Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 33 What is wrong with Raka


__ADS_3

“What’ve gotta do mom?”, Ibunya masih dalam keadaan mabuk saat ia pulang.


*“Jangan pernah memanggilku, ibu. Kau bukan anakku.”, ucap wanita yang tubuhnya masih gontai dan kehilangan keseimbangan. *


*“Right, Aku juga tak pernah merasa wanita pemabuk ini adalah ibuku.”, ucap anak laki - laki itu. *


*Meski terdengar keras di depan namun hatinya menangis. *


*“Kenapa kau selalu membebani hidupku? Tak bisakah kau pergi dari sini dan membiarkanku tenang?”, ucap wanita itu sambil menunjuk - nunjuk. *


*Kepalanya berat, kesadarannya tak sepenuhnya miliknya, namun perkataan yang keluar dari mulutnya tetap tak kalah menyakitkan. *


*“Tak bisakah kau sadar apa yang sudah kau lakukan padaku?”, balas anak laki - laki itu mencoba untuk berbicara serius meski dia tahu orang di depannya ini tak akan mengingat percakapan ini nanti. *


“Apa, kau yang seharusnya sadar, kau membunuh puteriku. Kau menghancurkan masa depanku.”


Deg.. jantung anak lagi - lagi itu berdetak. Pedih rasanya dituduh seperti itu.


*“Berkali – kali aku bilang. Aku tidak membunuhnya.”, balas anak laki - laki itu membela diri. *


*“Diam.”, *


Prankkkk


Sebotol whisky pecah. Disusul dengan beberapa bantingan Wine mahal dari anak tangga atas. Wine – wine itu berserakan menyamarkan noda darah Raka yang terkena salah satu pecahan kacanya. Ibunya justru berlari keatas dan membanting pintu kamarnya.


Hah ... Hah ... Hah


Kenapa mimpi itu lagi. Kenapa mimpi itu selalu berputar – putar di kepalaku? Raka, laki - laki itu terjaga saat ponselnya mendadak berbunyi di pagi – pagi buta. Ini sekitar pukul 3 pagi, siapa orang gila yang menghubungi ponselnya jam segini.


“Kau Gila??? Apa yang sudah kau lakukan, Ha?”, teriak orang yang berada di sambungan ponselnya.


“Kau melihatnya? Padahal aku hanya ingin memperlihatkan ini pada Radit.”, jawab Raka seolah langsung mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh orang dibalik sambungan teleponnya.


“Dasar tidak waras.”, ucap pria itu.


“Kau pikir siapa yang tidak waras. Menghubungi ponsel orang pagi – pagi buta begini?”, Raka tak mau mengalah. Dia tak kalah berteriak dan mengomeli orang yang sudah meneleponnya.


“Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?”, tanya pria di seberang telepon frustasi.


“Aku tidak ingin melakukan apapun. Aku hanya kuliah dan melakukan apa yang dilakukan anak seumuranku. “, balas Raka dengan nada santainya sambil tertawa kecil.


“Berani sekali lagi kau berbuat begitu. Aku tidak akan tinggal diam terhadapmu. Mengerti?”


“Tidak. Aku akan melakukan apapun yang aku suka. Dia bukan milikmu lagi. Dan kenapa kau hanya memperingatkanku? Radit juga menyukainya.”, ungkap Raka dengan percaya diri.


“Aku meragukan rasa sukamu.”

__ADS_1


Raka menutup ponselnya. Kemudian membantingnya ke lantai. Tak berselang, ponselnya kembali berbunyi. Dengan malas ia mengangkatnya.


“Lo pikir gue diem aja gitu setelah lo nyium gue? Lo masih waras kan?”, kali ini Kirana yang berteriak.


Dia sudah mencoba untuk tidur. Tetapi, matanya tak mengantuk karena kepalanya terus memikirkan kejadian kemarin.


“Oh.. Kirana? Kenapa orang – orang seneng banget nelpon gue pagi – pagi. Heran.”, ucap Raka.


“Lo bener - bener ya. Gak ada rasa bersalahnya sama sekali. ... Arghhhh .”, kali ini giliran Kirana yang frustasi,


“Jangan bilang lo nggak tidur semaleman cuma karena ciuman itu?”, sela Raka.


“Berisik.”, Kirana tak bisa membalasnya lagi.


“Hello, di Perancis itu disebut ciuman perkenalan. Understand? Ato jangan bilang itu ciuman pertama lo.”, matanya yang masih mengantuk perlahan kembali segar karena ternyata Kirana adalah perempuan yang mudah untuk dikerjai.


“.....”, Diam tak ada jawaban.


“Hhaha jadi bener itu yang pertama?”, tanya Raka tertawa lebar.


“Pokoknya besok kita perlu bicara.”, kali ini nada bicara Kirana serius.


“Ok. Datang jam 9 pagi di kampus. Dan kita bicara. Gue rasa yang hadir bukan cuma kita.”, ucap Raka dengan angkuh.


Tutututuut……..


‘Ada apa sih dengan cowok songong, aneh, bin ajaib itu? Sok misterius. Ahhh seharusnya gue yang nutup ponselnya.’


