
“Yah… Raka.. kan udah gue bilang tadi lewat sana aja. Macet, kan!”, omel Kirana saat mobil keduanya berakhir terjebak di sebuah jalan tol lintas kota.
“Lo bilangnya telat, sih. Gue udah keburu ambil lajur kanan lo baru bilang harus exit tol.”, balas Raka santai.
“Huft… udah jam segini lagi. Bisa ketinggalan kelas Pak Rian, dong”, kata Kirana melihat jam nya.
“Segitu khawatirnya banget gak masuk kelas Rian sekali doang.”, komentar Raka melirik ke samping sambil terus bertahan dengan rem kaki di tengah kemacetan jalan tol.
Mereka harusnya bisa melewati jalanan yang mulus tanpa macet kalau saja Raka tidak salah mengambil jalan. Sekarang mereka harus terseok - seok untuk sampai ke pintu exit tol kedua yang masih 3-4 km lagi. Kondisi jalanan juga macet total. Entah mereka bisa mengambil lajur kiri untuk exit tol atau tidak.
“Gue sih gak mau ngulang mata kuliah Fisika ya, Raka. Secara ini bukan mata kuliah inti di jurusan gue. Gak tahu deh kalau elo.”, ujar Kirana mencoba untuk mengambil ponselnya dan mengetik pesan pada Ghea.
Hari ini Kirana harus pergi ke beberapa tempat untuk mengambil beberapa potret untuk proyek organisasi selanjutnya. Jika sebelumnya Kirana berkontribusi menjadi PO untuk acara kampus beekerja sama dengan BEM, sekarang Kirana tergabung dalam kepanitiaan untuk persiapan kelulusan mahasiswa tahun ini.
Kirana mengambil shoot video di beberapa tempat untuk klip kelulusan. Berhubung Ghea ada kelas, Raka yang mengajukan diri untuk menemani. Perkiraannya hanya sebentar. Tetapi di tengah jalan turun hujan. Sehingga Kirana menunggu terlebih dahulu sebelum mengambil klip lanjutan.
Kring Kring Kring
“Halo..”, sapa Rana pada orang yang meneleponnya.
“Gue masih di jalan. Pak Rian udah masuk? Hn.. gak tahu. Sama Raka.”, balas Kirana.
“Siapa?”, tanya Raka begitu Kirana memutuskan sambungan teleponnya.
“Radit.”, jawab Kirana.
“Masih akrab sama dia?”, tanya Raka seolah itu adalah hal aneh.
“Memangnya kenapa?”, tanya Kirana heran.
“Lo masih ga kapok setelah di labrak Fay? Masih mau deket - deket Radit.”, tanya Raka bingung.
“Ya terserah gue dong. Lagian gue juga gak ngapa - ngapain sama Radit. Eh tunggu.. Kenapa lo bisa tahu Fay labrak gue? Fay yang cerita?”, tanya Kirana heran dengan tatapan penuh selidik.
************
“Ghea, tunggu. Ada yang mau saya tanyakan.”, ucap Rian memanggil salah satu mahasiswanya.
Ghea menghampiri Rian dan menginstruksikan Radit untuk jalan terlebih dahulu. Rian nampak melihat sekitar dan menunggu sampai mayoritas mahasiswa sudah keluar baru kemudian mulai berbicara pada Ghea.
“Kirana, Ehem.. Kirana kemana?”, tanya Rian.
Hari ini, mata pria itu tak lepas dari kursi dan pintu masuk. Ini pertama kalinya Kirana absen dari kelasnya di luar sakit waktu itu. Sampai kelas berakhirpun, Kirana masih belum masuk. Jika Rian bertanya padanya, sudah pasti tidak akan dibalas.
“Kirana terjebak macet, pak. Dia ada kegiatan shoot video untuk kelulusan tahun ini di beberapa tempat.”, ungkap Ghea.
Rian mengangguk - angguk.
“Oh.. baik kalau begitu. Thanks infonya.”, ucap Rian kemudian keluar dari ruangan.
Radit langsung masuk segera setelah Rian keluar.
“Ghea, Raka sama Kirana gimana? Masih terjebak macet?”, tanya Radit sambil setengah berteriak.
