Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 93 Rian punya mata - mata


__ADS_3

“Hah…”, Kirana menyeruput beberapa ml sisa es jeruk yang dia pesan hingga habis.


Raka, pria itu melihat Kirana menghabiskan es jeruk itu dengan intens. Setidaknya Raka melakukannya beberapa detik hingga Kirana pun menyadarinya dan langsung salah tingkah.


“Ngapain lo ngeliatin gue?”, tanya Kirana langsung dengan nada sewot.


“Ran, bisa yang lembut sedikit ga sih?”, ucap Raka mengambil tisu dan menyodorkannya pada Kirana.


“Raka. Mending lo kasih tahu mau lo apa daripada harus bersikap aneh kaya gini. Lo bikin bulu kuduk gue merinding.”, kata Kirana sambil memegang kedua lengannya seolah memang bulu kuduknya sudah merinding sekarang.


“Gue ga mau apa - apa.”, jawab Raka.


“Ga usah boong. Pasti ada yang lo sembunyiinkan dari gue? Udah cepet kasih tahu aja. Gue udah ga tahan dengan sikap lo yang super aneh ini.”, tutur Kirana sambil mengeluarkan dompetnya.


“Eh.. ga usah. Gue yang traktir.”, balas Raka menghentikan tangan Kirana yang sudah mau mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.


Kali ini, giliran Kirana yang menatap Raka.


“Haha.. ga usah sekaget itu. Cukup bilang terima kasih, Raka. Udah gitu aja.”, terang Raka.


“Kalau lo mau traktir gue, bilang dong. Tahu gitu gue pilih restoran yang mahal deket area kampus. Ngapain gue makan di kantin. Hah..”, Kirana menghela nafasnya menyesal.


Raka langsung speechless.


“Tunggu disini. Gue bayar dulu.”, ujar Raka pada Kirana.


‘Mending gue kabur.’, Kirana langsung membawa tasnya dan meninggalkan tas Raka yang masih ada di meja.


Beruntung. Raka tidak melihat ke belakang. Entah apa yang akan dia lakukan ketika tahu Kirana sudah tidak ada disana lagi.


‘Hah.. Ghea sih pake menyerahkan gue begitu aja. Lagian aneh banget si Raka. Kejatuhan duren apa, ya. Hah.. apalagi Kak Rian. Lempeng aja ngeliat gue lagi sama Raka. Apa karena dia tahu kalau gue cuma pura - pura pacaran sama Raka, ya. Jadi sikapnya biasa aja. Tapi kan Raka megang tangan gue. Harusnya cemburu dong. Bener ga?’, Kirana berbicara sendiri pada pantulan dirinya di cermin.


Dia sedang berada di salah satu toilet sekarang. Sebentar lagi, Raka pasti menyadari kalau Kirana sudah kabur. Daripada Kirana harus berlari jauh, lebih baik dia bersembunyi terlebih dahulu di salah satu toilet yang ada di dekat ruang klub olahraga.

__ADS_1


***********


Flashback beberapa saat yang lalu. 


Rian sengaja memanggil Ghea untuk menemuinya di dekat ruangannya. Berhubung rekan - rekan dosennya semua ada kelas di fakultas lain jam tersebut, Rian hanya sendiri di ruangannya. 


“Kenapa harus pura - pura pacaran sama Raka?”


Itulah pertanyaan pertama yang ditanyakan oleh Rian begitu Ghea datang memenuhi panggilannya. Ghea sudah penuh dengan keringat dingin sepanjang jalan menuju ruangan dosen. 


Pertama, dia sudah belajar ekstra bahkan berguru dengan anak klub Fisika. Tapi, dia tetap saja tidak bisa menjawab soal - soal dengan baik. Kedua, dia sudah mendengar beberapa testimoni dari teman - temannya yang dipanggil ke ruangan Pak Rian. Dan mereka semua memberikan testimoni yang buruk 


Berbagai skenario sudah muncul di kepalanya sepanjang perjalanan. Mahasiswa lain dipanggil secara berkelompok. Tapi kenapa Ghea hanya dipanggil sendiri? Ghea sudah panik berpikir mungkin karena nilainya yang paling jelek diantara yang lain. Apalagi, nilai UTS kemarin juga kurang memuaskan. 


