Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 27 Dosen Killer mulai Mengajar Bagian 1


__ADS_3

Akhir pekan menjelang. Satu minggu kehidupan perkuliahan yang melelahkan berhasil terlewatkan. Berbeda dengan minggu - minggu sebelumnya, kehidupan Kirana pekan ini terasa seperti nano - nano.


Mulai dari Pak Rian yang tiba - tiba menggantikan Bu Rika, Kirana berada di urutan terakhir untuk nilai tugas Fisika, Pak Rian ditunjuk menggantikan Bu Rika yang cuti hamil, sampai Kirana berakhir di rumah pria itu dan justru pulang bersama Radit, sang Ketua BEM.


Pekan depan sudah pasti akan lebih nano - nano lagi karena Pak Rian yang selama ini selalu dia hindari justru akan mengajar mata kuliah Fisika dimana pertemuan dalam seminggu adalah dua kali.


Satu kali sebanyak 2 jam pelajaran dan satunya lagi sebanyak satu jam pelajaran.


“Apa gue drop mata kuliah ini aja, ya?”, celetuk Kirana di dalam kelas secara tiba - tiba.


“Hah? Sebegitu takutnya lo sama Pak Rian sampai - sampai mau drop kelas ini? Gila.. bisa hancur IPK lo, Ran. Kita kan sudah masuk minggu aktif pengajaran. Udah ga bisa drop lagi.”, Ghea yang mendengar celetukan Kirana barusan.


Mereka masuk ke dalam kelas lebih awal sampai menunggu dosen datang. Kali ini adalah jam pelajaran Fisika untuk satu jam pelajaran.


Hari Senin, jam kuliah pertama, dan sudah langsung dihantui oleh Fisika. Mata kuliah yang paling banyak dihindari oleh anak Teknik kecemplung. Mereka - mereka yang sebenarnya tidak terlalu suka sains tetapi malah masuk jurusan yang notabene memerlukan sains.


“Atau gue pindah kampus aja?”, ternyata Kirana belum menghentikan celetukannya.


“Huh.. mau kemana? Ini udah kampus terbaik. Lo lagi kenapa?”, tanya Ghea yang dengan tekun menjawab celetukan - celetukan Kirana yang dia tahu hanya asal sebut saja.


“Hah…..”, Kirana menarik nafas panjang memikirkan apa yang harus dia lakukan kedepannya.


Setiap bertemu Rian, dia tak bisa bersikap seolah semua baik - baik saja. Seolah normal dan tidak apa - apa. Ditambah dengan tindakan random pada minggu lalu.


“Setelah dipikir - pikir, sepertinya dia melakukan itu untuk mengusirku.”, celetuk Kirana lagi.

__ADS_1


“Huh? Lo lagi ngomong apa sih? Topiknya ganti - ganti mulu. Eh.. apa kabar Radit. Kok ga masuk kelas hari ini?”, tanya Ghea mulai bersemangat.


Sudah dari rumah dia ingin membahas tentang hal ini, tetapi Ghea baru terpikirkan sekarang. Padahal, dia sudah bersemangat dari rumah ingin membahas perkara Radit yang mengantarkan Kirana ke rumahnya malam - malam.


‘Hm.. apa lagi kalau bukan karena mereka ada hubungan. Apa mungkin Radit sudah putus dari pacarnya, ya?’, begitu kira - kira pikiran Ghea.


Sayangnya, begitu Kirana sampai di rumah Ghea. Gadis itu tak mengatakan apapun. Dia permisi pada kedua orang tua Ghea yang saat itu belum tidur dan masih terjaga di ruang tamu. Lalu, masuk ke kamar Ghea, bebersih di kamar mandi, dan langsung tidur.


Pagi harinya, Kirana bahkan melewatkan sarapan dan langsung pamit pulang. Tentu saja, Ghea yang kehilangan kesempatan untuk bertanya langsung jadi seperti cacing kepanasan.


“Boleh, ga usah bahas itu. Lagian mana gue tahu dia masuk ato engga. Pertama, gue bukan asisten pribadi dia. Kedua, kita juga ga ambil kelas yang sama dengan dia. So, buat apa.”, kata Kirana.


