
“Ghe, mau kemana?”, tanya Radit menyusul Ghea dengan setengah berlari.
Ghea tidak langsung melihat ke belakang dan justru mempercepat langkahnya. Dia sedang berakting pura - pura tidak mendengar Radit. Padahal, jarak antara mereka tidak terlalu jauh. Dengan cepat Ghea langsung sigap mengambil headset yang ada di saku jeans kanannya dan memasangnya ke telinga.
Beruntung saat itu dia tengah mengenakan jaket hoodie sehingga seluruh kepalanya tertutup. Radit tidak akan tahu kalau dia memasang headset tersebut. Masalahnya, Ghea tidak sempat untuk menyambungkan headset itu ke ponselnya.
Dalam waktu singkat, Radit sudah menepuk bahunya.
“Ghea, ya ampun gue tuh udah manggil - manggil lo dari tadi. Masa lo gak dengar sih?”, tanya Radit sambil ngos - ngos-an.
Walaupun dia dikenal sebagai salah satu cowok populer di kampus dan mantan Ketua BEM, Radit bukanlah tipikal yang suka olahraga. Dia bisa dengan mudah ngos - ngosan hanya dengan berlari kecil seperti tadi.
“Oh?”, saatnya Ghea melanjutkan akting pura - puranya sambil mengeluarkan headset yang tadi dia pasang di telinganya.
“Oh? Pantesan dari tadi pake headset. Makanya gak dengar. Padahal gue udah manggil - manggil lo kaya orang kesurupan dari tadi. Mau kemana?”, tanya Radit kembali mengulangi pertanyaannya.
Ghea sedikit mengernyitkan dahi. Mereka sedang tidak berada dalam hubungan atau kedekatan yang membuat Ghea menganggap wajar pertanyaan Radit barusan. Untuk apa dia mengetahui dia mau kemana. Ya, apa lagi kalau bukan karena Radit pasti ingin mengetahui kemana Kirana. Selama dua hari ini, dia tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan.
“Lo gak bisa begitu dong. Raka lo kasih tahu dan gue enggak. Memangnya bedanya apa?”, tanya Radit yang sudah bisa kembali mengatur nafasnya dengan baik.
Ghea kembali mengernyitkan dahinya. Pertama, Raka dan Radit jelas berbeda. Walaupun statusnya pura - pura, tetapi di mata orang - orang, Raka memang pacarnya Kirana. Kedua, kapan Ghea memberi tahu Raka?
“Lo jangan pura - pura bego begitu dong. Udah dua hari gue gak liat Kirana. Hari ini, gue gak lihat Raka seharian. Jadi, kemana tu orang berdua kalau gak sedang bersama.”, ucap Radit.
“Gue juga gak tahu Kirana kemana.”, ucap Ghea sambil melanjutkan langkahnya.
Radit mengikuti langkah Ghea sambil terus bertanya padanya.
“Gak mungkin lo gak tahu. Seorang Ghea? Bahkan seandainya lo bukan temen deketnya Kirana sekalipun, gue yakin lo tetap akan tahu. Apa sih di kampus ini yang luput dari penciuman lo? Sekarang, plis kasih tahu gue. Gue juga ga mau aneh - aneh kok. Gue cuma khawatir aja. Kirana gak sedang sakit, kan?”, tanya Radit.
Bingo.
__ADS_1
Radit menebak dengan benar. Sekarang, mereka berdua sudah sampai di parkiran mobil. Lebih tepatnya di depan mobil Ghea. Radit masih mencoba menghadang Ghea agar gadis itu memberitahunya.
Hah..
Ghea menghela nafasnya sebentar sebelum memulai kalimatnya.
“Janji ya. Lo ga akan aneh - aneh. Gue tahu lo suka sama Kirana. Tapi gak gini juga caranya. Siapa yang akan mau kalau lo ngedeketinnya udah kaya stalker begini.”, ucap Ghea memperingatkan.
Radit langsung menelan ludahnya karena kata - kata Ghea tepat menusuk hatinya.
“Hm.. iyaa.. Iya.. gue ga akan ngomong ke arah sana. Lagian, memangnya lo lebih percaya sama Raka? Lo juga tahu kan belakangan banyak rumor yang bilang Raka sering ke klub malam? Dia itu cowok gak bener buat Kirana. Gimana kalo dia memberikan pengaruh buruk buat Kirana? Gimana kalau Kirana diajak ke klub juga? Gimana? Lo ga mau kan?”, Radit mencoba untuk menyudutkan Ghea dengan pendapatnya.
Ghea mengangguk - angguk.
“Iyaa.. lo ada benernya. Tapi, cewek manapun kecuali mantan lo itu tentunya, bakal ngibrit juga kalo lo ngedeketinnya se-brutal ini.”, ucap Ghea.
“Oke … oke.. Jadi, Kirana dimana? Rumahnya? Kenapa dia gak masuk kampus? Sakit atau?”, tanya Radit kembali menanyakan banyak pertanyaan. Sepertinya percuma kata - kata Ghea barusan.
Tadinya dia mau melanjutkan kalimatnya. Namun Radit malah memotongnya.
“Hah? Kenapa? Sakit apa? Parah ga?”, Radit tak berhenti menghujani banyak pertanyaan.
