
“Dit, lo sms gih orangnya. Kemaren dia bilang ini rapat terakhir, fix in acara, ama beli bahan dekor. Kenapa dia belom muncul juga.”
“Iya dit, keloyalan si Rana akhir – akhir ini patut di pertanyakan tuh. Asyik pacaran kali ama si Raka. Orang tuh anak juga belom keliatan batang hidungnya.”
“Tenang – tenang gue hubungin ponselnya dulu.”
“Halo na.”
“Lo baru bangun tidur ? Ngapain aja lo semaleman ? Ha, ngerjain tugas? Gila ya kelas lo. Lo gimana sih, kan hari ini ada janji bareng anak – anak. Mereka udah pada ribut nih. Nggak Cuma lo doang yang punya malam minggu na. . beneran yak ? Gue tunggu sejam lagi disini.”
“Oh ya..jangan lupa menghubungi Raka. Dia juga belom datang nih.”
Radit dan teman – temannya memilih untuk menunggu di kafe biasa, Radit sih enjoy – enjoy aja. Tapi beberapa teman yang lain sudah mengobarkan api perang, mereka marah banget karena harus nunggu satu jam lagi. Padahal mereka bela – belain datang pagi – pagi cuma buat rapat dan beberapa agenda yang harus di lakukan hari ini.
“Dit, si Fay beneran narik donasinya?”
“Gue masih belom yakin sih, padahal gue udah nyoba deketin dia lagi.”
“Lo sih, main deket – deket ama Kirana. Kacaukan jadinya.”
“Ya lo kayak nggak tahu gue aja. Gue udah ngincer dia sejak kelas semester awal, dan lo malah nyuruh gue ngedeketin Fay ? Pake acara di filmin segala lagi. Lo tahu betapa malunya gue ?”
“Lo beneran nggak ada perasaan sama Fay? Dia kan cantik. Tajir pula”
“Enek gue yang ada, cewek manja, jutek, ngebosenin kayak dia. Siapa sih yang suka. Kirana tuh yang langka.”
“Apa lo bilang?”, Tiba – tiba Raka muncul di hadapan Radit entah dari mana. Satu bogem dia daratkan di pipi putih mulus Radit yang mungkin setelah ini akan membiru alias lebam. Tidak sampai disitu saja, Raka mencengkram kerah baju Radit kuat sekali.
“Lo pikir lo siapa ha ? Lo yang nggak ngerti apa – apa soal Fay, berani sekali lagi lo permainin hati nya dia. Gue kasih pelajaran lo.” Kemudian Raka berlalu dan semenit kemudian terdengar deru motornya. Kali ini dia tidak membawa mobil.
Sontak tentu saja Radit terdiam, ia sama sekali tak menyadari keberadaan Raka yang mungkin sudah sedari tadi berada di kafe itu, bahkan mungkin sebelum mereka datang. Karena ia sama sekali tak melihat ada laki –laki yang masuk setelah mereka.
Teman – teman yang lain tentu saja juga terlihat kaget dan panik, bahkan mereka semua terdiam begitu Raka tiba – tiba membogem Radit. Lama tak terjadi pembicaraan di antara mereka sampai akhirnya Kirana datang.
“Hai, maaf ya gue telat, habis tadi macet banget. Nggak pada marah kan?” Kirana datang dengan wajah polos dan tak tahu apa – apa.
“Eh.. lo tahu nggak sih? Pacar lo baru datang kesini dan nonjok Radit ? Belagu banget tuh orang, dia pikir siapa yang masukin dia jadi staff kita? Radit. Trus apa coba maksudnya nonjok Radit.”
“Apa? Nonjok Radit? Yakin itu Raka ?”
“Ya yakinlah orang gue punya mata yang masih berfungsi dengan baik. Nggak pake minus.”
__ADS_1
“Udahlah. Nggak usah di gede – gedein juga. Mending sekarang kita lanjutin rapatnya.”
“Kaya rapatnya pernah mulai aja.”
Rapat tidak berlangsung lama, mereka masih harus membeli perlengkapan dekor. Radit dan Kirana berada satu mobil sementara yang lain berada di mobil satunya yang memang sudah penuh.
Kirana masih terganggu dengan kejadian yang diceritakan temannya.
“Raka beneran nonjok lo? Kenapa?”
“Udahlah. It’s not a big deal. Gue juga nggak bakal nyalahin lo. Itu juga nggak ada kaitannya ama lo.”
“Gak, dia pasti salah orang. Gue harus ngehubungin Raka.”
Meski Radit sudah mencegah, Kirana tetap menghubungi Raka.
“Ka, lo gila ya? Buat apa lo nonjok Radit? Kita masih satu tim.”
“Dan sekarang lo lagi barengan sama dia?” Suara Raka bahkan sampai terdengar keluar karena keras.
“Lo ada masalah apa sih ama dia?”
“Dia yang bilang ke lo. Oke kalo gitu gue keluar...” Tanpa basa – basi Raka menutup ponselnya.
“Sori ya, pasti hubungan lo ama dia jadi nggak enak banget.”
“Gapapa justru gue yang harus minta maaf ke lo kali Dit. Mungkin dia lagi ada masalah aja. Entar gue coba ngomong baik - baik ke dia. Dan apapun masalah lo ama dia tadi, gue harap nggak ada hubungannya ama gue.”
“Gue sayang lo Ran !”, Entah ada angin apa, Radit tiba – tiba mengatakan kalimat yang menurut Rana tidak pada tempatnya.
