
“Orang stan semua udah datang, ya. Loading udah beres? Pembagian sama rata, ya. Dipastikan pesan dari pengurus kampus, untuk tong sampah plis segera ditempatkan, ya. Guys, jangan lupa penjaga stand di briefing tentang kebersihan.”, ujar Kirana.
Hari ini adalah hari Sabtu pukul 10 pagi. Kirana sudah siap dengan seragam staf dan walkie - talkienya bersama dengan para staf - staf yang lain yang mulai bergerak sigap di posisi mereka masing - masing.
Meskipun masih sangat pagi, beberapa mahasiswa terutama junior (anak baru) sudah ada yang hadir dan duduk - duduk di sekitaran kampus. Gate masuk baru bisa dibuka satu jam lagi sesuai dengan informasi pada undangan.
“Ruang tunggu udah beres. Kalau nanti band yang mau tampil udah datang, mereka bisa diarahin langsung ke ruang tunggu, ya. Path clear, ya. Jangan ada yang lewat - lewat sana.”, ujar Kirana lagi - lagi mengarahkan dengan penuh semangat.
“Lagian, band lokal kampus mah ga ada yang minta tanda tangan.”, ucap salah seorang staf.
“Hush.. jangan salah loh. Mereka banyak fansnya juga.”, ujar Kirana.
“Labeling udah selesai, kan? Terutama surprise guest ya. Kita udah capek - capek bikin segmentasi ruang tunggu. Jangan sampai ada yang lolos, loh.”, ucap Kirana.
“Siap ibu PO.”, ujar staf yang sedang di briefing.
“Ran, kursi segini buat VIP, cukup ya.”
“Kemarin di briefing berapa, ya?”, tanya Kirana melihat lembaran kertas di tangannya.
“Butuh enam. Bacaa dong brifiengnya. Angkat 1 lagi dari atas, ya. Kemarin bagian korlap udah izin pinjem kursi disana. Labelling jangan lupa. Soalnya pak Dekan datenganya siangan. Takut ada yang dudukin.”, jelas Kirana.
“Okee sipp.”
“Gimana Ran? Semua oke? Ada yang perlu gue bantu?”, tanya Radit menghampiri Kirana setelah dia selesai membantu beberapa anggota korlap untuk memastikan semua atribut dan properti sudah pada tempatnya.
“Ceklis lo udah selesai semua?”, tanya Kirana pada Radit sambil memegang beberapa kertas yang ada di tangannya.
“Udah.”, jawab Radit singkat sambil tersenyum.
“Bagus. Ceklis gue juga udah selesai.”, kata Kirana membalas senyum Radit.
“Sarapan dulu, Ran. Barusan Kak Rio bawa makanan dan di taruh di aula.”, ujar Radit.
Ternyata dia menghampiri Kirana untuk mengajaknya sarapan. Sedari tadi Kirana belum meneguk dan memakan apapun dari pagi. Dia benar - benar ingin memastikan semuanya lengkap sebelum beristirahat.
“Lo udah? Duluan aja. Ghea mana sih! Katanya mau datang duluan. Udah jam segini belum dateng juga.”, komentar Kirana sambil melihat jam di tangannya.
__ADS_1
“Dia kan bukan panitia. Ngapain datang pagi - pagi.”, komentar Radit.
“Dia udah janji. Paling juga masih tidur itu anak. Raka juga mana sih. Itu orang niat ga sih jadi panitia. Tahu gitu ga gue terima kemaren pas dia lamar mau jadi staf acara. Udah ga nginep. Pulang duluan. Udah gitu jam segini masih belum nyampe juga.”, Kirana mengomel sejadi - jadinya.
Dia sudah meminta staf lain menghubunginya tapi Raka masih saja MIA (Missing in Action).
“Jangan - jangan dia ke klub lagi kemarin.”, ucap Radit.
“Bener - bener ya itu orang. Udah tahu hari ini mau acara.”, kata Kirana.
“Sarapan dulu, Ran.”, Radit masih berusaha mengajak Kirana untuk mengambil sarapannya.
Akhirnya Kirana hanya bisa mengikuti Radit.
“Lo yakin pacaran sama Raka?”, tiba - tiba Radit melontarkan pertanyaan ini lagi.
“Maksud lo?”, tanya Kirana.
Okee mereka hanya berpura - pura. Tapi maksudnya Radit tanya itu apa? Setidaknya itulah yang ada di kepala Kirana sekarang,
“Ya.. lo kan anaknya lurus - lurus aja. Sementara lo tahu kan Raka gimana.”, ucap Radit.