“Aduhhh syut syut syut. Bisa ga, satu per satu nanya nya.”, ucap Ghea.
“Iya, ya udah.. Kita sambil jalan aja.”, ucap Radit santai.
Dia bahkan berjalan ke pintu mobil Ghea yang satunya dan memberikan tatapan yang berarti meminta Ghea untuk segera membuka kunci mobilnya.
“Hah?”, Ghea langsung speechless melihat cowok yang satu itu.
*************
__ADS_1
“Kalau mau marah, marah aja.”, ucap Rian mendekat.
“Tapi nanti. Kalau kamu sudah sembuh.”, ucapnya menahan tiang infus yang hampir saja terjatuh karena Kirana melemparkan bantal - bantal yang ada disana ke arah Rian.
Kirana menatapnya intens dengan aura kemarahan yang dia miliki. Rian menerimanya dengan baik. Ekspresi wajahnya datar dan tidak terdapat respon berarti darinya. Setelah memastikan tiang dan selang infus dalam kondisi baik - baik saja, Rian mengambil kembali bantal - bantal itu dan meletakkannya kembali di kasur.
Saat Rian meletakkan bantal terakhir ke belakang punggung Kirana untuk bersandar, gadis itu memukulnya. Rian menahannya.
“Kamu gak perlu buang - buang tenaga. Kamu masih sakit. Sebentar lagi masuk jam makan siang. Suster pasti akan datang untuk mengantar makanan. Kamu gak mau kan mereka melihat pemandangan seperti ini.”, ucap Rian menarik kursi dan duduk disana.
Dia juga meletakkan tasnya.
“Ngapain kesini? Kemaren - kemaren siapa yang bilang suruh urus urusan masing - masing? Kemaren siapa yang bilang untuk jaga sikap dan berhenti melihat ke masa lalu. Pak Rian?”, ujar Kirana dengan tatapan dan nada bicara yang sarkas.
“Tidak ada yang berubah. Aku kesini murni mau jenguk kamu.”, jawab Rian.
“Ngeselin.”, jawab Kirana.
“Kamu sudah baik - baik saja? Kenapa bisa telat makan?”, tanya Rian.
“Maaf, bukan urusan Bapak. Terima kasih kunjungannya.”, jawab Kirana kemudian membaringkan tubuhnya dan menutupnya dengan selimut.
“Ran, kemarin untuk pertama kalinya aku ngobrol lagi sama mama. Hehm, mama bilang aku ga perlu panggil dia ‘mama’ lagi karena keluarga kita udah ga ada hubungan lagi. Saat itu aku sadar. Ketika aku mengambil keputusan itu, aku sama sekali tidak berpikir kalau ini bukan hanya tentang kita berdua. Tapi juga keluarga kita.”, Rian memilih untuk terus berbicara. Tidak peduli Kirana mendengarnya atau tidak.
“Awalnya aku memutuskan untuk tidak akan pernah kembali ke Indonesia. Kenangan tentang papa, kenangan tentang kamu dan pernikahan kita. Aku kira, aku harus membayar semua rasa bersalahku pada Clara. Tapi, ketika dekan memintaku kembali untuk mengisi lowongan dosen di kampus, aku masuk dalam dilema. Meski bertarung dengan pendapatku sendiri, aku akhirnya menerimanya. Tidak mungkin bertemu Kirana, tidak mungkin dunia bisa sesempit itu, letak kampusnya juga lumayan jauh dari rumah kamu dan sepertinya selama kita menikah aku tidak pernah mendengar kamu menginginkan kampus ini. Tapi, pertemuan kita kembali saat itu membuat aku senang sekaligus bersalah.”, jelas Rian.
“Saat itu aku berpikir, mungkin dengan berada dalam lingkungan yang sama dengan kamu, aku bisa segera melupakan kamu. Tapi, aku tidak sadar kalau pada akhirnya aku juga menghindar dari kamu. Sampai akhirnya situasi membuat kita kembali bertemu dan berada dekat. Aku sadar, semua tidak semudah yang aku kira. Tidak, semua memang tidak mudah. Aku bukan tidak tertarik padamu, Ran. Tapi, setiap kali kamu menarikku, saat itu juga rasa bersalahku pada Clara menarikku kembali.”, ujar Rian.
“Tanpa aku sadari, aku menempatkan kamu pada posisi sulit. Sementara itu bukan sepenuhnya salah kamu.”, ujar Rian.
“Itu juga bukan salah Kak Rian. Aku tahu, aku tidak seharusnya menyembunyikan surat - surat itu. Tapi, aku tahu mungkin aku akan terdengar egois mengatakan ini ke kakak. Tapi, setelah aku ingat - ingat kembali isi surat - surat itu, apakah semua akan berbeda dengan sekarang? Apakah jika Kak Rian menerima surat - surat itu, Clara tidak mengambil keputusan yang sama?”, Kirana membuka selimutnya, namun dia masih tak ingin menghadapkan wajahnya ke arah Rian.
__ADS_1
“Hm… kamu benar. Clara mungkin sudah menempatkan keputusan itu sebagai keputusan akhir. Karena itu dia memilih untuk mengirimkan surat, bukan langsung menghubungiku.”