“...”, Begitu terkejutnya sampai Kirana tidak bisa mengatakan apa - apa, Rana cuma diam. Suasana benar - benar berubah menjadi canggung.
“Nggak cuma sekarang, bahkan sejak kita kelas semester 1, cuma gue nggak pernah berani bilang ke elo.” Belum lagi Kirana mencerna kalimatnya barusan, Radit malah melanjutkannya lagi.
“Radit, lo jangan bercanda deh. Sekarang bukan waktu yang tepat buat itu.”
“Terserah lo mau bilang apa ? Gue becanda kek, gue pura - pura, modus, playboy. Yang jelas, karena itu Raka nonjok gue tadi.”
Apa? Mana mungkin Raka bersikap kayak gitu cuma karna ada orang suka ama gue. Pasti ada yang lain. Apa gue harus nemuin dia nanti ? Tapi suasana hatinya lagi nggak enak banget.
“Mungkin lo kaget, tapi gue harap lo pertimbangkan. Termasuk juga buat mutusin Raka.” Rana lebih memilih hening ketimbang harus meladeni cowok satu ini. Meskipun dia nggak beneran pacaran ama Raka, tapi kalau aja beneran, masa Radit main nyuruh – nyuruh dia putus aja.
__ADS_1
Radit sudah memarkirkan mobilnya di sebuah supermarket besar di daerah Jakarta Pusat. Mereka masih harus membeli beberapa perlengkapan dekor yang harus dikerjakan besok. Seharusnya ini tugas Raka, tapi setelah apa yang terjadi, cowok itu udah nggak bisa diharapkan lagi. Kirana dan Radit terlihat fokus berbelanja, meski di dalam hati mereka masing - masing masih tenggelam dengan berbagai asumsi.
Tak ada yang mau membuka suara, mereka bekerja cukup cepat, mencari barang - barang yang ada di list yang sudah mereka bagi menjadi dua bagian sebelumnya. Radit mengambil bagiannya ke kasir dan membayar, begitu juga dengan Kirana. Keduanya kembali ke mobil. Radit memaksa untuk mengantarkan Rana sampai rumah. Tapi Rana jelas menolak. Dia harus kembali ke rumah Rian.
Kirana memilih mengambil taksi dan pergi berlalu bagai angin, meninggalkan harmoni sepi di hati Radit. Mungkin laki - laki itu tengah menyesali rasa gegabahnya. Menyatakan rasa tidak pada tempatnya, bukan balasan yang semestinya diperoleh, malah sikap dingin dari Kirana. Radit hanya bisa memukul setirnya dan menarik rambutnya, kemudian berteriak keras di dalam mobilnya.
Kirana, butuh waktu lama baginya untuk sampai di kediaman Rian. Butuh dua setengah jam perjalanan.
Sesampai di rumah Kirana justru mendapati Rian tertidur pulas. Di elusnya kening pria ini ‘sudah turun’ ucapnya. Ia menghela nafas lega. Diletakkannya tas dan bergerak ke kamar mandi.
‘Kayaknya harus nginep lagi’ helaan nafasnya terlihat senang.
Pagi menjelang. Di rumah Rian, suasana pagi begitu indah, tak terlihat jalanan kota yang sibuk. Burung - burung beterbangan dan saling bersahutan, embun pagi jatuh saling beruntaian dengan sekelompok daun saling menyapu jalanan aspal di pagi hari. Tak lupa Kirana membuka jendela dan menaikkan selimut Rian yang sudah jatuh ke lantai. Tanpa sadar, dikecupnya kening pria ini, membuat si empunya terbangun dan bergidik.
“Kamu belum pulang? Dari kapan ?”
“Tadi malam. Aku liat kamu tidur, jadi nggak tega bangunin.”
“Belanja apa aja ?”
“Banyak, persiapan dekorasi dan berbagai hadiah.”
“Acaranya segede apa?’
“Kamu kan dosen, jadi gak boleh tahu tentang itu.”
“Kamu udah belajar buat ujian tengah semester belum sih?” Rian perlahan bangun dari tidurnya, mengucek - ucek matanya yang sedikit sembab karena terlalu lama tidur. Kaos hijaunya kusut, dan basah.
“Tenang aja, aku bisa belajar sendiri”
“Kamu belajar sama aku aja.” Pria ini tiba - tiba menawarkan diri.
“Nggak mau.” Tentu saja aku menolak, meski sikapku baik padanya, aku hanya belum ingin mengulang hatiku untuknya. Bersama membuatku sulit melupakannya. Ku ambil beberapa air mineral dan sebungkus susu untuk di minumnya pagi ini.
“Kenapa?”
“Lebih baik belajar sendiri.” Kuberikan susu itu padanya. Sambil membereskan tasku, aku sudah akan bersiap pulang.
“Yakin bisa belajar sendiri? Mending sama aku aja. Gratis, terjamin, kamu nggak bisa nyia - nyiain kesempatan emas.”
“Aahhh cerewet banget sih. Sekarang anterin aku pulang. ”
__ADS_1
“Loh, kenapa aku yang anterin pulang?”, tanya Rian bingung
“Pokoknya anterin aku pulang.” Ucapku sambil memukul – mukul pundaknya. Sebenarnya aku lebih ingin terus bersama seperti ini dengannya. Andaikan perceraian itu tidak ada. Bagaimana jadinya kami ?