
“Hah.. surat ini lagi?”, ucap Kirana sambil celingak - celinguk ke sekitarnya.
Dia bingung, bagaimana surat ini beberapa minggu terakhir bisa masuk ke dalam tasnya. Padahal, seingatnya, dia hampir tidak pernah jauh dari tasnya. Biasanya Kirana hanya akan lengah pada tasnya saat dia di ruang BEM, di perpustakaan, atau sedang di kantin.
Semua tempat yang dia kunjungi adalah tempat - tempat dimana dia dikelilingi oleh orang - orang yang dia kenal.
‘Apa jangan - jangan orang di sekitarku? Hah.. siapa sih yang sampai iseng begini.’, tanya Kirana sambil melihat kembali surat itu.
Isinya masih sama dengan surat - surat yang sebelumnya. Kalimat ‘Pembunuh’ yang dirangkai dari huruf - huruf dari surat kabar.
‘Apa sedang ada prank? Mau menakut - nakutiku? Gak mungkin banget ada yang iseng sampai begini kan?’, tanya Kirana.
“Eh.. Ran.. lagi ngapain? Yuk buruan. Katanya mau ngerjain tugas di perpus. Udah jam 3 nih. Keburu perpusnya tutup.”, panggil Ghea yang sudah tidak sabar menunggu.
“Iyaa… sabar.. Lagian perpus juga kan tutupnya masih jam 8 ini. Buru - buru amat.”, ucap Kirana masih mengarahkan pandangannya pada kertas yang dia pegang.
Ghea yang tadi sudah melangkah maju di depannya tiba - tiba menghampiri.
“Lagi liatin apa sih?”, tanya Ghea membuat Kirana kaget.
Dengan gerakan refleks, Kirana langsung menyembunyikan kertas yang tadi dia pegang di tangannya.
“Itu apa?”, tanya Ghea bingung.
“Bukan apa - apa.”, jawab Kirana sedikit mencurigakan karena dia tidak menjawab dengan lantang.
Ghea, gadis paling sensitif se kampus itu tidak percaya begitu saja. Ghea memberikan sorotan tajam pada Kirana yang jelas - jelas sedang menyembunyikan sesuatu.
“Apa sih, Ran? Lo nyembunyiin apa itu?”, tanya Ghea menyipitkan matanya menaruh curiga.
“Dasarrr… mpok mpok tukang gosip. Bawaannya curiga terus. Udah maju jalan.”, Kirana meremukkan kertas tadi dan membuangnya begitu saja ke tong sampah yang ada di belakangnya.
***********
“Hai sayang.”, sapa Raka yang menghampiri meja belajar Kirana dan Ghea.
Mereka sudah berada di perpustakaan selama kurang lebih satu jam sebelum Raka datang. Bulu kuduk Ghea langsung berdiri ketika mendengar sapaan Raka barusan.
“Ran, lo jalan ama dia beneran?”, tanya Ghea blak - blak-an.
Orang di sekitar mereka saja peka kalau Kirana dan Raka jadi semakin dekat belakangan ini. Bahkan Radit yang biasanya mengintili Kirana sudah jarang terlihat. Entah bagaimana, selalu saja Raka yang ada di sampingnya. Bahkan Raka tak segan - segan datang ke ruang BEM hanya untuk memberikan Kirana minuman dan snack untuk rekan - rekan BEM lainnya.
“Enak aja. Heh.. Raka.. kan udah gue bilang jangan panggil - panggil begitu. Geli tahu.”, bisik Kirana pelan agar suaranya hanya terdengar oleh Ghea dan Raka saja.
__ADS_1
“Memangnya kenapa Ran kalau beneran. Gue juga ga masalah lo kalo kita kencan beneran.”, balas Raka sekenanya.
“Tuhkan, lo beneran suka sama Kirana.”, ucap Ghea.
Kirana langsung meletakkan pulpen di atas mejanya.
“Lo ga masalah. Gue yang masalah.”, ucap Kirana.
“Kenapa? Masih cinta sama Pak Rian?”, ujar Raka tak kalah blak - blak-an.
“Bisa diem ga sih…”, Kirana langsung menutup mulut Raka menggunakan tangannya.
Raka hanya tersenyum simpul menanggapi sikap panik Kirana.
“Lo kok gak ikut ke luar negeri, Ka.”, Ghea tiba - tiba melontarkan pertanyaan random.
Kirana langsung bersyukur karena topik langsung teralihkan tanpa dia harus berusaha keras.
“Karena gue mau merebut Kirana dari Pak Rian?”, ucap Raka.
“Ih.. gue serius loh nanyanya. Kan mayan tuh di London. Katanya mereka exhibitionnya di museum terkenal di sana loh.”, ucap Ghea antusias.
