
Suasana kampus ramai kembali seperti biasa. Setelah badai UTS selesai, takkan lama lagi, UAS juga akan segera menanti mereka semua. Ghea, gadis itu menyusuri lorong untuk keluar dari gedung kampus. Kelasnya sudah selesai hari ini. Sesuai janjinya, dia akan menjenguk Kirana.
Ini untuk kedua kalinya. Ya, Ghea sudah menjenguk Kirana kemarin. Meski hanya melihat dari pintu luar saja. Mama Kirana sudah mengatakan agar menjenguknya besok saja. Tetapi Ghea sangat khawatir. Dia memutuskan untuk tetap datang ke rumah sakit di sore hari setelah semua kelas dan tugasnya selesai.
Walau baru setahunan ini kenal dengan Kirana. Walau banyak pertengkaran dan perselisihan di antara mereka, Ghea tidak pernah memiliki sahabat seperti Kirana. Setelah memastikan temannya baik - baik saja, Ghea langsung pulang kemarin.
Ghea melewati beberapa kelas sepanjang lorong.
‘Pak Rian?’, gumam Ghea saat melihat salah satu kelas yang dia lewati.
Kelas itu adalah kelas lain untuk mahasiswa tingkat atas yang mengambil jurusan dengan proporsi Fisika yang lebih banyak. Melihat Dosen Fisika paling killer di kampusnya, Ghea teringat pada hari kemarin saat dia menjenguk Kirana.
Flashback mulai
‘Duh.. gue belom pernah sekalipun ke rumah sakit sendirian. Caranya gimana ya? Tanya ke satpam? Tanya ke bagian administrasi? Tanya ke siapa, ya? Eh.. gue boleh masuk ga ya? Katanya jam besuk cuma sampai jam 5 sore. Jangan - jangan malah nanti gak boleh masuk lagi. Sia - sia dong gue kesini.’, Ghea bertanya - tanya sendiri dalam hatinya.
“Permisi, saya mau besuk teman saya.”, ucap Ghea akhirnya bertanya pada suster yang bertugas di bagian depat setelah mendapat pengarahan dari satpam.
Tak disangka, meskipun berada dekat dengan perumahan dan tidak berada di jalan besar, rumah sakit ini besar juga.
“Mohon maaf, jam besuknya sudah habis. Mungkin bisa kembali lagi besok.”, ucap suster tersebut menjelaskan.
“Dok, saya boleh lihat dari luar aja gak? Teman saya soalnya. Saya ga masuk kok. Cuma lihat aja.”, ujar Ghea.
Berhubung Ghea sampai hanya beberapa menit setelah jam besuk habis, suster tersebut akhirnya memperbolehkan gadis itu.
“Kamarnya sebelah sana ruangan 301. Dari luar saja ya.”, ucap Suster tersebut mengarahkan.
Suster itu tetap mengawasi meskipun Ghea dipersilahkan untuk kesana sendiri. Ghea sudah berjanji hanya melihat dari luar saja. Lagipula, dia juga sudah terlanjur kesini. Masa tidak lihat sama sekali.
Tadinya, Ghea berharap bisa bertemu dengan mama Kirana. Berharap bisa diizinkan untuk menjenguk. Tapi sepertinya dokter sedang memanggilnya.
‘Oh? Bukannya itu Pak Rian? Eh? Ngapain Pak Rian disini? Temannya ada yang sakit?’, Ghea tanpa sengaja melihat seseorang yang mirip dengan dosen Fisikanya, Rian.
Pria itu sedang berdiri di sebuah mesin penjual yang letaknya disudut lorong dan menghadap ke arah lorong lainnya di sebelah kiri. Ghea hanya bisa melihatnya dari samping.
__ADS_1
Rian nampak mengambil dua buah minuman kaleng dan berjalan ke arah lorong kiri tadi. Kalau dari tempat Ghea berdiri, dia harus berjalan lurus lalu belok kiri. Ghea masih ingin melihat dan memastikan, namun Rian nampaknya sudah menghilang di balik lorong.
“Hm? Jelas itu Pak Rian ga sih. Orang bajunya sama dengan yang tadi pagi. Eh kok gue merhatiin aja lagi. Tapi ngapain ya doi? Ada keluarganya yang lagi dirawat juga kah?”, tanya Ghea dalam hati sambil terus berjalan.
Sesampainya di unit rawat inap Kirana, Ghea segera lupa pada apa yang dilihatnya tadi dan kemudian memperhatikan dari luar.
“Hm.. separah itu sampai diinfus? Kayanya lagi tidur juga. Pantes mama Kirana suruh aku dateng besok aja. Tapi dari tadi pagi masa ga sadar - sadar. Tadi sih tante bilangnya Maag. Tapi sebegitunya. Untuk aja aku rajin makan orangnya.”, ucap Ghea langsung random kemana - mana.
Flashback selesai
“Oke.. kelas hari ini selesai. Sampai jumpa minggu depan.”, ucap Rian segera mencabut ponselnya dari kabel infocus dan berjalan keluar.
“Oh…”, Ghea yang masih melamun tak menyadari kalau Pak Rian sudah keluar dari ruang kelas.
