Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 84 Bersembunyi


__ADS_3

Kirana baru saja selesai menghabiskan sarapannya hari ini. Dia sudah dua hari berada di rumah sakit. Kondisinya sudah membaik. Dokter menyarankan untuk menambah hari untuk menginap agar Kirana bisa beristirahat total. Dia juga harus absen dari kampus beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit nanti. Beruntung, masa UTS sudah selesai. Namun, Kirana tetap harus mengejar banyak sekali ketertinggalannya.


“Ran, mama nanti harus bertemu dengan teman mama ya. Beliau akan memperkenalkan mama dengan vendor tanaman yang kemungkinan akan jadi salah satu pemasok bunga untuk usaha mama.”, ujar Mama Kirana sambil membereskan makanan - makanan yang terletak di atas meja.


“Hm.. iya gapapa, Ma. Kirana juga sudah mulai baikan dan memang gak ada yang serius, kan.”, balas Kirana.


“Syuttt.. Tetap serius. Kamu pokoknya harus lihat - lihat jadwal makan kamu mulai sekarang. Ingat, ya. Obat yang buat siang sudah mama taruh di sana. Dokter sudah memeriksa kamu tadi pagi, Jadi, besok baru pemeriksaan selanjutnya. Kalau ada apa - apa, langsung telepon mama ya nak.”, jelas mamanya.


“Iya ma.”, balas Kirana memperbaiki letak bantal di belakangnya.


Kirana tidak boleh memegang ponsel dan juga laptop. Jadi, hal yang bisa dia lakukan benar - benar hanya berbaring di atas tempat tidur sambil menonton televisi.


“Ma. Soal…”, tanya Kirana pelan - pelan membuka kembali topik yang kemarin mereka bahas.


“Mama sudah bilang dengan tegas kemarin. Kalian hanya bertemu di kelasnya saja, kan? Mama harap kamu melupakan semua hubungan kalian dan bersikaplah seperti mahasiswa dan dosen. Anggap tidak pernah ada hubungan.”, ucap mama Kirana tegas.


“Ma…”


“Kamu harus tahu. Mama tidak pernah lupa bagaimana mama bisa membujuk kamu untuk kuliah setelah semua yang kamu lalui. Rian tidak menceritakan apapun pada mama. Kamu juga. Sejak saat itu mama juga tidak pernah tanya. Mama tidak tahu. Jadi, di kepala mama, Rian yang salah sepenuhnya. Jadi, lebih baik kamu tidak kembali ke masa lalu lagi. Sesulit itu Ran, mama untuk membuat kamu ke titik ini. Sekarang kamu mau balik lagi?”, ucap mama Kirana yang meletakkan kembali tasnya di atas kursi.


“Rana tahu, ma. Tapi bagaimana kalau hati Rana gak bisa? Mama tahu, 1 tahun Rana menghindar terus dari Kak Rian. Rana pikir tidak apa - apa. Rana sudah terbiasa. Tapi begitu bertemu kembali dengannya, Rana baru sadar ternyata tidak semudah itu.”, jelas Kirana.


“Entah permainan apa yang sedang dilakukan hidup pada Kirana. Seharusnya, Kak Rian gak akan pernah jadi dosen Kirana. Karena dia memang hanya mengajar mahasiswa tingkat atas. Dan jurusan yang Kirana ambil tidak akan bertemu dengannya meski Kirana nanti masuk ke tahun ke -4. Tapi apa? Siapa yang tahu tiba - tiba dosen Kirana yang lama ada alasan pribadi sampai dia harus berhenti dan Kak Rian yang menggantikan.”, ujar Kirana.


“Waktu satu tahun? Ga ada artinya Ma. Semua seperti semula. Semua seperti awal lagi.”, Kirana menatap mamanya lurus.


“Ran, kita bahas ini nanti. Kamu istirahat dulu. Nanti, kalau kamu sudah benar - benar sembuh, baru kita bahas.”, ucap Mamanya pada Kirana.


“Ma, Kirana yang salah. Kirana yang salah. Gak seharusnya Kirana sembunyiin surat - surat Kak Rian walaupun waktu itu Kirana istrinya.”, akhirnya Kirana menjelaskannya pada mamanya.

__ADS_1


“Maksud kamu? Surat - surat apa?”, tanya mamanya.


“Sebelum menikah dengan Kirana, Kak Rian punya sahabat namanya Clara di Perancis. Sebelum Kak Rian kesini, perempuan bernama Clara itu ternyata sedang hamil.”, jelas Kirana.


“Hah? Hamil? Anak Rian?”, mama Kirana langsung berdiri dari duduknya.


“Bu-bukan bukan, ma.  Bukan anak Kak Rian. Rana juga ga begitu tahu detilnya. Setelah Kak Rian dan Rana menikah, ada surat - surat yang masuk ke Kak Rian. Karena kak Rian sibuk, dia gak pernah di rumah. Jadi, Rana yang terima suratnya. Waktu itu Kirana gak tahu. Jadi, Kirana sembunyiin semua surat - suratnya.”, ucap Kirana menjelaskan.


