Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 36 Awal Pertemuan


__ADS_3

Pagi itu menjadi hari yang paling cerah di sebuah kota bernama Metz yang terletak di pertemuan sungai moselle dan seille. Kota yang menjadi ibukota Loreinne ini menjadi salah satu tempat wisata di Paris yang paling ingin dikunjungi karena memiliki kawasan arsitektur yang bagus dan indah.


Tidak seperti biasanya Rian hanya membiarkan dirinya tenggelam dalam sapuan jalan yang begitu ramai di pagi hari terlebih hari minggu dimana banyak sekali turis mancanegara yang berlalu lalang.


Saat itulah pertama kalinya Rian bertemu dengan Raka, ia terlihat seperti seniman jalanan di tengah kerumunan banyak orang, banyak yang ingin meminta foto dengannya. Perlakuan yang sungguh istimewa untuk seorang seniman jalanan yang jelas - jelas bukan artis.


Lamat – lamat Rian mendekatinya. ia memainkan beberapa lagu di depan sebuah taman di pinggiran sungai, tempat itu memang sangat strategis. Begitu mendengar alunan gitar itu menderu, Rian menjadi semakin tertarik untuk melihatnya.


Rian menggeser beberapa orang hingga akhirnya berhasil menjajal barisan paling depan. Ternyata dia bukan sekedar seniman jalanan, lebih seperti orang yang sekedar menyalurkan hobinya di kota ini. Tidak ada kantong, atau tas gitar yang menjadi tempat untuk meletakkan uang. Itu lebih seperti tontonan gratis.


Ia bermain selama satu jam dan Rian dengan setia dengan earphone dan novel di tangannya menunggunya. Mungkin dia yang selama ini Rian cari. Sepertinya memang dia yang Rian cari. Rian adalah pengusaha perpustakaan modern, perpustakaan ini akan di rilis kira – kira minggu depan.


Perpustakaan yang Rian bangun bukanlah seperti perpustakaan pada umumnya, karena isinya hanyalah novel dan sajak cinta. Dan konsepnya berganti setiap minggu, begitulah rencana Rian.


Setelah menyelesaikan S2 di sebuah Universitas terkemuka di pusat kota Paris, Rian memilih bermain – main dengan idenya. Dan inilah yang pertama kali muncul di benaknya. Perpustakaan. Lama Rian menunggunya berkemas. Setelah nampaknya ia akan pergi, Rian menghampirinya.


“Perkenalkan, aku Rian. Aku orang Indonesia tapi sudah lama tinggal disini. Bisakah kita berbicara sebentar.”, tanya Rian yang mengajaknya ke sebuah kafe dekat sana tepat di seberang jalan. Ia menerima dengan senang hati.


“Aku menyukai permainan gitarmu. Kalau boleh tahu siapa namamu?”, tanya Rian kembali


“Aku Raka, aku juga orang Indonesia, tapi ayahku asli Paris, mungkin karena itu kau tidak bisa mengenaliku. Ditambah dengan rambut ini. Dia menunjuk rambutnya yang berwarna kuning keemasan.”, tutur Raka.


“Ehm.. kurasa begitu. Wajahmu sedikit oriental, tapi sisi bulemu masih ada. Aku sampai tidak sadar.”, balas Rian kembali


“Ya. Ada perlu apa kau mengajakku bicara?”, Raka seolah sedang terburu - buru


“Aku ingin mengajakmu kerjasama. Kerjasama yang singkat.”  Rian menceritakan maksudnya. ia ingin meminta kesediaan Raka untuk tampil di pembukaan perpustakaannya tidak jauh dari sini.


“Apakah aku di bayar?”


“Tentu saja. Tapi kulihat kau tidak bermain untuk itu.”


“Benar juga. Tapi mungkin fansku akan sangat kehilanganku.”


“Pembukaanku terbuka untuk umum, jadi ini mungkin sangat menguntungkan buat kita berdua.”


Semua berjalan begitu lancar, pembukaannya. Bahkan setelah itu banyak yang berkunjung ke perpustakaan itu. Rian sangat puas dengan idenya. Hubungannya dengan Raka juga semakin dekat, dia bahkan sering datang ke perpustakaan Rian sekedar menyalurkan hobinya. Katanya lebih enak bermain di ruangan dari pada di jalan.


Sampai suatu hari ia mengajaknya ke sebuah pesta temannya. Orang – orang Perancis. Disanalah pertama kali Rian bertemu dengan kakaknya. Dia asli Perancis, Rian bingung kenapa Raka bisa blasteran sedangkan kakaknya notabene sangat mirip orang perancis.


Ia akhirnya mau menceritakan kisah hidupnya pada Rian. Ayahnya asli Paris  menikah dengan Ibu Clara, nama kakaknya. Tapi ibu Raka adalah asli Indonesia hanya saja sudah lama tiada. Sesekali dia sering pulang ke Indonesia, bahkan pernah menetap beberapa tahun di sana bersama neneknya dan tidak ingin pulang ke Perancis.


