
Kirana berjalan di lorong gedung kampus yang menghubungkan antara gedung yang satu dengan gedung yang lain. Ujung dari perjalanan Kirana akan membawanya ke perpustakaan. Tempat ini biasanya digunakan oleh sebagian besar mahasiswa untuk mengerjakan tugas. Terutama tugas - tugas individu yang membutuhkan konsentrasi penuh.
“Ah?”, Kirana berbalik arah segera sambil menutup wajahnya dengan laptop.
Dia melihat bayangan Radit berada diantara pintu - pintu kaca yang mengelilingi lorong berbentuk setengah lingkaran itu. Kirana berpikir, sebelum Radit melihatnya, lebih baik dia kabur terlebih dahulu.
Dengan cepat Kirana berbalik ke arah dimana dia datang tadi sambil menepikan tubuhnya ke dinding. Siapa tahu kalau Radit ternyata malah berjalan ke arahnya. Pria itu terlihat sedang mengobrol dengan beberapa orang di depan pintu kampus.
‘Apa benar si Radit dipecat dari Ketua BEM. Kenapa belakangan gue sering liat, sih.’, gerutu Kirana dalam hati.
Tak bisa dipungkiri lagi kalau Radit adalah salah satu pria paling diinginkan oleh banyak mahasiswi perempuan di kampus ini. Tetapi tidak untuk Kirana. ‘Terima kasih’, ucapnya. Dulu Kirana akui mungkin ‘Iya’, dia termasuk dalam kumpulan mahasiswi yang tertarik pada Radit seperti apa yang dikatakan oleh Ghea.
Tetapi, setelah melihat bagaimana laki - laki itu bersikap, Kirana yakin kalau dia tidak lebih dari buaya darat kampus.
Bayangkan, bagaimana mungkin dia mencoba dekat dengan cewek lain sementara dia belum sepenuhnya putus dari pacarnya. Terus, model pendekatan Radit juga gerilya. Siapa yang bisa tahu kalau ternyata ada banyak mahasiswi seperti Kirana yang dia dekati.
Memang sih dia berkarisma, tapi mending pikir - pikir lagi sebelum berurusan dengan Radit. Apalagi ada pawangnya yang super berbahaya, Fay.
“Mampus gue.. Itu kenapa bocah juga ada disana sih?”, ucap Kirana saat berbalik malah menemukan Raka, orang yang juga paling dia hindari sekarang.
Meskipun mereka berstatus pacaran, tapi hanya sebagian orang saja yang mengetahuinya. Teman - teman yang lain belum tahu. Hanya Radit, Ghea, anak - anak acara, dan sebagian anak BEM Fakultas.
Kirana terdiam di tempatnya. Sekarang dia harus bingung memilih jalur mana yang harus dia lewati. Di ujung sebelah sana ada Radit, dan di arah berkebalikan ada Raka. Raka atau Radit?
“Ngapain lo sembunyi disitu?”, tanya Raka yang sudah terlanjur menghampiri dengan cepat.
“Uh?”, berbeda dengan Radit, Raka sudah terlanjur melihat Kirana sehingga gadis itu tidak bisa bersembunyi.
Raka mengintip sebentar ke arah lorong yang ada di depan mereka. Dia juga menangkap siluet bayangan Radit disana.
“Mau menghindari Radit? Mau bareng gue?”, tanya Raka menawarkan diri.
“Idih, makasih.”, ucap Kirana menolak.
“Yakin? Lo bukannya mau ke sebelah sana. Yakin mau balik arah cuma karena ga mau ketemu Radit? Kan lo bisa pakai gue.”, ucap Raka seolah sudah sangat akrab dengan Kirana.
Kirana berpikir keras dan akhirnya menyetujui ide Raka untuk pergi bersamanya. Dia juga harus segera menemui Ghea disana. Mereka sudah ada rencana untuk mencoba satu outlet kantin baru di kampus mereka.
Raka kemudian berjalan dengan Kirana mengekor disampingnya. Patuh. Tetapi, tidak ada pegangan tangan, tidak ada senyum - senyum romantis, fix semuanya datar.
Saat melewati Radit, Kirana tak mengatakan apapun. Dia juga tidak menyapanya. Berhubung Raka yang berjalan disisi sebelah kanan yang lebih dekat dengan tempat Radit berdiri. Radit juga saat itu sedang dikerubungi oleh beberapa orang.