Di seberang sana Kirana masih menggerutu dan marah - marah seperti biasa di depan cerminnya. Bedanya, kali ini dia tidak mengeluarkan suara, hanya komat - kamit tidak jelas di depan cermin kemudian loncat ke kasur dan menendang sambil memukul gulingnya, seakan - akan itu adalah Raka. Cowok brengsek yang udah nyium dia seenaknya. Kemudian dia melanjutkan ungkapan rasa kesal pada ponselnya.


‘Dasar blasteran sakit jiwa!’, teriak Rana kesal.


--------------


“Na, lo pacaran ama Raka? Yang bener?”, pagi – pagi Radit sudah menghampirinya.


Ternyata ini yang dimaksud Raka bukan hanya mereka yang akan datang.


“Ah...ehm..iya.”, Entah apa yang ada dipikirannya, ia malah menjawab ‘Ya’.


Setidaknya Radit tak lagi mengganggunya. Malas juga lama – lama berhadapan dengan Fay, pacarnya yang super duper nyebelin itu.


Bahkan kemarin ia merasa begitu menang karena melihat wajah gadis itu melongo dan terheran – heran.


Setelah kejadian labrak - melabrak kemarin, Kirana angkat tangan. Dia, tidak bisa berhadapan dengan Fay. Kalau dia memaksa untuk berhadapan dengannya, yang ada Kirana harus menanggung malu.


“Apa? Lo beneran pacaran ama anak baru itu? Hah ... ini bener – bener nggak bisa di percaya.”, ungkap Radit terkejut sambil geleng - geleng kepala.

__ADS_1


Pertama, sekitar tiga minggu yang lalu, mereka itu masih ‘strangers’ alias orang asing. Kedua, mereka tidak pernah terlihat bersama. Ketiga, apa yang ada dipikiran Kirana?


“Emangnya kenapa?”, pertanyaan ini membuat Radit gelagapan.


Ya, apa hubungannya dengan Radit. Mereka juga tidak pernah dekat. Kenapa Radit harus bersikap berlebihan seperti itu?


“Trus ngapain lo datang pagi – pagi begini?”, tanya Radit.


“Lo sendiri?”, Kirana membalikkan pertanyaan itu pada Radit.


“Ngerjain tugas”, jawab Radit terdengar kaku dan asal.


Hanya itu alasan yang bisa dia pikirkan sekarang.


“Gue juga. Sebentar lagi gue harus masuk kelas yang dosennya gak kalah galak dari Pak Rian. Jadi, gue harus hati – hati. Oke da...”, Entah kenapa Kirana merasa senang dan menang di hadapan Radit.


Laki – laki itu seperti kadal, senang berubah – ubah, playboy, dan semuanya. Entahlah, apa jangan - jangan dia itu baik pada semua orang. Kirana juga sempat mengira Radit orang yang manipulatif.


“Oh, lo udah datang. Jam berapa lo kesini? Lo tidur di pos satpam?”, ejek Raka begitu dia tiba di kelas.


Kebetulan, untuk kelas yang satu ini, mereka mengambil dosen yang sama. Raka adalah mahasiswa transferan. Sehingga, paketannya sudah ditentukan oleh fakultas. Jadi, ini bisa disebut sebuah kebetulan bisa sekelas dengan Kirana.


“Lo kira gue apaan?”, Kirana masih emosi. Terlebih jika menilik kejadian kemarin malam.


“Lo mau jadi pacar gue?”, bagaikan gayung bersambut.


Kirana baru saja berbohong untuk hal ini. Tapi cowok satu ini justru memintanya. Tapi benarkah laki – laki ini menyukainya?”


“Gue minta lo pura – pura jadi cewe gue. Tepatnya nggak ada alasan khusus yang mesti gue ceritain. Tapi setidaknya gue punya alasan.”, ucap Raka mulai terdengar serius.


“Oke, gue juga sama, ada alasan khusus tapi bukan alasan yang harus gue kasih tahu ke lo.”, balas Kirana.


“Oke. Ini akan bertahan sampai semester ini selesai. Bagaimana?”, ujar Raka memberikan penawaran.


“Fine. Cuma  sekitar 5 bulan lagi.”, Kirana kemudian pergi keluar kelas.


Namun Raka kembali memanggilnya.


“Mau ketemu dosen Fisika?”, tanya Raka pada Kirana.


“Masalah lo?”, jawab Kirana ketus.


Masih sekitar 30 menitan lagi sebelum kelas mereka dimulai. Di kelas ini, baru mereka berdua yang hadir. Kirana tidak ingin berada berdua dengan orang ini di kelas dan menciptakan gosip aneh. Meski sepertinya gosip itu sedang dalam proses tercipta berkat kecepatan mulut Fay berkicau.


“Nggak, cuma ngerasa aja kalo lo kayak punya hubungan khusus ama dosen itu.”


“Dia dosen dan gue mahasiswanya, maksud lo itu hubungan khususnya? Permisi, gue mau ke toilet..”, kata Kirana menepis lengan Raka.

__ADS_1


__ADS_2