
‘Pembunuh’
“Hah hah hah hah”, Kirana terbangun dari tidurnya di tengah malam.
Keringat mengucur di seluruh tubuhnya. Pelipis nya basah oleh keringat dan rambutnya terjuntai di bahu. Kirana mencoba mengatur nafasnya agar bisa kembali pada ritme yang normal.
Selanjutnya, tangannya mencoba untuk menjangkau tumbler berisi air mineral dan meminumnya perlahan. Dibandingkan menggunakan gelas, Kirana lebih suka menggunakan tumbler dengan sedotan.
Dia sudah pernah menggunakan gelas dan seringkali pecah saat dia sedang terbangun tidur dan mencoba menjangkau minumannya. Tumbler lebih mudah. Kalaupun jatuh, benda itu tidak akan pecah.
“Hah.. “, Kirana mencoba untuk menghela nafasnya sebentar dan mengingat - ingat kembali mimpi buruk yang beberapa waktu ini menghantuinya.
Sebulan sejak dirinya keluar dari rumah sakit, setiap minggu Kirana mendapatkan sepotong surat di dalam tasnya. Kirana tidak tahu siapa, kapan, dan dimana orang itu meletakkan surat tersebut di dalam tasnya.
Awalnya, Kirana tidak berpikir terlalu dalam tentang hal tersebut. Bisa saja hanya orang iseng yang ingin mengganggunya saja. Bukan sekali ini saja Kirana mendapatkan surat seperti itu. Saat SMA, dia juga pernah mendapatkannya. Hanya saja tidak se-intens surat yang dia terima sekarang.
Surat yang dia terima sekarang hanya bertuliskan satu kata yang merupakan hasil tempelan dari beberapa huruf yang dipotong dari surat kabar. ‘Pembunuh’. Semua surat yang dia terima berisi kata tersebut.
Kemarin, Kirana mendapatkan surat itu lagi. Surat yang ke-empat. Dan beberapa hari ini, dia terus saja bermimpi tentang hal itu. Kirana juga masih belum mengatakannya pada siapapun. Tidak pada mamanya, tidak pada Rian, atau Ghea.
Ya, Ghea adalah orang terakhir yang mungkin akan dia beritahu. Gadis itu adalah yang paling ahli dalam mendramatisir sesuatu. Ghea mungkin akan lebih heboh dari saat dia mengetahui kenyataan tentang Rian.
Rian. Kirana sempat berpikir untuk memberitahunya. Tapi, mereka tidak memiliki hubungan apa - apa sekarang. Untuk apa Kirana harus memberitahunya.
***********
“Jadi, sejak di rumah sakit waktu itu, kamu gak ngomong apa - apa lagi sama Pak Rian?”, tanya Ghea.
Lihatlah gadis ini sekarang. Bertanya tentang Rian menjadi rutinitas barunya. Ya, Kirana harus memuji Ghea karena berhasil menyimpan rahasia besarnya. Tapi, gadis itu selalu saja menanyakan tentang hubungan mereka.
Kadang, Kirana malas untuk menggubrisnya. Tapi, Kirana juga sedang putus asa dan tidak punya tempat lain untuk curhat.
“Hm… basically… dia out. Udah ga ngomong apa - apa lagi. Ketemu juga sekedarnya. Itu juga cuma di kampus. No interaction.”, balas Kirana di dalam mobil Ghea.
Mereka sedang menuju ke sebuah mall yang ada di dekat kampus. Ghea memaksa Kirana untuk menemaninya karaoke. Dia sedang stress berat karena setiap kuis Fisika, dia terus saja tidak bisa menjawabnya.
Padahal, Kirana sudah mengatakan kalau dia bukan satu - satunya yang demikian. Orang yang bisa menjawab kuis hanya Raka dan juga tiga orang cerdas di kelas mereka.
“Lo pura - pura punya pacar aja. Biar dia cemburu. Kalo dia benar - benar masih ada perasaan sama lo, gue yakin dia pasti akan cari jalan buat perbaikin semuanya lagi.”. Ujar Ghea memberikan saran sambil memeriksa sesuatu di sebelah kiri jalan saat mereka sedang berhenti di lampu merah.