Nampak seorang mahasiswa menghalangi jalannya, Rian langsung diam dan menatapnya. Tatapan lurus dan tajam. Ghea seolah seperti sedang mendengar suara burung gagak yang baru lewat.
“Ah.. ma - ma- maaf, Pak. Haha … silahkan, Pak.”, Ghea langsung kaget bukan main setelah sadar dia menutupi langkah dosennya.
“Dodol, kenapa aku malah jalan kesana. Gara - gara Kirana sih.”, Ghea merutuki dirinya pelan sambil memukul - mukul kepalanya.
Rian, pria itu sudah melangkah jauh melesat meninggalkan lorong dengan cepat.
“Tuhkan bener, yang gue lihat kemaren itu beneran Pak Rian.”, ternyata yang Ghea kutip adalah kertas parkir yang bertuliskan nama rumah sakit tempat Kirana dirawat.
“Hm.. kemarin dia ke rumah sakit, sekarang udah bisa ngajar lagi. Kemungkinan bukan keluarganya. Mungkin dia hanya jenguk teman? Atau dosen yang lain? Ah.. ngapain gue pikirin.”, ucap Ghea memasukkan kertas parkir itu secara tidak sadar ke dalam saku celananya.
************
“Ghe, lo tahu Kirana dimana ga? Kok udah dua hari ga masuk - masuk kampus juga.”, tanya Radit yang menghampiri Ghea di parkiran.
“Hm? Gak tahu. Dia gak ngabarin gue.”, jawab Ghea bohong.
Dia berasumsi, Kirana pasti tidak mau Radit tiba - tiba datang ke rumah sakit. Yah, walaupun belum tentu juga Radit akan datang menjenguk. Tapi, kalau lihat gerak geriknya belakangan ini, Radit sepertinya masih ingin mendekati Kirana.
Sebaliknya, Raka bahkan tak menanyakan apa - apa lagi sejak terakhir bertanya kemarin.
__ADS_1
“Beneran gak tahu? Masa sih, Kirana ga ngasih tahu lo.”, Radit, instingnya memang kuat.
“Liat aja nih WA gue ga di bales - bales.”, ucap Ghea memperlihatkan ponselnya.
Ya.. memang Kirana tidak membalas pesannya dari kemarin. Ponsel Kirana sedang diamankan mamanya agar Kirana istirahat penuh.
“Ya sudah. Kabarin ya, kalo lo dapat info. Nomor Kirana yang 06 belakangnya kan? Belom ganti?”, tanya Radit memastikan.
“Iya,”, jawab Ghea.
‘Hm.. kasihan banget itu cowok. Deketin Kirana mulu tapi gak ditanggepin. Radit, Radit. Coba aja lo itu ga tebar pesona sana sini. Kirana pasti mau.’, ucap Ghea dalam hati sambil menggeleng - geleng.
***********
“Jadi.., jadi…. Jadi… Gimana perasaan lo?”, tanya Ghea segera setelah dia berhasil sampai di rumah sakit.
Kali ini Kirana sudah bangun dan lebih segar. Entahlah, Ghea juga tidak melihatnya dengan jelas kemarin. Yang jelas, sekarang Ghea sudah bisa ngobrol dengan Kirana. Gadis itu sedang memakan bubur jagung.
“Perasaan apanya? Biasa aja.”, jawab Kirana sambil memasukkan sesendok kecil bubur dalam mulutnya.
“Haduh - haduh makannya pake sendok yang gede dong Ran. Emangnya lo itu anak bayi. Lagian, kenapa sih ampe ga makan seharian? Lagi diet?”, tanya Ghea yang sudah memakan biskuit milik Kirana yang terletak di atas meja.
Kirana memilih untuk tidak menjawab Ghea. Kirana tahu kenapa. Wajahnya kembali sendu.
Dia tidak percaya pada dirinya. Kenapa malah sakit hanya karena perasaan yang belum selesai. Bukannya setahun ini dia lewati tanpa ada masalah apa - apa. Kenapa hanya berada di kelas yang sama dan bertemu lebih banyak dibandingkan sebelumnya bisa membuat Kirana menjadi terbebani.
“Eh.. eh.. Hati - hati lo Ran. Mending lo di kamar aja. Gak usah keluar - keluar.”, ucap Ghea tiba - tiba setelah berhasil memakan 5 buah biskuit.
“Apa sih…memangnya ada apa di luar? Ada cowok ganteng, ya? Dokter? Lo ga mau bagi - bagi sama gue?”, ujar Kirana.
“Pak Rian bisa aja datang ke rumah sakit.”, ujar Ghea dengan penuh antusias.
Kirana yang sedang memakan buburnya langsung terbatuk - batuk karena ucapan Ghea barusan.
“Eh kenapa - kenapa? Hati - hati, Ran. Ini minum. Minum dulu. Pelan - pelan.”, ucap Ghea segera mengambil air dan membantu Kirana.
__ADS_1
Baru aja denger namanya kamu udah batuk - batuk. Bisa - bisa kalau ketemu dosennya, bisa sakit lagi kamu, Ran.”, celetuk Ghea.
“Eh?”, tentu Kirana heran.