Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 26 Kehebohan di Mobil Radit


__ADS_3

“Radit, jangan ke rumah gue deh. Ke rumah Ghea aja.”, di tengah - tengah perjalanan, Kirana tiba - tiba berubah pikiran.


“Ke rumah Ghea? Aku sih.. Eh sorry, gue sih ga masalah nganterin lo ke rumah Ghea. Tapi, kenapa tiba - tiba lo malah mau pulang kesana? Emangnya nyokap lo ga nanyain entar? Apa karena lo takut nyokap lo liat lo pulangnya bareng gue?”, ujar Radit.


Kirana sudah menegurnya tadi karena menggunakan kata ganti yang membuatnya tidak nyaman. Begitu sadar masih menggunakan aku - kamu, Radit langsung menggantinya dengan cepat.


Jujur, Kirana sempat hampir tertawa mendengarnya. Dia memang nyebelin, tapi ternyata ada sisi lucunya juga. Tapi hanya 1% saja, pikir Kirana.


Radit juga kritis sekali. Kenapa dia malah sok - sok bertanya alasan Kirana mau ke rumah Ghea. Bagian ini, tentu saja Kirana tidak menyukainya.


“Bukan urusan lo. Ga mau nganterin? Ya udah, gue naik taksi.”, kata Kirana terdengar seperti mengancam.


Padahal, Kirana tahu kalau uangnya sudah tidak cukup untuk naik taksi. Kirana mendapatkan uang jajan dari bundanya setiap dua minggu sekali. Namun, minggu ini Kirana menggunakan sedikit lebih banyak dari biasanya.


Terlebih, hari ini dia ke rumah Rian dari kampus menggunakan taksi. Kirana merasa, sepertinya jarak kampus dan rumah Rian tidak begitu jauh. Ternyata lumayan juga menggunakan taksi. Bodohnya, Kirana tidak mengeceknya terlebih dahulu melalui aplikasi maps online.


“Kan gue udah bilang barusan. Bukannya gue gak mau nganterin. Tapi bingung aja, tadi katanya mau pulang ke rumah, kenapa sekarang malah minta anterin ke rumah Ghea. Jangan bilang kamu kabur dari rumah? Atau jangan - jangan memang takut lagi mama kamu lihat ada cowok yang nganterin.”, ucap Kirana.


“Hm… nanti gue di tanya - tanya nyokap yang aneh - aneh. Plis deh, jangan sok kreatif banget bilang karena gue kabur dari rumah. Udah tahun 2023, udah kuliah dan dewasa. Kalau ada yang masih kabur dari rumah, balik TK lagi aja.”, ungkap Kirana.


Meskipun Kirana dikenal memiliki jiwa yang bebas, tetapi dia tetap mempertahankan dirinya untuk menjadi gadis yang berkelakukan baik. Dia tidak mentolerir tindakan - tindakan kekanak-kanakan seperti kabur dari rumah. Kecuali ada situasi tertentu yang mengharuskan hal itu seperti karena orang tua melakukan kekerasan dan alasan lainnya yang mungkin dialami oleh anak seusianya.


“Wah.. baru denger nih hal seperti ini dari seorang Kirana. Emangnya kenapa kalau kabur dari rumah?”, tanya Radit.


Hitung - hitung, Radit bisa memperpanjang obrolan dengan menjawab komentar - komentar Kirana. Sekaligus, dia bisa semakin mengakrabkan diri dengannya.


“Kalau orang tua lo baik dan lo cuma salah paham doang, kenapa harus kabur sih. Sebagai orang yang sudah dewasa, lo kan bisa membicarakan masalah lo dengan baik - baik sama nyokap dan bokap, lo. Gak harus pake kabur. Kecuali, orang rumah sudah melakukan tindakan yang melanggar hukum dan membuat lo dalam bahaya. Nah, baru lo bisa minta pertolongan. Menurut gue gitu sih.”, jelas Kirana.


“Hm-m…”, respon Radit mengangguk paham. Dia mengeluarkan senyum tipisnya.


‘Menarik juga Kirana. Pantes kaya ada magnet yang narik gue ke dia.’, ungkap Radit tetapi hanya dari dalam hatinya saja.

__ADS_1


Meski berada di angkatan yang sama, Radit tidak terlalu mengetahui eksistensi seorang Kirana sebelumnya. Entah mengapa, sepertinya dia tidak tahu ada mahasiswi yang bernama Kirana.


Tapi, begitu menjadi ketua BEM dan Kirana juga aktif di BEM fakultas, Radit mulai beberapa kali berinteraksi dengannya. Menurut Radit, Kirana adalah teman yang menarik sekaligus cerdas. Radit sangat menyukai wanita - wanita yang cerdas. Terutama bisa saling terkoneksi dengan baik saat berbicara.


