
Rian terbangun dari tidurnya. Tubuhnya yang tadi terasa sangat lemas tak bertenaga kini perlahan bisa mendapatkan energinya kembali. Dilihatnya tangannya yang terikat dengan selang infus. Rian mengeluarkan ekspresi keheranan karena bingung kenapa tiba - tiba bisa ada selang infus di tangannya. Apa Bi Risma sudah pulang? Bukankah kemarin dia minta izin untuk pulang kampung selama seminggu dan ini masih hari kedua.
Tak lama dia teringat kejadian singkat tadi siang saat seseorang tiba - tiba muncul menekan bel rumahnya.
‘Kirana. Iya.. tadi ada Kirana disini. Ah.. aku baru ingat.’, ucap Rian yang baru saja mengingat kejadian tadi siang.
Pria itu kemudian segera bangun dari tidurnya dan duduk di pinggir kasur untuk perlahan mengembalikan keseimbangannya. Meski energinya sudah kembali, tetapi pandangannya masih sedikit oleng.
‘Apa dia masih disini?’, Rian memandangi bubur yang ada di mejanya.
Lagi - lagi dia baru ingat kalau gadis itu tadi juga sudah menyuapinya bubur.
‘Apa yang sudah aku lakukan.’, Rian sekelebat merasa menyesal malah membukakan pintu gerbang untuknya.
Sekarang dia memiliki harapan kalau Kirana masih ada disana menunggunya saat sakit.
‘Tidak. Mustahil dia masih ada disini. Pasti dia sudah pulang.’, ucap Rian melihat jam di nakas kamarnya yang menunjukkan pukul 9 malam.
Dia ingin melanjutkan tidurnya. Tapi, keinginan dan harapan bahwa mungkin saja Kirana masih disini membuatnya berdiri dan menarik tiang infusnya keluar dari kamar. Pria itu mencoba melihat ke bawah.
Dari sana, dia hanya bisa melihat sebagian kecil ruang tengah, tetapi tidak bisa melihat ruangan lainnya. Dia tidak mungkin bisa memastikan apakah Kirana masih ada di rumah ini atau sudah pulang.
Pikiran Rian tak ingin berharap lebih tapi tubuhnya berkata sebaliknya. Dia ingin memastikannya.
Perlahan satu langkah demi satu langkah dia usahakan untuk menuruni tangga. Dia lelah dan masih belum memiliki kekuatan yang cukup. Tapi, Rian tetap memikirkannya.
“Ghe, plisss.. Kalau nyokap gue kebetulan nelpon lo, plis bilang gue lagi nginep di rumah lo, ya.”
Perlahan mulai terdengar suara perempuan dari arah dapur. Saat itu, Rian masih berada di tengah - tengah anak tangga.
__ADS_1
“Gue lagi di rumah seseorang yang gue gak bisa kasih tahu. Pokoknya bilangin, ya. Nyokap gue nanyain lo mulu untuk mastiin. Udah ih, gue udah gede. Kenapa malah lo ikutan khawatir. Gue juga ga nginep di tempat orang yang gue ga kenal, ko.”, ucap Kirana memohon pada sahabatnya, kalau - kalau nanti mamanya malah mencoba untuk memastikan dengan Ghea.
“Ya udah. Awas ya lo malah bilang yang aneh - aneh. Gue ga contekin lagi tugas nya Pak Dadang.”, ancam Kirana. Untuk beberapa mata kuliah, Ghea yang sebenarnya lebih senang masuk jurusan sosial malah harus terjebak di Teknik Sipil.
Alhasil, dia merasa kesulitan untuk mengikuti beberapa mata kuliah. Terlebih yang sifatnya harus menggambar dan membuat sketsa berdasarkan perhitungan. Dia benar - benar tidak bisa melakukannya.
Setiap kali Kirana memberikan ancaman ini, pasti selalu berhasil.
“Oke.. see you tomorrow.”, Kirana menutup teleponnya.
Saat itu juga dia melihat Rian sudah berada di hadapannya. Mereka saling bertukar percakapan dimana hampir semuanya adalah perdebatan.
Rian yang sebenarnya mengharapkan bahwa Kirana memang masih berada di rumahnya malah bersikap sebaliknya. Bersikap seolah - olah dia tak menginginkan kehadirannya.
Pria itu memulai dengan pertanyaan menyakitkan.
“Kamu masih disini?”
“Saya pesankan kamu taksi. Kamu bisa pulang sekarang. Untuk masalah nilai, kita akan bicarakan kembali di kampus, kamu tidak perlu repot - repot datang kesini.”