“Siapa yang ngebongkar pertama kali tentang Raka? Lo, kan? Sekarang, kalo gue pura - pura pacaran sama orang lain lagi, menurut lo Pak Rian bakal percaya?”, tanya Kirana.
“Gak perlu cari orang lain. Cukup dengan membuat pacaran lo dan Raka terlihat nyata.”, ujar Ghea.
“Lah.. gimana caranya? Orang dia aja udah tahu kalo gue sama Raka cuma pura - pura.”, tanya Kirana.
“Ran. Ini akibatnya kalo lo gak pernah nonton film romantis. Di drama - drama kan banyak tuh. Pura - pura pacaran eh akhirnya beneran suka. Anggep aja sekarang kasusnya kaya gitu. Who knows kan mungkin aja Pak Rian bakal percaya kalo lo sama Raka pacaran beneran.”, jelas Ghea dengan gaya yang sangat meyakinkan.
“Hah… gue bingung. Mending gue fokus sama kuliah gue biar bisa lulus 3.5 tahun. Capek mikirin cowok mulu.”, ujar Kirana.
“Ran, lo yakin ga bakal kenapa - kenapa kalau Pak Rian di rebut sama Claudia?”, tanya Ghea.
“Setelah gue cek, Claudia itu bukan tipe Pak Rian. Ga mungkin dia tertarik sama cewek begitu.”, ucap Kirana juga ikut percaya diri.
“Hah? Ga salah. Justru yang aneh itu adalah dia suka lo dari mana? Tipe Pak Rian itu udah pasti cewe seperti Bu Claudia. Berwibawa, cerdas, dan dewasa. Gak kaya kita.”, tutur Ghea.
“Kita? Ah… udah.. Ngomong lagi, gue gak temenin nih ke karaoke.”, balas Kirana.
__ADS_1
“Iya - Iya… Radit mau ikutan katanya.”, celetuk Ghea tak lama setelahnya.
“Hah? Yang bener lo? Terus, lo bilang apa? Jangannn.. Ngapain deh ngajakin Radit segala.”, Kirana langsung menoleh tak terima ke arah Ghea.
“Udah gue bales. Doi juga kayanya bentar lagi nyampe tempat karaoke. Lo bawa Raka aja sekalian.”, kata Ghea memberikan ide.
“Enggak - enggak. Yang ada gue diomelin nyokap ke tempat karaoke sama cowo. Gak mau gue. Udah ga jadi aja.”, balas Kirana.
“Lah, kok ga jadi sih Ran. Karaoke doang. Ga ngapa - ngapain.”, kata Ghea sudah memarkirkan mobilnya di salah satu parkiran basement mall.
“Lo kaya ga tahu nyokap gue aja. Jangan lah. Lo bilang tadi mau lo doang yang karaoke. Makanya gue mau. Sekarang kalo bawa - bawa Radit sama Raka, gue pass.”, Kirana terlihat tidak mau bernegosiasi lagi.
Sejak perceraian kedua orang tuanya, mama Kirana jauh lebih protektif pada Kirana. Dia dengan tegas mengatakan tidak akan posesif pada Kirana asalkan Kirana mematuhi aturan dari mamanya.
Tidak pergi di tempat tertutup bersama cowok terutama yang kaitannya di luar urusan kampus. Kirana sudah pernah melanggar itu sekali saat dia berada di tempat Rian. Belakangan ketahuan oleh mamanya dan Kirana benar - benar tidak boleh lagi melakukannya.
“Kan nyokap lo juga ga lagi nge-mall, Ran. Gak bakal ketahuan.”, tutur Ghea yang terkadang juga bisa di luar kendali.
“Justru di saat seperti ini biasanya adaaaa aja kebetulannya. Udah ah.. Lo kalo mau karaoke. Sana. Gue di luar aja.”