Meski begitu, Radit tetap melirik ke arah keduanya. Jelas sorot matanya masih tidak terima Kirana dekat dengan laki - laki - laki tidak jelas itu. Walau bagaimana pun, bukankah dia yang lebih dulu datang dan mendekati Kirana. Kenapa malah jadi cecunguk itu?
‘Hah memikirkannya membuat aku kesal saja.’, ucap Radit dalam hati.
Segera setelah sampai dan melihat Ghea duduk di salah satu bangku, Kirana langsung meninggalkan Raka begitu saja tanpa mengucapkan apa - apa.
“Huh.. wah perempuan itu, gue bener - bener cuma dimanfaatkan.”, ucap Raka kesal.
***********
“Setelah ini lo langsung ke kelas?”, tanya Kirana pada Ghea.
Keduanya sudah menyelesaikan makan siang mereka. Sepertinya mereka sangat puas dengan makanan yang disajikan oleh outlet baru itu. Buktinya, keduanya berhasil menghabiskannya tanpa tersisa sedikitpun.
“Hn. Gue harus belajar dulu. Soalnya ada quiz. Hari ini hidup gue dipenuhi dengan kuis.”, keluh Ghea.
“Hah.. jadi ingat kuis Pak Rian yang bikin kesel.”, lanjut Ghea kembali.
“Kenapa lo ga komen apa - apa? Jangan bilang kalo lo berhasil menjawab semuanya dengan baik?”, tanya Ghea segera mengantisipasi jawaban yang diberikan Kirana.
“Huh.. perlu gue keluarkan semua unek - unek di kepala gue sekarang?”, ucap Kirana.
__ADS_1
“Ah jangan - jangan. Lo cuma bisa bikin energi negatif berkumpul di sekitar sini. Terus gue juga takut kalau tiba - tiba Pak Rian ada di sekitar sini.”, balas Ghea.
“Hah, kenapa? Memangnya ngapain doi bisa disini?”
“Gue sering gitu. Setiap gue lagi ngomongin tu dosen, pasti tiba - tiba dia ada di dekat gue.”, ucap Ghea mengelus lengannya seolah bulu romanya berdiri.
“Itu berlebihan. Lo kira Pak Rian setan, apa? Bisa sampai bikin bulu roma lo berdiri segala.”, balas Kirana.
“Ya udah gue cabut dulu.”, Kirana berdiri dari kursinya.
“Lo mau kemana? Bukannya kelas lo masih dua jam lagi? Mau pacaran sama Raka, yaa”, tanya Ghea iseng.
“Kan gue udah bilang, kalo gue sama Raka itu.”, Kirana belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat Ghea sudah terlanjur mendahuluinya.
“Karena kalian cuma pacaran pura - pura.”, ucap Ghea.
Kirana langsung segera mendekat dan menutup mulut temannya itu.
*********
Kirana berjalan ke gedung yang beberapa waktu belakangan ini sering dia kunjungi. Padahal, di tahun pertama, dia sama sekali tidak ingin mendekati gedung ini sama sekali. Ya, gedung tempat dekat dan para dosen berada.
Untuk apa Kirana kesini? Entahlah. Dia bingung mau kemana sementara kelas selanjutnya masih dua jam lagi. Dia juga tidak ada meeting dengan anak acara lain. Persiapan mereka sudah matang dan tinggal menunggu D-Day. Dua minggu menjelang D-Day, mungkin mereka baru akan sibuk.
Sekali lagi, untuk apa Kirana kesini? Entahlah. Mungkin dia ingin melihat wajah Rian dan meminta penjelasan kenapa sudah menjadi sumber tangisannya tadi malam. Seorang Kirana menangis hanya karena Rian meninggalkannya.
‘Tunggu, itu bukan hanya karena. Pria itu sudah benar - benar keterlaluan. Setidaknya jangan membawa tasnya begitu saja.’, ucap Kirana dalam hati.
Iya, barusan Kirana memiliki alasan yang kuat untuk bisa datang ke gedung ini. Dia ingin menanyakan tas miliknya. Dia juga harus menggunakan laptop milik Ghea tadi. Jika ada yang bisa dia salahkan untuk nilai kuisnya yang jelek, maka itu karena Rian.
