Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 73 Pagelaran Pentas Seni (Hari-H) Bagian 2


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Itu artinya, acara pentas seni sudah dimulai. Tim pelaksana membuka proses registrasi masuk satu jam sebelumnya untuk mempermudah akomodasi para pengunjung agar tidak terlalu berdesak - desakkan.


Acara seperti ini rutin dilakukan setiap tahun dengan mengusung tema yang berbeda - beda. Di tengah sibuknya aktivitas kampus, baik mahasiswa, dosen, maupun elemen kampus lainnya bisa menikmati waktu santai dengan hiburan sejenak.


“Woah.. baru jam segini, sudah rame aja. Pas banget ya di mundurin acaranya jadi jam 1, lebih maksimal.”, komentar seseorang di samping Kirana.


Acara seperti ini biasanya diadakan lebih pagi dan dilanjutkan di siang hari kemudian selesai setidaknya sebelum jam 5. Namun, berdasarkan analisa performa acara - acara sebelumnya, Kirana menemukan beberapa kesempatan untuk meningkatkan partisipasi pengunjung terutama elemen kampus.


Dengan memundurkan acara menjadi siang dan melebarkannya hingga malam hari, Kirana bersama dengan staf pelaksana berharap bisa meningkatkan keikutsertaan. Mahasiswa biasanya kesulitan untuk bangun pagi terutama di akhir pekan.


Tentu saja, Kirana bersama dengan tim pelaksana tidak mudah untuk bisa mendapatkan persetujuan mengadakan acara seperti ini hingga malam hari. Normalnya, di luar acara resmi kampus, tidak boleh ada acara yang melewati pukul 8 malam.


Namun, mereka berhasil meyakinkan manajemen bahwa acara ini layak untuk mendapatkan slot tersebut.


Buktinya, sekarang banyak sekali mahasiswa yang melakukan registrasi untuk masuk. Baris demi baris tak kunjung habis.

__ADS_1


“Ran, Dekan udah dateng. Terlihat di parkiran.”, bunyi suara dari walkie talkie yang sedang dipegang Kirana.


“Segera arahkan ke ruang tunggu, ya. Acara akan segera kita mulai.”, ucap Kirana.


“Oh… roger - roger Dekan kayanya dateng bareng calon menantu, nih. Over.”, suara dari sumber yang lain juga muncul di walkie talkie Kirana.


Kirana tidak membalas, tetapi kepalanya berpikir. Apa maksud perkataan rekan - rekannya ini.


“Wah.. Pak Rian ngapain tuh dateng bareng Pak Dekan. Itu yang disampingnya kaya pernah liat.”


“Bu Claudia. Dulu pernah ngajar jadi dosen tamu pas kita masih jadi mahasiswa baru.”


“Wah.. iyaaa bener banget. Bu Claudia. Yang cantik banget itu. Kemaren gue liat di kantin. Gue kira gue salah orang.”


“Ran?”, panggil Radit.

__ADS_1


“Ran?”, Radit menyikut siku kiri Kirana.


“Uh?”, tanya Kirana bingung.


“Pak Dekan udah di ruang tunggu. Lo sebagai PO mau buka acaranya sekarang ga? MC udah stand by di samping panggung nunggu aba - aba dari lo.”, jelas Radit yang sedari tadi entah mengapa terus di samping Kirana.


Padahal, Rio yang notabene adalah Ketua BEM Fakultas saja, anteng makan siomay di tengah - tengah bazar.


“Oh.. iya. Thanks, Dit.”, jawab Kirana.


“MC on standby. Kita bisa mulai sekarang. Line-up sesuai rencana.”, ucap Kirana memberikan aba - aba pada walkie talkie.


Berhubung jarak antara dirinya saat ini dan panggung berdekatan. Kirana juga bisa sambil memberikan kode pada MC untuk masuk dan membuka acara.


Terdapat dua MC yang dihadirkan. Keduanya adalah influencer kampus yang juga tergabung dalam klub radio kampus. Suara mereka tidak diragukan lagi dan jam terbang mereka sudah tinggi. Beruntung salah satu dari mereka adalah anak Fakultas teknik meskipun dari jurusan yang berbeda.

__ADS_1


MC terlihat membuka acara dengan lancar. Riuh tepuk tangan mahasiswa yang baru saja melewati UTS yang berat minggu ini sangat kencang. Bahkan diantara mereka ada yang tidak ragu untuk memberikan suitan.


__ADS_2