Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 23 Tiba - tiba jadi Dingin


__ADS_3

“Halo, ma.”, sapa Kirana melalui sambungan telepon.


“Kamu dimana? Kok udah jam segini belum pulang juga. Nginep lagi?”, tanya mama Kirana yang sudah mengenal kebiasaan putrinya.


“I-iya… ma. Kirana sekarang lagi nginep di rumah Ghea. Dia paksa Kirana nginep. Mau curhat katanya. Gapapa, ya ma. Lagian udah jam 8. Balik sekarang juga udah kemaleman. Mama kan tahu rumah Ghea jauh.”, jelas Kirana panjang lebar.


“Mana Ghea, mama mau bicara dulu.”, ucap mama Kirana di luar ekspektasinya.


Biasanya mamanya akan berkata ‘Oke.. jangan lupa besok pagi pulang dulu ke rumah, ya.’. Tapi malah sebaliknya.


‘Waduh.. Kenapa mama malah pengen ngomong sama Ghea.’, pikir Dinda panik.


“Ma, Ghea-nya lagi mandi. Besok aja ya. Ga enak loh udah malem gini.”, ucap Kirana berhasil menemukan alasan yang tepat.


“Kenapa baru mandi jam segini. Mama cuma mau pastiin kamu tuh gak aneh - aneh. Mama tadi ketemuan sama temen mama. Mereka cerita tentang pergaulan bebas dan kenakalan remaja. Ih.. mama khawatir sayang. Kamu jangan bohong loh sama mama.”, tidak seperti biasanya, mama Kirana terus bersikukuh untuk bisa berbicara dengan Ghea.


“Tadi aku mandi duluan, ma. Jadi Ghea baru dapat giliran mandi sekarang. Kirana ga melakukan hal yang aneh - aneh, kok. Masa mama ga percaya sih sama anak sendiri. Jangan gitu dong ma.”, Kirana berusaha membuat mamanya percaya dan tidak menanyakan lagi.


“Ya udah. Nanti kalau Ghea sudah selesai, kamu telepon mama. Pokoknya, mama cuma mau memastikan kalau kamu di rumah Ghea.”, kata mamanya kembali.


“Ga enak dong, ma. Lagian aku juga gak tahu kapan dia selesai mandi. Asal mama tahu nih ya, Ghea itu kalau mandi lama.”, Kirana masih terus bersilat lidah.


Kirana benar - benar tidak mau mamanya tahu kalau Kirana sekarang sedang berada di rumah Rian. Tidak. Mau seperti apapun, itu bukanlah pilihan yang terbaik. Ditambah belakangan ini, mamanya kerap bertanya tentang Rian.


‘Pokoknya, mama gak boleh tahu kalau kak Rian ada di Indonesia. Apalagi tahu kalau dia adalah dosen di kampus aku. Gak boleh.’, batin Kirana dalam hati.


“Ya udah. Kalau begitu video call.”, kata mama Kirana langsung membuat sang gadis hampir saja menjatuhkan ponselnya.


‘Apa?? Video call? Bagaimana ini…’, Kirana panik.

__ADS_1


Dia berjalan ke kiri ke kanan seperti setrikaan di dapur rumah Rian. Saat itu dia memang sedang mempersiapkan makan malam. Mempersiapkan dalam arti menghidangkan makanan yang dia pesan melalui aplikasi online.


“Oh.. tunggu.. Mama kan ga pernah lihat rumah Ghea. Mama juga jarang ke rumah Kak Rian waktu aku tinggal sama dia. Jadi, video call di rumah ini aja gapapa, dong.”, Kirana begitu percaya diri dengan penalarannya.


‘Mama itu tahunya Kak Rian di Perancis. Menghilang. Dia gak akan mungkin menduga kalau aku bisa ada di rumahnya.’


“Ya udah ya udah. Terserah mama kalau mama gak percaya. Oiya, aku tuh di lantai bawah lagi ambil minuman dan makanan yang tadi ditawarkan oleh orang tua Ghea. Jadi aku sekarang lagi di dapur, ya.”, ucap Kirana bahkan memberikan penjelasan yang detail.


“Hm? Kamu ambil sendiri di dapur. Emang gapapa? Ga sopan ih Ran.”, ucpa mama Kirana tiba - tiba fokus pada hal tersebut.


“Gapapa, ma. Tadi nyokapnya Ghea kok yang tawarin untuk diambil langsung di dapur. Soalnya abis dipanasin tadi.”, balas Kirana.


“Mama jadi gak enak mau video call. Nanti mereka terganggu.”, jawab mama Kirana tiba - tiba sungkan.