Pria itu yang membuat dirinya gagal belajar karena tasnya ada di mobil Rian. Padahal, tidak satupun materi Fisika ada di tas itu.
‘Oke, lo harus bikin alasan yang tepat untuk bisa menghadapi pria itu.’, ucap Kirana dalam hati.
Rian hanya melirik sebentar dan menoleh lagi ke arah lain.
‘What? Dia gak nganggep gue sama sekali? Udah gak waras yah ni orang. Sebentar - sebentar baik, sebentar - sebentar lagi berubah jadi siluman rubah. Gak jelas banget.’, omel Kirana dalam hati.
Kirana memilih untuk terus menatap Rian yang saat itu sedang menumpahkan air di botol minumnya ke sebuah tanaman di dekat sana. Tak lupa pria itu menggoyang - goyangkan tempat minum itu agar isi di dalamnya tumpah sepenuhnya ke tanaman.
“Mata kamu gak merah, menatap saya terus?”, tanya Rian akhirnya membuka suara.
Tipikal orang, biasanya mereka akan sadar jika ada seseorang yang tiba - tiba menatap mereka secara konstan.
“Mau minta tas dan barang lain yang tinggal di mobil Bapak.”, ucap Kirana menekankan pada kata ‘Bapak’ di kalimatnya.
Rian hanya tersenyum tipis. Benar - benar tipis karena meski pakai loop atau mikroskop-pun belum tentu terlihat dengan jelas.
“Terus?”, tanya Rian.
“Ya mau diambil, lah.”, kata Kirana mendekat ke arah pria itu.
Mereka masih di lorong dan tidak ada orang lain disana. Tempat itu memang terkenal sepi karena biasanya diisi oleh dosen - dosen untuk mata kuliah paling sulit dimana tipikal dosennya juga sangat senang menempel di bangku mejanya untuk melakukan penelitian atau mempelajari sesuatu.
“Kak Rian tuh ga merasa bersalah? Kemaren kakak ninggalin aku gitu aja. Tanpa informasi sama sekali. Bahkan ponsel aku juga di mobil kakak. Untung aja aku punya dua. Kalo enggak, gimana coba?”, omel Kirana segera setelah dirinya bisa lebih dekat dengan Rian.
Pria itu? Dia hanya menatap Kirana, menyimak semua omelannya.
“Waras gak sih? Bisa - bisanya ninggalin orang gitu aja? Kan aku udah bilang ‘tunggu’. Kenapa main kabur gitu aja?”, lanjut Kirana lagi.
“Kamu mau terus panggil saya dengan sebutan itu?”, tanya Rian sambil menghembuskan hawa dingin dalam skala satu meter di dekatnya.
“Sebutan apa?”, tanya Kirana bingung.
__ADS_1
“Aku, kamu, kakak? Saya, kakak kamu? Kita di kampus.”, ucap Rian seolah sedang mengkoreksi sopan santun Kirana di kampus.
“Iya.. ga boleh?”, ucap Kirana malah memberikan reaksi sebaliknya.
Jika dulu dia dengan patuh langsung mengubah panggilannya, sekarang Kirana malah menantang balik.
“Oke. Kalau begitu, saya bisa juga memperlakukan kamu seperti ini.”, kata Rian melemparkan tempat minumnya ke sofa dan menyudutkan Kirana ke dinding dengan merapatkan tubuhnya.
Sontak mata Kirana langsung membulat dan wajahnya menegang karena terkejut. Dia juga tak sempat mengancang kuda - kuda kakinya hingga hampir terjatuh. Sekarang nafas mereka sudah saling bersambut saking dekatnya jarang diantara mereka.
“Pak Rian sudah gila, ya. Ini di kampus!.”, ucap Kirana berusaha mendorong pria itu ke belakang.
Tetapi, tentu saja Kirana tidak bisa melakukannya karena tubuh Rian jauh lebih tegap dan besar darinya.
“Ini tuh ruangan dekan juga, kan? Mau dipecat apa?”, tanya Kirana berusaha menghindar.
“Kamu juga tadi panggil saya dengan sebutan seolah - olah kita berdua ada hubungan. Jadi, sah - sah aja dong kalo saya begini.”, ucap Rian.