Rian mendengarnya dan berhenti sejenak. Ghea segera memukul Radit dan membuat pria itu bingung kenapa dipukul tiba - tiba. Ghea juga tidak memberikan penjelasan.
__ADS_1
Ghea sengaja tidak memberitahukan bagian dimana Kirana pergi bersama Raka saat menjawab pertanyaan dari Rian tadi.
‘Hah.. sudah susah - susah menutupi, si Radit malah teriak. Sia - sia, deh.’, bathin Ghea dalam hati.
************
“Kamu dimana?”, tanya Rian melalui sambungan telepon.
Dia berkali - kali menghubungi Kirana sampai akhirnya gadis itu mengangkatnya juga.
“Apa urusannya sama Kak Rian? Saya mau di rumah kek, di Mall kek. Terserah saya. Saya juga gak kepo Kak Rian ada dimana.”, Kirana langsung menjawab dengan nada yang tidak enak.
“Kamu kenapa, sih? Aku salah apa sama kamu. Ketus banget ngomongnya.”, ucap Rian.
“Gak kenapa - kenapa.”, jawab Kirana santai.
“Ran, masuk.. Kelamaan disitu, aku tinggal loh.”, ucap Raka terdengar di sambungan telepon antara Rian dan Kirana.
“Kamu masih sama Raka?”, tanya Rian langsung.
“Maaf Kak Rian, kalo gak ada hal penting yang mau di bahas, saya tutup dulu teleponnya.”, ucap Kirana.
“Ran, itu jangan dibawa masuk. Lo mau bikin apartemen gue bau. Udah tinggal disitu aja.”, lagi - lagi Raka bersuara.
Tak lama setelah itu, Kirana menutup teleponnya.
Rian yang saat itu sedang berada di ruang dosen langsung menutup laptopnya, mengambil jaket, dan kunci mobil segera. Orang - orang disekitarnya yang mayoritas dosen di ruangan itu kaget dengan pergerakan Rian yang tiba - tiba.
“Kenapa tuh orang?”, tanya salah seorang dosen.
Disisi lain, Rian berlari kecil menuju parkiran. Wajahnya sudah sedikit merah. Perpaduan antara marah dan cemburu. Tindakannya lebih cepat bergerak dibandingkan dengan pikirannya. Tanpa disadari, Rian sudah melajukan mobilnya menuju ke apartemen Raka.
20 menit adalah waktu yang dia tempuh untuk berada di parkiran apartemen adik dari sahabatnya itu. Biasanya waktu tempuh ke apartemen ini bisa memakan waktu 30-40 menit.
“Mohon maaf, Pak. Mau unit berapa?”, tanya satpam segera setelah Rian masuk ke area lift, namun dia tidak bisa membuka pintu masuknya karena dirinya tidak memiliki akses.
Setelah beberapa waktu berdiri disana, satpam yang merasa aneh langsung menghampiri.
“Saya mau ke unit XXXX.”, Rian langsung memberitahukan unit apartemen milik Raka.
“Kartu aksesnya?”, tanya satpam itu.
Rian menggeleng.
“Maaf sebelumnya Bapak ini keluarga atau tamu? Mungkin boleh diisi datanya terlebih dahulu?”, ucap satpam mengarahkan ke area resepsionis.
Rian menolak dan memilih untuk kembali menghubungi Kirana.
“Kamu turun sekarang.”, ucap Rian.
“Turun kemana? Memangnya Kak Rian dimana?”, Kirana tentu saja bingung.
Nada bicara pria itu juga berbeda dari biasanya.
“Saya tahu kamu di apartemen Raka sekarang, kan? Turun.”, perinta Arya dengan nada dingin.
__ADS_1
Kirana langsung mengernyit bingung.
“Siapa Ran?”, tanya Raka dari kejauhan.
Kirana tidak menjawab. Raka memilih untuk mendekat. Tadinya Raka mau mengambil ponsel di tangan Kirana dan menjawab orang itu untuknya. Raka bisa menduga telepon itu masih dari orang yang sama.
“Turun sekarang, atau saya telepon mama kamu dan bilang kamu ada di apartemen pria, berdua.”, ucap Rian dengan ancamannya.
“Apa - apaan sih, Kak Rian?”, ucap Kirana kesal.