“Lah, ko gitu Ran.”, ujar Ghea.
***********
“Ran, kalo begitu oke kan?”, tanya Ghea dengan wajah yang ceria.
Radit dan Raka tak lama datang dan mereka akhirnya bertemu di tempat yang disepakati. Setelah berdebat cukup lama, akhirnya mereka bisa mendapatkan solusi terbaik. Mereka main di sebuah tempat permainan yang ada di mall. Di dalamnya juga ada beberapa box karaoke mini.
Ghea bisa dengan puas karaoke menggunakan koin logam yang dia beli di tempat penjualan koin. Tempat karaoke itu hanya membutuhkan dua koin untuk satu lagu. Ghea sudah cukup puas dengannya.
“Kemana Radit dan Raka?”, tanya Ghea yang sudah menyelesaikan lagu kelimanya.
“Mereka sedang berkompetisi di mesin tembak - tembakan. Entah sudah berapa ronde.”, balas Kirana yang sempat memeriksa mereka berdua.
“Ran, mau coba main biliar mini, ga?”, tanya Raka yang menghampiri Kirana setelah kompetisinya dengan Radit selesai.
Radit masih belum beranjak dari kursinya setelah membanting setir karena terus kalah telak dari Raka.
“Biliar?”, tanya Kirana bingung.
Sementara Ghea sudah meninggalkannya untuk membeli beberapa koin lagi di kounter.
“Kamu mau segera membuat Radit menyerah, kan? Gue yakin tempat permainan biliar itu bisa dengan mudah membuat dia menyerah.”, jelas Raka.
Kirana mengernyitkan dahinya karena masih belum terlalu paham apa yang sedang dibicarakan oleh Raka.
“Tidak percaya? Ayo buktikan.”, ujar Raka langsung menarik lengan Kirana menuju tempat Biliar di sebelah mesin dansa yang tak jauh juga dari tempat mobil - mobilan yang tadi dimainkan oleh Raka dan Radit.
“Aku masukkan koinnya, ya.”, ujar Raka.
“Eh.. gue gak ngerti cara mainnya.”, teriak Kirana panik karena mesin nampaknya sudah menunjukkan tanda mulai.
“Tenang aja. Gue ajarin. Sini. Radit sudah mulai berdiri dari kursi. Ayo kita kasih dia pertunjukkan yang bagus.”, bisik Raka pada Kirana.
Dan benar saja, Radit melihat adegan yang berlangsung barusan dan semakin kesal. Tadinya, Radit ingin memanfaatkan momen ini untuk menjatuhkan nilai Raka di depan Kirana. Beberapa waktu terakhir, Radit jarang melihat Kirana dan Raka bersama. Sehingga, dia berpikir sepertinya Raka sedang tidak dalam situasi yang baik dengan Kirana.
Di kelas, interaksi mereka juga terbilang nihil. Kirana memang terkenal suka datang lebih dulu ke kelas. Dia senang mengambil kursi di paling depan. Sementara Raka, lebih sering datang telat, atau bahkan tidak sama sekali. Tentunya, dia selalu mengambil kursi paling belakang. Kirana lebih sibuk dengan Ghea dan Raka tidak tahu kemana di luar jam kelas. Dia bahkan lebih sering bersama dengan Fay.
__ADS_1
Tapi, melihat mereka sekarang, hati Radit jadi kembali panas.
‘Apa - apaan si Raka itu?’, komentarnya dalam hati.
“Oh.. gitu doang mah gue bisa.”, balas Kirana.
Raka di sampingnya terus memberikan arahan bagaimana cara bermain biliar. Berhubung ini adalah biliar di wahana permainan, ukurannya relatif lebih kecil dibandingkan dengan yang sesungguhnya.
Di sela - sela interaksinya dengan Kirana, Raka mencuri - curi pandang sedikit ke arah Radit untuk melihat betapa kesalnya dia sekarang.
“Raka, terus kalau posisinya begini, gimana?”, tanya Kirana yang justru tenggelam dalam permainan bola ini.
