
Hari sabtu, hari yang bagi sebagian orang Indonesia menjadi hari yang tepat untuk sebuah pernikahan. Gadis itu berdandan rapi layaknya seorang pengantin. Pernikahannya tertutup, hanya pihak keluarga yang datang. Tentu saja, jika pihak sekolah tahu muridnya menikah, gadis ini pasti dikeluarkan.
Sekarang waktu yang kulewati menyamai kecepatan cahaya, tanpa sadar aku dan gadis kecil ini sudah menikah. Baiklah aku pria 28 tahun menikahi gadis kecil yang usianya terpaut 10 tahun denganku.
Kami tinggal di rumahku, tepatnya di rumah Papa. Kamar kami terpisah, sejujurnya aku merasa kami lebih seperti adik dan kakak, bukan seperti pasangan suami istri. Awalnya kukira begitu. Papa juga tampak baik – baik saja dengan kami.
Tapi aku merasa tidak leluasa. Jam pulangku diatur seperti anak kecil. Aku tak tahan. Akhirnya Papa mengizinkan aku untuk tinggal di sebuah apartemen, tapi harus dari sakuku. Papa terlalu meremehkanku rupanya. Biar ku tebak, dia bahkan tidak tahu betapa kayanya aku sekarang.
Aku berhasil membeli sebuah apartemen minimalis di pusat kota, dekat dengan sekolah gadis itu. dia begitu senang, setidaknya dia tidak akan berpura – pura menghormatiku. Disini dia bertingkah seolah dunia hanya miliknya.
Aku baru tahu betapa liarnya gadis satu ini. Pulang larut malam setelah ngobrol dengan teman – temannya. Otaknya rata – rata, hingga aku yang harus memutar otak mengajarinya. Aku heran, kenapa dia tidak sadar Ujian Nasional menghampirinya. Kesibukannya adalah mengurusi acara – acara yang menurutku sama sekali tidak penting.
Jika ditanya, kerjanya rapat dan rapat. Sudah seperti orang dewasa. Sebulan pertama, kami masih saling menyesuaikan diri. Kami memang tinggal satu rumah tapi seolah punya dunia masing – masing.
Hingga aku yang berinisiatif membuka celah. Aku mulai mengajaknya untuk saling berkomunikasi dan memintanya untuk menceritakan apapun yang dialaminya di sekolah. Karena aku kuliah di bidang psikologi, aku begitu senang mendengar penuturannya, cerita – cerita manisnya, bahkan sesekali rasa kesalnya.
Aku mengajarkannya bagaimana berbicara di depan cermin, melampiaskan kekesalan sambil berendam air panas. Bahkan mencetak foto orang yang dibenci kemudian memakinya sepuas hati.
“Rian, lo nggak pernah jalan – jalan ya?”
“Pernah”
“Gue selalu liat lo ngurung diri di kamar itu, memasang earphone dan membaca novel.”
“Aku hanya sedang memutar otak untuk kembali berinovasi. Anak kecil tidak akan mengerti, sudah sana.”
“Bahasa mu formal sekali, Pak Tua.”
“Umur gue masih 28 tahun. Dasar bocah.”
“Aku udah gede.”
“Besok kita ke taman pagi – pagi, puas?”
Wajah sumringahnya jelas terpampang. Dia memelukku sekilas, membuat seluruh bulu romaku berdiri. Aku bingung, jantungku berdegup kencang.
“Dia cuma bocah.”
Besoknya, aku mau tak mau harus menepati janjiku. Kami memutuskan untuk membawa sepeda sendiri. Dua jam perjalanan aku habiskan dengan merutuki jalanan kota yang macet parah. Gadis itu tersenyum bahkan tertawa ketika aku mulai memukul – mukul setir.
“Kamu senang liat aku marah – marah?” Aku tak tahan melihatnya begitu senang. Dia lagi – lagi bersikap seolah dunia miliknya.
“Enggak, kamu lucu.”
“Aku heran deh sama kamu. Kamu nerima aja dinikahin sama aku?” Sudah sejak lama aku ingin menanyakan hal ini padanya. Tapi aku masih begitu menimbang bagaimana perasaannya.
“Abis kamu cakep.” Ucapnya kemudian sambil tertawa.
“Dasar bocah, lebih baik aku nggak usah tanya,”.
Kami sampai pukul 10 pagi setelah hampir 1 jam bertarung melawan macet.
“Yeeee... kamu bisa naik sepeda?”
“Jangan remehkan aku, di sekolah aku ini atlet.”
__ADS_1
Dia tertawa senang ke arahku. Kami mengayuh sepeda mengelilingi semua tempat. Sesekali aku memotret pemandangan dan beberapa foto kami.