Namun, dia juga tahu kalau ancaman Rian barusan bukanlah ancaman kaleng - kaleng. Meskipun sudah tinggal di wilayah perkotaan, mama Kirana masih menganut paham konservatif.
Mama Kirana tidak memperbolehkan putrinya untuk pergi berdua dengan pria sembarangan meskipun itu teman kampus. Kecuali bersama - sama dan dengan alasan yang jelas. Apalagi sampai main ke apartemennya.
Itu adalah hal paling terlarang yang dia tetapkan pada putrinya. Maklum, mama Kirana hanya punya Kirana. Dia bertekad untuk menjaga anak gadisnya dengan baik. Trauma perselingkuhan suaminya juga mendorong dirinya untuk ekstra ketat pada Kirana.
Rian paham betul akan hal itu karena papanya juga begitu. Karena itu, Rian dan Kirana langsung dijodohkan begitu mereka melihat peluang itu diantara mereka. Rian tahu betul akan hal itu dan menjadikannya ancaman untuk Kirana agar bisa segera turun dari sana.
Kirana menghentakkan kakinya kesal setelah sadar tak punya pilihan lain. Dia kesal pada Rian. Dia kesal pada dirinya sendiri.
10 menit kemudian, Kirana sudah turun ke lobby. Raka bersikeras untuk mengantarkan tetapi Kirana menolak. Pertama dia merasa malu. Kedua dia tidak nyaman kalau Rian bertemu dengan Raka dengan situasi seperti ini.
Begitu sampai di bawah, Kirana langsung menatap tajam pada Rian. Kesal dan marah. Tatapan dengan emosi itu mengelilingi kepalanya.
“Saya antar pulang.”, ucap Kirana.
“Saya pulang sendiri. Lagian, kak Rian paham betul kan kalau mama gak ngizinin saya untuk jalan berdua sama cowok tanpa ada hubungan yang legal. So, kalau saya gak boleh jalan sama Raka, kenapa saya harus jalan sama Kak Rian?”, ucap Kirana tegas.
“Tapi saya kan…”, Rian menghentikan kata - katanya.
“Tapi apa? Memangnya kita masih punya hubungan. Kak Rian itu sama aja sama yang lainnya. Stranger. Bukannya Kak Rian nganggep aku gitu juga. Bye..”, kata Kirana langsung pergi melewati Rian begitu saja.
“Ran, tunggu. Aku mau bicara sama kamu.”, Rian menarik lengan Kirana.
“Mau bicara apa lagi sih?”, tanya Kirana.
“Tentang aku dan kamu. Tentang sikap kamu yang aneh belakangan ini.”, ungkap Rian.
“Aneh? Aku gak ngerasa aku aneh. Aku tetap jadi Kirana yang biasa.”, ucap Kirana.
“Kamu jadi ketus dan tiba - tiba dingin ke aku. Did I do something wrong?”, tanya Rian dengan nada lembut.
“Enggak. Kak Rian gak salah apa - apa. Aku cuma mau mengembalikan posisi kita seperti sedia kala. Kak Rian adalah dosen, dan aku adalah mahasiswa. Gak lebih dari itu. Bukannya itu yang Kak Rian mau?”, ucap Kirana malas.
“Kapan aku bilang begitu? Kenapa kamu menyimpulkannya sendiri?”, tanya Rian.
“Terus, aku harus gimana? Kak Rian ngomong aku aneh, bukannya kakak gak sih yang aneh. Udahlah aku capek.”, Kirana melepas pegangan Rian dan pergi.
“Kamu pulang naik apa?”, tanya Rian.
“Bus, ojek. Banyak kok kendaraan buat pulang.”, tutur Kirana.
“Raka, dia tahu soal kita? Kamu gapapa dengan itu?”, tanya Rian mencoba menghalangi langkah Kirana dengan membawa topik baru.
“Memang kita apa? Cuma mantan suami dan istri kan. Gak lama juga. Ga masalah juga kalau Raka tahu.”, Kirana membalas dengan dingin.
__ADS_1
“Lebih baik sekarang kita jalan sendiri - sendiri. Kak Rian dengan perempuan bernama Claudia itu. Dan aku menjalani hidupku sendiri. Aku harap ini terakhir kali Kak Arya mengancam aku kaya tadi.”, Kirana segera meninggalkan Rian di tempat itu.