Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 88 Jadi, Pak Rian itu siapanya Kirana?


__ADS_3

Raka sudah kembali ke apartemen miliknya. Begitu tiba, Raka langsung membanting tasnya ke sembarang tempat. Dia mengambil sebuah mainan panah yang ada di atas meja di samping akuarium miliknya dan langsung melemparkannya ke sebuah papan panahan yang sudah menempel foto Kirana.


Mainan panah yang dilemparkan oleh Raka langsung tepat mengenai foto Kirana.


‘Mahasiswa yang ada di kampus? Mantan istri Rian? Tidak kusangka ternyata Kirana.’, ucap Raka dalam hati.


Sejak dia mendengar penuturan Claudia, dosen kampus swasta sebelah yang merupakan anak dari Dekan tentang wanita di hidup Rian, Raka sama sekali tidak menyangka jika itu adalah Kirana. 


Sudah beberapa kali Raka terus mengikuti Rian untuk mengetahui siapa wanita yang ada di dalam hidupnya. Apakah benar itu salah satu mahasiswa di kampusnya? Namu, Raka tidak pernah menemukannya. Semua perempuan yang berada di sekitar Rian tidak jauh - jauh dari dosen yang merupakan rekan kerjanya, Claudia, dan juga para mahasiswa yang dia ajar. 


Diantara mereka, tidak ada yang menunjukkan kedekatan spesial dengan Rian. Sampai suatu ketika, Rian nampak terburu - buru keluar dari kampus. Pria itu bahkan absen dari salah satu kelas untuk mahasiswa tingkat atas. Sesuatu yang sangat langka untuk Rian. 


Pria itu bahkan tetap mengajar meski dia sedang demam atau sakit. Dia bukan tipikal yang akan dengan random absen dari kelasnya dan juga bukan tipikal yang memberikan diskon pada durasi mengajarnya. 


Tapi, hari itu, setelah Rian selesai dengan kelasnya, dia langsung menuju parkiran dan pergi. Raka menerka - nerka kemana. Raka sempat heran ketika Rian ternyata malah berakhir di sebuah rumah sakit. 


Awalnya, dia merasa sia - sia mengikuti pria itu karena dia seperti sudah menghabiskan bensin hanya untuk mengantarkannya berobat. Ya, Raka berpikir, Rian hanya datang ke rumah sakit untuk berobat. 


Tapi, bukan Raka namanya kalau tidak segera menyadari. Kenapa Rian harus datang ke rumah sakit yang sangat jauh dari tempat tinggalnya. Tadinya, Raka sudah ingin melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Namun, dia segera menghentikan niatnya dan terus mengikuti kemana Rian pergi. 


Di depan sebuah ruang rawat inap, Rian memperhatikan seseorang di dalamnya. Raka tak bisa begitu menangkap siapa itu karena jaraknya yang cukup jauh. Raka juga tidak bisa datang dengan alasan menjenguk. Dia datang seolah sedang menunggu antrian pengobatan yang letaknya tak jauh dari sana. 


Saat itu, Raka melihat seorang wanita paruh baya menghampiri Rian. Raka tak pernah melihatnya sebelumnya. Tapi, seperti mirip seseorang yang dia kenal. Hanya saja, Raka tak tahu siapa itu. 


Setelah mereka hilang di belokan ujung lorong, Raka mencoba mendekati ruang rawat inap dan melihat ke dalam. Dia masih belum bisa mengetahui siapa itu karena Kirana menghadap ke arah jendela dan wajahnya juga tertutup helaian rambut. 


Saat itulah dia berinisiatif untuk membaca papan nama yang tertulis di depan rawat inap. 

__ADS_1


‘Kirana Pramidita? Kirana? Rana?’, Raka masih kebingungan saat membaca nama itu. 


Dia beberapa kali mengatakan bahwa itu tidak mungkin Kirana yang dia kenal. Tapi setelah di liat - lihat lagi, perawakannya mirip. Tak berapa lama, Raka menyadari kehadiran Ghea dan langsung berinisiatif segera pergi dari sana. 


Keesokan harinya, Raka kembali ke rumah sakit. Kali ini, tidak mengikuti Rian. Tetapi dia datang lebih dulu. Saat itulah Raka mendengar percakapan antara wanita paruh baya yang dilihatnya kemarin dengan Kirana. Raka sudah bisa menebak kalau itu adalah mamanya. 


‘Heh? Tidak salah? Berani - beraninya mereka berpikir kalau mereka tidak turut andil dalam kematian Clara? Rian brengsek. Dasar pengkhianat!!’, ucap Raka frustasi melemparkan apapun yang ada di hadapannya. 


************


“Kenapa? Charger kamu ketinggalan juga?”


