
Sepanjang perjalanan, Rian hanya diam tak bersuara. Ekspresi wajahnya juga tidak banyak berubah. Claudia beberapa kali melihat ke samping tetapi pria itu tidak ada niatan untuk mengajaknya berbicara.
Sejujurnya, rasa percaya diri yang dikumpulkan Claudia sepertinya sudah habis. Inisiatif untuk mengambil kunci mobil di tangan Rian tadi di parkiran adalah langkah yang bagus. Tetapi, Claudia juga menyesalinya.
Sekarang, dia bingung topik pembicaraan apa yang harus dia mulai. Berada di dalam mobil dengan di luar ternyata memberikan ketegangan yang berbeda. Claudia sekarang sedang memutar otak untuk mencari - cari topik yang kira - kira menarik untuk dibicarakan.
Selain kegiatan di kampus dan proyek yang mereka geluti, sepertinya tidak ada lagi topik pembicaraan yang bagus. Semuanya juga sudah terasa membosankan sekarang karena setiap kali Claudia ingin mendekati Rian, pasti dia akan menggunakan cara ini.
Alhasil Claudia mencoba melihat - lihat mobil Rian dan mencoba untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan bahan pembicaraan.
“Mobil baru?”, alhasil pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Claudia.
“Tidak.”, jawab Rian.
‘Kenapa bahasanya jadi baku banget. Perasaan pas ada teman - temannya enggak.’, pikir Claudia dalam hati.
__ADS_1
“Baru liat deh gue. Perasaan dulu yang lo pake buat ke rumah papa bukan mobil ini.”, kata Claudia.
Rian memberikan jeda lama sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan Claudia.
“Ada dua di rumah.”, balas Rian tak kalah singkat, padat, dan jelas dengan yang tadi.
“Ahhh…”, Claudia langsung ber oh-oh ria mendengar jawaban dari Rian.
Jarak menuju rumah Claudia masih jauh. Di kepalanya sekarang berpikir siapa yang nanti harus mengambil mobilnya di parkiran lapangan tenis tadi. Jaraknya lumayan jauh.
Ya. Claudia berbohong tentang tidak membawa mobil dan memilih untuk naik taksi. Sebenarnya dia datang dengan menggunakan mobil pribadinya yang dia parkir tak jauh dari mobil Rian. Pria itu sudah pasti tidak akan mengenal mobilnya.
Jika ada, Claudia tentu bisa menjadikan item itu sebagai bahan pembicaraan. Claudia melirik ke samping dan memastikan Rian masih serius. Tentunya, ini menjadi lampu hijau untuknya beraksi.
Alih - alih menemukan kacamata hitam yang ada di dalam skenario kepalanya, Claudia justru menemukan sebuah tas kecil bening di dalamnya. Karena tas itu berwarna bening, Claudia dengan mudah bisa melihat isi di dalamnya.
__ADS_1
Ternyata itu adalah tas make-up. Terlihat dari foundation, bedak tabur, eyeliner, lipstik, eyebrow, dan berbagai produk baseline make-up lainnya. Tentu saja Claudia terkejut melihatnya.
Rupanya, Rian menyadari tindakan Claudia karena kebetulan dia sedang berhenti di salah satu lampu merah yang mereka lalui.
“Kamu ngapain?”, tanya Rian langsung to the point.
Meskipun mereka saling kenal, tetapi bukan berarti Claudia bisa sembarangan membuka laci dashboard mobilnya. Lagipula, Rian juga tidak menganggapnya lebih dari seorang kenalan terkait project. Bahkan Rian juga tidak menganggapnya sebagai kolega.
“Ah.. maaf. Aku sedang mencari kacamata hitam. Karena sepertinya disini silau sekali. Mungkin aku bisa membuka ini saja.”, ucap Claudia langsung salah tingkah.
Claudia kemudian refleks membuka lipatan yang biasa digunakan untuk menghalangi cahaya silau dari luar. Kemudian beberapa lembar foto tumpah ke bawah dan berjatuhan. Claudia langsung terkejut.
Tumpukan foto yang sekiranya ada sekitar 5-10 lembar itu terdiri dari beberapa ukuran dan langsung tumpah. Sebagian terjatuh ke tempat duduknya dan sebagian lagi ke bagian bawah dekat kakinya.
Tak hanya Claudia, Rian juga langsung terkejut saat Claudia malah menjatuhkan beberapa foto - foto yang masih dia simpan di atas sana.
__ADS_1
Alhasil pria itu langsung menepikan mobilnya di depan sebuah restoran cepat saji. Dia langsung melihat ke samping dengan tatapan sedikit marah, terkejut, dan bingung sebelum kemudian melihat lagi ke arah depan sambil menghela nafas.
“Maaf.. maaf… Rian. Aku ga maksud…”, ucap Claudia sambil membereskan foto - foto yang ternyata adalah foto Rian dengan seorang perempuan.