“Lo tahu rumah Ghea?”, tanya Kirana melihat Radit sepertinya berbelok ke area yang salah.


Awalnya Kirana berpikir, mungkin Radit sedang mencari jalan tikus, atau alternatif yang lebih cepat dan terhindar dari macet. Tapi lama - kelamaan sepertinya Kirana malah tidak mengenal jalanan ini.


“Oh? Ah… dimana ya, Ran?”, Radit malah kembali bertanya.


“Eh? Bukannya katanya lo tadi tahu rumahnya Kirana dimana. Gimana sih.”, protes Kirana.


“Tahu sih.. Tapi gue gak tahu tepatnya di sebelah sana. Gue cuma tahu daerahnya aja. Dan udah pasti itu berbeda arah dari halte yang lo dudukin tadi.


“Ih.. gimana sih? Terus ini gimana?”, tanya Kirana.


“Wah.. maaf Ran. Kayanya gue terlampau asyik ngobrol sama lo deh. Jadi, gue salah jalan.”, ucap Radit sambil menggaruk - garuk kepala belakangnya yang tidak gatal.


Kirana segera menarik ponsel dari tasnya dan membuka maps. Baru beberapa detik saja dia membuka koneksi internet dan maps, baterai Kirana tiba - tiba lowbat dan mati total.


“Eh… kenapa nih? Aduih.. Apa - apaan nih. Disaat genting begini kenapa harus gini banget sih.”, Kirana memukul - mukul ponselnya.


Tentu saja itu adalah hal yang sia - sia.


‘Gara - gara sibuk ngurusin Kak Rian, sampai lupa kalau baterai hape belum di charger.’, gumam Kirana dalam hati.


“Lo punya nomor Ghea gak? Gue mo whatsapp dia.”, ucap Kirana pada Radit.


“Oh.. sebentar gue pinggirin mobilnya dulu.”, ucap Radit bersiap ingin meminggirkan mobil miliknya.


“Ehhh jangann… ini tuh gak tahu dimana Radit. Main pinggir - pinggirin mobil aja. Lo gak sadar dari tadi di jalanan ini tuh cuma mobil kita doang. Udah jalan terus pokoknya sampai ketemu jalan besar. Awas makin nyasar.”, protes Kirana.

__ADS_1


Entah apa yang dilakukan laki - laki itu sampai tidak sadar sekarang mereka entah dimana. Setelah melewati jalan perumahan tadi, Radit malah masuk ke jalanan dimana kiri kanan pohon semua dan penerangan juga minim.


Bagaimana caranya pria ini bisa masuk ke area ini padahal mereka tadi melewati jalan besar. Kirana frustasi.


“Terus gimana hape gue?”, tanya Radit.


“Ya udah hape lo mana dah. Biar gue ambil.”, tanya Kirana.


“Dibelakang. Dalem tas gue.”, jawab Radit melihat sebentar ke belakang.


“Lihat depan… ih bahaya banget sih, lo.”, ucap Kirana panik.


“Iya.. iya.. Sorry sorry.”, respon Radit.


‘Gak - gak lagi deh gue naik mobil cowok satu ini. Bikin jantungan.’, omel Kirana dalam hati.


Dia sudah banyak mengomeli Radit hari ini. Meskipun dia tidak suka padanya, tapi dia juga tidak ingin memberikan kesan yang buruk.


“Lagian, kenapa sih, hape tuh gak di taruh di tempat yang dekat. Kan lo lagi nyetir. Kenapa coba malah di taruh di dalem tas. Terus tasnya jauh banget lagi di belakang.”, kali ini Kirana tidak bisa untuk tidak protes.


“Kalau ada orang yang nelpon lo, gimana? Kan jadi susah.”, kata Kirana masih melanjutkan rangkaian omelannya.


Gadis itu kesulitan mengambil ponsel milik pengemudi mobil yang dikendarainya alias Radit.


“Ah.. gue lagi ngehindarin telepon Fay.”, mendadak Radit malah curhat.


“Eh? Lo berantem?”, tanya Kirana kaget.


Akhirnya dia juga berhasil mendapatkan ponsel Radit. Kirana meminta Radit untuk membuka kunci ponsel dengan sidik jarinya.


“Hn..dia mulai posesif. Gue jadi kesulitan.”, kata Radit melanjutkan.

__ADS_1


Kirana merasa menyesal sudah bertanya. Dia tidak nyaman mendengar Radit mengungkapkan masalahnya. Bisa - bisa hal - hal yang tidak diinginkan malah terjadi dan dia hanya akan membantu Fay untuk membuktikan bahwa hipotesanya benar tentang Kirana menjadi perebut pacar orang.


__ADS_2