Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 52 Wanita di Kehidupan Rian


__ADS_3

“Kenapa?”, tanya seorang wanita pada Rian.


“Tidak.”, ujar Rian menjawab singkat.


Padahal, jelas ada yang mengganggu pikirannya. Rian ingat kalau dia sudah mengatakan pada Kirana untuk menunggunya disini. Tetapi dia lupa karena wanita ini tiba - tiba saja datang padanya.


Dia adalah Claudia, satu - satunya anak perempuan Dekan Fakultas. Dia baru saja tamat sekitar dua tahun yang lalu di fakultas ini dan sedang mengajar di sebuah kampus swasta di kota yang sama.


Rian dan Claudia pertama kali bertemu saat Rian menghadiri opening house dekan bersama dengan dosen - dosen lainnya. Selain para dosen, asisten dosen yang mayoritas masih muda - muda juga diundang.


Alih - alih tertarik dengan asisten dosen, Claudia langsung mendaratkan pandangannya pada Rian. Pria dengan tubuh tinggi tegap yang mengenakan kemeja lengan panjang semi formal, celana jeans, dan sepatu olahraga.


Saat itu Rian sedang berkumpul dengan beberapa dosen yang mayoritas sudah berumur dan berkeluarga untuk membahas salah satu proyek risetnya. Salah satunya adalah Dekan Fakultas.


Claudia menggunakan papanya sebagai alasan untuk mendekati Rian dan sengaja ikut berkumpul dalam pembicaraan itu. Mereka terlibat diskusi hangat dan Rian juga terlihat tertarik untuk melanjutkan kembali diskusi tersebut di luar forum ini. Claudia lantas memanfaatkan hal tersebut untuk bisa terus menjaga kontak dan hubungannya dengan Rian.

__ADS_1


Seperti kali ini. Tidak ada hujan, tidak ada angin, Claudia mendatangi kampus untuk menawarkan sebuah proyek besar pada Rian. Bagi Rian, proyek ini akan menjadi tiketnya untuk meningkatkan kualifikasinya sebagai dosen pasca sarjana.


Sebaliknya, bagi Claudia, proyek ini bisa menjadi tiket untuk bisa lebih dekat lagi dengan Rian. Claudia adalah gadis yang cerdas dan berwibawa. Meski usianya lebih muda, dia sama sekali tidak menunjukkan ketertarikannya pada Rian meski dia merasakan kalau hatinya selalu saja deg- deg-an berada di dekatnya.


Claudia bisa menunjukkan sikap profesional padahal dia memanfaatkan berbagai kesempatan yang dia miliki untuk bisa dekat dengan Rian. Rian sama sekali tidak menyadarinya karena Claudia benar - benar memposisikan dirinya dengan baik.


“Di kampus lo gak bisa handle project kaya gini?”, tanya Rian.


“Lo nyindir?”, tanya Claudia memasang seatbealtnya.


“Ya nggak. Gue cuma nanya doang. Sayang banget lo kasih opportunity ini ke kampus lain.”, ucap Rian menghidupkan mesin mobilnya.


“Disini banyak pakarnya. Asdos juga banyak yang bersemangat. Di tempat gue pada orientasi keluarga semua. Abis ngajar pulang. Mana ada yang mau terlibat project-an kaya gini.”, jelas Claudia.


“Hm.. “, Rian mengangguk.

__ADS_1


“Dengan pengaruh bokap lo, kenapa lo gak ngajar disini aja?”, tanya Rian.


Claudia melirik sebentar. Jujur, dia tertegun dengan kata - kata pria itu barusan.


‘Apa maksudnya dia mau aku pindah ke kampus ini? Dia tertarik, padaku?’, tanya Claudia dalam hati.


“Kamu tahu kan, papa. Mana mau dia satu tempat kerja sama keluarganya? Apalagi anaknya. Dia takut dikira gak professional.”, ucap Claudia.


“Gue? Beliau nerima gue karena gua anak temennya.”, balas Rian.


Rian baru saja men-tap pintu keluar parkiran dan sudah masuk ke bagian luar jalan gedung fakultas.


“Serius lo mikirnya gitu? Pertama, lo bukan keluarga. Kedua, dia milih lo karena kapabilitas dan kemampuan lo. Ga sadar?”, tanya Claudia.


“Rian menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2