Pagi itu Kak Rio, sang Ketua BEM berbaik hati untuk membelikan semua staf sarapan satu set burger dan kopi. Idaman banget.
“Ya.. dia ke klub, ngerokok, dan minum. Gue cuma gak mau aja lo terseret ke pergaulan dia.”, kata Radit.
“Gue bisa jaga diri kok. Makasih.”, ucap Kirana berdiri dan meninggalkan Radit.
“Ran, dengerin gue dulu.”
“Kita ngobrol lain kali aja ya. Kayanya sekarang bukan waktu yang tepat buat obrolin topik kaya gini. Masih banyak yang harus kita cek.”, kata Kirana sebelum pergi menyusul beberapa staf acara yang baru saja keluar aula.
“Katanya tadi sudah diceklis semua.”
************
Sejam kemudian, Raka baru datang. Dia tidak sendiri. Pria itu membawa Fas dan tindakannya berhasil memberikan tanda tanya besar di kepala orang - orang. Kirana tahu hampir semuanya memiliki pertanyaan yang sama.
__ADS_1
Walaupun tidak sampai satu angkatan yang tahu Kirana dan Raka pacaran, tapi hampir semua staf acara pentas seni ini mengetahuinya. Apa maksudnya Raka datang ke acara kampus bareng dengan Fas yang notabene adalah pacar Radit (mantan mungkin). Untuk pasangan satu ini, bahkan semut di kampus pun tahu.
“Ran, itu pacar lo kok barengan sama Fas datengnya? Udah telat lagi.”, komentar seseorang di samping Kirana.
“Fokus aja sama tugas lo. Proses regis ulang di depan udah oke belum? Alat scan barcode jalan semua, kan? Udah lo cek? Atribut yang harus di kasih pas orang regis udah dipindah semua? Susah loh angkat - angkat dari aula kalo ternyata kurang.”, Kirana membalas komentar rekan di sebelahnya dengan baik.
“Ah.. oke Ran.. itu gue harus itung lagi. Sebentar ya.”, jawabnya.
“Hm.. hari ini, fokus acara dulu. Jangan gosip.”, ucap Kirana meninggalkannya disana.
‘Padahal demi kebaikan dia. Udah tahu cowonya begitu, masih aja.’, kata temannya dalam hati.
“Raka.. lo in charge buat mastiin semua line-up siap, ya. Kenapa telat sih? Udah balik duluan juga.”, semprot Kirana begitu Raka menghampirinya.
“Jangan galak - galak dong, Ran. Kamu bikin orang - orang berpikir kamu sedang cemburu sama aku.”, goda Raka sambil berbisik di telinga Kirana.
“Sekali lagi lo pake ‘Aku’ dan ‘Kamu’, gue hajar lo, ya.”, ancam Kirana.
Gadis itu berbicara meskipun mulutnya terlihat seperti sedang tersenyum pada Raka.
“Katanya mau ngehindarin Radit. Kalo marah - marah gini, yang ada itu orang makin deketin kamu.”, kata Raka meningatkan.
“Lo bedua tuh ya… ga ada yang bener. Kenapa sih yang suka sama gue harus tipikal kaya kalian berdua.”, protes Kirana sambil bergumam.
“Eh.. siapa bilah gue suka sama lo. Radit iya. Gue mah engga.”, Raka ikut protes.
“Terus, kenapa lo berani - beraninya cium gue?”, ucap Kirana.
“Yakin mau bahas ini sekarang?”, tanya Raka memastikan pada Kirana.
“Arghhh…”, Kirana akhirnya meninggalkan Raka berdiri disana.
Berbicara dengan pria itu sama saja dengan bicara dengan tembok. Begitu pikir Kirana.
“Eh Ran.. awas.”, teriak Raka sambil menarik Kirana cepat.
Sebuah gerobak yang membawa air panas sedang lewat ketika Kirana berbalik meninggalkan Raka dengan terburu - buru. Beruntung Raka dengan cepat menarik gadis itu ke arahnya. Namun, berat tubuh Kirana dan tarikan tangan Raka membuat Kirana terpental sedikit ke belakang dan keduanya berakhir di dalam sebuah kardus kosong berisi styrofoam di belakang mereka.
__ADS_1
Sontak semua staf yang ada di sekitar sana langsung tertawa lepas melihat keduanya sukses nyemplung ke dalam kardus tersebut.