
Hari pentas seni yang ditunggu - tunggu akhirnya akan segera tiba. Besok. Besok adalah waktu dimana salah satu perhelatan fakultas akan diadakan. Proyek pertama Kirana sebagai anggota BEM divisi acara.
Setelah bergelut dengan UTS yang melelahkan selama seminggu. Dia bersama anggota timnya memiliki waktu hanya seminggu untuk mulai serius lagi menggarap proyek pentas seni ini. Meski menelan kekecewaan karena proyek tidak dapat dilanjutkan sesuai harapan, kini semua anggota tim hanya memiliki satu harapan. Proyek bisa berjalan dengan lancar dan mereka bisa menambahkan aktivitas ini ke dalam CV mereka.
“Ran, bisa tolong di briefing lagi untuk persiapan besok?”, ujar salah seorang anggota tim yang juga satu angkatan dengan Kirana.
Ketua BEM Fakultas juga ada disana sekaligus Radit selaku penasihat. Walau dia sudah turun jabatan dari BEM Kampus, namun Ketua BEM Fakultas tetap mengikutsertakan Radit sebagai penasihat untuk acara ini.
Sebelum tercatat sebagai salah seorang mahasiswa aktif di kampus, Radit sudah menjadi Ketua Osis di SMA. Dia juga aktif di berbagai kegiatan kemanusiaan. Hal ini yang membuat Radit sangat cocok untuk menjadi partner dalam acara kali ini.
Meskipun dia masih berstatus mahasiswa tingkat kedua, tetapi dia sudah banyak pengalaman.
Oiya, sebelum memutuskan untuk berkuliah, Radit mengambil cuti selama satu tahun setelah lulus SMA. Jadi, sebenarnya Radit seharusnya menjadi mahasiswa tingkat 3.
Ketua BEM Fakultas yang sekarang adalah teman SMA nya. Mereka berada di satu kepengurusan OSIS.
Semua kru yang bertugas termasuk Kirana sebagai Project Officer berkumpul di aula kecil Fakultas mereka. Untuk mempersiapkan acara besok dengan sebaik - baiknya, mereka memutuskan untuk menginap di kampus.
Mereka yang mayoritas tinggal di daerah yang jauh, memutuskan untuk tidak pulang ke rumah hari ini. Sementara yang ngekos, mereka akan pulang setelah rapat terakhir malam ini sebelum mulai menggarap acara besok pagi - pagi sekali.
Acara akan dimulai pukul 1 siang hingga pukul 12 malam. Acara akan mengalami 3x break shalat Ashar, Maghrib, dan Isya.
Mahasiswa Fakultas lain diperbolehkan untuk hadir namun harus membayar tiket dan jumlahnya terbatas. Terdapat dua buah panggung yang akan dipersiapkan selama acara. Panggung masa jadul dan panggung masa kini.
Kemudian ada beberapa games berhadiah yang akan dibuka hingga pukul 8 malam. Ada juga bazar makanan, buku, dan beberapa pameran mahasiswa. Persiapan sudah rampung hari ini. Penataan sudah selesai pukul 8 malam tadi. Tim akan melanjutkan proses pengaturan set besok pagi menjelang pukul 11 pagi.
Setelah itu, semua harus sudah selesai dan mulai menjalankan run down satu persatu. Proses loading juga harus segera dimulai pukul 9 hingga 11 pagi. Setelahnya, mereka harus melalui jalur yang berbeda karena semua harus di clear kan.
Pengunjung sudah bisa mulai masuk arena pada pukul 12 siang. Gate akan dibuka dan diutamakan untuk para mahasiswa, dosen, dan jajaran pengurus Fakultas Teknik terlebih dahulu. Sementara mahasiswa lintas Fakultas baru boleh masuk pukul 2 siang.
Kirana benar - benar deg - degan sekarang. Dari awal menjadi PO hingga detik kemarin, dia tidak merasa gugup sama sekali. Tapi menjelang H-1 acara, dia merasa jantungnya akan meledak saja.
Kirana baru saja menyelesaikan briefingnya dan akan bersiap - siap untuk membereskan beberapa hal bersama tim - tim kecil untuk memastikan kembali sebelum mereka kembali ke rumah.
“Seragam kru semua sudah ready, ya? Gue gak mau bagiin seragam kru sekarang. Karena gue ga mau ada cerita ketinggalan di rumah dan sebagainya. Lo bertugas bagiin seragam kru besok ya. Semua udah di jejerin sama tim berdasarkan alfabet.”, perintah Kirana pada satu tim yang sudah berkumpul.
“Guys, semua oke? Tenant yang mau masuk untuk konsumsi full dan confirm semua, ya?”, kata Kirana.
__ADS_1
“Tinggal satu Ran yang belum. Katanya masih belum pasti. Tapi doi ga minta uang sewa dibalikin. Jadi kita tunggu aja, ya.”
“Pastiin per besok pagi ya. Kalo ga langsung broadcast siapa yang mau masuk. Soalnya kalo makanan dikit juga bingung nanti pada ngumpul dan chaos. Yang lain?”, tanya Kirana menanggapi laporan dari salah seorang tim nya.
“Yang lain belum ada info untuk cancel. Jadi asumsi gue sudah ok.”
“Telpon semua sekali lagi. Pastiin semua OK. Besok pagi jam 9, lo tanya posisi mereka udah dimana.”, ujar Kirana.
“Guys, band yang kemaren lo undang, udah oke? Katanya gitarisnya, sakit?”, tanya Kirana langsung berpindah ke yang lain.