Sebelumnya, dia terlihat 0% interest dengan semua permainan yang ada. Tapi, ternyata permainan bola biliar ini menarik untuknya.
“Lo bisa mulai dari sudut yang ini. Lo lihat, bola yang hitam itu dari sudut sini nampak sejajar. Gue yakin kalo lo tembak bola hitam itu dengan bola merah yang disini. Lo bisa memasukkan dua bola di depan lo sekaligus. Mau coba?”, tanya Raka mengarahkan Kirana pada strategi yang sedang dia susun.
“Hm.. tapi jaraknya lumayan jauh. Gimana caranya?”, tanya Kirana yang mencoba beberapa posisi namun tampak kebingungan.
“Sini. Lo berdiri disini dulu coba. Coba membungkuk sedikit, Cue nya lo pegang yang benar. Rileks tapi mata lo tetap menatap tajam bola di depan lo. Raka melihat sebentar ke arah Radit, kemudian mendekat pada Kirana. Tangan lo pastikan tepat disini. Atur nafas perlahan sambil menetapkan target di depan lo.
“Hm.. hm.. “, Kirana mengangguk.
Dirinya begitu terpana dengan permainan ini sampai - sampai tidak sadar posisi Raka sudah sangat dekat dengannya.
“Okay.. tembak.”, ujar Raka membantu Kirana memukul bola yang tadi ditargetkan.
Bunyi dentuman bola - bola itu terdengar begitu jelas dengan efek dari mesin biliar. Membuat Kirana tambah semangat.
“Berhasil.”, Kirana berteriak kencang karena senang strategi yang disusun oleh Raka benar - benar bekerja.
Kirana tersenyum ke arah Raka dan bahkan keduanya bertepuk tangan dan tertawa. Saat itulah Kirana baru sadar sepertinya dia jadi terlalu akrab dengan Raka dan posisi mereka juga begitu dekat.
Refleks, Kirana langsung mendorong Raka sedikit dan berdehem karena salting.
‘Heh.. dasar si Raka. Bisa aja dia cari - cari kesempatan.’, komentar Radit sambil mendekati mereka berdua.
‘Click Click Click.’, Ghea mengambil gambar keduanya diam - diam melalui ponselnya dan tersenyum.
**********
“Ghea…. Lo apa - apaaan?”, teriak Kirana di balik sambungan teleponnya.
“Hm? Kenapa, Ran? Gue ngantuk nih. Besok kelas Pak Rian lagi. Gue harus bangun pagi buat belajar.”, ujar Ghea terdengar memang seperti orang yang mengantuk. Mungkin dia sudah hampir tertidur saat Kirana menghubunginya.
“Jangan pura - pura deh. Siapa yang suruh tidur! Hapus dulu fotonyaaaaa.”, teriak Kirana lagi.
“Foto yang… Ahhhh hahahahahaha katanya lo mau kasih Pak Rian umpan. Nah, itu umpannya gue kasih.”, ujar Ghea tersenyum.
Mendadak, rasa kantuknya langsung menghilang begitu membicarakan hal ini.
“Ghea, lo juga ga temenan sama Pak Rian di sosial media. Ga guna, Ghe”, jelas Kirana.
“Yaa.. berarti lo gak perlu panik dong. Lagian fotonya kan sama cowo lo sendiri. Bukan orang lain. Gapapa dong, gue posting.”, tutur Ghea mencoba memberikan penjelasan yang masuk akal.
“Ghe… tapi tetep aja temen - temen yang lain bakal lihat. Gue malu. Hapus dong.”, Kirana mencoba membujuk Kirana.
“Nah itu dia. Temen - temen kita bakal liat, kan. Cepet ato lambat, Pak Rian juga bakal liat. Lo mau doi jujur sama perasaannya ke lo gak? Dari pada penasaran terus soal dia masih suka sama lo ato enggak. Mending kita tes aja.”, terang Ghea.
__ADS_1
“Hah… terserah lo deh.”, Kirana menyerah dan menutup teleponnya.