Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 68 Aksi Protes Kirana pada Rian


__ADS_3

“Mba, tunggu disini ya. Aku mau keluar sebentar.”, ucap Claudia meletakkan kopi pemberian Rian yang sedari tadi belum sempat diminumnya.


“Eh, eh.. Mau kemana kamu?”, tanya Sera menarik kerah baju adiknya yang sudah bersemangat untuk pergi dari sana.


Sebenarnya, Sera sudah tahu dari gelagat Claudia. Tapi, dia tetap ingin menggoda adiknya dengan berpura - pura tidak tahu.


“Sebentar doang. Beli kopi.”, ucap Claudia ngasal.


Entah karena sedang bingung atau lelah, Claudia yang biasanya cerdas tidak bisa mendapatkan alasan yang tepat.


“Itu di kursi kamu ada kopi. Mau cari kopi manalagi?”, tanya Sera masih memegangi kerah baju bagian belakang adiknya. Persis seperti orang yang baru menangkap tikus kecil ingin menyusup.


“Oh? Mba kan tahu sendiri aku tidak bisa minum kopi seperti itu. Aku harus minum kopi yang berkualitas, baru bisa melek semaleman.”, lagi - lagi Claudia mencari - cari alasan.


Seolah seperti pohon. Kebohongannya terus bercabang seiring dengan berjalannya waktu.


“Ngapain kamu mau disini semaleman. Bukannya di grup chat keluarga kita sudah sepakat untuk bergantian? Malam ini memang semua akan datang. Tetapi hanya untuk memastikan agar mereka yang khawatir bisa segera tenang. Tapi setelah itu kamu kan akan diantar pulang supir papa.”, kata Sera memojokkan Claudia agar adik paling bontotnya itu tidak bisa berkelit lagi.


“Hm? Masa sih? Aku ga baca.”, kata Claudia masih belum mengaku.


Sera sampai sudah ingin menyerah karena adiknya terus saja berkelit.


“Sudah sana. Kamu mau mengejar pria yang tadi kan? Siapa ya tadi namanya? Rian, ya?”, ucap Sera yang akhirnya berhasil membuat pipi Claudia memerah.


“Ih.. sok tahu banget, mba. Bukaaannn.”, kata Claudia malu sekali karena mereka jarang membicarakan hal ini.


Bukan jarang lagi. Intensitas pertemuan dirinya dengan para kakak - kakaknya sangat kecil karena mereka sudah sibuk dengan keluarga mereka masing - masing. Mereka hanya bisa berjumpa saat hari - hari tertentu saja yang kebanyakan judulnya adalah perayaan. Ulang tahun, hari libur, hari besar, dan semacamnya.


Setiap bertemu juga beberapa ada yang tidak bisa tinggal atau menginap. Alhasil, Claudia selalu saja dianggap sebagai anak kecil. Padahal umurnya sudah kepala tiga dan sudah menjadi seorang dosen.


“Jangan bohong. Tapi mba salut sih sama pilihan kamu. Bibit unggul tuh kayanya. Patut diperjuangkan. Dosen sini, ya? Atau murid papa?”, tanya Sera sudah ingin menggali lebih dalam.


“Udah ah.. Keburu pergi orangnya.”, kata Claudia yang tadi terus menerus menyembunyikan, pada akhirnya juga kelepasan.


Oops!

__ADS_1


************


“Hah? Adik? Emang aku adiknya, Pak Rian?”, tanya Kirana dengan intonasi yang jelas mempertanyakan.


Dia bahkan tak menggunakan panggilan biasanya pada Rian saat mereka hanya berdua saja. Kirana jelas memberikan sindiran pada Rian. Meskipun gadis itu berterima kasih karena Rian sudah menyelamatkan dirinya dari kesalahan bodoh barusan, tetapi Kirana tetap tidak terima. Bisa - bisanya pria itu mengatakan kalau dirinya adalah adiknya.


“Ya… saya harus bilang apa?”, tanya Rian.


Mengikuti cara bicara Kirana, Rian pun menggunakan ‘saya’ untuk memperjelas dirinya.


“Ya, apa kek? Yang penting selain ‘Adik’. Kenapa harus adik, coba. Ngeselin, banget.”, Kirana mendumel sendirian.


“Cuma itu yang mungkin bisa membuat saya mengeluarkan kamu dari situasi berbahaya tadi. Kalo dia marah gimana? Kamu bisa kenapa - kenapa, kan?”, balas Rian.


