
Setidaknya ada sekitar 10 lembar foto yang berjatuhan di berbagai tempat di sekitar tempat duduk Claudia. Menyadari hal tersebut, Rian langsung meminggirkan mobilnya dengan kasar. Beruntung memang tidak ada mobil lain yang sedang berkendara menyalip di samping mereka. Ditambah, Rian juga memang mengambil jalur di paling pinggir.
Claudia tidak hanya terkejut sekali karena foto berjatuhan, tetapi juga tindakan Rian yang langsung membuatnya sedikit terhempas ke samping dan membuat dia terkejut untuk kedua kalinya. Berkat seatbelt yang dia kenakan dengan benar, tubuhnya hanya mendapatkan sedikit efek.
Claudia memberikan tatapan penuh tanya dan juga tentu saja sedikit marah pada Rian. Bagaimana tidak, dia hampir saja jantungan karena pria itu. Claudia salah jika hanya dia satu - satunya yang marah, Rian juga. Pria itu juga melakukan tindakan yang sama dengan Claudia sebagai reaksi dirinya.
Rian langsung menghela nafas dan melihat ke samping. Bertatapan dengan Rian seperti itu membuat Claudia yang tadinya sudah ingin mengeluarkan kata - kata dengan nada tinggi, harus meredam suaranya. Dia tidak bodoh dalam membaca situasi. Dia juga ingat bahwa beberapa detik yang lalu, dialah yang membuat rusuh di mobil pria ini.
“Mau lo apa sih sebenarnya. Sorry, Claudia, dengan tidak menurunkan hormat gue ke bokap lo. Gue masih mencoba untuk bersabar sampai lo memaksa gue untuk antar lo pulang.”, ucap Rian blak - blak-an.
Dia sudah dengan gentleman dan tanpa ekspresi menanggapi semua hal yang dilakukan Claudia. Tapi kali ini kesabarannya sudah habis.
Claudia langsung terkejut. Dia baru pertama kalinya melihat Rian bersikap seperti ini. Meskipun dia datar dan tanpa ekspresi, tetapi Claudia berpikir itu mungkin memang sudah menjadi ciri khasnya.
“Heh.. maksud lo?”, tanya Claudia tidak percaya.
Claudia memang menelan harga dirinya untuk bisa mendekati Rian sampai bersikap sok akrab seperti ini. Dia yang selalu menjadi pusat perhatian tidak menerima jika pria itu memperlakukannya seperti ini. Meskipun sebenarnya hal ini masuk dalam salah satu kalkulasinya saat mendekati Rian.
__ADS_1
Tetapi tentu tidak se-ekstrim ini.
“Turun. Gue panggilin lo taksi.”, kata Rian segera membuka pintu mobilnya dan melambaikan tangannya begitu melihat ada taksi yang lewat.
Tanpa basa - basi atau menanyakan pendapat Claudia, Rian mengambil tas olahraga milik wanita itu dan memasukkannya segera ke dalam taksi. Claudia hanya bisa turun meski saat ini dia ingin sekali ribut disini.
Dia menatap Rian sekali lagi dengan tatapan tidak percaya dan masuk ke dalam taksi. Marah, malu, dan kesal merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan ekspresi yang muncul dari wajah Claudia sekarang.
Rian tidak berbalik dan langsung masuk lagi ke dalam mobilnya. Berapa detik kemudian, bahkan sebelum taksi Claudia melaju, mobilnya sudah melaju lebih dulu dengan kasar. Claudia hanya bisa lagi - lagi membuat nafas kesal. Tak disangka, awal yang dia kira sangat mulus malah berujung kacau seperti ini.
Di mobil
Pria itu terdiam sebentar di depan setir mobilnya. Dia tidak tahu apa yang membuat dirinya bisa semarah itu tadi. Gerak refleksnya membuat dia bingung sendiri. Beberapa menit kemudian, Rian mengalihkan pandangannya pada lembaran foto yang berserakan di kursi penumpang sebelah kirinya.
Rian membuka pintu mobilnya dan berjalan menuju kursi penumpang kemudian mengutip satu persatu foto tersebut. Selanjutnya dia kembali ke kursi setir dan melihat lembar demi lembar foto itu.
Ya, itu adalah beberapa foto pernikahan Rian dengan Kirana. Beberapa diantaranya lagi adalah foto saat mereka menghabiskan waktu bersama. Semua foto itu diambil menggunakan kamera polaroid.
__ADS_1
Rian baru menyadari kalau dia menyimpan foto - foto itu di mobil. Entah kapan, dia menemukan foto itu dan mengumpulkannya kembali. Awalnya dia berniat untuk membuangnya, namun dia mengurungkan niat.
Alhasil, Rian menaruhnya di lipatan atas mobilnya. Saat melihat foto - foto itu, Rian tersenyum tipis. Selama Kirana menaiki mobilnya, tak sekalipun gadis itu membuka lipatan diatas. Jika saja gadis itu membukanya, maka mungkin Rian tidak akan menempatkan dirinya di situasi yang sulit seperti ini.
Kilasan saat Kirana menanyakan tentang perasaannya pagi ini kembali lagi ke kepala Rian. Gadis itu yang umurnya lebih muda darinya saja bisa meyakinkan perasaannya tapi kenapa Rian yang sudah dewasa justru masih tidak bisa memutuskan.
Kirana, gadis itu menyukainya. Kenapa begitu sulit untuknya untuk mengakui dan mengatakan kalau dia juga merasakan hal yang sama.
Setiap kali dia mencoba untuk meyakinkan diri bahwa semua bisa dimulai lagi dari awal, bayang - bayang wanita lain muncul di kepalanya seiring dengan kemunculan kembali Raka di kehidupannya.
Dia kira, dengan kembali ke Indonesia, semua bisa dia ulangi lagi dari awal. Bukankah itu yang membuat Rian mau datang kembali ke Indonesia? Bukankah sebenarnya Rian mengetahui sejak awal kalau Kirana memang berada di kampus yang sama dengannya?
Bukankah itu yang menjadi alasan kenapa Rian mau mencoba untuk kembali pada dunia yang sudah lama dia tinggalkan?
Tindakan ternyata memang lebih sulit dibandingkan dengan kata - kata. Selama setahun, dia terus berpikir dan berpikir lagi. Sampai akhirnya ketika kesempatan itu datang, Raka juga kembali muncul dalam hidupnya. Memberikan ingatan - ingatan rasa bersalah yang membuatnya tidak bisa melangkah maju.
Saat akhirnya Rian bisa berada dalam satu kelas dengan Kirana. Saat Rian akhirnya bisa kembali melihat gadis itu bahkan memulai interaksi lagi dengannya. Bayang - bayang kepergian Clara ternyata masih begitu membekas di hidupnya.
__ADS_1
Rasa bersalah itu terus menghantuinya. Keputusan wanita itu untuk bunuh diri menjadi titik terburuk dalam hidup Rian. Mungkin, jika Rian mengetahuinya lebih awal, semua tidak akan seburuk ini. Tapi dia justru mengetahuinya disaat yang bersamaan dengan kepergian papanya. Dan fakta bahwa Kirana saat itu mencoba menyembunyikan surat itu memberikan pengaruh cukup besar bagi keputusan Rian.
Kirana dan Rian belum pernah membahas ini lagi semenjak mereka bertemu. Rian tak ingin membahasnya karena dia masih teguh pada pendiriannya bahwa mereka tak akan lagi menjalin hubungan. Dan Kirana begitu takut untuk membuka lagi bahkan untuk meminta maaf meski dalam hati dia sudah melakukannya jutaan kali.