Saat Kirana bersikukuh untuk tinggal dan menginap disana karena ingin menjaga pria itu yang sedang sakit, Rian justru bersikukuh agar Kirana segera pulang ke rumah.
“Kenapa sih Kak Rian ga terima banget aku disini? Kenapa sikap Kak Rian bisa langsung berubah? Bukankah tadi Kak Rian sendiri yang nahan aku supaya ga pergi dan tetap ada di samping Kak Rian?”, Rian terus bersikeras dan itu membuat Kirana merasa emosi.
Dia sudah melonggarkan harga dirinya karena jauh di lubuk hatinya, dia sangat mengkhawatirkan Rian. Tapi apa yang dilakukan oleh pria itu? Dia melemparkan Kirana kembali ke posisi semula.
“Aku hanya tidak sadar sebentar karena aku merasa lelah. Aku pikir…”, Rian tak melanjutkan kata - katanya karena Kirana akhirnya langsung menyambarnya.
“Kenapa? Kak Rian mengharapkan orang lain yang hadir disini? Kak Rian mengharapkan perempuan itu ada disini?”, saking takut dengan spekulasi yang dimilikinya sekarang atas sikap Rian, Kirana langsung melontarkan dugaannya yang belum tentu benar.
__ADS_1
“Jadi, kamu mau stay disini semalaman saat kita sudah tidak punya ikatan apa - apa lagi? Kamu mau seperti itu? Kamu tidak keberatan?”, ucap Rian.
“Aku cuma… aku cuma mau nungguin. Salah, ya? Kamu pikir bagaimana perasaan aku lihat kamu pingsan di ruang depan? Menurut kamu, gimana perasaan aku saat tahu kamu sakit dan di rumah udah ga ada siapa - siapa? Aku mikir sampai yang, kamu sudah makan belum sih.. Kamu bisa ambil minum ga sih? Kamu…”, Kirana menghentikan kata - katanya.
Lebih tepatnya kata - kata Kirana terhenti karena Rian langsung menyerobot bibirnya. Pria itu menarik Kirana yang ada di hadapannya dan mengecup ringan bibir itu.
Kirana sontak terkejut dan tanpa sadar malah melayangkan tamparan pada pipi Rian. Rian memejamkan matanya sebentar merasakan tamparan itu.
“Kamu masih mau disini?”, tanya Rian tak kalah dingin dari sebelumnya.
Kirana bingung dengan apa yang dia lakukan. Tindakan Rian sangat tiba - tiba sampai - sampai dia tidak sadar respon seperti apa yang sudah dia berikan. Kirana kebingungan dan kemudian berlari ke arah ruang tamu, mengambil tasnya, dan keluar dari rumah itu.
Rian tak mencegahnya sama sekali. Dia terdiam di tempat dia berdiri sekarang.
*************
Kirana berjalan menuju ke pintu depan perumahan. Area perumahan itu memiliki sistem keamanan yang bagus karena memiliki pos satpam di beberapa titik. Bagian depan juga sudah langsung terintegrasi dengan jalan besar. Hanya saja, sulit untuk mencari transportasi umum di sekitar ini kecuali taksi.
‘Kenapa aku malah menamparnya?’, pikir Kirana bingung.
Dia menyesali tindakannya tetapi juga tidak membenarkan tindakan yang dilakukan Rian. Seperti yang pria itu katakan, mereka sudah tidak memiliki ikatan apa - apa. Kenapa dia malah menciumnya.
Tapi, Kirana juga mempertanyakan, apa yang dia maksud dengan melakukan itu.
‘Bukankah dia menyuruhku pulang? Bukankah dia tak memberikan menyanggah saat aku mengatakan dia mungkin menantikan perempuan itu? Lantas kenapa dia malah menciumku? Apa karena dia tahu aku akan bertindak demikian dan memilih pulang?’, Kirana berpikir sangat keras sampai hampir tidak sadar kalau ponselnya berbunyi.
Tint tint
Sebuah mobil tiba - tiba mendekat ke arah Kirana yang sedang duduk di depan halte. Dia sedang menunggu bis yang sebenarnya dia tidak tahu harus naik yang nomor berapa untuk sampai ke rumahnya.
__ADS_1
Pengemudi membuka kaca mobilnya. Kirana mengintip sedikit dari arah dia duduk. Tidak ada orang lain lagi disana. Jadi, kemungkinan orang di dalam mobil memanggilnya.
“Radit?”, kata Kirana saat menangkap siapa yang sedang ada di dalam mobil.