Ghea juga membawa contekan di kelas. Meskipun dia tidak jadi menggunakannya sama sekali, tetapi dia tetap saja khawatir. Rian tak menyinggung apapun saat membagikan lembar jawaban UTS yang sudah diperiksa sebulan yang lalu. Dia tenang karena Pak Rian mungkin tidak tahu. 


Tapi, dia dipanggil sendiri sekarang. Apa jangan - jangan ada yang mengatakan padanya kalau Ghea membawa contekan? 


“Kenapa harus pura - pura pacaran sama Raka?”


“Eh?”, Ghea langsung kena mental mendengar pertanyaan Rian yang out of the box. Unexpected. Out of nowhere. 


“Siapa, Pak?”, tanya Ghea langsung terkena brain freeze. 


“Kirana. Siapa lagi? Kenapa dia bisa punya ide pacaran pura - pura sama Raka?”, Rian memperjelas pertanyaannya. 


‘Buset. Dia manggil gue kesini sampe jantung gue mo meledak cuma nanya tentang ini?’, protes Ghea dalam hati. 


“Ehm.. sa-saya kurang tahu, Pak.”, jawab Ghea. 


“Saya meruntuhkan semua harga diri saya untuk nanya kamu loh, sekarang.”, kalimat barusan sukses membuat suasana di sekitar Ghea mendadak berubah menjadi gua es. 


Tidak hanya kata - katanya yang menohok tapi juga nada bicaranya. 

__ADS_1


“Karena dia mau menghindar dari Radit, Pak.”, Ghea langsung menjawabnya tanpa ada jeda di kalimatnya sama sekali. 


“Radit? Siapa itu?’, tanya Rian sambil memutar pulpennya. 


“Mantan Ketua BEM, Pak. Mahasiswa yang ambil kelas Bapak juga. Oiya, cowok yang dateng jenguk Kirana bareng saya dan Raka.”, jelas Ghea yang hanya bisa geleng - geleng kepala tapi di dalam hati. 


‘Bisa - bisanya ini dosen ga inget mahasiswa sendiri. Btw, dia tahu nama gue ga sih sebenarnya?’, Ghea tak bisa menahan dirinya untuk tidak menggaruk - garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. 


“Ah… oke. Kamu boleh keluar. Ohiya, jangan bilang Kirana kalau saya manggil kamu dan bertanya tentang ini, ya.”, ucap Rian dengan nada datar tapi sorot mata tajam penuh ancaman. 


“I-i-iya, Pak.”, jawab Ghea sudah bersiap - siap untuk meninggalkan ruangan ini. 


“Ohiya.. Nama kamu siapa?”, tanya Rian saat Ghea sudah berbalik badan menuju pintu keluar. 


“Tuhkan.. Ini dosen gak tahu gue. Syukurlah, itu artinya contekan gue bener - bener gak ketahuan. Gila, gak gue pake juga sih itu contekan.”, Ghea terus berbicara pada dirinya dengan suara pelan. 


“Hm?”, tanya Rian menunggu jawaban Ghea. 


“Ghea, Pak.”, jawab Ghea pelan. 


“Ah.. Oke.”, ujar Rian memberikan respon. 


“Kalau begitu, saya izin undur diri ya, Pak.”, balas Ghea. 


“Mulai sekarang kamu jadi mata - mata saya.”, kalimat Pak Rian selanjutnya langsung membuat Ghea beku. 


‘Eh?? Maksudnya?’, Ghea tak sanggup melontarkan pertanyaan itu pada Pak Rian. Alhasil dia hanya bertanya dalam hati. 


“Kamu bisa kabari saya kalau Raka atau Radit itu bertindak aneh - aneh ke Kirana.”, ucap Rian. 


‘Hah? Ga salah denger gue? Doi minta gue mata - matain Kirana? Berarti dia masih suka dong sama Kirana? Tapi, Kirana bilang Pak Rian kayanya gak tertarik sama dia. Ribet amat sih mereka berdua.’, komentar Ghea dalam hati. 


“Bisa, kan? Ah.. tentunya ini gak ada hubungannya sama mata kuliah yang saya ajar. Anggap saja ini permintaan keluarganya Kirana. Dalam hal ini, anggap saja saya bukan dosen kamu.”, kata Rian. 

__ADS_1


‘Gimana caranya? Orang jelas - jelas dia dosen gue.’, kata Ghea dalam hati. 


“He..he..he.. Iya Pak. Baik.”, jawab Ghea dan akhirnya berhasil undur diri keluar dari ruangan yang sudah seperti kutub utara itu. 


__ADS_2