Tak lama terdengar suara langkah sepatu dari kejauhan. Kirana terkejut dan segera mendorong Rian. Pria itu juga tak lagi mengunci tubuhnya sehingga Kirana b isa dengan mudah mendorongnya.
“Eh, Rian. Sudah disini, kamu? Tadi saya minta orang untuk panggil kamu ke ruangan saya. Sudah disampaikan belum, ya?”, ternyata orang yang datang adalah dekan kampus.
Kirana langsung merasa dia sedang ada di planet mana karena merasa tidak pada tempatnya sekarang. Diantara Dekan dan Dosen.
“Wah belum tuh Pak. Lupa kali ya, yang ngasih tahu.”, kata Rian menjawab dengan sopan tetapi tetap gaya santai.
“Ya sudah. Lagi ada bimbingan ya? Bisa ke ruangan saya, kapan?”, tanya pria baruh baya itu segera setelah melihat ada mahasiswa di tak jauh di samping Rian.
“Oh, sudah selesai, kok Pak. Saya bisa ke ruangan Bapak sekarang.”, ucap Rian tanpa berpikir panjang.
Pria itu bahkan tidak menoleh pada Kirana.
“Oke.. saya tunggu di ruangan saya, ya.”, ucap pria itu.
“Udah selesai dari mana? Saya belum ngambil barang - barang saya, Pak.”, ucap Kirana yang langsung mengganti sebutan panggilannya pada Rian.
“Temui saya sore ini di parkiran.”, ucap Rian dengan suara pelan kemudian segera mengikuti arah ruangan Dekan.
***********
“Pacar kamu?”, segera setelah Rian masuk ke dalam ruangan Dekan, pria itu langsung melontarkan pertanyaan yang membuat Rian terkejut.
“Ah… bukan bukan Pak. Masa saya pacaran sama Mahasiswi, Pak. Masuk berita nanti saja.”, ucap Rian sambil mengambil duduk.
“Yang benar? Saya ini sudah setengah abad loh merasakan kehidupan. Sekali lihat, sudah tahu mana yang dosen dengan mahasiswa dan mana dosen yang dengan pacarnya.”, ucap Dekan itu.
Dekan fakultas ini sejujurnya adalah teman lama papa Rian. Oleh karena itu, dia jauh lebih nyaman menjadi dosen di tempat ini. Namun, hal tersebut bukan berarti Rian masuk ke dalam kampus ini menggunakan jalur express. Dia tetap melewati seleksi dengan mudah.
Hanya saja, Dekan tetap memiliki kontribusi dalam hal membuat Rian nyaman dan bisa tumbuh di kampus ini sama seperti saat dia di luar negeri. Tanggung jawab untuk menjalankan riset juga berkat dukungan penuh dari dekan. Jika tidak bagaimana mungkin dosen baru seperti Rian bisa dipercaya untuk mengepalai Riset terutama di bidang Fisika.
Ditambah memang Rian juga sangat cerdas di bidangnya.
“Jadi, ada apa Pak? Kenapa Bapak memanggil saya?”, tanya Rian mencoba untuk kabur dari pertanyaan dan bahasan tadi yang disampaikan oleh Dekan.
Jika ditanya lagi, sudah pasti dia akan menjelaskan mengenai hubungannya dengan Kirana.
“Saya ada undangan untuk jadi pembicara dalam rangka seminar. Biasalah seminar - seminar hasil kerja sama kampus - kampus. Tapi hari itu saya harus ke rumah sakit.”, kata Dekat tersebut.
“Oh, Bapak tidak apa - apa?”, tanya Rian dengan nada khawatir.
“Mm-mm.. Bukan saya yang sakit. Saya hanya ingin check-up rutin saja sambil menjenguk rekan dulu sesama tetangga perumahan yang lama. Jadi, rencananya saya mau delegasikan ke kamu. Bagaimana?”, tanya Dekan itu kembali.
“Ehm.. baik Pak, saya bisa hadir di acara itu. Tapi di hari itu saya ada kelas juga sebenarnya.”, ucap Rian.
__ADS_1
“Kamu bisa suruh mahasiswa kamu ikut berpartisipasi jadi audiens kalau begitu. Bagaimana? Win - win solution, kan?”