“Terus?”, mama Kirana penasaran dengan cerita putrinya.


Sejak 3 tahun yang lalu, mungkin ini pertama kalinya Kirana menceritakan padanya.


“Setelah papa Kak Rian gak ada. Kami bertengkar. Terus Kirana cerita soal surat - surat itu. Kak Rian kecewa banget sama Kirana. Waktu itu Kirana gak tahu. Setelah bercerai, Kirana sempatkan datang ke rumah Kak Rian dan ternyata dia sudah ke luar negeri. Terus Rana liat surat itu. Rana bawa dan simpan.”, tutur Kirana.


“Walaupun Kirana simpan, Kirana gak pernah buka surat itu. Sampai akhirnya Kirana ketemu lagi sama Kak Rian waktu dia udah jadi dosen. Kirana ingat tentang surat itu dan Kirana buka. Akhirnya Kirana sadar kalo ternyata waktu itu Kirana memang salah.”, ujar Kirana menangis.


“Memangnya apa isi surat itu sayang?”, tanya mamanya.


Mama Kirana menghela nafasnya. Hal yang ingin dia ketahui selama ini ternyata memang lebih baik tidak diketahui. Tapi dia sedikit lega karena Kirana memutuskan untuk menceritakannya.


“Mama ingin sekali mengatakan kalau ini bukan salah kamu. Kirana, kamu memang salah telah menyembunyikan sesuatu yang bukan milik kamu. Tapi, kita tidak juga bisa memastikan semua akan berbeda jika Rian menerima surat itu. Semua sudah terjadi. Kamu harus bisa menerimanya. Mama berterima kasih kamu sudah menceritakan semuanya sehingga mama juga tidak salah paham pada Rian.”, ucap Mamanya menenangkan.


“Makasih, Ma.”, ucap Rana.


“Kita bicara lagi nanti di rumah, ya.”, ucap mama Kirana menutup pembicaraan mereka.


*************


Flashback dimulai

__ADS_1


“Ma…bagaimana keadaan Kirana?”, tanya Rian pada mama Kirana setelah berhasil menyusulnya setelah pembicaraan mereka yang tidak berjalan dengan baik. 


“Hm… dia baik - baik saja. Rian, saya sudah bukan mertua kamu lagi. Kamu tidak perlu memanggil saya mama.”, ucap Mama Kirana lalu berlalu. 


Rian ingin menyusul, namun dia melihat ada seseorang yang baru saja keluar dari kamar inap Kirana. Ghea, salah seorang mahasiswi yang dia ajar, sahabat Kirana. Rian mau tidak mau harus menarik langkahnya. 


Flashback selesai


“Ran, kamu jangan lupa habiskan makan siangnya, ya.”, ucap mama Kirana.


Karena pembicaraan yang tidak terduga, Mama Kirana harus memundurkan janjinya untuk bertemu calon supplier bunga untuk usahanya nanti. Tadinya, dia berniat untuk membatalkannya. Namun, Kirana yang sudah selesai dan tenang meyakinkan mamanya kalau dirinya tidak apa - apa. Dia tidak perlu membatalkannya. Kirana tahu betapa sulit mamanya untuk mendapatkan waktu bertemu dengan supplier tersebut.


“Ya sudah. Mama pergi dulu, ya.”, ucap mamanya melambaikan tangan sambil membuka pintu kamar rawat inap.


Di luar, Mama Kirana melihat sosok yang dikenalnya. Sosok yang kemarin membuat hati dan pikirannya terkuras. Rian. Pria itu entah sudah berapa lama duduk di depan kamar rawat inap Kirana.


Mama Kirana menghela nafasnya. Sepertinya sulit untuk membuat keadaan seperti yang dia inginkan. Entahlah, dia ingin yang terbaik untuk putrinya. Tapi dia tak tahu. Apakah menjauhkan Rian akan membuat Kirana bahagia atau sebaliknya.


Alhasil, Mama Kirana hanya berlalu dari sana. Itu artinya, dia mengizinkan laki - laki itu untuk menemui putrinya. Namun, masih tanpa kata - kata. Rian juga mengerti di posisinya. Dia harus meminta maaf setelah ini.


Rian membuka pintu kamar rawat inap Kirana tepat saat gadis itu ingin menyandarkan tubuhnya. Kirana terkejut dan langsung bangun kembali dari tempat tidurnya.


“Kamu tidak apa - apa? Tidak perlu bangun. Kalau mau istirahat, kamu bisa istirahat saja. Anggap aku tidak ada disini.”, ujarnya.


Kirana menatap Rian dengan tatapan tidak percaya. Setelah insiden pertengkaran kecil mereka yang tiba - tiba di mobil beberapa hari yang lalu, ini pertama kalinya lagi mereka bertemu.


‘Gimana mau tidur kalo dia ada disitu. Katanya ga mau peduli lagi. Tapi, datang juga.’, ucap Kirana dalam hati. Matanya masih lurus memandang Rian.


“Kalau mau marah, marah aja.”, ucap Rian mendekat.

__ADS_1


Kirana langsung melemparkan bantal pada pria itu. Rian terkejut.


__ADS_2