“Ghe, lo lupa ini bocah asalnya dari mana?”, kali ini Kirana ikut masuk dalam pembicaraan mereka.
“Jadi, kenapa lo kesini?”, tanya Kirana langsung.
“Mau ngajak lo makan malam.”, jawab Raka.
“Gue engga?”, tanya Ghea langsung ikut menimpali.
“Boleh sih. Tapi yakin lo mau ikut? Tempo hari lewat jam 8 aja, abang lo langsung telpon.”, kata Raka menanggapi.
Ghea langsung tersipu malu.
“Iya Ghe, kenapa sih belakangan ini lo jadi kaya anak rumahan?”, tanya Kirana baru ada kesempatan untuk mencerahkan rasa penasarannya.
Setiap kali mereka berdua ke mall, tidak seperti biasanya, orang rumah Ghea pasti kerap menghubunginya.
“Ga tahu. Sekeluarga pada abis lihat berita kali. Jadi khawatir anak cantiknya kenapa - kenapa.”, ucap Ghea berpura - pura fokus kembali pada bukunya.
“Boong banget. Pasti lo abis bikin skandal sih. Gue yakin. Jangan bilang lo….”, Kirana baru saja ingin mengatakan kecurigaannya.
“Engga - engga kok. Udah kayanya perpus mau tutup. Kalian lanjut aja makan malam berdua. Gue balik duluan.”, kata Ghea yang langsung berberes dan memasukkan laptop beserta alat tulisnya ke dalam tas.
__ADS_1
Raka langsung tersenyum.
‘Akhirnya bisa juga mengusir Ghea tanpa harus berusaha.’, pikir Raka.
***********
“Bener lo yang bayar, ya. Awas aja lo udah bawa gue ke resto mahal begini terus split bill. Gue kabur.”, ucap Kirana yang sedang membolak - balik menu makanan di hadapan mereka.
“Tenang.. Ya ampun. Kapan sih gue pernah minta lo split bill.”, kata Raka dengan gaya sombongnya.
“Seringg..”, balas Kirana.
“Ya itu kan karena lo makannya pinggir jalan. Harus cash. Gue ga punya. Lagian jaman sekarang masih aja jajan abang - abang.”, ucap Raka.
“Eh.. lebih enak jajan abang - abang tahu.”, kata Kirana dengan wajah beringas.
“Iya - iyaa. Udah buruan mau pesen apa.”, ucap Raka.
Keduanya kembali fokus pada menu di hadapan mereka dan mulai menunggu pesanan. Raka tiba - tiba saja sibuk dengan ponselnya dan Kirana hanya melamun. Di satu sisi dia ingin mengecek ponselnya untuk melihat instagram tim penelitian Fisika kampus. Siapa tahu ada update terbaru dari Kak Rian.
Sayangnya, Kirana lupa mencharger baterai ponselnya dan sekarang lowbat. Kalau dia mengaktifkan internet, bisa - bisa dia tidak bisa menerima panggilan sama sekali. Dia khawatir kalau mamanya akan menelepon.
Di sisi lain, Kirana kembali teringat pada kertas ancaman yang sudah beberapa kali dia terima. Beberapa kertas itu ada di dalam tasnya. Hanya satu kertas tadi yang akhirnya dia buang.
“Hei.. kenapa?”, tanya Raka yang sudah selesai dengan ponselnya.
Kirana nampak berpikir sebentar. Dia melihat ke arah tasnya, kemudian mengalihkan kembali perhatiannya pada Raka.
‘Apa gue cerita aja ya ke Raka. Walopun dia bukan cowo gue beneran, tapi mungkin dia bisa bantu gue. Kita juga udah lumayan kenal.’, pikir Kirana dalam hati.
Akhirnya, Kirana mulai terbuka dan menceritakannya pada Raka untuk meminta pendapatnya. Dari wajahnya, Raka terlihat terkejut dengan penuturan Kirana.
“Jadi, menurut lo gimana? Gue diemin aja atau?”, tanya Kirana dengan wajah tidak yakin.
“Lo sudah cerita ini ke siapa lagi?”, tanya Raka.
“Memangnya kenapa?”, tanya Kirana.
“Ya.. gue juga pengen tahu pendapat mereka gimana sebelum menyuarakan pendapat gue.”, kata Raka.
“Apa bedanya. Udah kasih tahu aja menurut lo gue harus gimana? Prank kan ya? Ga mungkin banget ada orang bener - bener serius ngirimin gue surat kaya gini. Apa salah orang? Nama Kirana di Fakultas kita selain gue kan ada lagi.”, ujar Kirana.
“Hm.. kamu tidak merasa melakukan hal seperti yang tertulis di kertas itu?”, tanya Raka.
__ADS_1
“Ya enggaklah. Gila kali lo.”, ujar Kirana.