“Ya kan, Kak Rian bisa bilang ‘pacar’, ‘isteri’, kan sama - sama orang terdekat biar Bapaknya gak marahin aku lagi karena takut sama otot - ototnya kakak itu.”, ucap Kirana tanpa sadar telah mengucapkan kata - kata ‘Pacar’ dan ‘Istri’ dengan intonasi biasa. Seolah - olah status itu menjadi yang biasa saja antara mereka.


Rian tersenyum tipis. Gadis di depannya ini bukannya berterima kasih karena dirinya telah menyelamatkannya dari situasi genting. Tetapi sekarang malah mempermasalahkan status mereka dalam skenario yang tadi secara refleks Rian buat.


“Oke.. mau balik lagi ke Bapaknya dan bilang kalau kamu itu ‘Pacar’ saya.. Oh engga.. ‘Isteri’ saya?”, ujar Rian menjadikan kemarahan Kirana sebagai bahan candaan untuknya.


“Heh? Mau kemana?”, tanya Rian.


“Pulang.”, jawab Kirana kesal.


“Pulang kemana? Tas kamu mana? Kesini naik apa?”, tanya Rian.


“Bodo.”, jawab Kirana.


Rian hanya bisa tersenyum. Dia kembali mengingat masa - masa pertama kali mereka bertemu dan harus saling mengenal satu sama lain. Perbedaan usia yang terpaut jauh diantara mereka membuat komunikasi mereka selalu berakhir timpang seperti ini.


Kirana dengan emosionalnya yang stabil dan Rian yang hanya bisa tersenyum simpul sambil mengurut dada. Untung saja cantik, meski sedikit ngeselin.


“Sini.. kita panggil taksi.”, kata Rian.


Kirana langsung berhenti dan kembali ke posisi yang lebih dekat dengan Kirana.

__ADS_1


“Cepet banget berubah pikiran.”, gumam Rian.


Kirana hanya berdiri santai sambil pura - pura tidak mendengar.


Meskipun masih berada dalam wilayah kampus yang sama. Tetapi jarak antara Rumah Sakit dengan Fakultas mereka terpaut sangat jauh. Bisa menghabiskan setidaknya 15 menit perjalanan menggunakan taksi.


Biasanya di sekitar rumah sakit ada taksi yang datang. Meski tidak banyak tetapi mereka tahu pasti ada barang 1 saja. Cukup beresiko untuk Rian membiarkan Kirana naik ojek sendirian. Lebih baik mereka berdua. Toh keduanya sama - sama ingin kembali ke kampus.


Rian juga menyadari ternyata Kirana tidak membawa tas.


“Tas kamu mana?”, tanya Rian pada Kirana.


Mereka berdua duduk di halte yang tak jauh dari pintu masuk rumah sakit. Kirana sengaja duduk dengan memberikan sedikit jarak antara dirinya dan Rian.


“Di kampus.”, jawab Kirana.


“Tunggu, kamu ada urusan apa sih di rumah sakit ini?”, tanya Rian baru menyadari pertanyaan besar yang sedari tadi menggantung di kepalanya.


“Enggak ngapa - ngapain.”, jawab Kirana.


“Terus, ngapain bisa nyasar sampai ke rumah sakit?”, tanya Rian bingung.


Rian menoleh ke arah Kirana saat dirinya melayangkan pertanyaan tersebut. Namun, Kirana memilih untuk melihat lurus ke depan.


“Pacaran. Kenapa? Pacar aku anak kedokteran disini dan dia lagi Koas. Jauh lebih ganteng dari Kak Rian.”, Kirana menjawab sekenanya.


“Pacaran? Barusan kamu mau saya ngakunya pacar kamu supaya bisa keluar dari situasi sulit. Sekarang kamu bilang kamu kesini mau pacaran. Gimana kamu berpikir saya bisa percaya sama kamu?”, tanya Rian.


“Yaudah kalo gak percaya.”, ucap Kirana simpel.


“Terus Raka?”, tanya Rian.


“Gak kenapa - kenapa. Lagian ya, Pak. Ngapain Pak Rian sibuk urusin masalah saya. Urusin aja tuh, pacar Pak Rian yang rambutnya panjang dan tingginya semampai itu. Pake heels tapi. Aslinya juga pasti ga jauh - jauh dari aku.”, kata Kirana dengan nada sarkasnya.


“Oh.. itu taksinya.”, kata Rian langsung berdiri dan menyetop taksi dengan tangannya.

__ADS_1


Pembicaraan mereka terputus karena keduanya harus menaiki taksi. Entah kapan lagi taksi itu akan datang.


__ADS_2