Aku menghabiskan masa remajaku di luar negeri hingga lupa bahwa banyak yang bagus – bagus di Indonesia. Kenangan ku bersama ibu di taman inimasih melekat erat di benakku.
Tawa gadis itu lagi – lagi membuat jantungku berdegup kencang. Ada apa denganku ? aku begini sejak kemarin.
“Kak, foto aku disini.” Ucapnya seraya berpose di sebuah jalan dekat rumah ibadah cina.
“Kenapa sekarang kamu manggil aku kakak?” Wajah dan senyumnya jernih seperti air, begitu natural.
“Aku cuma mau tahu gimana kedengarannya. Tapi kayaknya gak enak. Ahahhah”
Kami banyak berbagi cerita dan peristiwa disini. Tepatnya dia yang selalu membuka mulutnya, bahkan tak membiarkannya tertutup barang sedetikpun. Dia terus bercerita mengenai teman – temannya yang pernah berlibur kemari, tapi dia tidak bisa ikut karena sakit.
Tepat pukul 4 sore kami bergerak pulang. Satu bulan cukup bagiku mengerti keadaan kota Jakarta di sore hari. Sesak dan aku tidak lagi ingin menjadi korban macet dan menjadi bahan tertawaan seorang bocah.
“Kenapa kamu sering manggil aku bocah sih. sebentar lagi aku udah masuk kampus, tahu.”
“Makanya lulus ujian dulu. Jangan malas, kalau udah SMA , aku baru berhenti manggil kamu bocah.”
“Tapi kamu ngajarinnya nggak bener.”
“Eh .. aku itu lulusan universitas terbaik. Kamu jangan meragukan aku gitu dong.”
“Abis kamu selalu ngasih aku nilai 40.”
“Itu kamunya yang kelewat bodoh.”
“....”
“Heeh...” Karena kecapekan. Dia menjawabku asal. Aku memarkirkan mobil di sebuah rumah makan tak jauh dari apartemen kami.
Gadis ini memesan nasi goreng seafood, kemudian aku mengikuti menunya.
Malam indah itu berlangsung cepat, gadis ini sudah terlanjur tepar saat mobil kami sudah memasuki parkiran. Aku terpaksa harus menggendongnya sampai apartemen.
--------------
Hari – hari yang kami lalui menjadi tak biasa. Bahkan aku merasa, kami seperti orang yang sedang berpacaran saja. Berbeda, ternyata semakin aku mengenal gadis ini, semua jadi terasa semakin berbeda. Berjalan berdampingan dengannya membuatku terus merasa jantungku berdebar sangat kencang, bulu romaku bergidik ketika dia menarik lenganku, atau hanya memukulku dari belakang. Ini bukan seperti sekedar tarikan yang bagi gadis perancis mungkin sering mereka lakukan.
Kami sering berada dalam situasi canggung. Aku tahu aku mulai menyukainya, tapi cukup sulit untuk mengakuinya. Aku sulit mengakui bahwa aku telah jatuh tertunduk pada pesona gadis 17 tahun dihadapanku. Aku ingin mengatakannya, tapi aku takut jika dia juga tidak merasakan hal yang sama.
--------------
Hari itu adalah hari terburuk dalam sejarah hidupku, Papaku mengalami serangan jantung saat hendak pulang dari luar kota. Papa yang ku kenal adalah yang di situasi apapun dapat tetap tenang, pergi meninggalkanku.
Salah satu perusahaan asing menipunya. Aku tahu yang Papa sesalkan bukan uangnya, tapi sebuah sekolah yang dirintisnya terpaksa harus jatuh ke tangan orang lain. Papa akan tenang jika mereka mengurusnya dengan baik.
Tapi mereka justru mengganti sekolah itu menjadi sekolah elit, tempat orang – orang kaya dan mengeluarkan murid – murid cerdas yang tak punya biaya ke jalanan. Papa yang dengan segala kemampuannya meyakinkan pada orang tua mereka bahwa anak- anak itu akan jadi orang sukses justru kembali berakhir di jalanan.
Papa begitu hebat menyembunyikan ini dariku, Papa tak pernah bilang bilang idenya sedang diambang kehancuran. Sama seperti perpustakaanku yang lahir dari ide. Papa juga sama, sekolah itu adalah wujud dari idenya dan kini jadi hidupnya.
Beberapa hari setelah pemakaman Papa, aku mengurung diri di kamar. Aku tak pulang ke apartemen, aku bahkan tak bisa mengenal siapa diriku sekarang.
Aku sangat mencintai Papa, dan reputasinya yang jatuh di atas usaha keras yang dibangunnya membuatku sulit berfikir. Aku hanya terus jatuh di satu titik dimana hidup begitu menyedihkan.
