dia sudah menahan rasa takutnya lama dari yang dia perkirakan. Saat ini dia tidak bisa berpikir. Mendengar suara Rian, dia ingin sekali segera keluar tapi kepalanya tidak bisa berpikir dan mencerna kata - kata Rian sama sekali.
“Mba, pintunya harus didorong dulu sedikit. Mba nya mundur dulu.”, kata satpam menjelaskan karena dia masih kesulitan untuk membuka kuncinya karena engsel tidak bisa bergerak.
Rian mengisyaratkan pada satpam untuk menunggu sebentar dengan gerakan tangannya.
“Kirana, saya lagi sama satpam di depan pintu. Kamu, mundur sedikit, ya. Sebentar saja, dan satpam langsung buka pintunya. Kamu bisa langsung keluar. Tarik nafas dan mundur sebentar. Kalau kamu takut, kamu bisa berdoa.”, ucap Rian mencoba menenangkan.
Mendengar kata - kata Rian, Kirana mencoba untuk mengikuti sarannya.
“Udah…”, ucap Kirana dengan suara yang memang terdengar sangat ketakutan tapi tetap berusaha tenang.
“Oke…”, ucap satpam tersebut langsung memasukkan ulang kuncinya.
Terdengar suara putaran kunci sebanyak dua kali dan pintu akhirnya berhasil di buka. Kirana langsung berbalik tetapi masih dengan posisi terduduk. Rian, pria itu langsung tampak berada di depan pintu.
Tangis Kirana tak terbendung dan langsung berdiri memeluk pria itu. Cepat, semua berlangsung sangat cepat sampai Rian juga terkejut.
__ADS_1
Satpam langsung saling melirik karena mereka pun tampaknya kaget. Ada juga yang tersenyum karena menganggap ini kejadian lucu. Rekannya langsung menendang satpam yang tertawa untuk tetap menahan tawanya. Setidaknya untuk sekarang.
Rian sedikit bingung bagaimana harus bersikap karena Kirana tiba - tiba memeluknya. Dia juga tidak bisa merenggangkan pelukannya karena Kirana tampak gemetar dan ketakutan meski mereka sudah ada disana. Alhasil, Rian harus menahan situasi canggung itu untuk beberapa saat sampai Kirana benar - benar tenang.
***********
Di mobil, Kirana masih sesegukan karena sisa - sisa tangis histerisnya tadi masih terasa. Matanya sembab karena tangisnya tak berhenti. Dia benar - benar merasakan momen paling menakutkan dalam hidupnya tadi. Sampai kapanpun, Kirana tak lagi mau menonton film horor. Dia berjanji.
Disampingnya, Rian masih diam menunggu Kirana tenang. Mereka sudah keluar dari kawasan kampus dan sedang berada di depan sebuah minimarket 24 jam. Kirana sudah meneguk setengah botol minuman air mineral dan sedang berusaha mengatur nafasnya.
“Sudah tenang?”, tanya Rian akhirnya setelah 15 menit berlalu dengan keheningan.
“Hn.”, jawab Kirana singkat.
Rasa takutnya perlahan - lahan sudah hilang dan berganti dengan rasa malu yang teramat besar. Sedikit saja Kirana memikirkan momen tadi, dia ingin menenggelamkan dirinya segera ke samudera luas dan menghilang sekarang juga.
Seorang Kirana yang keras bisa - bisanya menangis seperti anak kecil bahkan di depan para satpam.
‘Fix, semua satpam pasti jadi kenal gue. Tamat sudah.’, ucap Kirana dalam hati.
“Aku antar kamu pulang ke rumah.”, kata Rian tak berapa lama setelahnya.
“Bisa gak kerumah, gak?”, ucap Kirana pelan.
Rian tentu saja menoleh heran pada Kirana.
“Nyokap kamu pasti khawatir kamu belum pulang. Ponsel kamu juga abis batre, kan?”, tanya Rian sambil masih menoleh ke arahnya untuk menunggu jawaban.
“Aku udah bilang mama kalo aku mungkin aja nginep di rumah Ghea atau siapa malam ini karena closing acaranya pasti malam banget.”, ucap Kirana.
“Dan? Kenapa kamu bukannya berakhir di rumah teman kamu dan malah di dalam toilet dosen?”, tanya Rian yang hingga kini masih bingung kenapa gadis itu bisa disana.
Kirana menolak untuk menjawabnya.
“Ran?”, tanya Rian lagi.
“Ke rumah Kak Rian, ga boleh ya?”, tanya Kirana.
Rian menarik nafasnya dalam.
“Kamu itu perempuan dan mahasiswa saya. Gak mungkin jam segini saya bawa kamu ke rumah saya sementara kita ga punya ikatan sah apapun.”, jawab Rian dengan jelas.
“Ada.”, jawab Kirana.
Rian melihat ke arah Kirana seolah bertanya, ‘Apa?’.
“Mantan.”, jawab Kirana.
Rian hanya bisa menghembuskan nafasnya lebih keras karena tidak percaya dengan isi kepala gadis yang ada di sampingnya. Kirana benar - benar ingin meruntuhkan pertahanannya. Gadis itu pasti tidak tahu seberapa besar usaha Rian untuk menahan dirinya saat ini.
“Rumah teman kamu dimana? Saya antar kamu kesana.”, kata Rian setelah berpikir sebentar.
“Gak enak ganggu Ghea malam - malam begini. Dia pasti sudah tidur.”, balas Kirana.
“Ya terus mau kemana? Kamu mau kita di razia? Malam - malam begini masih keluyuran di luar. Saya sama kamu disini? Udah, saya antar kamu pulang aja ke rumah kamu.”, ujar Rian langsung menghidupkan mesin mobilnya.
“Ja- jangan.. Kak.. kak Rian ga liat mata aku? Mama pasti nanya yang macem - macem. Dia pasti khawatir disangkanya aku abis ngapain. Padahal kekunci di toilet. Aku aja hampir gak percaya kalau ada orang yang ngomong begitu sekarang.”, kata Kirana merasa malu dengan kebodohannya sendiri.
“Terus? Kamu mau tidur di mobil? Saya di luar? Ada polisi lewat, kamu mau digiring ke kantornya? Saya sih ga mau masuk koran pagi - pagi, ya bawa lari mahasiswa. Di tambah, saya sudah harus mandi. Air mata kamu membanjiri kemeja saya. Kamu ga lihat ini basah semua? Mending air mata semua.. Siapa yang bisa jamin kalo ada yang lain juga nempel disini.”, kata Rian.
‘Dasar kejam. Padahal gue kekunci gara - gara nungguin dia. Tahu gitu gue pulang aja ama si Radit.’, ucap Kirana kesal dalam hati.
Kekesalan Kirana terpancar dari wajahnya yang dibuat kusut dan tidak mau melihat ke arah Rian.
“Hotel?”, ucap Kirana tak berapa lama setelahnya.
“Hah?”, tentu saja Rian langsung kaget.
__ADS_1
“Jangan salah paham dulu. Cuma aku aja. Abis drop-in aku, Kak Rian ya bisa pulang aja ke rumah Kak Rian yang besar itu.”, kata Kirana.
“Ah..”, Rian hampir saja tersedak dibuatnya.