Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 78 Bangun Pagi di Hotel


__ADS_3

Sinar matahari pagi masuk perlahan melalui celah - celah gorden yang tak sempat di tutup rapat. Cahaya itu masuk melalui jendela - jendela kaca dengan bayangan yang memberikan kontras pada sudut - sudut dinding hotel.


Kirana, gadis itu masih tergulung di dalam selimut tebal dengan dinginnya pancaran AC yang dia buat dengan temperature serendah mungkin. Kirana sangat lelah. Meski matahari sudah menampakkan keseluruhan cahayanya, Kirana masih tak ingin menerima ternyata pagi sudah menjelang.


Sudah lebih dari 3x alarmnya berbunyi dan Kirana seolah tak terganggu dengan suara itu. Dia masih terbenam dalam dinginnya ruangan dan lelahnya tubuh yang sudah seminggu ini bekerja mensukseskan acara pentas seni. Sejauh ini, Kirana berpikir acara itu sudah sukses besar. Ada banyak hal berbeda yang dia bawa bersama dengan tim.


Kring  Kring Kring


Kali ini bukan bunyi alarm ponsel yang dia dengar, tetapi bunyi nada dering panggilan yang Kirana setel dengan lagu favorit miliknya. Lagu jazz favorit yang sudah menjadi nada deringnya selama satu tahun lebih.


Dia pertama kali mengetahui lagu itu dari sebuah cafe saat Kirana masih bingung harus melakukan apa dengan hidupnya setelah apa yang sudah terjadi padanya belakangan ini. Saat itu adalah saat dimana Kirana akan bersiap memulai hari barunya sebagai mahasiswa.


2x 3x 5x


Seolah tak terganggu dengan suara apapun bahkan mungkin suara terompet paduan suarapun tak akan bisa mengganggu waktu tidur Kirana malam ini. Dia tak bisa tidur kemarin. Hari ini dia harus bisa tidur sepuasnya.


Kring kring kring


Ponsel itu kembali berbunyi 20 menit setelah bunyi ponsel terakhir sebelumnya. Tangan Kirana nampak keluar dari sela - sela selimut mencoba mencari - cari ponsel miliknya. Entah dimana. Dia tidak tahu dan hanya mencoba melebarkan jangkauan tangannya kemana - mana.


Semakin lama bunyi nada dering itu semakin kencang. Kirana akhirnya mengeluarkan kepalanya dari selimut dan mencoba mencari dimana kiranya ponselnya berada.

__ADS_1


‘Ketemu’


Ternyata ponsel itu ada di lantai. Mungkin dia menendangnya kemarin.


‘Kak Rian?’, pikir Kirana dalam hati.


Dia berpikir, sudah pasti yang menghubunginya adalah mama. Karena mamanya pasti ingin memastikan keberadaan Kirana. Meskipun Kirana sudah mengatakan sebelumnya. Kirana hanya bisa berharap, Ghea tidak keceplosan dan mengatakan kalau dirinya tidak berada di rumahnya.


Sahabatnya itu suka lupa ingatan. Bahkan brifieng yang dia berikan sejak kemarin bisa saja dia lupakan.


Tapi, bukan Mama yang menghubunginya. Tapi Kak Rian.


‘Kenapa? Apa caraku berhasil?’, ucap Kirana dalam hati.


Rupanya, Kirana sudah melupakan kejadian kemarin dimana dia terkunci di kamar mandi. Kirana memilih untuk me-reject panggilan telepon Rian dengan senyuman puas.


Gadis itu kembali menarik selimutnya dan tidur. Tak lama kemudian, ponselnya kembali berbunyi. Bukan bunyi nada panggilan. Tetapi bunyi pesan WhatsApp.


Awalnya, gadis itu malas mengangkatnya. Tapi akhirnya dia merasa penasaran. Kira - kira apa yang akan dikatakan Kak Rian, ya?. Begitulah pikirnya.


Kirana bahkan sudah bisa menghadirkan 10 kemungkinan pesan yang akan diterimanya. Gadis itu memilih untuk menarik ponsel masuk ke dalam balutan selimutnya. Rupanya, matahari mengusiknya.

__ADS_1


Kirana masih ingin gelap.


Dari Rian: 


Keluar. Sarapan. Pulang. 


Mata Kirana membulat membaca pesan itu. Hanya tiga kata. Sudah begitu, masing - masing kata juga ada tanda titiknya.


‘Apa - apaan ini?’, tanya Kirana sambil alisnya mengernyit.


Kirana melemparkan ponselnya ke atas kursi yang letaknya tak jauh dari sana. Kirana lupa kalau ponselnya masih tergantung dengan chargeran bekas tadi malam. Akhirnya, ponselnya malah jatuh ke lantai.


“Oh!”, gadis itu panik dan bangun dari tidurnya.


Itu adalah handphone baru yang dia beli dengan uang jajannya. Tidak boleh retak.


Tanpa sengaja, Kirana menekan tombol terima telpon yang ternyata adalah panggilan telepon dari Rian.


“Ran? Mau sampai kapan kamu tidur? Mama kamu pasti khawatir. Keluar sekarang. Kita sarapan dan checkout.”, ucap Rian dengan nada serius.


“Terserah aku. Checkout kan bisa jam 11. Masih lama.”, ucap Kirana santai.

__ADS_1


“Dan sekarang sudah 10.30. Kamu bisa check-out tahun depan, tapi bayar sendiri.”, ucap Rian menutup ponselnya.


Seketika Kirana teringat perbincangan kemarin di resepsionis.


__ADS_2