__ADS_1
Jam 12 malam, gadis itu menghubungiku. Dia menanyakan apakah aku masih belum baikan. Ia memintaku pulang untuk mengganti suasana, rumah akan membuatku teringat terus pada papa Aku mengikutinya, aku bilang akan pulang pagi hari. Sudah terlalu malam dan aku lelah.
Aku menepati janjiku, paginya aku pulang. Badanku lusuh, dia datang menghampiri aku. Badannya dingin, panas. Semua seperti menyatu. Dia menidurkanku di kamar dan membuatkanku sup. Dia berniat bolos hari ini, tapi aku melarangnya.
“Bukannya hari ini ada TO, kalo kamu bolos, kamu nggak bisa mengukur kemampuan kamu..”
“Tapi aku mencemaskanmu.”
“Aku tahu. Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa ngabisin supnya sendiri, abis itu istirahat. Paling besok juga sembuh.”
“Jangan kemana - mana dulu ya, kalo nanti terjadi apa - apa bilang aku.”
“Iya” Dia berganti pakaian dengan cepat. Aku tahu dia sudah terlambat sekitar 10 menit. Dia kusuruh naik taksi saja.
Di rumah, aku hanya tidur dan istirahat. Sejujurnya aku tak kuat bahkan untuk mengambil sendok di mangkuk. Tapi aku memaksakan diri. Jika dia tahu aku tidak menghabiskannya, dia pasti akan sangat marah.
Pukul 1 siang, aku mendengarnya masuk apartemen. aku tidak tidur dari tadi, tapi sepertinya panasku sudah turun karena minum obat yang diberikannya. Aku merasakan tangannya menyentuh dahiku, mataku terpejam saat itu. Dan aku merasakan bibirnya mencium dahiku. Hatiku hangat, seolah ada penyejuk bagi kalbuku yang gersang.
“Gimana ujiannya?” Dia terkejut, kemudian mendadak canggung. Aku tersenyum.
“Gak gitu bagus. Soalnya susah. Aku bingung.”
“Kalau aku sembuh. Aku bakal ngajarin kamu.”
“Makanya cepet sembuh.” Dia tersenyum manis ke arahku.
Sekitar 2 minggu lagi, Ujian Nasional gadis itu akan di mulai. Semua persiapan kurasa cukup baik. Temannya juga ada yang datang untuk sekedar belajar bersama denganku. Aku mengaku sebagai guru les gadis ini. Semua berjalan cukup lancar sampai seminggu menjelang ujian. Aku menyuruhnya untuk berhenti belajar dan relax. Persiapan sudah dilakukan, sekarang yang dibutuhkan adalah persiapan mental. Tak banyak yang kami lakukan, aku hanya bisa mengajaknya jalan – jalan dan makan di luar.
Suatu malam, dia terlambat pulang. Aku menanyakan kesibukannya. Tapi aku merasa dia tidak menjawabku jujur. Esoknya, dia berangkat pagi sekali. Aku bingung, seharusnya beberapa hari menjelang ujian dia libur. Aku iseng dan mengikutinya. Dia mengarah ke taman.
Disana dia bertemu dengan seorang laki – laki. Bukan seusianya kurasa, mungkin sudah kuliah atau sedang magang. Mereka berjalan ke sebuah toko sambil membicarakan sesuatu. Laki – laki itu merangkul bahunya dan tertawa bersama. ternyata mereka sedang memilih baju. Aku merasa ada yang aneh. Gadis itu begitu gembira bersamanya. Tak lama kemudian datang seorang pasangan lagi. Dan mereka melakukan hal yang sama. Disana aku merasa begitu cemburu.
Dirumah, ketika dia pulang aku segera menanyakannya.
“Kamu habis dari mana?”
“Aku ke rumah teman.”
“Perempuan?”
“Tentu aja.”
“Aku baru aja liat kamu bareng anak cowok. Usianya jauh dari kamu. Kamu nggak lagi bohong kan?” Aku masih dengan santai memegang novelku. Dia gelagapan, tapi kemudian dengan santai dia masuk ke kamarnya.
“Aku belum selesai bicara.”
“Terserah kamu.”
“Kenapa tiba – tiba kamu begini?”
“Nggak tiba – tiba.”
“Apanya yang nggak tiba – tiba ? Beberapa hari yang lalu kamu masih baik sama aku.”
“....” Hening tak ada suara dari dalam kamarnya. Bosan, aku memilih kembali ke kamarku dan merenungi kejadian yang tadi. Hampa, aku sulit berpikir bahkan hingga keesokan paginya. Gadis itu sudah pergi lagi pagi – pagi sekali.
__ADS_1