Tapi begitu neneknya meninggal, dia terpaksa kembali ke Perancis sampai sekarang. Dia bercerita pada Rian bahwa dia juga memiliki seorang teman di Indonesia. Itu yang membuatnya fasih berbahasa Indonesia.


Tapi disini mereka berdua lebih senang menggunakan bahasa Perancis. Karena sulit bertukar dialek jika tiba – tiba ada orang Perancis yang ikut nimbrung dalam pembicaraan kami.


Rian jadi berteman akrab bahkan dekat dengan Clara, dia supel dan enak sekali diajak berbicara. Raka juga sepertinya senang melihat Rian akrab dengannya.


Suatu hari Clara mengutarakan perasaannya pada Rian. Dia bilang di menyukai Rian dan mencintainya. Benar – benar tipikal orang bule yang langsung – langsung saja.


Tentu saja Rian menolaknya, karena dia tidak punya ketertarikan apapun terhadap orang Perancis atau sejenisnya. Sejak saat itu sikapnya berubah pada Rian, dia terkesan memaksakan kehendaknya. Dia tak terima Rian menolaknya.


“Aku cantik, kenapa kau tidak bisa menyukaiku?”, malam itu dia mabuk.

__ADS_1


Rian sulit melayaninya, sehingga pria itu meninggalkannya bersama seorang temannya.


Lagipula Rian juga melihat mereka datang bersama. Dia hanya menelpon Rian untuk berusaha memanas – manasinya tapi tak Rian hiraukan.


Beberapa minggu setelahnya, papa Rian menghubunginya. Dia menyuruh Rian pulang karena dia ingin menikahkanku dengan wanita pilihannya. Tentu saja Rian menolak, Rian bukan anak kecil jaman Siti Nurbaya yang harus mengikuti kemauan ayah.


“Lihatlah dulu gadisnya, baru berkata ya atau tidak. Ini sepenuhnya demi kebaikanmu.”


“Kebaikan apa yang papa maksud. Disini aku sudah punya kekasih.”


“Yang benar saja. Aku tahu dirimu. Besok aku ke Perancis menyusulmu dan perlihatkan padaku gadis yang menjadi kekasihmu itu.”


“Lewat internet atau telpon juga kan bisa.”


“Aku tidak bisa mempercayaimu.”


“Papa!”, teriak Rian.


Namun terlanjur, beliau sudah menutup teleponnya. Rian benar – benar tidak habis pikir, seenaknya saja menyuruhnya ini dan itu.


Jika Rian tidak ke Perancis, mungkin Rian juga akan disuruh mewarisi sekolahnya itu. Rian benar – benar muak.


Malam itu Rian memutar otak, bagaimana jika ayahnya tahu kalau dia sebenarnya tidak punya kekasih. Dia pasti akan segera menyeretnya pulang ke Indonesia dan menikah dengan gadis yang disebutkannya itu.


Lama Rian berfikir dan putus asa. Mungkin lebih baik dia terima saja rencana papanya sampai ponselnya berbunyi tanda ada email yang masuk.


To : Rian


From : Dad


Rian membuka attachment nya. Ini adalah foto seorang gadis mungil dengan seragam kelas 3 SMA nya. Masih muda. Rian tentu saja bergidik ngeri. Keputusan yang tadi dia ambil segera aku tarik.


Aku yang berumur 28 tahun disuruh menikahi gadis yang bahkan usianya belum genap 18 tahun. Mana bisa begini. Rian kembali memutar otak. Terpikir olehnya Clara. Dia satu – satunya gadis yang dia kenal baik di kota ini. Setidaknya untuk sementara RIan bisa meminta bantuannya.


Tanpa pikir panjang, Rian segera menghubungi ponselnya.


“Clara, ini aku Rian.”, Clara sepertinya senang aku menghubunginya. Terlihat dari nada bicaranya.


“Oh ,.. Ada apa? Tidak biasanya kau menghubungiku.”


“Bisakah kita bertemu besok pagi ? di tempat biasa.”


“Baiklah. Apa kau ingin memikirkan kembali perasaanku.”


“Besok saja kita bicara. Selamat malam.”


Rian merasa ia seperti menggali lubangnya sendiri, tapi inilah satu – satunya jalan yang bisa ditempuhnya jika ia masih ingin bermain – main dengan idenya di kota ini. Ia bukan tipikal orang yang mengikuti alur hidup yang rapi. Baginya hidup adalah inovasi bukan tradisi.


Keesokan harinya di tempat yang dijanjikan. Clara sudah rapi dengan syal yang dikenakannya. Sepatu boot tinggi dan jaket bulu. Sudah waktunya salju turun di kota ini.


“Kau ingin minum apa?”


“Cappuccino saja, seperti biasa.” Mereka bertemu di sebuah kafe di depan toko sepatu berseberangan dengan perpustakaan Rian.

__ADS_1


“Baiklah capucino 2.” Clara menyunggingkan senyum, mungkin karena aku memesan yang sama dengannya.


Tidak lama pesanan mereka datang, Rian yang tidak suka basa – basi segera mengatakan maksudnya.