“Udah Ran. Mereka full personil. Line-up udah gue rapihin.”
“Jangan sampai bocor, ya. Awas lo.”, kata Kirana memberikan penekanan.
Line-up penting karena ada beberapa surprise guest star di beberapa segment yang tidak boleh bocor ke pengunjung.
“Ah iya.. Pak Dekan gimana, Ran?”, tanya Radit menghampiri Kirana.
“Bentar, gue telpon Kak Rio dulu. Doi masih rapat sama anak BEM.”, kata Kirana.
“Halo, Kak. Sorry banget nih, gue ganggu. Pak Dekan udah jadi dipastiin belum, kak?”, tanya Kirana.
“Ran, tadi gue udah coba hubungin. Terus staf bagian mahasiswa bilang suruh telpon Pak Rian.”, jawab Rio.
“Hah? Pak Rian? Dia kan Dosen Fisika. Apa hubungannya sama mastiin Pak Dekan datang atau engga?”, tanya Kirana heran.
“Soalnya, ga ada yang berani tanya. Doi kan masih di rumah. Jadi, si Jerald titip pesan sama Pak Rian. Katanya dia mau ke rumah Dekan malam ini minta tanda - tangan apalah gue gak tahu tentang Riset. Jadi minta titip tanyain.”, kata Rio.
“Ah.. Oke kak.. Thanks ya.”, ucap Kirana.
“Eh.. Ran, kamu tahu nomornya Pak Rian ga?”, tanya Rio.
Belum sempat Rio menyelesaikan kalimatnya, Kirana langsung memutus teleponnya.
“Rakaa….”, Kirana berteriak memanggil Raka yang beberapa saat lalu masih bisa dia lihat berada di tengah - tengah kerumunan.
“Eh.. lo lihat Raka ga?”, tanya Kirana pada staf yang baru saja lewat.
__ADS_1
Sebagian dari mereka sudah mulai merapikan tempat untuk mereka beristirahat malam itu.
“Wah.. engga, Ran.”, jawab salah seorang rekannya.
“Guys, ada yang lihat Raka?”, tanya Kirana akhirnya menyerah bertanya satu - satu dan memutuskan untuk berteriak saja.
Hasilnya tetap saja nihil. Tidak ada yang melihat Raka.
‘Gila, tuh orang udah kaya tuyul. Ngilang mulu tiap dicariin.”, kata Kirana.
“Ran, ngapain sih nyariin Raka? Maaf banget nih, pacaran sih boleh - boleh aja. Tapi mastiin besok Dekan dateng kayanya jauh lebih penting.”, ucap Radit.
“Ya.. ini gue dalam rangka memastikan besok Dekan dateng atau engga.”, ujar Kirana.
“Hubungannya ama Raka?”, tanya Radit bingung.
“Kak Rio tadi info kalo tanya ke Pak Rian, kan? Soalnya doi juga mau ke rumah Dekan buat minta tanda tangan perihal riset. Si Raka kan anak Riset Fisika. Siapa tahu dia bisa bantu.”, ucap Kirana.
Sebenarnya, Kirana tidak perlu berputar - putar hanya untuk mengetahui tentang Dekan. Dia bisa langsung menghubungi Rian dan semuanya selesai. Tapi, Kirana sedang tidak mau bicara dengan Rian.
‘Ahh… okay okay. Mau gue temenin nyari di luar?”, tanya Radit menawarkan.
Kirana mengernyitkan alisnya sedikit. Tapi, cara itu boleh dicoba, pikirnya.
“Hn.”, ucap Kirana.
Keduanya akhirnya berjalan keluar dari aula. Diantara semua ceklis Kirana malam ini sebelum beristirahat, hanya tinggal memastikan kehadiran Dekan. Kenapa ini penting? Karena line-up acara akan berpengaruh terhadap hadir atau tidaknya Bapak Dekan.
Beberapa jajaran tidak memberikan jawaban pasti karena kejadian waktu itu. Tidak banyak yang mengetahui apakah Dekan sudah pulih atau belum. Terakhir, mereka hanya mendapatkan informasi kalau Dekan sudah berada di rumah dan mendapatkan perawatan jalan.
Suasana menjadi sangat canggung antara Radit dan Kirana karena Kampus terlihat sepi. Ya, ini adalah hari Jum’at dan tepat di minggu UTS selesai. Kontras dengan penampangan minggu lalu, sulit menemukan mahasiswa yang masih ada di kampus pada jam segini.
Lebih tepatnya hampir tidak mungkin. Mungkin sesekali mereka bisa menemukan mereka - mereka yang sedang menghisap WiFi gratis kampus. Tetapi jumlahnya sangat minim.
“Ehehm… kamu dan Raka, masih?”, tiba - tiba Radit melontarkan pertanyaan yang paling tidak recommended untuk ditanyakan malam ini di situasi seperti ini.
‘Tahu gitu mending gue telpon Kak Rian aja. Hah.. gara - gara ngikutin saran influencer sih. Tapi bener ga sih? Kalo gue terus yang ngejar Kak Rian, kapan dia sadarnya kalo dia butuh gue. Kalo dia suka gue. Eh.. tapi ampe sekarang dia gak ngehubungin gue atau bahkan gak ngelirik gue pas papasan. Apa jangan - jangan dia emang ga suka ama gue?’, bukannya menjawab pertanyaan Radit, Kirana justru tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
__ADS_1