“Tuhkan.. Aku kan udah bilang. Udah besok aja ya ma.”, Kirana seolah menangkap perasaan segan mamanya sebagai kesempatan emas untuk bisa lepas dari situasi menegangkan ini.


“Ya udah.. Nanti kalau kamu sudah di kamar Ghea. Kamu bilang sama mama. Nanti mama telepon.”, ucap Mamanya lagi masih dengan ide yang sama.


Setelah berhasil menutup ponselnya, Kirana mencoba untuk mengambil spot dengan hati - hati. Spot - spot umum yang kiranya hampir di semua rumah sama. Yakni, wastafel di dapur. Dengan begini, mama Kirana pasti tidak lagi menanyainya.


Dan benar, setelah Kirana selesai mengirimkan foto selfie itu, mama nya tidak mengajukan pertanyaan lagi.


Tak lama setelah Kirana mengirimkan foto ke mamanya, terdengar suara langkah dari atas. Kirana segera bergerak menuju tangga.


“Kak Rian? Kakak sudah gapapa?”, tanya Kirana terkejut saat Rian menuruni tangga sambil membawa infusnya.


‘Setidaknya pria itu tidak melepas paksa infusnya.’, pikir Kirana dalam hati.


Baru sekitar 5 jam-an yang lalu, Arya tidak berdaya sama sekali sampai Kirana harus membantu menyuapi bubur itu ke mulutnya. Pria yang tadinya masih lemah itu bahkan tak memberikan perlawanan atau pertanyaan sama sekali pada Kirana.

__ADS_1


“Kamu masih disini?”, tanya Rian dengan nada yang dingin.


Nada yang sangat berbeda dari beberapa jam yang lalu dimana pria itu menariknya dan bahkan tak ingin Kirana pergi meninggalkannya.


Kirana tidak menjawab pertanyaan Rian dan hanya terdiam.


‘Apa maksudnya pertanyaan itu? Tentu saja aku masih disini. Bagaimana mungkin aku meninggalkan pria ini sendirian di rumah tanpa orang sama sekali. Bagaimana kalau dia pingsan atau membutuhkan sesuatu.’, Kirana hanya bisa bergumam dari dalam hati saja.


“Sudah malam. Lebih baik kamu segera pulang.”, ucap Rian dengan nada yang tidak kalah dingin dari tadi.


Pandangan pria itu perlahan mengarah pada lemari yang berada di depan pintu utama. Dia masih ingat tadi dia sudah menjatuhkan apapun yang terpajang di sana ke lantai. Dan sekarang semua nampak rapi lagi.


Namun, ada hal yang berbeda dari pandangan Rian pada meja itu. Tatapan sendu. Padahal susunannya tidak terlalu jauh berubah. Hanya beberapa figura sudah kehilangan kaca atau framenyua.


“Maksud Kak Rian? Aku pulang sendiri jam segini?”, tanya Kirana maju mendekat dan memperlihatkan jam di tangannya.


“Seharusnya kamu pulang dari tadi. Kenapa masih disini dan menyulitkan dirimu sendiri.”, kata Rian ketus.


Pria itu berjalan melewati Kirana menuju ke dapur. Lebih tepatnya dia mengambil gelas dan menuangkan air kemudian meminumnya.


“Kak Rian butuh sesuatu? Biar aku yang bantu siapkan. Kakak kembali saja ke atas dan istirahat. Kak Rian belum pulih benar.”, ucap Kirana mengabaikan perkataan pria itu yang menyuruhnya pulang.


“Mana ponsel saya.”, tanya Rian.


‘Apa - apaan ‘saya’. Kita kan tidak sedang berada di kampus.’, ucap Kirana entah mengapa merasa kesal dengan sebutan yang digunakan Rian.


“Untuk apa? Lebih baik Kak Rian istirahat. Tadi dokter Surya bilang begitu. Supaya besok Kak Rian bisa kembali sehat dan beraktivitas seperti semula.”, jelas Kirana.


“Saya pesankan kamu taksi. Kamu bisa pulang sekarang. Untuk masalah nilai, kita akan bicarakan kembali di kampus, kamu tidak perlu repot - repot datang kesini.”, ucap Rian masih dengan nada dingin dan tatapan yang tajam.

__ADS_1


‘Bagaimana mungkin tatapannya bisa berubah 180 derajat dari tadi siang.’, pikir Kirana.


‘Padahal dia sendiri yang membukakan pagar dan memintaku masuk.’, Kirana benar - benar dibuat bingung oleh tindakan pria ini.


__ADS_2