“Bisakah aku meminta tolong padamu?”


“Meminta tolong ?”


“Hm... bisakah kau berpura – pura jadi kekasihku?”


“Apa ?”, Ia nampak terkejut.


“Papaku ingin aku pulang ke Indonesia dan menikah. Tentu saja aku menolaknya.”


“Benarkah? Lalu kenapa aku harus berpura – pura. Tidakkah kau ingin menjadikan aku sebagai kekasih aslimu?”


“Itu dipikirkan nanti saja, yang jelas tolong aku. Kau satu – satunya wanita yang aku kenal disini. Jika meminta tolong pada gadis lain. Mungkin aku akan sulit untuk bernegosiasi.”


“Baiklah.”, seperti yang diperkirakan, Clara memang bisa di percaya. Ia hanya perlu datang ke sebuah hotel tempat ayahku ingin bertemu nanti malam.


Siang itu mereka berdua pergi membeli pakaian yang pantas untuknya.


“Rian, baju yang dipakai yang ini saja. Ini cukup bagus.”


“Oh baiklah, kalau begitu aku akan langsung membayarnya.”


Nampak anggukan dari Clara. Rian mengarah ke kasir dan membayarnya. Masih sekitar 3 jam lagi  dari waktu yang  dia janjikan untuk bertemu dengan ayahnya.


Lebih baik dia mentraktir gadis ini makan atau sekedar jalan – jalan sekitar Mall ini. Dia bisa sampai tepat waktu ke hotel karena memang letaknya bersebelahan.


“Kau sudah selesai ?”, Clara baru saja muncul.


“Bagaimana kalau kita jalan – jalan dulu. Masih sekitar tiga jam lagi. Kau mau ke tempat biasa?”, Tanya Rian melanjutkan.


“Sepertinya aku mual, aku tak ingin makan apapun. Bagaimana kalau kita ke Centro saja. Ada beberapa kutek yang ingin aku beli dari kemarin. Setelahnya kita duduk saja sambil menunggu waktu.”


“Baiklah kalau itu maumu.”


Rian merasa heran, dia pikir gadis ini akan setuju untuk sekedar jalan - jalan dengannya. Tapi syukurlah, lebih bagus malah jika dia tidak perlu berbasa - basi untuk menyenangkan gadis ini.


Waktu tidak terasa sudah lama berlalu. Tiga jam yang singkat menurutnya. Rian kini sedang menemani gadis Perancis ini berdandan di toilet mall. Setelah itu baru bergerak ke hotel dengan berjalan kaki karena Rian sudah lebih dulu memarkirkan mobil mereka sejak tadi.


Mereka berjanji bertemu di lobi hotel. Tapi papanya masih belum terlihat di mana – mana. Ia meragukan ketepatan waktu papanya. Rian menghubungi ponselnya. Tak ada pilihan lain, ini sudah pukul 9 dan papanya belum juga muncul. Sementara itu, Clara masih punya janji lain katanya.


Beberapa menit berselang, tiba - tiba papanya muncul dari lift di belakang mereka. Dia sendiri, pikirnya. Tidak dia bersama asistennya yang berada di belakangnya. Rian begitu terkejut jika papa berani kemari sendiri meskipun papa sama sepertiku.


Ia juga pernah tinggal di Paris. Tapi bukan di kota ini. Dia juga masih fasih berbahasa perancis. Ia menyalami gadis di sampingku seolah tahu siapa itu.


Clara mempersilahkan papaku duduk. Benar – benar sesuai ekspektasi, dia tahu apa yang harus dilakukannya. Papa Rian nampak baik – baik saja, dia menikmati makan malamnya. Tentu saja, Rian sudah bersorak dalam hati, ini tidak akan lama, pikirnya penuh percaya diri. Rian berpikir kalau dia akan terbebas dari semua ini.


Namun tiba - tiba seorang wanita Perancis datang ke meja mereka dan menarik paksa Clara. Rian sampai bingung dibuatnya. Apalagi ayahnya yang tidak tahu apa – apa. Rian segera mengambil tindakan.


“Hei apa yang kau lakukan dengan kekasihku.”, setidaknya hanya untuk malam ini aku akan bertingkah seolah Clara adalah kekasihku..

__ADS_1


“Kau kekasihnya? Sebaiknya kau harus lebih memperhatikan kekasihmu ini. Dia sudah tidur dengan pacarku dua hari yang lalu. Dan pacarku sudah mengakuinya.”, bagai sambaran petir, ini bukan sekedar masalah Clara, meski dia bukan pacar asli Rian tapi Rian sudah menganggapnya sebagai sahabat.


Rian tahu benar prinsip hidupnya. Rian tidak percaya apa yang telah dikatakan gadis perancis yang tiba – tiba datang merusak acara makan malam mereka. Terlebih papa. Rian bahkan berandai – andai. Andaikan papa tidak bisa berbahasa Perancis , mungkin Rian hanya perlu mengatakan padanya wanita ini cemburu. Semua jadi kacau, gadis itu pergi setelah menampar Clara dan mengembalikan tasnya.


__ADS_2