“Eh… lo ga tahu? Radit kan pindah ke kelas ini per minggu lagi. Sepertinya dia drop kelas yang sebelumnya. Tapi baru kesampaian masuk minggu lalu. Hah? Lo benar - benar gak tahu?”, jelas Ghea sambil memberikan tatapan tidak yakin pada Kirana.


“Kenapa lo harus sekaget itu. Kalian memang bener - bener gak jadian?”, tanya Ghea kali ini dengan ekspresi serius.


“Ya enggak lah. Gila, kenapa kesimpulan yang lo ambil bisa sampai sana sih.”, balas Kirana.


“Yaa.. Radit sampe nganter lo ke rumah gue, apa lagi kalo bukan jadian. Kecuali Radit punya profesi ganda jadi Ojek Online. Tapi itu juga gak mungkin sih. Masa bisa ada kebetulan gitu.”, Ghea kembali masuk dalam pikirannya.


“Iya.. anggep aja begitu. Kayanya jauh lebih gampang dari pada lo punya imaginasi liar dan aneh kaya tadi.”, ucap Kirana.


Tok tok tok tok


Suara pintu berbunyi. Pak Rian sudah nampak berdiri dengan tegap di depan pintu dengan ponselnya. Berbeda dengan dosen - dosen yang lain, dia hanya membawa satu ponsel miliknya saja dan berjalan menuju meja dosen paling depan.

__ADS_1


Beberapa orang yang terlambat berjalan terbirit - birit masuk di belakangnya. Mereka yang sudah sempat mendengar desas - desus tentang Rian tidak berani datang terlambat.


“Huh… Pak Rian, ganteng sih ganteng. Tapi galak.”, celetuk Ghea pelan saat menyaksikan teman - temannya yang berlari masuk.


Rian benar - benar datang tepat waktu. Dia masih melihat ke arah pintu dimana masih ada beberapa orang yang berlari masuk ke dalam.


Satu menit. Setidaknya satu menit Rian memandangi pintu masuk. Kemudian saat 1 menit itu habis. Rian kembali berjalan ke pintu masuk dan menutupnya. Saat itu ada beberapa orang yang masih di luar dan hendak masuk. Termasuk di posisi terakhir yang baru saja berlari ngos - ngosan dari tangga adalah Radit.


Tanpa pandang buluh, Rian menutup pintunya tanpa mengatakan apapun.


“Pagi semuanya. Saya yakin beberapa diantara kalian ada yang tidak ingin melihat saya di kelas ini lagi sejak terakhir saya datang menggantikan Bu Rika untuk sementara. Saya juga tahu banyak diantara kalian yang sudah bersusah payah melakukan war online malam - malam untuk terhindar dari kelas saya. Tapi, apa boleh buat. Sepertinya kita berjodoh.”, ucap Rian dengan suara yang tenang namun menakutkan. Dia melayangkan tatapan tajam tetapi santai pada para mahasiswa di hadapannya.


Kirana merasa sempat bertatap mata dengan Rian namun Rian seperti melihatnya sebagai orang yang invisible. Biasa.


‘Setelah apa yang dia lakukan, dia bahkan tidak bertahan lebih dari satu detik melihatku? Huh.. sepertinya benar. Ciuman itu hanya untuk mengusirku saja. Siapa yang tahu kalau setelah itu dia memanggil wanitanya.’, omel Kirana di dalam hati.


“Apaan sih?”, tanya Kirana sambil berbisik ke arah Ghea yang sedari tadi menyikut - nyikut lengannya.


“Tuh liat, cowo lo di kunciin di luar.”, kata Ghea menunjuk ke arah Radit dan beberapa teman lainnya yang masih melihat dari pintu.


Tak lama kemudian mereka pergi karena mengetahui tak mungkin ada kesempatan untuk masuk lagi.


“Jaga ya mulut lo.. Tar ada yang danger pada percaya lagi. Terus gue dilabrak dah tuh sama Fay. Mahasiswi sok Idol banget ampe banyak yang jaga.”, ucap Kirana kesal.


“Di luar sana banyak teman kalian yang datang terlambat dan tidak masuk ke dalam. Untuk yang tidak fokus pada mata kuliah saya hari ini, saya persilahkan untuk menyusul teman - teman kalian. Gak ada gunanya kalian bangun pagi datang kesini hanya untuk mengobrol di kelas saya.”, ucap Rian tak kalah tegas.

__ADS_1


__ADS_2