Ghea masih menutup mulutnya dengan tangan karena dia seolah tak bisa mengatupnya. Dia begitu terkejut melihat Pak Rian ada di hadapannya. Di dalam ruang rawat inap Kirana. Yang lebih mengejutkan lagi adalah di dalam kamar mandi yang ada di ruang rawat inap Kirana.


Apapun penjelasan yang berusaha diberikan oleh pikirannya sama sekali tidak bisa memberikan pencerahan pada hal yang baru saja dia saksikan sekarang.


Tak lama setelah itu, Kirana muncul dari pintu. Wajahnya terlihat lelah dan stress setelah berhasil kabur dari Radit yang keras kepala.


Kirana baru saja menghadap ke depan setelah menutup pintu dan menyaksikan dua orang dengan pandangan canggung. Kirana menghentikan langkahnya secara mendadak. Lalu, gadis itu mengamati perlahan ke arah Ghea sebentar, kemudian berpindah ke arah Rian. Begitu sampai beberapa kali.


“Eh????”, Kirana langsung menyadari ada yang tidak beres.


“Ran, maksudnya apa nih? Gue mau nanya juga kayanya otak gue udah lemes.”, ucap Ghea memilih menepi mendekat ke arah Kirana.


Sedangkan Rian dengan ekspresi tenang berjalan ke arah sofa dan duduk manis menyilangkan kaki. Dalam pikirannya, toh sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Kalau dia memiliki kekuatan untuk membuat orang lupa ingatan, dia mungkin sudah melakukannya pada salah satu mahasiswa nya ini. Tapi, itu hanya ada di film.


“Ha-ha-ha-ha… Ghe.. sini.. Gue jelasin. Lo mending duduk dulu. Minum air. Tarik nafas. Tenang.”, ujar Kirana yang menggiring Ghea mendekat ke tempat tidurnya dan menutup tirai yang ada disana.

__ADS_1


Rian sedikit mengernyitkan dahi melihat tindakan Kirana yang membuatnya tak bisa melihat apa yang kedua perempuan itu bicarakan. Kirana benar - benar menutup habis gordennya.


“Lebih baik lo cerita yang jujur sama gue.”, ucap Ghea terdengar sangat serius sekali.


Tatapan matanya tajam, menyala dan menjurus seolah ingin menerkam Kirana saat itu juga.


“Iya, ini juga gue mau jelasin. Bentar gue duduk dulu. Lo gak tahu betapa lelahnya gue mencoba untuk minta Radit segera pulang. Hah.. untung aja dia ga jadi balik kesini. Kalo iya, yang ada gue ga keluar - keluar dari rumah sakit.”, kata Kirana menggeleng - geleng kepalanya.


“Ga usah bertele - tele. Ran, lo harus jujur sama gue. HARUS.”, ucap Ghea sudah dengan ancamannya.


Keduanya berbicara dengan cara berbisik - bisik. Namun uniknya, Rian tetep saja bisa mendengarnya. Entahlah, mungkin menurut mereka itu bukan gorden tetapi tembok.


“Ran… lo harus ngomong yang sebenarnya. Pak Rian itu….. Sebenearnya ……”, Ghea sudah mulai kegerahan dan tidak bisa mengendalikan dirinya.


Seolah seperti orang yang sedang menonton ending satu episode yang sangat gantung dan menginginkan episode selanjutnya. Tetapi, sayangnya episode selanjutnya masih dalam proses loading karena jaringan internet yang melambat.


“I-iya.. Gue juga mau jujur ini. Makanya duduk yang tenang.”, kata Kirana.


“Ran… lo ngomong yang benar. Jangan - jangan.. Pak Rian itu…. Kakak lo, ya?”, ujar Ghea langsung mengutarakan kecurigaannya.


“Eh?”, ucap Rana langsung kebingungan.


“Iya ya Ran? Pak Rian itu beneran kakak lo? Lo sebenarnya punya kakak cowok?”, tanya Ghea.


“O? Oh?”, Kirana langsung speechless mendengar dugaan dari Ghea.


“Iya… cuma itu penjelasan yang masuk akal. Pak Rian sebenarnya kakak lo. Lo males berhubungan sama temen - temen cewek lo yang so pasti bakal nanyain Pak Rian. Minta dicomblangin, minta dikenalin, minta di PDKT-in. Iya kan? Alhasil lo pura - pura ga kenal Pak Rian? Beneran, Ran?”, tanya Ghea bersemangat.

__ADS_1


Rian yang mendengar pernyataan Ghea dari kursinya hanya bisa menghela nafas sambil geleng - geleng kepala.


‘Pantes aja mereka cocok temenan berdua’, komentarnya dalam hati.


__ADS_2